
Darren memuntahkan empat timah panas di kaki ayahnya Valen. Tepatnya di tulang keringnya. Akibat dari empat tembakkan itu membuat kedua kaki ayahnya Valen lumpuh secara permanen.
Srek!
"Aakkhh!"
Gilang kembali menarik kuat rambut Valen sehingga membuat Valen kembali berteriak kesakitan.
"Kau bilang aku dan adikku kejam, hum? Kita seperti ini itu juga karena kau! Kau dan keluarga busukmu itu yang terlebih dahulu mencari masalah denganku dan keluargaku. Kalian yang sudah terlebih dahulu mengusik kehidupanku dan kehidupan keluargaku! Bahkan kau dengan lancangnya bersikap kurang ajar kepada ibuku ketika kau datang ke rumah adikku!" teriak Gilang.
"Seandainya kau dan keluargamu itu tidak mencari masalah denganku dan mengusik keluargaku. Maka bisa dipastikan kalian semua itu akan hidup dengan baik."
"Sekarang aku bertanya padamu. Siapa yang kejam disini?! Siapa yang terlebih dahulu mencari masalah? Aku atau kau dan keluargamu?!" bentak Gilang di hadapan Valen.
"Kau sudah salah mencari masalah dengan kami, nona Valencia Carloz. Kami keluarga Smith tidak akan memberikan kata maaf atau pun kata ampun setiap orang yang mencari masalah dengan kami. Apalagi sampai mengusik kehidupan kami." Darren berbicara dengan ekspresi wajah dinginnya.
"Bukan hanya keluarga Smith saja. Ini juga termasuk orang-orang terdekatku. Baik aku maupun orang-orang terdekatku akan membalas setiap orang yang mencari masalah dengan kami!"
Mendengar perkataan dari Darren membuat semua tamu undangan terkejut dan juga takut. Mereka berjanji dalam hati masing-masing untuk tidak mencari masalah atau mengusik keluarga Smith dan orang-orang terdekatnya.
Darren menatap kelima kakak-kakak mafianya dengan tersenyum manis.
Devian, Noe, Ziggy, Enzo dan Chico yang melihat senyuman manis Darren sudah langsung paham. Jika Darren tersenyum seperti itu berarti Darren ingin mereka melakukan sesuatu kepada para musuh-musuhnya.
"Apa yang kau inginkan kali ini?" tanya Chico.
Darren makin tersenyum lebar ketika mendengar pertanyaan dari Chico.
Darren melirik sekilas kearah keluarga besar Valencia. Setelah itu, Darren kembali menatap wajah kelima kakak-kakak mafianya itu.
"Aku ingin kalian membuat ketiga keluarga itu tidak bisa melakukan apapun lagi di dunia ini. Aku tidak ingin kalian membunuhnya. Buat saja mereka seperti hidup segan mati tak mau."
"Dimengerti!" seru mereka bersamaan.
"Lalu bagaimana dengan perempuan itu?" tanya Enzo sembari menunjuk kearah ibunya Valen.
Darren melihat kearah tunjuk Enzo. Begitu juga dengan semua orang yang ada di dalam gedung ini.
"Untuk perempuan itu, aku yang akan mengurusnya. Aku akan bermain-main dengannya terlebih dahulu sebelum aku menghabisinya. Aku akan melakukan itu didepan anggota keluarganya." Darren berbicara dengan senyuman di sudut bibirnya.
Mendengar perkataan dari Darren membuat kelima ketua mafia tersebut tersenyum. Lebih tepatnya senyuman menyeringai. Mereka semua sangat suka dengan cara kerja Darren.
Darren kembali menatap kearah Valen yang saat ini masih dalam keadaan rambutnya ditarik oleh kakaknya.
Gilang melihat kearah adiknya. Begitu juga dengan Darren. Keduanya saling memberikan tatapan. Darren memberikan kode kepada Gilang.
Gilang yang mengerti langsung melepaskan tarikan rambut Valen.
Setelah itu, Gilang mendorong kuat tubuh Valen sehingga tersungkur di lantai.
Bruk!
"Kalian! Bawa wanita tua itu kemari!"
Mendengar seruan dari Darren. Dua dari anggota mafioso kelima kakak mafianya langsung menyeret paksa ibunya Valen ke hadapan Darren.
Kedua anggota mafioso itu langsung mendorong kasar tubuh wanita itu sehingga terjatuh di lantai.
