
Semua orang sudah berada di rumah sakit. Mereka semua menunggu dengan wajah panik dan juga takut di depan Ruang Instalasi Gawat Darurat, kecuali Qenan dan Willy. Keduanya dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Setibanya anggota keluarga Smith dan yang lainnya membawa Darren ke rumah sakit, Celsea yang sudah mendapatkan pemberitahuan dari Davin tentang kondisi Darren yang kembali kambuh yang berujung tak sadarkan diri langsung sigap membawa Darren ke ruang Instalasi Gawat Darurat dibantu empat perawatnya.
Agneta sejak tadi menangis memikirkan kondisi putranya. Begitu juga dengan Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka. Mereka semua berharap Darren tidak kembali koma dengan kondisinya seperti saat ini.
Setiap jantung Darren kambuh dan berujung pingsan membuat Darren akan koma. Komanya Darren karena detak jantungnya tidak stabil dan otot jantungnya bekerja terlalu keras.
"Darren, Mama mohon sama kamu, nak! Kamu harus kuat. Jangan menyerah ya," batin Agneta.
"Ren, kakak Davin mohon sama kamu. Kamu harus baik-baik saja. Kamu harus kuat. Kakak disini untuk kamu. Kakak tidak akan ninggalin kamu," batin Davin.
Ketika mereka semua tengah memikirkan dan mengkhawatirkan Darren, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki dari arah kanan.
Mendengar itu, mereka semua melihatnya. Dan mereka dapat melihat kedatangan Qenan dan Willy. Mereka juga dapat melihat ada kekhawatiran di tatapan mata Qenan dan Willy.
"Bagaimana keadaan Darren?" tanya Qenan dan Willy bersamaan.
Mendapatkan pertanyaan kompak dari Qenan dan Willy. Mereka semuanya menggeleng kepalanya sebagai jawabannya sembari menunjuk kearah ruang Instalasi Gawat Darurat.
Qenan dan Willy langsung melihat kearah ruang Instalasi Gawat Darurat. Seketika wajah keduanya menjadi sedih.
"Ren," lirih Qenan dan Willy.
Puk..
Puk..
Jerry dan Axel menepuk pelan bahu Qenan dan Willy secara bersamaan. Keduanya tahu jika Qenan dan Willy mengkhawatirkan kondisi Darren.
Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tiba di rumah sakit karena mendapatkan telepon dari Elzaro.
Elzaro menghubungi Axel dan memberitahu Axel tentang kondisi Darren.
Setelah mengetahui kondisi Darren dari Elzaro. Axel kemudian menghubungi Dylan, Jerry, Rehan dan Darel melalui video call. Apa yang disampaikan oleh Elzaro. Seperti itu juga yang disampaikan oleh Axel kepada keempat sahabatnya itu.
Sedangkan untuk Qenan dan Willy? Axel sudah mengetahui bahwa keduanya sedang berada di perusahaan Accenture untuk menyelesaikan masalah yang seharusnya diselesaikan oleh Darren yang juga termasuk masalah Qenan dan Willy.
__ADS_1
"Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja. Sahabat kita ikut kuat. Dia tidak akan nyerah gitu aja," hibur Axel.
"Darren tidak akan ninggalin kita. Percayalah!" Jerry berucap sembari tersenyum, walau hatinya merasakan apa yang dirasakan oleh Qenan dan Willy.
"Oh iya. Nan, Wil! Bagaimana? Apa sudah selesai permasalahan di perusahaan Accenture?" tanya Darel.
Darel sengaja bertanya seperti itu untuk mengalihkan pikiran Qenan dan Willy.
"Sudah," jawab Qenan.
"Dua pria menjijikkan itu menyerang perusahaan Accenture karena beranggapan Darren itu terlalu lemah dan bodoh. Mereka berpikir bahwa selama ini Darren bisa terkenal dan sukses karena adanya kita berdua," ucap Willy dengan tersirat kemarahan di matanya.
"Setelah kita berdua tidak lagi menjadi Direktur disana. Kedua pria itu beranggapan bisa menghancurkan Darren yang hanya sendirian," ucap Qenan.
"Wah! Cari mati tuh mereka. Berani sekali mereka berpikir seperti itu," ucap Rehan.
"Mereka seperti itu karena mereka belum mengetahui siapa Darren yang sebenarnya. Jika mereka tahu siapa Darren yang sebenarnya, aku sangat yakin mereka berdua tidak akan sampai senekat itu," ucap Dylan.
"Beraninya mereka berdua bermain-main dengan seorang Darrendra Smith. Apa mereka tidak sayang dengan nyawa mereka?" Axel berucap.
