KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Membuat Laporan


__ADS_3

Riana langsung berlari menghampiri suami dan putrinya saat melihat tubuh suaminya jatuh tak sadarkan diri di lantai dan diikuti oleh keempat sahabatnya di belakang


"Mama," isak Helena.


"Sayang," isak Riana sembari memeluk tubuh suaminya.


"Tolong bantu suamiku!" teriak Riana.


Lalu dua orang pria yaitu suami dari Jessy dan Ellia langsung mengangkat tubuh Ramoz dan membawanya ke dalam mobil, lalu mereka membawanya ke rumah sakit.


"Sayang. Pergilah temani Papamu."


"Mama mau kemana? Jangan tinggalkan aku. Aku takut, Mama."


"Kau tidak perlu khawatir. Papa akan baik-baik saja. Mama harus pergi sebentar untuk mengurus sesuatu. Setelah urusan Mama selesai. Mama akan langsung kerumah sakit."


"Jangan lama-lama."


"Baik, sayang."


Setelah mengatakan hal itu, Helena yang ditemani oleh dua sahabat Ibunya beserta suami pergi menuju rumah sakit.


Sementara Riana langsung berpamitan dengan dua sahabatnya yang lainnya.


"Kau mau kemana, Riana?" tanya Chinthia.


"Aku harus ke kantor polisi."


"Untuk apa, Riana?" tanya Ayunda.


"Aku harus melaporkan masalah yang menimpa suamiku. Bukankah kalian lihat sendiri pemuda itu menusuk suamiku."


"Tapi Riana. Kita belum tahu masalah yang sebenarnya. Bahkan kita tidak mendengar apa yang mereka bicarakan," ucap Chinthia.


"Jangan sampai kau salah mengambil tindakan Riana sehingga membuatmu menyesal. Memang banyak yang melihat bahwa pemuda itu menusuk suamimu. Tapi mereka memilih diam karena mereka tahu pokok permasalahannya. Jika seandainya pemuda itu berniat buruk pada suamimu. Pasti orang-orang disana akan melindungi suamimu dan menahan pemuda itu," pungkas Ayunda.


"Saya setuju apa yang dikatakan oleh, Nyonya Ayunda. Lebih baik Nyonya Riana jangan dulu membawa masalah ini ke kantor polisi," bujuk suami Chinthia.


"Aku tidak peduli. Aku harus melaporkan masalah ini ke kantor polisi. Pemuda itu harus ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara!" Riana sudah bertekad untuk memenjarakan Darren.


Setelah mengatakan hal itu, Riana pergi meninggalkan dua sahabatnya bersama suaminya.


***


[KANTOR POLISI]


Riana sudah berada di kantor polisi. Dirinya juga membawa tiga orang pria untuk ikut bersamanya sebagai saksi.


Sebelum Riana pergi, Riana telah meminta tiga dari pria yang hadir di acara Pameran Lelang Lukisan untuk mau menjadi saksi. Bahkan Riana memberikan bayaran yang cukup tinggi untuk ketiga pria itu. Yang awalnya ketiga pria itu menolak, namun saat melihat sejumlah uang yang telah masuk ke rekening mereka lewat ponsel Riana, ketiga pria itu langsung setuju dengan permintaan Ramiran.


"Apa yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya polisi itu.


"Saya ingin membuat laporan tentang kejahatan yang dilakukan oleh seorang pemuda."


"Siapa nama pemuda itu?"


"Namanya Darren. Ini fotonya, Pak!" Riana menjawab pertanyaan dari polisi itu sembari memperlihatkan foto Darren yang sempat diambilnya dari ponsel milik putrinya.


"Apa yang sudah dilakukan oleh saudara Darren?"


"Dia sudah melukai suami saya, Ramoz! Bahkan dia melakukan hal itu di depan banyak orang dan disaksikan oleh banyak orang."


"Benar itu, Pak! Kami adalah saksinya. Kejadian itu terjadi setelah acara Pameran Lelang Lukisan itu selesai," jawab pria yang pertama.


"Iya, Pak. Bahkan pemuda itu sepertinya memang sangat dendam dengan suami Nyonya ini," jawab pria yang kedua.


"Kami melihat dengan sangat jelas, Pak. Pemuda itu benar-benar senang saat melakukan pekerjaannya itu," jawab pria yang ketiga.

__ADS_1


"Apa ucapan kalian bisa dipegang?" tanya polisi itu.


