KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Dua Pasang Mata


__ADS_3

Darren, Brenda dan para sahabat-sahabatnya saat ini berada di Aula pertemuan, kecuali Dylan dan Rehan.


Darren dan yang lainnya berada di Aula tersebut untuk membentuk kembali timnya yang sudah bubar selama tiga bulan.


"Pengumuman! Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi. Baik itu yang tampan, cantik, jelek, dekil, kumel, kucel, bau, gendut, kurus, jangkung, tiang listrik, hitam, putih. Apapun itu." Dylan berbicara keras tepat di depan mic.


"Bagi yang merasa dirinya sebagai mantan anggota organisasi kampus. Diharapkan, diharuskan, diwajibkan  untuk datang ke Aula pertemuan. Sekarang! Nggak pake nanti! Nggak pake lama!" ucap Rehan.


"Ingat! Jangan sampai nggak datang. Kalau kalian pada nggak datang, kita-kita bakal kasih kalian hukuman. Hukumannya itu adalah kalian semua harus mentraktir kami yang berstatus ketua kalian makan enak setiap hari selama dua bulan." Dylan menambahkan.


"Cukup sekian dan terima kasih," ucap Dylan dan Rehan bersamaan.


Mendengar pengumuman dari ruangan pengumuman membuat semua mahasiswa dan mahasiswi terkejut. Bahkan yang membuat mereka semua lebih terkejut lagi dan tak percaya adalah perkataan yang membawa fisik.


Bukan itu saja, keduanya juga memberikan ancaman yang membuat para mahasiswa dan mahasiswi membelalakkan matanya masing-masing.


Mereka semua tak habis pikir akan kedua mahasiswa yang mengumumkan informasi itu. Bahkan mereka semua tahu siapa nama dari dua orang mahasiswa yang memberikan pengumuman tersebut.


Sementara untuk Darren dan kelima sahabatnya hanya geleng-geleng kepala kala mendengar perkataan dari dua sahabatnya itu. Begitu juga dengan Brenda dan ketujuh sahabatnya. Bahkan rektor, dekan dan para dosen juga ikut dibuat geleng-geleng kepala ketika mendengar pengumuman itu.


^^^


Di kelas Gilang dan Darka saat ini tengah mengikuti materi kuliah ekonomi.


Ketika mereka tengah fokus dengan materi kuliahnya, mereka semua dikejutkan dengan suara orang dari ruang pengumuman.


Tak jauh beda dengan para mahasiswa dan mahasiswi lainnya. Gilang, Darka dan teman-teman sekelasnya serta dosen yang mengajar juga dibuat geleng-geleng kepala akan ucapan dari kedua mahasiswa tersebut.


"Gil, apa ini berarti Darren telah menerima jabatan itu lagi?" tanya Darka.


"Seperti yang kita dengar barusan. Kalau mantan anggota organisasi disuruh ke Aula. Berarti memang Darren telah kembali menjabat sebagai ketua organisasi kampus," ucap Gilang.


Dosen yang mengajar di kelas Gilang dan Darka berhenti sejenak. Matanya menatap satu persatu wajah para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di hadapannya.


"Jika diantara kalian mantan anggota organisasi. Saya izinkan kalian untuk langsung menuju ke Aula pertemuan. Kalian tidak maukan mendapatkan hukuman dari para ketua kalian itu, hum!" seru Dosen itu menggoda para mahasiswa dan mahasiswinya.


Mendengar godaan dari dosennya membuat mereka semua tertawa. Baik dosen tersebut maupun mereka semua percaya jika apa yang mereka dengar itu hanya candaan saja.


Dan setelah itu, beberapa mahasiswa dan mahasiswi berdiri dari duduknya dan langsung melangkah keluar untuk menuju ke Aula pertemuan.


^^^


Di Aula pertemuan dimana Darren, Brenda dan sahabat-sahabatnya masih memikirkan apa yang diucapkan oleh Dylan dan Rehan.


Mereka tidak menyangka bisa-bisanya Dylan dan Rehan akan mengatakan hal itu.


"Sahabat siapa dulu tuh," ejek Alice dengan menatap wajah Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry dan Darel bergantian.

__ADS_1


"Bukan sahabat gue," jawab Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry dan Darel bersamaan.


"Pacar lo tuh Vania," ejek Lenny.


"Bukan pacar gue," jawab Vania.


Ketika Tania ingin membuka suaranya ikut meledek Milly. Orang yang akan diledeknya sudah terlebih dahulu membuka mulut.


"Bukan pacar gue juga," ucap Milly.


