
Di kediaman keluarga Mendez terlihat sepi walau terlihat orang-orang pada berkumpul di ruang tengah.
Mereka adalah Baren, Nuria, Emily, Yufal, Soraya, Renata, Livia, Rafif, Daisy, Lidia, Khary dan sikembar Monica dan Mehdy.
"Kakak Baren, Kakak Yufal. Apa kalian sudah menemukan keberadaan Askara?" tanya Lidia.
"Belum Lidia," jawab Baren.
"Belum ada kabar apapun dari orang-orang suruhannya kakak," jawab Yufal.
"Aku sangat mengkhawatirkan Askara. Dia sedang sakit. Dia tidak ingat siapa dirinya, siapa keluarganya dan dimana rumahnya. Hanya kita yang Askara ingat. Dan hanya kita yang saat ini keluarganya. Kalau terjadi sesuatu terhadap Askara, bagaimana?"
Lidia seketika menangis memikirkan Askara yang sampai detik ini belum diketahui keberadaannya.
Bukan hanya Lidia saja yang begitu mengkhawatirkan Askara. Baren, Nuria, Emily, Yufal, Soraya, Renata, Livia, Rafif, Daisy, Khary dan sikembar Monica dan Mehdy juga sangat mengkhawatirkan Askara. Mereka berharap Askara baik-baik saja.
"Jika sampai terjadi sesuatu terhadap Askara. Aku tidak akan pernah memaafkan kesalahan Mikko dan Kenzo. Mereka berdua harus bertanggung jawab atas masalah ini," sahut Lidia.
"Kak Nuria merasakan kekecewaan dan juga marah terhadap Mikko dan Kenzo. Bisa-bisa mereka berbuat seperti itu terhadap Askara. Apa mereka berdua nggak mikir dampaknya," ucap Nuria.
"Tidak kakak laki-lakinya, tidak adik perempuannya. Ketiganya sama saja kelakuannya," ucap Mehdy.
Mendengar ucapan dari Mehdy, mereka semua melihat kearah Mehdy.
"Apa yang dilakukan Chintia selama di kampus?" tanya Lidia sembari menatap kedua anak kembarnya.
"Biasalah. Chintia masih terus nempelin kemana pun Askara pergi. Hampir tiap menit sehingga membuat Askara risih. Bahkan Chintia sudah berani megang-megang tubuh Askara. Kelakuannya sudah seperti wanita murahan," ucap Monica.
Mendengar ucapan dari Monica membuat Baren, Nuria, Emily, Yufal, Soraya, Renata, Livia, Rafif, Daisy, Lidia dan Khary terkejut.
"Benar-benar tuh anak nggak bisa dibilangin. Padahal aku sudah berulang kali untuk tidak merayu dan menggoda Askara. Tapi dia masih saja melakukannya," ucap Lidia kesal.
"Kak Livia," panggil Lidia.
"Iya."
"Apa kak Livia sudah kasih tahu Chintia tentang apa yang aku bicarakan dengan kak Livia?" tanya Lidia.
"Sudah. Kak Livia sudah kasih tahu dia buat menjauhi Askara. Apa yang kamu sampaikan sama kak Livia. Itu juga yang kak Livia sampaikan sama Chintia."
"Eemm! Berarti otaknya yang sudah rusak alias berkarat sehingga membuat semua perkataan Mommy Livia dan Mommy Lidia nggak mempan sama sekali," pungkas Rafif.
"Harus diasah tuh," sahut Daisy.
"Caranya?" tanya Emily,
"Bagaimana kalau kita jedotin ke dinding tuh kepalanya," sahut Monica.
"Atau kita benamkan setengah kepalanya ke kolam renang," usul Emily.
"Kalau nggak kita tusuk pakai paku ujung kepalanya biar berubah jadi cewek kalem," celetuk Renata.
Sementara Khary, Livia, Lidia, Nuria, Soraya, Baren dan Yufal hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ide gila dari anak-anaknya.
***
Daniel saat ini berada di sebuah Mall. Dirinya memutuskan kesana setelah dari perusahaan miliknya karena ingin membelikan sesuatu untuk kekasihnya. Dan setelah dari Mall, Daniel akan membelikan makanan serta minuman untuk orang-orang yang menjaga Darren di rumah sakit.
Daniel menyusuri luasnya Mall sembari menentang beberapa paper bag di tangan kirinya sambil matanya menatap ke depan sesekali menatap ke kiri dan ke kanan.