"Bisa, Pak. Kami ada disana. Bapak bisa mengeceknya jika Bapak tidak percaya. Kejadian itu disaksikan banyak orang," jawab pria pertama.


"Baiklah. Laporan kalian akan kami segera tindak lanjut," jawab polisi tersebut.


"Terima kasih, Pak." Riana berucap dengan senyum di sudut bibirnya "Sebentar lagi kau akan dipenjara dan akan membusuk disana Darren. Dan tidak akan ada kata damai dariku dan juga keluargaku," batin Riana.


Lalu datang seorang polisi muda menghampiri polisi yang sedang menulis laporan. Polisi muda itu membisikkan sesuatu padanya.


"Baik," Polisi itu mengangguk setelah mendapatkan informasi dari anggotanya


"Baiklah, Nyonya. Kita sekarang ke rumah sakit karena pemuda yang menjadi tersangka penusukan Tuan Ramoz sedang dirawat di rumah sakit."


Lalu mereka pun pergi meninggalkan kantor polisi untuk menuju rumah sakit.


Flasback Off


***


[RUMAH SAKIT]


Saat ini anggota keluarga Smith, para sahabatnya Darren dan para anggota dari sahabat-sahabatnya sedang membahas tentang kejahatan yang dilakukan oleh Delon dan putranya Samuel.


Saat mereka tengah fokus membahas masalah tersebut, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan seseorang.


"Itu mereka!" teriak seseorang.


Mereka semua pun melihat keasal suara tersebut. Dan dapat mereka lihat seorang wanita paruh baya beserta tiga orang pria dan juga beberapa polisi menuju kearah mereka semua.


"Siapa wanita itu?" tanya Carissa.


Mereka yang ditanya hanya mengangkat bahu sembari menatap tak suka ke arah wanita itu.


"Kalian jaga ruangan Darren. Jangan sampai salah satu dari mereka masuk. Masalah ini biar kami yang urus!" sahut Devian pada Qenan dan yang lainnya.


"Maaf kalau kedatangan kami mengganggu kenyamanan kalian," ucap pimpinan polisi itu.


"Langsung saja. Ada apa?" tanya Erland.


"Begini. Kami membawa surat penangkapan untuk saudara Darren," jawab pimpinan polisi itu sambil menunjukkan surat tersebut kepada Erland dan yang lainnya.


Erland mengambil surat itu, lalu membuka dan membacanya.


Kemudian....


SREEKKK!


SREEKKK!


Erland langsung merobek surat itu dan melemparkan sobekan kertas itu ke wajah pimpinan polisi tersebut.


Pimpinan polisi itu menatap tajam kearah Erland. Begitu juga dengan Erland.


"Anda lancang sekali bersikap seperti itu pada petugas kepolisian."


"Anda tidak punya hak untuk menangkap putraku. Anda hanya seorang polisi biasa. Bahkan posisi anda hanya sebagai Inspektur Polisi bukan sebagai kepala kepolisian seperti Jenderal Polisi atau Komisaris Jenderal Polisi. Jadi jangan sok bersikap seolah-olah anda adalah seorang polisi yang memiliki jabatan tinggi dinegara ini," sahut Erland.


"Anda berani menantang pihak kepolisian, hah?!" bentak polisi itu. "Saya adalah seorang polisi. Dan saya punya hak untuk menangkap seorang penjahat seperti putra anda," ucap polisi itu dengan menujuk wajah Erland.


Saat Erland ingin menjawab perkataan dari polisi tersebut. Devian dan Enzo pun bersuara.


"Paman!" seru Enzo dan Devian bersamaan.


Mereka berdua mendekati Erland, lalu membawa Erland menjauh untuk menenangkan emosinya. Gilang dan Darka yang melihat Ayahnya dibawah oleh Enzo dan Devian memutuskan untuk mengikutinya.


"Lebih baik kalian bawa Paman Erland ke ruang rawat Darren. Siapa tahu Paman Erland bisa sedikit terhibur saat melihat Darren," usul Enzo.

__ADS_1


"Baik," jawab Gilang dan Darka bersamaan.


Darka dan Gilang pun membawa Ayah mereka ke ruang rawat Darren. Melihat kepergian ketiganya. Enzo dan Devian kembali menuju yang lainnya.


"Apa alasan anda untuk menangkap putra saya Darren?" tanya Dario.


Mendengar ucapan dari Dario membuat polisi itu bingung.


"Sebenarnya siapa diantara kalian Ayah dari Darren?" tanya polisi itu dengan menatap tajam satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya.


