
Askara saat ini berada di jalanan. Dalam posisi masih duduk di atas motornya. Dia masih memikirkan tentang perkataan dari Mikko dan Kenzo beberapa yang lalu ketika mendatangi perusahaan Yfal'Omz.
[Askara dan Eleon sudah lama meninggal]
[Lo bukan Askara]
[Askara dan Eleon untuk putra dari Daddy Baren dan Daddy Yufal]
Mengingat ucapan demi ucapan dari Mikko dan Kenzo membuat Askara merasakan pusing di kepalanya. Askara sedikit memijat-mijat kepalanya.
Di lokasi yang sama namun di tempat yang berbeda. Ada beberapa orang yang saat tengah memperhatikan Askara. Hanya beberapa meter jarak antara Askara dan beberapa orang itu. Mereka sejak tadi terus melihat kearah Askara.
"Hei, lihatlah! Sepertinya tuan Darren tengah kesakitan!" seru seorang laki-laki yang melihat Askara yang berulang kali memijat-mijat keningnya.
Orang-orang yang sejak tadi mengawasi dan memperhatikan Darren adalah para anggota kelompok mafia Black Guerilla dan Area Boy.
Noe dan Chico memerintahkan beberapa anggotanya untuk mengawasi kemana pun Darren pergi. Dan melaporkan setiap masalah yang dihadapi oleh Darren selama Darren menjadi Askara Eleon Mendez.
Ketika mereka fokus memperhatikan Darren, tiba-tiba dua diantara mereka melihat beberapa motor melaju kearah dimana Darren berada.
"Itu pasti suruhan dari orang itu untuk mencelakai tuan Darren."
"Iya, kau benar. Dilihat dari jaket yang mereka kenakan. Mereka dari kelompok yang sama."
"Ternyata orang itu belum menyerah untuk melenyapkan tuan Darren."
"Apakah orang itu sudah gila ya? Bahkan orang itu tidak berpikir bahwa semua usahanya itu akan sia-sia saja."
"Dengan dia mengirimkan banyak orang untuk melenyapkan tuan Darren. Usahanya itu tidak akan membuahkan hasil. Justru hanya menerima kegagalan."
"Tuan Darren itu sangat dilindungi oleh ketua kita dan sahabat-sahabat dari ketua kita."
"Cari mati saja tuh orang."
"Kita lihat saja dulu. Jika tuan Darren sudah terdesak. Baru kita akan keluar."
"Hm."
"Aku akan menghubungi ketua."
***
Prang!
Tiba-tiba Agneta tak sengaja menjatuhkan gelas yang dipegang oleh ke lantai hingga pecahan gelas itu berserakan.
Mendengar barang yang pecah dari arah dapur membuat Erland, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan serta orang-orang yang ada di ruang tengah tersebut terkejut.
Di kediaman keluarga Smith tampak ramai. Disana ada kelima kakak-kakak mafia Darren, ketujuh sahabatnya Darren, Elzaro dan kelima sahabatnya.
"Kak Agneta. Kamu tidak apa-apa?" tanya Carissa panik dan khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Carissa."
"Kalau kak Agneta tidak apa-apa. Kenapa gelasnya sampai jatuh?"
"Aku kepikiran Darren, Carissa! Perasaanku tak enak."
"Agneta, kamu kenapa? Carissa, Agneta kenapa?" tanya Erland yang datang bersama dengan yang lainnya.
Mereka semua menatap khawatir kearah Agneta. Terlihat wajah Agneta yang sedikit pucat.
"Carissa, berikan minum untuk kak Carissa!" suruh Evan.
"Ach, iya! Maafkan aku."
Carissa langsung mengambil gelas lalu diisi air mineral. Setelah gelas terisi penuh, Carissa langsung memberikannya kepada saudari iparnya.
"Ini kak Agneta. Minum dulu."
Agneta mengambil minuman yang ada di tangan Carissa lalu Agneta langsung meneguk habis air itu.
Setelah gelas itu kosong, Agneta kembali memberikan gelas itu kepada Carissa.
"Terima kasih, Carissa!"
"Bagaimana? Sudah tenang sekarang?" tanya Erland menatap wajah istrinya.
"Sudah!"
"Paman. Lebih baik Paman bawa Bibi Carissa ke ruang tengah," ucap Devian.
