KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kemarahan Dario, Radeva dan Anshel


__ADS_3

Di sebuah rumah kecil tampak ramai dimana para orang tua sudah berkumpul di ruang tamu. Mereka adalah kedua orang tua dari Rebeca, Laura, Rachel dan Viola. Termasuk juga dengan ayah dan kedua kakak laki-laki dari Salsa.


"Siapa kalian?!" bentak ayahnya Rebeca.


"Kenapa kalian menyuruh kami kesini?!" bentak ayah dari Rachel.


"Beraninya kalian menipu kami. Dasar menjijikkan!" bentak ayahnya Laura.


"Dan dimana anak-anak kami?!" bentak ayah dari Viola.


Mendengar pertanyaan, ucapan dan bentakkan para ayah dari anak-anaknya yang telah membully putrinya/adik perempuannya membuat Dario, Radeva dan Anshel hanya tersenyum.


Dario dan kedua putranya sengaja membungkam mulutnya bertujuan ingin memberikan kesempatan pada keluarga dari keempat gadis yang sudah membully putrinya/adik perempuannya.


"Kenapa kalian hanya diam? Dimana anak-anak kami?!" bentak ibunya Rebeca.


"Apa yang telah kalian lakukan kepada mereka?! Jangan coba-coba kalian menyentuh anak kami!" bentak ibunya Laura.


Ibunya Viola melihat kearah suaminya dan juga kedua putranya bermaksud untuk mengajak mereka untuk pergi meninggalkan Dario, Radeva dan Anshel.


"Sayang, lebih baik kita pergi dari sini. Ngapain juga kita berada di rumah jelek dan kumuh ini," ucap ibunya Viola.


"Iya, Papa! Apa yang dikatakan Mama benar. Lebih baik kita pergi dari sini. Tidak ada gunanya juga kita berada disini. Mereka jelas-jelas sudah membohongi kita," sahut kakak laki-laki pertama Viola.


Setelah mengatakan itu, kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Viola berdiri dari duduknya. Dan diikuti oleh kedua orang tua dan dua kakak laki-laki dari Rebeca, Laura dan Rachel.


Ketika kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki dari Rebeca, Laura, Rachel dan Viola hendak melangkah. Mereka tiba-tiba dikejutkan dengan suara senjata yang begitu nyaring.


Seketika mereka semua terkejut ketika melihat beberapa orang berpakaian hitam mengarahkan senjata api kearahnya. Mereka semua ketakutan dengan tubuh bergetar.


Kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki dari Rebeca, Laura, Rachel dan Viola secara bersamaan melihat kearah Dario, Radeva dan Anshel yang duduk dengan santainya di sofa dengan tatapan mata menatap kearah mereka semua.


"Kalian tidak akan bisa pergi kemana-mana sebelum permasalahan ini selesai," ucap Dario dengan tatapan tajam dan dingin.


"Duduk!" Radeva berbicara dengan nada perintah.


Kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki dari Rebeca, Laura, Rachel dan Viola tetap di posisinya. Mereka sama sekali tidak mengindahkan perintah dari Radeva.


"Apa kalian tidak mendengar perintah kakakku, hah?!" bentak Anshel.


Kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki dari Rebeca, Laura, Rachel dan Viola sama sekali tidak gentar dan juga tidak takut. Mereka tetap pada posisinya.


Anshel memberikan kode kepada tiga anak buahnya untuk memberikan sedikit kejutan terapi kepada salah satu kakak laki-laki dari Rebeca, Laura, Rachel dan Viola.


Mendapatkan kode dari Anshel, ketiga anak Anshel langsung memberikan masing-masing satu tembakan masing-masing di paha mereka.


Dor! Dor! Dor! Dor!

__ADS_1


Peluru-peluru itu menembus paha keempat pemuda itu sehingga mengakibatkan teriakan kesakitan dari keempatnya.


"Aakkhhh!"


"Remon!"


"Luis!"


"Vico!"


"Rasya!"