"Jawab saja pertanyaan kami Inspektur Polisi yang terhormat!" seru Noe.


"Baiklah. Saudara Darren sudah melakukan satu tindak kejahatan yaitu telah melukai tuan Ramoz."


"Dari mana anda mengetahui berita itu?" tanya Devian.


"Dari Nyonya ini dan juga ketiga pria ini." polisi itu langsung menunjuk kearah Riana dan ketiga pria tersebut.


Mereka semua melihat kearah Riana dan ketiga pria tersebut dengan tatapan amarah, terutama keluarga Smith.


"Apa anda langsung percaya dengan laporan dari wanita dan juga ketiga pria itu? Sementara saat kejadian itu, bukan hanya mereka yang ada disana melainkan ada banyak orang yang melihat kejadian itu, termasuk kami. Kami semua juga ada disana!" seru Eric.


"Jika kami mau, hari ini juga kami bisa membawa semua orang-orang yang melihat kejadian itu untuk mendatangi kantor polisi tanpa ada yang pulang," sela Hendy.


"Bahkan kami bisa memperlihatkan video lengkapnya pada anda tanpa ada yang terlewatkan," sahut Enzo sambil menatap kearah Riana dan ketiga pria tersebut.


Mendengar penuturan dari Enzo membuat Riana menjadi gugup. Tapi dirinya berusaha menutupi kegugupannya.


"Saya sarankan pada anda, Pak polisi. Sebelum menangkap adik saya, lebih baik anda selidik dahulu kejadian yang sebenarnya. Jangan asal main tangkap saja. Takutnya akan menjadi bumerang untuk anda sendiri. Begitu juga dengan anda, Nyonya dan kalian bertiga," ucap Noe.


"Jadi maksud kalian kalau saya membuat laporan palsu. Begitu?" bentak Riana.


"Hm. Kami tidak mengatakan seperti itu. Nyonya sendiri yang berpikiran seperti itu," jawab Devian santai.


"Ooohh!! Jangan-jangan benar lagi jika anda membuat laporan palsu mengenai adik saya agar adik saya dipenjara," tanya Dzaky dengan menatap intens Riana.


"Atau bisa jadi ketiga pria ini adalah orang suruhan anda," ujar Adnan.


"Jaga ucapan kalian. Kalian tidak bisa seenaknya menuduh saya seperti itu!" bentak Riana.


"Anda tidak mau dituduh. Tapi anda bersikeras menuduh Darren, kesayangan kami!" seru Emma.


"Jika anda tidak ingin dituduh. Maka jangan pernah menuduh seseorang sebelum tahu kebenarannya," sahut Bella yang menatap meremehkan ke arah Riana.


"Tapi benarkan? Jika Darren, kesayangan kalian itu telah melukai suamiku. Ramoz Orlando!" teriak Riana.


"Iya. Itu memang benar. Keponakanku memang yang telah melukai suamimu. Jadi kau mau apa!" bentak Carissa.


"Anda dengar sendiri Pak Polisi apa yang mereka katakan!" Riana berucap sambil melihat kearah polisi tersebut.


"Kalau memang benar begitu. Biarkan saya dan anggota saya menemui Darren dan membawanya ke kantor polisi," ucap polisi itu.


"Yes," batin Riana tersenyum bahagia.


"Tidak bisa," jawab para Ayah dari sahabat-sahabatnya Darren.


"Jangan menghalangi tugas kami. Biarkan kami membawa saudara Darren ke kantor polisi!" bentak polisi. itu.


"Jika anda ingin membawa putraku ke kantor polisi karena telah melukai suami dari wanita sialan itu." Agneta berbicara sembari menunjuk kearah Riana. "Lalu bagaimana dengan suaminya yang telah menghina suamiku, menghina kakak perempuanku yang sudah meninggal dan juga menghina putraku didepan semua orang. Bahkan suaminya telah mempermalukan keluarga kami didepan banyak orang sehingga kami semua menjadi tontonan disana!" teriak Agneta menatap tajam kearah Riana dan juga polisi itu.


"Mama." Davin merangkul Agneta dan berusaha menenangkannya.


"Davin. Bawalah ibumu ke ruang rawat Darren," ucap Dellano.


"Kalian juga. Temuilah Darren," sela David.


"Baiklah!"

__ADS_1


Evan, Carissa ketiga putranya dan keempat keponakannya pun pergi menuju ruang rawat Darren.


__ADS_2