"Ah, iya!"
Setelah itu, Erland memapah istrinya untuk dibawa ke ruang tengah. Dan diikuti oleh yang lainnya di belakang.
^^^
Kini mereka semua telah kembali ke ruang tengah lengkap bersama Agneta. Semua tatapan mata menatap kearah Agneta.
"Sekarang, katakan! Ada apa?" tanya Erland.
"Aku... Aku kepikiran Darren. Sejak mengetahui bahwa Darren telah ditemukan dan dalam keadaan Amnesia. Sejak itulah perasaanku tak enak," jawab Agneta.
Mendengar jawaban dari Agneta membuat mereka semua menatap khawatir Agneta.
"Apa yang Mama rasakan sekarang ini terhadap Darren?" tanya Davin.
__ADS_1
"Mama merasakan bahwa Darren dalam bahaya. Dan Mama juga merasakan Darren tengah kesakitan di kepalanya."
Mendengar jawaban dari Agneta membuat semua yang ada di ruang tengah kediaman keluarga Smith menjadi takut dan khawatir.
Drtt!
Drtt!
Tiba-tiba ponsel milik Chico berbunyi, menandakan sebuah panggilan masuk.
Chico yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah di tangannya. Chico melihat sebuah nomor di layar ponselnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi dan Chico sudah tahu nomor siapa yang menghubunginya itu langsung menjawabnya.
"Hallo, King!"
"Ada apa?"
"Ada beberapa kelompok berkendara menyerang tuan Darren, King!"
Mendengar laporan dari salah satu anggota mafianya membuat Chico terkejut bersamaan dengan Chico yang langsung berdiri.
"Berapa jumlah mereka?"
"Awalnya hanya sekitar 16 orang, King! Dan tuan Darren berhasil mengalahkan mereka semua. Namun beberapa menit kemudian, datang lagi beberapa orang lagi dengan berkendara motor. Bahkan jumlah melebihi yang kelompok pertama."
"Apa kali ini Darren sendirian?"
"Tidak, King! Yang lainnya sudah ikut bertarung membantu tuan Darren ketika para musuh bertambah. Aku dan yang lainnya juga heran. Mereka datang dari mana."
"Bagaimana sekarang King?"
"Kirimkan lokasinya, sekarang!"
"Baik, King!"
Setelah itu, panggilan dimatikan oleh anggotanya itu. Dan detik kemudian, sebuah notifikasi masuk ke ponsel milik Chico.
Chico melihat lokasi yang dikirimkan oleh anggota mafianya. Setelah itu, Chico melihat kearah keempat sahabatnya.
"Ziggy, Noe, Enzo, Devian. Kita pergi sekarang! Darren butuh bantuan kita."
Mendengar ucapan dari Chico membuat mereka semua menatap khawatir kearah Chico, terutama Erland dan anggota keluarganya.
"Nak Chico, kenapa Darren?" tanya Erland.
"Kakak Chico, apa terjadi sesuatu terhadap Darren?" tanya Jerry.
"Ada beberapa orang menyerang Darren. Mereka berjumlah 16 orang. Dalam perkelahian itu, Darren berhasil mengalahkan ke 16 orang-orang itu. Tapi...."
"Musuh bertambah sehingga anggota-anggota kita yang memang bertugas mengawasi pergerakan Darren ikut dalam perkelahian itu."
"Musuh bukannya berkurang. Justru makin bertambah."
Mendengar jawaban demi jawaban dari Chico membuat mereka semua ketakutan. Mereka tidak ingin terjadi hal-hal buruk terhadap Darren.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi! Buruan kita pergi sekarang! Darren membutuhkan kita!" seru Axel dengan menatap kelima kakak mafianya.
"Kami ikut!" seru Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka bersamaan.
"Kami juga ikut!" Elzaro, Melky, Derry, Allan, Glen dan Doddy bersamaan.
"Ayo kita pergi!"
Setelah itu, Ziggy, Noe, Enzo, Devian, Chico, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Elzaro, Melky, Derry, Allan, Glen dan Diego pergi meninggalkan kediaman keluarga Smith untuk menuju lokasi.
Mereka semua berharap tepat waktu tiba di lokasi. Dan mereka juga berharap Darren baik-baik saja.
