
Darren, Brenda dan Salsa sudah berada di rumah sakit. Ketika tiba di rumah sakit, dua perawat langsung memberikan pertolongan kepada Salsa.
Kini Salsa sudah berada di ruang pemeriksaan. Sementara Darren dan Brenda menunggu diluar.
"Bagaimana? Siapa pelaku yang sudah meletakkan barang-barang itu ke dalam tasnya Salsa?" tanya Brenda.
"Teman-teman satu sekolah Salsa yang pernah membully Salsa ketika acara di sekolah saat itu," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Brenda terkejut. Dia tidak menyangka jika mereka masih saja mengganggu Salsa.
"Heran sama mereka. Apa sih yang mereka benci terhadap Salsa? Awas saja kalau mereka sampai ngelakuin itu sama Raya," ucap Brenda.
"Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Mereka tidak akan menyentuh Raya karena aku sudah meminta kakak Justin dan kakak Tommy untuk mencari mereka dan membawa mereka ke markas kakak Enzo," sahut Darren.
Brenda melihat kearah Darren. "Terus jika mereka sudah dibawa ke markas kakak Enzo. Apa yang akan kamu lakukan?"
"Yang jelas aku akan membuat mereka menderita terlebih dahulu. Setelah itu, baru mereka akan dibawa ke kantor polisi."
"Lalu bagaimana dengan Axel? Apa kau tidak akan memberitahu Axel bahwa adik perempuannya kembali diusik oleh mereka?"
"Tentu aku akan memberitahu Axel. Bagaimana pun Axel berhak tahu. Cukup saat kejadian pembullyan waktu itu aku meminta Axel untuk tidak melakukan apa-apa. Begitu juga dengan keluarganya. Dan untuk kejadian ini dimana kejadian ini adalah kejadian kedua. Kejadian dimana lagi-lagi aku yang menyaksikannya. Hanya bedanya untuk kali ini kamu juga ikut menyaksikannya. Jadi sudah pasti aku akan membahas masalah dengan Axel dan keluarganya. Jika didiami, mereka makin ngelunjak."
Brenda menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren barusan. Jika mereka dibiarkan saja, mereka pasti akan makin ngelunjak.
"Kamu benar, Ren! Ketika Salsa masuk rumah sakit saat itu dimana kamu berusaha memberikan keyakinan kepada Axel untuk tidak melakukan apa-apa, kecuali jika anggota keluarga yang membully Salsa itu yang mencari masalah duluan. Barulah Axel akan melakukan tugasnya. Begitu juga dengan anggota keluarganya." Brenda berbicara sembari mengingat perkataan Darren ketika Salsa masuk rumah sakit akibat dibully oleh empat teman sekolahnya.
"Apalagi anggota keluarga mereka yang membenarkan apa yang dilakukan anak-anaknya. Bahkan mereka tidak memberikan teguran, nasehat atau hukuman untuk anak-anaknya itu. Mereka lepas tangan atas apa yang dilakukan oleh anak-anaknya. Itulah yang membuat anak-anak makin ngelunjak." Darren berucap.
"Ketika anak-anaknya disakiti sampai babak belur. Mereka marah dan meminta pertanggung jawaban," sela Brenda.
"Itulah sifat mereka. Menyakiti tapi tidak mau tersakiti," ucap Darren menambahkan.
Cklek!
Terdengar suara pintu ruang Unit Gawat Darurat dibuka. Mendengar itu, Brenda dan Darren langsung berdiri dan menghampiri Dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan Salsa, Dokter?" tanya Darren.
"Tuan tidak perlu khawatir. Tidak luka serius. Hanya syok saja," jawab Dokter itu.
"Apa adik perempuan saya akan mengalami trauma, Dokter?" tanya Darren.
"Dari hasil pemeriksaan. Semuanya baik-baik saja. Pasien tidak memiliki trauma sama sekali," jawab Dokter itu.
"Ach, syukurlah. Saya senang mendengarnya. Oh iya! Apa Dokter Celsea masuk hari ini?" tanya Darren.
__ADS_1
"Sepertinya hari ini Dokter Celsea tidak masuk. Dua hari yang lalu Dokter Celsea baru pulang dari tugasnya di luar kota. Jadi Dokter Celsea memilih untuk libur dua hari." Dokter itu menjawab pertanyaan dari Darren.
"Terima kasih Dokter."
"Sama-sama tuan. Untuk pasien sudah boleh pulang. Tidak perlu dirawat."
"Baiklah Dokter."
"Kalau begitu saya permisi."
Setelah itu, Dokter tersebut pergi meninggalkan Darren dan Brenda untuk menuju ruang kerjanya.
Darren dan Brenda melangkah memasuki ruang Unit Gawat Darurat untuk menemui Salsa.
"Bagaimana? Masih sakit kepalanya?" tanya Brenda sembari mengelus kepala Salsa.