Ketika Daniel sedang fokus melangkah dengan tatapan matanya ke depan, tiba-tiba seseorang menabraknya. Dan setelah itu, orang itu menjatuhkan diri ke lantai.
Melihat seseorang jatuh di hadapannya, Daniel hanya menatap orang itu datar. Dirinya bahkan sama sekali tidak berinisiatif untuk menolong orang itu karena menurut pandangannya bahwa orang itu yang menabrak dirinya.
Orang yang menabrak Daniel tersebut adalah seorang gadis. Dan Daniel sudah tahu maksud gadis itu menabrak dirinya dan berpura-pura jatuh di hadapannya.
Setelah beberapa detik menatap gadis itu. Daniel memutuskan pergi meninggalkan gadis itu yang masih terduduk di lantai.
Melihat kepergian Daniel membuat gadis itu seketika menatap tak percaya kearah Daniel. Gadis itu berpikir bahwa usahanya akan membuahkan hasil, namun ternyata gagal.
Tapi hal itu tidak membuat gadis itu menyerah begitu saja. Lalu gadis itu berdiri sembari mengelus pantatnya seolah-olah pantatnya kesakitan akibat terjatuh barusan, walau memang benar pantatnya sakit akibat ulahnya sendiri.
"Dasar laki-laki tidak bertanggung jawab!" teriak gadis itu.
Mendengar teriakkan dari gadis tersebut membuat Daniel berhenti. Semua para pengunjung Mall melihat kearah gadis itu.
"Kau sudah menabrakku. Dan seenaknya kau pergi begitu saja tanpa meminta maaf kepadaku," ucap gadis itu.
__ADS_1
Semua pengunjung Mall beralih menatap kearah Daniel. Sementara Daniel menatap jijik kearah gadis itu.
"Trik yang anda gunakan barusan itu sangat murahan. Anda pikir saya tidak tahu apa yang ada di otak anda saat ini? Apa anda pikir saya tidak tahu siapa anda? Anda boleh saja membohongi semua orang yang ada di Mall ini. Tapi anda tidak bisa membohongi saya. Jelas-jelas anda yang terlebih dahulu menabrak saya."
Mendengar perkataan dari pemuda yang ada di hadapannya itu membuat gadis itu terkejut. Gadis itu tidak menyangka jika pemuda incarannya akan mengatakan hal seperti itu.
"Apa maksud perkataanmu barusan? Jadi kau menuduhku, begitu!"
"Bukan menuduh anda. Tapi itulah yang sedang anda lakukan beberapa menit yang lalu kepada saya. Anda sengaja menabrak saya lalu terjatuh di hadapan saya. Setelah itu, anda berharap saya akan membantu anda. Dan selanjutnya anda akan berusaha untuk mendekati saya."
Mendengar ucapan demi ucapan dari pemuda yang ada di hadapannya membuat gadis itu terkejut. Begitu juga dengan para pengunjung Mall yang masih menyaksikan perdebatan keduanya.
Beberapa pengunjung Mall membenarkan apa yang dikatakan oleh pemuda itu. Dan bahkan ada di antara mereka yang sempat melihat kejadian dimana gadis itu menabrak pemuda tersebut. Memang gadis itu yang terlebih dahulu menabrak pemuda tersebut.
Gadis itu hendak melayangkan perkataannya untuk pemuda itu, namun sudah terlebih dulu dipatahkan oleh Daniel.
"Aku sarankan kepadamu nona Laura Resty Munaf. Jika niatmu ingin merayu dan menggodaku agar aku tertarik padamu sehingga membuatku meninggalkan kekasihku. Lebih baik urungkan dan buang jauh-jauh pikiranmu itu. Sampai kapan pun aku Daniel Afred Carlo tidak akan pernah tergoda pada perempuan murahan sepertimu."
Daniel berbicara dengan perkataan yang begitu kejam dan disertai dengan tatapan matanya yang menatap tajam kearah Laura.
Gadis yang menabrak Daniel adala Laura mantan sahabatnya Bianca, kekasihnya Daniel Afred Carlo.
"Jika di masa lalu kau berhasil merebut kekasih dari sahabatmu sendiri yaitu Bianca Wechsler. Jika di masa lalu kau berhasil membuat hidup sahabatmu menderita. Bahkan kau memfitnah sahabatmu itu di depan kedua orang tuanya. Namun sekarang di masa depan. Aku tidak akan membiarkan setiap usahamu dan niat jahatmu untuk menyakiti Bianca kekasihku berhasil."