***
Askara masih mempertahankan kemampuan bela dirinya. Dia tidak ingin kalah begitu saja dengan orang-orang bodoh yang saat ini seperti kerasukan setan menyerangnya.
Sejujurnya Askara sudah benar-benar lelah. Sejak pertarungan pertama dimana dia berhasil mengalahkan 16 orang. Dan sampai sekarang musuh-musuhnya makin bertambah.
Askara juga bisa melihat di sekitarnya bahwa dia tidak bertarung sendirian, melainkan ada sekitar 30 orang yang membantunya.
"Tuan, jangan lengah. Musuh-musuh tuan tengah mengincar nyawa tuan!" teriak salah satu anggota mafia dari Black Guerilla.
Mendengar teriakkan dari salah satunya, Askara tersadar dan kembali memfokuskan pikiran menatap musuh-musuhnya.
Pertarungan semakin sengit dan memanas dimana musuh-musuhnya terus berdatangan menyerang Askara dan orang-orang yang membantunya. Tak sedikit dari mereka yang mendapatkan tendangan.
Namun begitu, tiga puluh anggota mafia Black Guerilla dan Area Boy tak tumbang begitu saja. Justru mereka makin semangat untuk membalas semua musuh-musuhnya.
Askara memberikan pukulan dan tendangan secara bersamaan kepada lima lawannya sehingga kelima lawannya itu langsung tersungkur di aspal.
"Sial. Ini namanya mati satu tumbuh seribu. Kalau begini caranya. Bisa-bisa aku akan mati benaran," batin Askara yang melihat musuh-musuhnya kembali bertambah.
Di saat Askara bersama tiga puluh anggota mafia Black Guerilla dan Area Boy tengah bertarung, tiba-tiba bala bantuan datang dengan jumlah pasukan yang lebih banyak.
Mereka datang dan langsung menyerang musuh-musuhnya yang sejak tadi bertarung melawan Askara dan para anggota mafia Black Guerilla dan Area Boy.
Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka menatap kearah Askara sejenak. Mereka hanya ingin memastikan bahwa adik laki-lakinya itu baik-baik saja.
Setelah itu, mereka pun mulai menghajar para musuh-musuhnya sampai tak bernyawa lagi.
__ADS_1
Baik Ziggy, Noe maupun Enzo, Devian dan Chico memberikan perintah kepada masing-masing dua tangan kanannya dan beberapa anggotanya untuk mencari titik keberadaan para musuh sehingga mereka bisa dengan mudahnya dan begitu cepat datang menyerang Darren dan anggotanya disaat teman-teman kalah dalam melawan Darren dan anggotanya.
Kini kelima ketua mafia dan para tangan kanan, ketujuh sahabat-sahabat Darren, keenam kakak laki-lakinya Darren, Elzaro dan kelima sahabatnya bertarung melawan semua musuh-musuhnya.
Sementara untuk musuh-musuhnya yang tadinya begitu semangat empat lima menyerang Askara seketika mati kutu. Mereka semua menatap kearah lima pemuda yang memakai topeng yang berbeda. Mereka semua kenal dengan pemilik kelima topeng itu.
Seketika semua musuh-musuh tersebut secara bersamaan menelan kasar air ludahnya. Hendak melarikan diri alias mundur, namun tidak ada jalan untuk mereka semua.
Dikarenakan semuanya sudah terjadi. Dan pada akhirnya mereka pun terus bertarung sampai mati.
Askara yang saat ini benar-benar sudah lelah. Tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kerjasama sama sekali. Berulang kali Askara mendapatkan tendangan di perutnya sehingga membuat Askara merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya.
"Aakkhh!" ringis Askara yang tubuhnya terpukul mundur.
"Darren!" teriak Rehan dan Darel.
Mendengar teriakkan dari Rehan dan Darel membuat semuanya menatap kearah Darren yang saat ini tengah kesakitan di bagian perutnya.
"Darren!" teriak Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka dengan menatap khawatir Darren.
Mereka ingin menghampiri sang adik laki-lakinya, namun para musuh-musuhnya terus memberikan perlawanan sehingga mereka kembali melawan musuh-musuhnya itu. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tidak bisa membantu Darren. Apalagi untuk menghampiri Darren.