"Awalnya sok berani, sok jago. Nanti ujung-ujungnya nangis-nangis minta maaf," ucap Jerry.
"Qenan, Willy."
Qenan dan Willy langsung melihat kearah Davin. "Iya, kakak Davin."
"Sebenarnya apa yang terjadi terhadap perusahaan Accenture milik Darren?" tanya Davin.
"Aku juga tidak tahu tujuan mereka apa. Setahuku selama ini semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah apapun. Namun mereka berulah sejak aku dan Willy tidak lagi menjadi Direktur disana," jawab Qenan.
"Mereka melakukan hal menjijikkan itu karena berpikir bahwa Darren itu laki-laki bodoh yang hanya bergantung kepada kami. Jadi ketika kami tidak disana lagi membuat mereka langsung memperlihatkan sifat asli mereka," ucap Willy.
Mendengar jawaban dari Qenan dan Willy membuat Davin dan Andra marah. Begitu juga dengan Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka. Mereka tidak terima adik laki-lakinya diperlukan tak baik oleh kedua pria itu.
"Terus apa yang terjadi Qenan, Willy?" tanya Andra.
"Semua telah kami selesaikan. Kakak Andra dan kalian semua tidak perlu khawatir. Mereka sudah mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatan mereka," jawab Qenan.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan terhadap kedua bajingan itu?" tanya Dzaky.
"Kami memberikan perintah kepada Vicki dan Dito yang saat ini bekerja di perusahaan Accenture untuk mencari tahu latar belakang keluarga dari kedua pria itu. Setelah mereka mendapatkannya, aku dan Qenan meminta kepada Vicki dan Dito untuk menghancurkan seluruh anggota keluarga mereka."
Mendengar ucapan dari Willy membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka tersenyum di sudut bibirnya masing-masing. Mereka sangat puas dengan apa yang dilakukan oleh Qenan dan Willy.
"Kakak suka dengan cara kerja kalian berdua. Orang-orang seperti mereka pantas mendapatkan hukuman seperti itu agar mereka bisa menghargai orang lain," ucap Adnan.
Ketika mereka tengah membahas masalah perusahaan Accenture dan dua pria yang menjadi penyebab permasalahan tersebut, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara pintu ruang Instalasi Gawat Darurat dibuka.
Mereka semua menolehkan wajahnya melihat kearah pintu itu. Dan mereka semua melihat Dokter Celsea keluar dengan wajah lelahnya.
Mereka semua menghampiri Celsea. Mereka semua berharap jika semuanya baik-baik saja.
"Mama, bagaimana kondisi Darren?" tanya Axel langsung.
Celsea menatap wajah putra bungsunya. Setelah itu, Celsea menatap semua orang yang juga menatap dirinya.
"Berkat doa kalian semua. Kondisi Darren baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Masalah Darren pingsan, penyebabnya bukan karena kambuhnya jantungnya. Melainkan tubuh Darren yang memang sangat lemah. Dari hasil pemeriksaan, Darren terlalu stress akan permasalahan yang menimpanya. Belum selesai masalah satu. Justru masalah baru muncul. Hal itulah yang membuat Darren menjadi kepikiran."
Mendengar ucapan dan penjelasan dari Celsea membuat mereka semua sedikit merasakan kelegaan karena jantung Darren baik-baik saja, walau sempat kambuh.
Namun tetap saja rasa khawatir mereka terhadap Darren belum hilang.
"Apa Darren perlu dirawat, Bibi Celsea?" tanya Darka.
"Tidak perlu. Darren boleh dirawat di rumah saja. Tapi ingat, jauhkan dulu Darren dari semua pekerjaannya. Kalau bisa kalian yang mengambil alih semua pekerjaan Darren untuk sementara sampai kondisi Darren benar-benar pulih," ucap Celsea sembari memberikan saran kepada semua orang yang peduli dengan Darren.
"Baiklah," jawab mereka semua dengan kompak.
"Sekarang Darren masih belum sadar. Dan infusnya juga belum habis. Jika infusnya habis. Darren sudah boleh pulang," ucap Celsea.
"Baiklah, Bibi Celsea!" Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, dan Darka menjawab bersamaan.
"Baiklah. Kalian boleh melihatnya di dalam. Aku permisi kembali ke ruanganku."
"Silahkan kak Celsea."
__ADS_1
"Baik, Bibi Celsea."
Setelah mengatakan itu, Celsea pergi menuju ruang kerjanya. Sementara anggota keluarga Smith, keluarga Radmilo dan ketujuh sahabat Darren melangkah memasuki ruang Instalasi Gawat Darurat secara bergantian.