Mendengar ucapan dari Milly. Tania merengut kesal. Dirinya kesal karena gagal meledek Milly seperti Lenny yang berhasil meledek Vania.


"Oh. Gitu ya!" seru Dylan dan Rehan bersamaan.


Deg!


Mendengar seruan dari dua orang membuat Milly dan Vania membulatkan matanya.


Milly dan Vania dengan kompak mengalihkan perhatiannya menatap kearah Rehan dan Dylan.


"Hehehe... Sayang!" seru Milly dan Vania.


Melihat tingkah Vania dan Milly membuat Brenda, Elsa, Alice, Lenny, Tania dan Lenny geleng-geleng kepala.


"Apa sayang-sayang," ucap Dylan yang kini dalam mode merajuknya.


"Sekarang bilang sayang. Barusan bilang kalau aku ini bukan pacar kamu," ucap Rehan yang juga dalam mode merajuk.


Milly dan Vania menatap horor Lenny dan Tania.


"Ini salah kalian!" seru Milly dan Vania dengan menunjuk kearah Lenny dan Tania.


"Lah kok kita disalahin?" tanya Tania dan Lenny kompak.


"Jelaslah kalian yang salah," ucap Milly.


"Jika kalian nggak ngejek kita. Kita nggak bakal ngomong gitu," sela Vania.


Lenny dan Tania melotot dikarenakan Vania dan Milly bersikeras menyalahkan mereka.


"Enak aja. Kita nggak salah," ucap Tania.


"Iya, benar. Kita nggak salah," sela Lenny.


"Kalian jelas salah!" seru Milly dan Vania kompak.


"Nggak."

__ADS_1


"Iya."


"Nggak."


"Iya."


Melihat perang mulut antara Vania dan Milly vs Tania dan Lenny membuat Darren, Brenda dan yang lain mengusap kasar wajah masing-masing.


Dan detik kemudian..


"STOP!" teriak Brenda.


Seketika Tania, Lenny, Vania dan Milly mengatup bibirnya masing-masing. Sementara yang lainnya menutup telinganya ketika mendengar teriakan dari Brenda.


"Dari pada kalian ribut disini. Noh! Pacar kalian udah pergi. Lebih baik kalian kejar pacar kalian. Jangan sampai pacar kalian direbut sama para pelakor yang ada diluar sana."


"Ntar digoda sama Pamela dan Lori, nangis ngejer kalian."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Brenda membuat Milly dan Vania membelalakkan matanya.


Dan detik kemudian...


Vania dan Milly langsung berlari keluar untuk mengejar kekasih masing-masing.


Seketika terdengar suara tawa yang menggelegar di ruang Aula tersebut.


"Hahahahaha."


Darren, Brenda dan sahabat-sahabatnya tertawa melihat tingkah dan kelakuan dari Vania, Milly, Dylan dan Rehan.


^^^


Dylan, Vania dan Rehan, Milly berada di sebuah taman yang ada di belakang kampus. Dan di taman itu ada beberapa kursi yang tersedia.


Dylan dan Vania maupun Rehan dan Milly saat ini tengah bermesra-mesraan. Mereka sengaja mencuri waktu selama setengah jam untuk pacaran. Baik Dylan dan Vania serta Rehan dan Milly saat ini sedang berciuman.


Ketika Rehan, Milly, Dylan dan Vania sedang berciuman. Ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan.


Kedua pasang mata itu melihat adegan ciuman tersebut merasakan sakit dan terluka. Bahkan kedua pasang mata itu menatap marah kearah Vania dan Milly.


"Vania, tunggu pembalasanku."


"Aku akan membuatmu hancur, Milly."


Setelah puas melihat orang dicintainya berciuman dengan wanita lain. Kedua pasang mata itu pun pergi meninggalkan tempat tersebut.


Kedua pasang mata itu tidak ingin terlalu lama melihat adegan ciuman dari laki-laki yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Kedua orang itu begitu marah ketika melihat kemesraan Vania dan Dylan serta Rehan dan Milly. Ingin rasanya kedua orang itu menghampiri Dylan, Vania, Rehan dan Milly lalu menarik rambut Vania dan Milly.


Setelah itu, keduanya akan membawa Milly dan Vania menjauh dari Dylan dan Rehan. Tapi mereka tidak ada keberanian. Jika mereka melakukan hal itu terang-terangan, maka usaha kedua orang itu akan bertambah sulit untuk mendapatkan hati Dylan dan Rehan. Kedua orang itu tidak ingin Dylan dan Rehan membencinya.


__ADS_2