KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kekhawatiran Liana


__ADS_3

[Ruang Rawat Darren]


Kini semuanya sudah berada di dalam ruang rawat Darren. Ketika mereka memasuki ruang rawat Darren. Mereka semua menangis. Mereka menangis kala melihat kondisi Darren dimana semua alat-alat medis menempel pada tubuhnya.


Mereka semua menatap Darren dengan air mata yang tak hentinya mengalir membasahi wajah mereka masing-masing.


Erland membelai lembut kepala putranya sehingga memperlihatkan kening putih putranya itu. Dan detik kemudian, Erland memberikan kecupan sayang di kening itu.


Setelah memberikan kecupan sayang di kening putranya, Erland menempelkan keningnya di kening putranya. Erland menangis dan tetesan air matanya jatuh mengenai pipi putranya.


"Sayang. Jangan tidur lama-lama ya. Satu atau dua hari saja tidurnya," ucap lirih Erland yang tangan kanannya mengusap-ngusap pipi kiri Darren.


"Sayangnya Mama," lirih Agneta dengan mengusap-ngusap punggung tangan Darren.


Hati Agneta benar-benar hancur melihat putra sekaligus keponakannya terbaring tak berdaya di tempat tidur.


"Kakak Darren."


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menangis terisak melihat kakak kesayangannya sekaligus kakak favoritnya terbaring di tempat tidur dengan beragan alat-alat medis yang menempel di tubuh, di wajah dan di tangannya.


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka kini berdiri di sebelah ranjang Darren. Mereka menatap dengan berlinang air mata adik kesayangannya.


"Darren," isak Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.


Erland menjauhkan wajahnya dari putranya, lalu menatap kearah keenam putranya dari Belva. Dapat dilihat olehnya keadaan keenam putranya yang tak jauh beda dengan dirinya.


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka yang melihat ayahnya yang sudah menjauh dan memberikan ruang untuk mereka langsung secara bergantian memberikan kecupan-kecupan sayang di kedua pipi dan kening Darren. Bahkan mereka juga berulang kali mengecup punggung tangan adiknya secara bergantian.


"Darren. Keinginan Kakak Davin sama seperti Papa. Tidurnya jangan lama-lama ya. Darren boleh tidur paling lama hanya dua hari saja," ucap Davin sembari tangannya bermain-main di kepala Darren.


"Iya, Ren. Kakak Davin benar. Kamu nggak boleh tidur lama-lama. Kamu hanya boleh tidur dua hari saja," tutur Darka.


"Darren," isak Andra, Dzaky, Adnan dan Gilang.


Setelah puas memberikan kecupan sayang untuk adiknya. Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka pun menjauh dari ranjang Darren dan memberikan kesempatan untuk yang lainnya.

__ADS_1


"Darren, sayang. Bibi benar-benar sakit setiap melihat kamu seperti ini. Kenapa kamu harus kembali kesini sayang?" Carissa menangis menatap wajah pucat keponakan manisnya.


"Cepat bangun sayang," ucap Evan dengan deraian air mata.


Evan dan Carissa secara bergantian memberikan kecupan sayang di kening Darren.


"Darren. Kakak Daffa sangat yakin kalau kamu adalah pemuda yang kuat. Dan Kakak yakin kamu pasti bisa melewati semua ini," ucap Daffa di telinga Darren.


Setelah mengatakan itu, Daffa memberikan kecupan sayang di kening Darren.


Sementara untuk Tristan dan Davian. Keduanya hanya bisa menangis. Baik Tristan dan Davian tidak tahu harus mengucapkan kata apa untuk adik sepupunya itu.


Namun Tristan dan Davian juga sama seperti sang kakak laki-lakinya yaitu Daffa yang memiliki keyakinan besar terhadap Darren. Keduanya yakin jika Darren bisa melewati semuanya. Keduanya juga yakin jika Darren akan segera sadar dari koma.


Disisi lain dan di ruangan yang sama dimana Brenda yang menangis melihat kondisi Darren dari jauh. Dirinya ingin mendekat, tapi kakinya seakan berat untuk melangkah. Ditambah lagi, Brenda yang tidak terlalu dekat dan tidak terlalu kenal dengan seluruh anggota keluarga Darren.


Brenda hanya kenal dan dekat dengan anggota keluarga dari ketujuh sahabat-sahabat Darren.


Setelah Daffa, Tristan dan Davian selesai. Ketiganya pun menjauh dan memberikan ketujuh sahabat-sahabat Darren untuk berbicara dengan Darren.