"Lepaskan ikatan tangannya dan juga mulutnya."
"Baik."
Keduanya pun langsung melepaskan ikatan tangannya dan lakban di mulutnya.
"Dasar anak tidak tahu diri!" bentak ibunya Valen ketika lakban tersebut sudah terlepas dari mulutnya.
__ADS_1
"Dalam keadaan seperti ini anda masih saja berani melawanku, nyonya!"
"Kenapa? Kau......." perkataan wanita itu terpotong karena Darren sudah memberikan isyarat dengan meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
"Saat ini aku sudah mengambil alih permainan ini, nyonya. Jadi nyonya dilarang untuk mengajukan protes, oke!"
Darren memperlihatkan jarum suntik yang ada di tangannya ke hadapan Valen dan ibunya Valen.
"Aku ingin bertanya kepadamu, Nyonya! Kira-kira Nyonya masih ingat tidak kejadian 21 tahun yang lalu ketika melihat jarum suntik ini, hum?" tanya Darren kepada ibunya Valen sembari memainkan jarum suntik tersebut.
Wanita itu menatap kearah jarum suntik tersebut. Dan detik kemudian, ingatan dimana dirinya dulu pernah melakukan hal tersebut kepada seorang wanita yang sedang hamil.
FLASHBACK ON
Belva saat ini tengah menyusun barang-barang belanjaannya di bagasi mobilnya.
Namun detik kemudian, seseorang memukulnya dari belakang hingga membuatnya pingsan.
Orang itu tersenyum menyeringai menatap tubuh Belva yang tak sadarkan diri.
Orang itu berjongkok di hadapan Belva dengan memegang empat jarum suntik di tangannya.
"Hallo, Belva. Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup bahagia bersama Erland. Tak masalah aku tidak bisa mendapatkan cintanya Erland. Melihatmu menderita dan juga kesakitan. Itu sudah membuatku bahagia."
Wanita itu menyuntikkan sekaligus empat jarum suntik itu ke leher Belva dengan sangat kasar.
"Maafkan aku jika aku melakukan hal ini kepadamu. Aku melakukan semua ini karena kau telah merebut Erland dariku. Dan gara-gara kau juga Erland menolak cintaku dan lebih memilihmu."
"Selamat menikmati penderitaan dan juga kesakitan, Belva!"
Setelah itu, wanita itu pergi meninggalkan Belva yang dalam keadaan pingsan di depan mobilnya.
FLASHBACK OFF
Darren yang melihat ekspresi wajah dari perempuan yang sudah menyakiti dan membunuh ibunya tersenyum.
"Bagaimana, nyonya? Apa kau sudah mengingatnya?"
"Siapa kau sebenarnya?!" bentak wanita itu.
"Hei, nyonya! Pertanyaan apa itu? Nyonya bertanya siapa saya. Sementara nyonya sudah tahu bahwa saya adalah adik dari calon menantumu, Gilang Aditya Smith!" seru Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Gilang mendengus. Dalam situasi seperti ini, adiknya itu sempat-sempatnya mencari masalah dengannya.
"Darren!" Gilang menggeram marah.
Mendengar geraman dari kakak bantetnya itu membuat Darren tersenyum. Dan kemudian Darren menatap wajah sang kakak.
"Bisa serius tidak?" tanya Gilang dengan tatapan tajamnya.
"Emangnya aku dari tadi ngapain? Main-main?" tanya Darren balik.
Mendapatkan pertanyaan balik dari adiknya itu membuat Gilang menghela nafas pasrahnya.
Sementara anggota keluarganya, orang-orang terdekatnya, ketujuh sahabatnya dan kelima kakak-kakak mafianya juga sama seperti Gilang. Mereka semua hanya bisa geleng-geleng kepala.
Setelah puas membuat kakaknya itu kesal. Darren kembali menatap wajah ibunya Brenda.
"Kau jangan bohong! Aku tidak percaya bahwa kau adalah adik kandung dari Gilang!" bentak wanita itu.
"Kau pasti putra angkat dari Erland dan Belva. Kau bukan putra kandung mereka, iya kan! Ngaku saja!"
Mendengar perkataan dari ibunya Valen membuat anggota keluarga Smith marah, terutama Erland.
Erland sedari tadi sudah menahan mulutnya untuk tidak mengatakan sesuatu. Bahkan Erland sedari tadi hanya menonton apa yang terjadi di hadapannya.