Ketika semuanya tengah bertarung melawan musuh-musuhnya. Askara yang masih merasakan sakit di perutnya. Tanpa diketahui oleh semuanya, termasuk Askara sendiri. Seseorang berjalan menghampiri Askara dari arah belakang, lengkap dengan balok kayu di tangannya.
Detik kemudian...
Bugh!
Orang itu memukulkan balok kayu itu dengan sangat keras di punggung Askara sehingga membuat teriakan dari Askara.
"Aakkhhh!"
Tubuh Askara seketika tersungkur ke depan akibat pukulan tersebut.
Mendengar teriakkan keras dari Askara membuat semuanya melihat kearah Askara. Seketika mata mereka membulat sempurna.
"Tidak! Darren!"
Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, Darel, Elzaro, Derry, Allan, Glen, Doddy dan Melky berteriak histeris.
Sementara Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico seketika berubah menjadi sosok yang mengerikan. Mereka menyerang dan menghabisi semua musuh-musuhnya dalam satu kali serangan, termasuk juga musuh-musuh yang menyerang ketujuh adik laki-lakinya, keenam kakak laki-lakinya Darren, saudara sepupunya Darren beserta kelima sahabatnya.
Laki-laki yang berhasil memukul Askara tersenyum bahagia. Dia merasakan kebahagiaan ketika melihat musuh-musuhnya yang saat ini tak berdaya.
Laki-laki itu menendang pinggang kiri Askara sehingga membuat Askara kembali berteriak.
"Brengsek! Jauhi adikku!" teriak Davin ketika matanya melihat kearah adik laki-lakinya yang saat ini kesakitan akibat tendangan yang diterimanya.
Laki-laki itu kemudian membalikkan tubuh Askara dengan kakinya sehingga membuat tubuh Askara dalam keadaan terlentang.
Dan detik kemudian..
Bugh! Bugh!
Laki-laki itu meletakkan kakinya tepat di dada kiri Askara dan menginjak dada kiri Askara dengan kuat sehingga membuat Askara kembali berteriak. Dan kali ini teriakan begitu keras.
"Aakkhh!"
"Darren!"
"Brengsek! Apa yang kau lakukan? Menjauhlah dari sahabatku!" teriak Qenan.
Laki-laki itu tidak menghiraukan teriakan-teriakan dari orang-orang di sekitarnya. Justru laki-laki itu makin kuat menekan kakinya di dada kiri Askara.
Dengan sisa tenaga, Askara memegang kaki laki-laki itu dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya dengan kuat langsung memberikan pukulan tepat di tulang keringnya sehingga menimbulkan bunyi retak di kakinya itu.
Laki-laki itu spontan menundukkan kepalanya hendak menyentuh kakinya. Tangan Askara dengan gesit langsung menyentuh leher laki-laki itu dan mencengkeramnya kuat.
Askara mencengkeram kuat tangan kanannya di leher laki-laki itu sehingga membuat kulit leher laki-laki itu mengelupas dan mengeluarkan cairan merah segar.
Dan detik kemudian, laki-laki itu tak bernyawa di tangan Askara.
Melihat laki-laki itu telah mati, Askara langsung melempar tubuh laki-laki itu ke samping.
Seketika tubuh Askara lemah. Dengan nafas yang terputus-putus. Askara saat ini benar-benar sulit untuk bernafas. Wajahnya terlihat memucat.
"Darren!"
Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung berlari menghampiri Darren setelah mereka selesai menghabisi musuh-musuhnya.
Dan setelah itu, disusul oleh Ziggy, Devian, Enzo, Chico, Noe, Elzaro, Melky, Derry, Allan, Glen dan Doddy.
"Darren," ucap Davin terisak.
Davin mengangkat kepala adik laki-lakinya lalu meletakkan di atas pahanya.
"Ren," isak Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
Davin menangis sembari tangannya mengusap-usap lembut pipi adik laki-lakinya. Hatinya benar-benar hancur melihat kondisi adik laki-lakinya saat ini.
Seketika Askara menatap wajah Davin. Dan detik kemudian...
"Ka-kakak Da-davin."
Setelah mengatakan itu, mata Askara tertutup dengan sempurna.
"Tidak! Darren!"
__ADS_1
Mereka semua berteriak ketika melihat Darren yang tiba-tiba menutup kedua matanya.