Keempat wanita itu berteriak memanggil nama putranya masing-masing dengan air mata yang sudah mengalir membasahi wajahnya ketika melihat keadaan putra sulungnya.


"Brengsek! Apa yang kalian lakukan, hah?!" bentak ayah dari Remon dan Rebeca menatap nyalang kearah Dario, Radeva dan Anshel.


Ayah dari Laura dan Rachel hendak menyerang Dario, namun segera ditahan oleh anak buahnya dengan mengarahkan senjata tepat di kepala kedua pria itu sehingga membuat kedua pria itu berhenti di posisinya.


"Duduk," perintah Radeva untuk yang kedua kalinya.


Dan pada akhirnya, mereka semua pun kembali menduduki pantatnya di sofa.


"Kalian semua bahkan putri-putri kalian sudah salah mencari musuh. Kalian tidak tahu siapa saya dan keluarga saya," ucap Dario dengan menatap tajam keempat anggota keluarga itu.


"Kami sudah cukup sabar atas tindakan buruk yang dilakukan oleh putri-putri kalian terhadap adik perempuanku. Kami tidak membalas dan kami juga tidak menuntut putri-putri kalian ke polisi atas apa yang sudah diperbuat oleh putri-putri kalian itu." Anshel berbicara dengan menatap satu persatu wajah keempat keluarga tersebut.


"Apa maksud kalian?! Kami sama sekali tidak mengerti!" bentak ayahnya Rebeca.


Dario menatap kedua putranya. Begitu juga dengan kedua putranya. Mereka saling memberikan tatapan.


Setelah itu, ketiganya kembali menatap wajah Kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki dari Rebeca, Laura, Rachel dan Viola.


Radeva mengeluarkan laptopnya dari dalam tasnya. Setelah laptopnya sudah berada di atas meja, Radeva membuka laptopnya itu.


Radeva menghidupkan laptopnya. Selang beberapa detik, keluarlah tampilan layar. Setelah menunggu beberapa detik, Radeva pun mengklik sebuah video yang sudah tersimpan rapi disana.


Klik!


Video itu pun berputar di layar laptopnya. Radeva mengarahkan layar laptopnya itu kearah keempat keluarga tersebut.


"Lihatlah video ini. Setelah itu kalian akan tahu maksud dari perkataan ayahku dan adikku," ucap Radeva.


Kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki dari Rebeca, Laura, Rachel dan Viola melihat kearah layar laptop milik Radeva. Mereka melihat adegan demi adegan video itu.


Mereka semua terkejut ketika melihat apa yang telah dilakukan oleh putrinya/adik perempuannya itu.


Radeva menarik laptopnya itu dan mengarahkannya kearahnya, ayahnya dan adik laki-lakinya.

__ADS_1


"Bagaimana? Kalian sudah mengerti maksud perkataanku dan ayahku?" tanya Anshel tersenyum di sudut bibirnya.


"Saya sebagai ayah dari gadis yang sudah dibully oleh putri-putri kalian awalnya tidak terima. Saya ingin membalas perlakuan kejam putri-putri kalian itu dengan balasan yang setimpal. Apa yang dirasakan oleh putriku, itu juga yang harus dirasakan oleh putri-putri kalian. Tapi saya tidak melakukannya." Dario berbicara dengan menatap tajam keempat keluarga tersebut.


"Kami memilih diam dan tidak memperpanjang masalah ini karena putri-putri kalian sudah mendapatkan balasan yang setimpal. Bahkan lebih parah dari apa yang dialami oleh putriku. Orang yang memberikan balasan tersebut adalah Darren, sahabat dari putra bungsuku."


"Darren mengatakan kepada kami bahwa kami tidak perlu membalas putri-putri kalian, karena putri-putri kalian sudah mendapatkan balasan darinya sehingga membuat putri-putri kalian tidak sadarkan diri selama tiga hari di rumah sakit. Akhirnya kami pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh Darren." Radeva berbicara dengan tatapan tajamnya menatap keempat keluarga tersebut.