__ADS_1
Kini Erland tidak bisa diam saja disaat wanita di masa lalunya bersikap kurang ajar terhadap putra bungsunya. Dirinya tidak terima jika wanita itu menyebut putra bungsunya sebagai putra angkatnya dan Belva.
"Tutup mulutmu, Salima! Aku sudah cukup mendengar dan juga menyaksikan semuanya. Kau tidak berhak berbicara seperti itu terhadap putra bungsuku!" teriak Erland.
"Darrendra Smith adalah putra kandungku dan Belva Carlise Garcia!" teriak Erland.
"Tidak. Kau pasti bohong, Erland!" bentak Salima.
"Terserah padamu. Yang jelas aku tekankan disini. Darrendra Smith adalah putra kandungku dan Belva Carlise Garcia!" bentak Erland.
"Papa." Davin dan Darka mengusap lembut punggung ayahnya.
Darren menatap wajah ayahnya yang saat ini benar-benar dalam keadaan marah.
"Papa," panggil Darren.
"Iya, sayang."
"Papa tenang, oke!" bujuk Darren.
"Tapi Papa tidak terima atas apa yang diucapkan oleh wanita sialan itu terhadapmu, sayang!" sahut Erland.
"Aku paham. Tapi Papa tenang, oke! Aku akan menyelesaikannya."
"Apa yang dikatakan oleh Darren benar, Erland? Kau tidak perlu terpancing akan ucapan dari perempuan itu," hibur Dellano.
"Abaikan saja," sela David.
"Biarkan putra bungsumu dan putra kelimamu menyelesaikan pekerjaannya. Kita cukup menyaksikannya dari sini," pungkas Valeo.
"Hm." Aldez, Eric, Hendy dan Dario berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
Erland menatap wajah kedua putra bungsunya. "Baiklah, sayang! Selesaikan pekerjaanmu agar kita bisa segera pergi dari sini. Dan kau juga Gilang! "
Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren ketika mendengar perkataan dari ayahnya. Begitu juga dengan Gilang.
Bagi Darren mendengar perkataan dari ayahnya itu adalah sebuah doa dan penyemangat untuknya.
Darren menatap nyalang ibunya Valen. "Baiklah, nyonya. Dikarenakan kau masih penasaran denganku. Dan kau juga tidak mempercayai perkataanku kalau aku adalah putra kandung dari Erland Faith Smith dan Belva Carlise Garcia. Aku akan jelaskan kepadamu kronologinya seperti apa."
Darren tersenyum menyeringai menatap wajah wanita itu. Sementara wanita itu sudah ketakutan.
"Kau mungkin sudah mendengar kabar tentang kelahiran putra bungsu dari Erland Faith Smith dan Belva Carlise Garcia, bukan? Dan kau juga sudah mendengar kabar terakhir tentang kondisi putra bungsu mereka?" tanya Darren dengan masih memperlihatkan senyuman manisnya.
Wanita itu hanya diam ketika mendengar perkataan dari Darren.
"Kau mengira jika putra bungsu dari Erland Faith Smith dan Belva Carlise Garcia meninggal setelah dilahirkan ke dunia ini. Iyakan?" Darren menatap remeh wanita itu.
"Aku beritahu padamu, nyonya! Awalnya memang iya. Putra bungsu dari Erland Faith Smith dan Belva Carlise Garcia dinyatakan meninggal dunia. Namun tiga menit kemudian, bayi itu mengeluarkan tangisan kerasnya. Dengan kata lain, bayi itu kembali menghirup udara segar di dunia ini."
Mendengar perkataan dari Darren membuat wanita itu terkejut dan tak percaya. Dirinya memang mendapatkan kabar bahwa putra bungsu dari Erland Faith Smith dan Belva Carlise Garcia meninggal dunia. Tapi wanita itu tidak mendapatkan kabar tentang bayi itu kembali hidup dimenit ketiga.
Melihat keterkejutan di wajah wanita itu membuat Darren tersenyum puas. Begitu juga dengan Gilang dan orang-orang terdekatnya.
Darren berjalan mendekati wanita itu. Setelah berdiri di hadapannya, Darren kemudian berjongkok.
Dan detik kemudian...
Srek!
"Aakkkhhh!"
Wanita itu berteriak kesakitan ketika rambutnya ditarik dengan kuat oleh Darren.
"Mami!" teriak Valen.
__ADS_1