Melihat ketiga kakak-kakak sepupu Darren menjauh dari ranjang Darren. Qenan, Willy, Dylan, Darel, Axel, Jerry dan Rehan pun melangkah mendekati ranjang Darren.


"Brenda," panggil Willy.


Mendengar Willy yang memanggil Brenda. Semua orang yang ada di dalam ruang rawat Darren langsung melihat kearah Brenda, termasuk keluarga Smith.


"Jadi gadis itu yang bernama Brenda?" batin para kakak-kakak Darren bersamaan, termasuk Daffa, Tristan dan Davian.


"Cantik," batin mereka lagi.


Sedangkan Erland, Agneta, Carissa dan Evan tersenyum menatap wajah Brenda.


"Kemarilah Brenda. Apa kau tidak ingin menyampaikan sesuatu untuk orang yang kau cintai, hum?" sahut Willy.


Yah! Willy memang tahu dari dulu kalau Brenda menaruh hati terhadap Darren. Brenda selama ini menganggap Darren sebagai kekasihnya bukan sebagai sahabatnya.

__ADS_1


Namun perasaannya itu harus Brenda kubur jauh-jauh dan menyimpan perasaan itu dengan sangat baik.


Brenda tidak berani untuk mengungkapkan perasaannya itu di hadapan Darren. Brenda takut akan berdampak pada persahabatannya dengan Darren jika dirinya mengungkapkan perasaannya tersebut. Brenda tidak ingin Darren menjauhinya dan pergi meninggalkan dirinya.


Mendengar perkataan dari Willy. Berlahan Brenda melangkahkan kakinya untuk mendekati ranjang Darren.


Kini Brenda telah berdiri di samping ranjang Darren. Sementara ketujuh sahabat-sahabat Darren berdiri di sebelahnya.


Brenda menatap sedih wajah Darren yang di tutupi dengan masker oksigen. Dan berlahan tangannya menggenggam lembut tangan Darren.


"Ren. Ini aku Brenda. Kamu harus kuat ya. Seperti yang dikatakan sama Papa kamu. Kamu nggak boleh tidur lama-lama. Kamu harus udah bangun di hari kedua. Kamu nggak lupakan kalau kita masih punya satu pekerjaan yang belum kita selesaikan? Kalau kamu nggak bangun. Dan kalau kamu tidurnya terlalu lama. Pekerjaan kita bakal tertunda. Kita harus segera selesaikan pekerjaan itu."


Brenda menangis ketika berbicara dengan Darren. Hatinya benar-benar sakit dan juga hancur melihat orang yang begitu dicintainya terbaring tak berdaya di tempat tidur.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Brenda membuat mereka semua sedih, terutama keluarga Smith. Setiap ucapan dari Brenda mengandung makna dan juga semangat untuk Darren.


***


Di kediaman Wilson dimana Liana selaku ibu dari Brenda saat ini berada di ruang tengah. Liana tidak sendirian melainkan bersama putra dan putrinya yang lainnya.


Baik Liana serta putra dan putrinya tengah memikirkan Brenda. Mereka sangat mengkhawatirkan Brenda. Brenda pamit pada ibunya dan mengatakan jika Brenda tengah membantu temannya di perusahaan. Namun sampai detik ini, Brenda belum juga kembali. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi.


"Aish! Tuh anak kemana sih? Susah banget menghubunginya," ucap Maura kesal.


"Mama. Sebenarnya saat Brenda izin sama Mama. Brenda ngomong apa sama Mama?" tanya Barra.


"Adikmu minta izin sama Mama katanya mau bantuin temannya di perusahaan. Temannya itu tidak bisa komputer. Jadi temannya itu minta bantuan adikmu," jawab Liana.


"Tapi nggak mungkin perusahaan masih buka jam segini. Perusahaan itu tutup setidaknya jam 8 malam. Itu pun kalau lembur," ucap Rangga.


"Apa jangan-jangan Brenda bohong lagi sama Mama," sela Barra.


Liana hanya diam ketika mendengar perkataan dari Barra putra ketiganya. Di dalam hatinya, Liana sangat mempercayai putrinya Brenda. Bukan hanya Brenda. Untuk putra dan putrinya yang lainnya juga. Liana begitu mempercayai mereka.


"Sudah... Sudah! Jangan berpikir hal yang tidak-tidak. Rangga, hubungi lagi adikmu," ucap Liana.

__ADS_1


"Baik, Mama!"


"Brenda, kamu dimana sayang? Semoga kamu baik-baik saja, Nak!" batin Liana.


__ADS_2