"Sudah nggak kak Brenda. Tadi salah satunya perawatnya kasih obat dan nyuruh aku minum langsung," jawab Salsa.
Darren dan Brenda tersenyum. Darren mengusap lembut kepala Salsa.
"Kita pulang sekarang?" tanya Darren.
Salsa melihat kearah Darren dan menatap lekat tepat di manik coklat Darren.
Darren yang paham akan tatapan mata Salsa hanya tersenyum. Darren tahu jika Salsa akan mengatakan sesuatu padanya.
Salsa langsung menggeleng kepalanya sebagai jawabannya. Dia memang tidak tahu siapa orang yang tega melakukan hal menjijikkan seperti itu padanya.
"Apa kamu ingin tahu siapa mereka?" tanya Darren lagi.
Salsa menatap Darren bingung dan penasaran. "Mereka," batin Darren.
"Jadi maksud kakak Darren pelakunya bukan satu. Tapi lebih dari satu?" tanya Salsa.
"Iya. Apa kamu ingin tahu?" Darren mengulangi pertanyaannya.
"Siapa mereka kakak Darren?"
"Rebeca, Laura, Rachel dan Viola."
Mendengar jawaban dari Darren yang menyebutkan nama keempat teman sekelasnya yang suka membullynya membuat Salsa terkejut.
"Ja-jadi mereka yang telah memasukkan barang-barang itu ke dalam tasku, kakak Darren?" tanya Salsa.
"Iya. Semua sudah terbukti dari hasil rekaman cctv. Bahkan manager toko itu sudah dibayar oleh gadis yang bernama Rebeca untuk menghapus rekaman cctv itu agar kejahatannya dan ketiga temannya tidak diketahui dan menjadikanmu tersangka utama," jawab Darren.
__ADS_1
"Jika kau punya niat untuk tidak membalas mereka atau meminta kakak untuk tidak membahas masalah ini sama keluargamu. Maka buang semua pikiran itu. Masalah ini harus diselesaikan sampai ke akar-akarnya. Kalau terus didiami, mereka akan makin ngelunjak."
"Cukup saat kejadian pembullyan yang kamu alami dua bulan lalu, kakak dan keluargamu tidak memperpanjang masalah itu. Tapi untuk kali ini, mereka harus mendapatkan hukumannya."
Mendengar perkataan dan nada tegas dari Darren membuat Salsa hanya bisa diam dan pasrah. Dia tahu seperti apa sifat asli sahabat dari kakak laki-laki ketiganya itu. Bahkan dia juga sifat anggota keluarganya. Sifat anggota keluarganya juga hampir sama dengan sahabat kakak laki-laki ketiganya itu.
Drtt!
Drtt!
Tiba-tiba ponsel Darren berbunyi. Mendengar bunyi ponselnya, Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Setelah ponselnya di tangannya, Darren melihat nama 'Fito' di layar ponselnya. Tanpa buang-buang waktu lama, Darren langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Fito. Ada apa?"
"Bos ada dimana sekarang?"
"Aku di rumah sakit. Kenapa? Apa ada masalah?"
"Tidak ada Bos. Saya menghubungi Bos hanya ingin mengatakan bahwa tuan Gilang ada di rumah Bos. Tuan Gilang sudah sejak tadi menunggu kedatangan Bos."
"Ah, iya! Aku lupa hal itu. Niat awalnya aku memang mau pulang kesana. Tapi ada masalah sedikit. Jadi sedikit terlambat."
"Kalau boleh saya tahu. Bos ke rumah sakit ada keperluan apa? Memangnya siapa yang sakit? Bos tidak kenapa-kenapa kan? Bos baik-baik sajakan?"
Mendengar pertanyaan dari Fito membuat Darren tersenyum. Dia benar-benar bersyukur memiliki tangan kanan seperti Fito. Bukan hanya Fito, tangan kanannya yang lain juga perhatian dan peduli padanya.
"Aku baik-baik Fito. Aku ke rumah sakit karena membawa Salsa untuk periksa."
"Nona Salsa adik perempuannya Bos Axel, Bos?"
"Iya, Fito."
"Semoga cepat sembuh Bos."
"Hei, Salsa tidak sakit. Hanya saja tadi ada masalah sedikit sehingga membuat Salsa harus dibawa ke rumah sakit untuk memastikan keadaannya."
"Ach, maaf Bos. Kejadian apa Bos?"
"Kau bisa lihat sendiri di internet. Beberapa jam yang lalu aku mengirim sebuah video. Kau bisa lihat langsung disana."
"Baiklah, Bos. Kalau begitu saya tutup teleponnya Bos!"
"Baiklah."
__ADS_1
Setelah itu, Fito mematikan panggilannya agar dia bisa melihat video yang dimaksud oleh Bos nya itu.