"Ingat, nona Laura! Ini bukan sekedar ancaman. Dan aku akan benar-benar melakukannya. Kau tidak tahu siapa aku dan keluargaku. Jadi jangan main-main denganku. Sedikit saja kau menyentuh kekasihku, maka nyawamu sebagai taruhannya. Begitu juga dengan semua anggota keluargamu. Aku akan buat semua anggota keluargamu menjadi gembel di jalanan."
Mendengar ucapan serta ancaman dari Daniel membuat tubuh Laura seketika merinding. Begitu juga dengan para pengunjung Mall. Mereka semua merinding ketika mendengar perkataan dari Daniel. Bahkan mereka bisa melihat dari tatapan mata Daniel. Menurut mereka semua, tatapan mata Daniel begitu menakutkan.
Sedangkan Daniel. Setelah mengatakan itu, Daniel pergi meninggalkan Mall untuk segera menuju rumah sakit. Dia harus segera membawakan beberapa makanan dan minuman karena dirinya tidak ingin para gadis kelaparan ketika sedang menunggu dan menemani Darren di rumah sakit.
***
Saat ini yang menjaga dan menemani Darren di rumah sakit adalah Brenda serta ketujuh sahabatnya yaitu Elsa, Alice, Vania, Milly, Lenny, Tania dan Felisa. Bianca kekasihnya Daniel. Kathleen kekasihnya Darka sekaligus sepupu jauh. Dan Kayana kekasihnya Gilang.
Gilang dan Kayana mulai saling mencintai satu sama lainnya sejak kejadian dimana Gilang menolong Kayana, membawa Kayana ke rumah Darren dan berakhir Darren yang ikut membantu Kayana.
Gilang dan Kayana meresmikan hubungannya setelah semua permasalahan yang dihadapi oleh Kayana dan ayahnya selesai. Bahkan kedua keluarga sudah saling mengenal. Dan ternyata ayah dari Kayana tak lain adalah rekan kerjanya ayah dari Gilang.
Brenda saat ini duduk di samping ranjang Darren sembari tangannya memijat-mijat lembut tangan Darren. Sementara Kathleen dan Kayana duduk masing-masing di samping kanan dan kiri tepatnya di dekat kaki Darren. Baik Kayana maupun Kathleen, keduanya memberikan pijatan kecil di telapak kaki Darren.
Kayana, Kathleen, Bianca dan juga sahabat-sahabatnya Darren memberikan kata-kata semangat untuk Darren. Mereka semua berharap Darren segera membuka kedua matanya.
Cklek!
Terdengar suara pintu dibuka. Para gadis yang ada di dalam, kecuali Brenda langsung melihat kearah pintu yang dibuka.
Mereka semua melihat ketujuh sahabatnya Darren. Tiga kakak laki-lakinya Darren yaitu Adnan, Gilang dan Darka. Para kakak laki-laki nomor dua dari ketujuh sahabatnya Darren melangkah memasuki ruang rawat Darren.
Mereka langsung melangkah mendekati ranjang Darren dan mata mereka menatap Brenda yang tertidur sembari menggenggam erat tangan Darren. Mereka semua tersenyum melihat itu.
"Sudah lama Brenda tidurnya?" tanya Adnan.
Mendengar pertanyaan dari Adnan. Ketujuh sahabatnya Brenda, Kathleen, Kayana dan Bianca langsung melihat kearah Brenda. Dan benar. Brenda tengah tertidur.
"Kita nggak tahu kapan Brenda tertidur," sahut Kathleen.
"Iya. Padahal yang kami tahu Brenda tadi sedang memijat-mijat tangan Darren," ucap Bianca.
Daniel membuka makanan yang sudah dia beli lalu mengeluarkan satu persatu.
"Ya, sudah! Lebih baik kalian makan dulu. Pasti kalian lapar," ucap Daniel.
Mendengar perkataan Daniel. Mereka semua melangkah menuju sofa.
"Aku akan bangunkan Brenda," ujar Lenny.
Lenny kemudian mendekati Brenda dan membangunkan Brenda.
Tak memerlukan waktu lama, Brenda pun bangun dari tidurnya dan melihat kearah Lenny.
"Ada apa, Len? Darren baik-baik saja kan?" tanya Brenda.
Lenny seketika tersenyum mendengar pertanyaan dari Brenda. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Calon suami kamu baik-baik saja. Bahkan dia masih betah tidurnya," sahut Lenny sambil menatap wajah Darren.