"Namun nyatanya, diam kami tidak membuahkan hasil sama sekali. Diamnya kami justru membuat putri-putri kalian beranggapan bahwa adik perempuanku takut dan tidak berani mengadukan masalahnya kepada kami keluarganya. Namun sayangnya, anggapan dari putri-putri kalian itu salah. Sekali pun adik perempuanku tidak bercerita. Orang-orang diluar sana yang akan memberikan laporan kepada kami. Salah satunya adalah Darren!"


Radeva menatap bengis keempat keluarga tersebut. Dia benar-benar marah akan sikap arogan dan sombong terhadap mereka semua.


"Putri kalian kembali mengusik adik perempuanku!" Radeva berucap dengan penuh penekanan.


Radeva kembali mendorong laptopnya dan mengarahkan layar laptopnya tersebut kearah keempat keluarga itu.


"Lihat ini."


Kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki dari Rebeca, Laura, Rachel dan Viola langsung melihat kearah layar laptop milik Radeva.


Mereka semua kembali terkejut ketika melihat putrinya/adik perempuannya kembali mengusik seorang gadis. Dan gadis itu adalah gadis yang sama.


Setelah keempat keluarga itu selesai melihat video itu. Radeva kembali menarik laptopnya, lalu mematikan laptopnya itu.


"Karena ulah dari putri-putri kalian itu. Adik perempuanku dipermalukan, dihina, dimaki dan dipukul. Bahkan yang lebih parahnya lagi, pakaian adik perempuanku itu hampir dibuka dengan paksa oleh keempat wanita-wanita itu!"


"Jika Darren tidak datang lebih awal. Pasti harga diri adik perempuanku hancur! Ini semua gara-gara putri kalian!"


Radeva berbicara dengan amarah yang meledak sembari jari tangannya menunjuk-nunjuk kearah keempat keluarga tersebut.


"Putri kalian itu benar-benar sudah sangat keterlaluan. Kelakuan mereka sudan melewati batasan. Saya selaku ayah dari Salsa korban bully dari putri kalian tidak akan memaafkan kesalahan putri kalian itu. Saya akan memprosesnya ke jalur hukum. Dan saya pastikan putri kalian mendapatkan hukuman seumur hidup di dalam penjara!"


Dario berucap dengan penuh penekanan dan ancaman. Dia benar-benar marah dan dendam terhadap keempat gadis tersebut.


"Saya tidak akan melibatkan kalian. Saya juga tidak akan membawa kalian dan keluarga besar kalian dalam masalah ini. Disini putri kalian yang bersalah. Jadi hanya putri kalian saja yang harus mendapatkan hukumannya. Kalian cukup intropeksi diri masing-masing dan jangan pernah sesekali kalian membela putri kalian. Bagaimana pun putri kalian bersalah disini." Dario berucap sembari memberikan peringatan.


"Jika kalian masih ikut campur dan masih terus membela putri atau adik perempuan kalian. Padahal kalian sudah melihat bagaimana kelakuan putri kalian terhadap adik perempuanku. Jangan salahkan aku dan juga keluargaku jika terjadi sesuatu kepada kalian dan seluruh anggota keluarga kalian," ucap Radeva penuh ancaman.


"Kami akan mencari tahu latar belakang keluarga kalian semua. Setelah itu, kami akan menghancurkan kalian tanpa sisa satu pun." Anshel berucap dengan tatapan matanya menatap satu persatu wajah keempat keluarga tersebut.


Dario, Radeva dan Anshel berdiri dari duduknya. Sebelum pergi, mereka kembali memberikan peringatan kepada keempat keluarga itu.


"Untuk kali ini kami tidak akan main-main dengan ucapan kami barusan," ucap Anshel.


"Kalian sudah lihat sendiri buktinya kalau putra kalian tertembak oleh anak buahku akibat kalian tidak patuh padaku," ucap Radeva menambahkan.


Setelah mengatakan itu, Dario dan kedua putranya pergi meninggalkan rumah kecil itu dan diikuti oleh beberapa anak buahnya Radeva. Jumlah anak buah Radeva sekitar 20 orang.

__ADS_1


__ADS_2