Brenda langsung mengalihkan perhatiannya menatap kearah kekasihnya. Seketika wajahnya berubah sedih.
__ADS_1
"Ren," lirih Brenda.
Lenny langsung mengusap-usap lembut punggung Brenda. Dia sangat paham akan kesedihan sahabatnya itu.
"Kamu basuh wajah kamu dulu lalu kita makan. Kakak Daniel membawa banyak makanan. Setelah itu kita pulang. Nanti malamnya kita kesini lagi."
"Baiklah."
Brenda melepaskan tangan Darren berlahan agar dia bisa ke kamar mandi.
Ketika Brenda hendak berdiri, tiba-tiba tangan Darren bergerak dan memegang tangan Brenda.
Melihat hal itu membuat Brenda dan Lenny terkejut.
"Darren!" seru Brenda dan Lenny bersamaan.
Mendengar seruan dari Brenda dan Lenny membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Adnan, Gilang, Darka, Raka, Danar, Rama, Rendy, Satria, Daniel dan Anshel dan ketujuh sahabatnya Brenda langsung menghampiri ranjang Darren.
"Ada apa Brenda, Lenny?" tanya Gilang.
"Itu kakak Gilang. Darren tiba-tiba memegang tangan Brenda ketika Brenda hendak pergi ke kamar mandi," jawab Lenny sambil menunjuk kearah tangan Darren yang memegang tangan Brenda.
Baik Gilang maupun semua yang ada di dalam ruangan rawat Darren langsung melihat kearah tunjuk Lenny. Dan benar, Darren yang sedang memegang tangan Brenda.
"Darren."
"Ren."
Mereka semua berharap Darren mau membuka kedua matanya. Secara Darren sudah delapan hari Darren koma.
Diluar dugaan mereka semua. Harapan dan keinginan mereka beberapa hari ini terkabul. Darren berlahan membuka kedua matanya yang tertutup selama delapan hari. Mereka semua tersenyum bahagia ketika mata itu terbuka.
"Darren!" seru mereka semua dengan senyuman mengembang di bibir mereka masing-masing.
Setelah matanya terbuka sempurna. Darren dapat melihat orang-orang yang menyayanginya berdiri di samping dan di hadapannya.
Darren menatap wajah cantik seorang gadis di hadapannya. Seketika Darren tersenyum.
"Brenda."
Mendengar Darren yang memanggil nama Brenda membuat mereka semua berpikir bahwa Darren telah sembuh dari ingatannya. Dan jika itu benar! Maka itu adalah sebuah kebahagiaan yang berlipat untuk mereka semua terutama ketujuh sahabatnya.
"Ren, kamu...."
Darren tersenyum ketika melihat wajah tak percaya Brenda.
"Kamu Brenda Wilson kekasihnya Darrendra Smith yang paling tampan dan baik hati," ucap Darren pelan dan lemah.
Seketika air mata Brenda jatuh membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan dari Darren. Dia benar-benar bahagia saat ini.
"Ren," panggil Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.
Darren langsung melihat kearah ketujuh sahabatnya yang juga tengah menatap dirinya.
"Apa kabar tujuh kacung-kacungku?" tanya Darren.
Mendengar sapaan tak mengenakan dari Darren membuat mereka menghela nafasnya. Namun dibalik itu, mereka semua bahagia karena sahabatnya telah sadar dari koma dan juga telah kembali mengingat mereka.
"Aku akan panggilkan Mama!" seru Axel yang teringat akan ibunya.
Setelah itu, Axel langsung pergi meninggalkan ruang rawat Darren untuk menuju ruang kerja ibunya.
"Ren," panggil Gilang dan Darka.
Darren melepaskan tangan Brenda. Sementara Brenda langsung memberikan ruang untuk Gilang dan Darka setelah Darren melepaskan tangannya.
"Kakak Gilang, Kakak Darka!"
Gilang dan Darka seketika menangis mendengar adik laki-lakinya memanggilnya. Keduanya tampak bahagia.
"Ren, kakak bahagia kamu kembali mengingat kakak."
"Hati kakak benar-benar sakit ketika melihat kamu yang melupakan kakak Gilang."
"Maafkan aku yang sudah membuat kakak Gilang dan Kakak Darka sedih."
"Lupakan saja. Kakak nggak marah sama kamu," ucap Darka.
__ADS_1
"Kakak mengerti keadaan kamu saat itu," sela Gilang.