
Dua hari kemudian..
Di kediaman keluarga Smith telah berkumpul semua anggota keluarga mulai dari anggota keluarga dari ketujuh sahabatnya Darren, anggota keluarga Radmilo dan anggota keluarga Brenda.
Bukan hanya para anggota keluarga saja yang berada di kediaman keluarga Smith, melainkan para sahabat Darren, para sahabat-sahabat Brenda, kelima kakak-kakak mafianya, kelima sahabatnya Elzaro, Bianca kekasih dari Daniel Carlo dan orang-orang terdekat lainnya.
Sampai detik ini mereka semua masih memberikan support dan semangat kepada semua anggota keluarga Smith. Bahkan mereka juga ikut menyelidiki kecelakaan pesawat yang ditumpangi oleh Erland. Jadi, makin banyak yang ikut menyelidiki kecelakaan pesawat itu, maka besar kemungkinannya mengetahui penyebabnya.
Kini mereka semua berada di ruang tengah. Sementara Darren berada di dalam kamarnya.
Selama dua hari ini, Darren hanya menghabiskan waktunya di dalam kamarnya. Hanya saja, Darren tidak mengunci kamarnya seperti dua hari yang lalu. Jika salah satu dari orang-orang terdekatnya ingin menemuinya, mereka bisa langsung masuk setelah mengetuk pintu sebanyak dua kali.
Disela-sela mereka membahas kecelakaan pesawat yang ditumpangi oleh Erland, mereka tetap memikirkan kondisi kesehatan Darren. Mereka tidak ingin kecolongan dengan Darren yang tiba-tiba kambuh. Celsea yang selaku Dokter pribadi Darren selalu siap siaga jika sewaktu-waktu Darren tumbang.
"Darren di kamarnya sejak pukul berapa?" tanya Celsea.
"Sejak selesai sarapan pagi, Bibi Celsea!" Andra yang menjawab pertanyaan dari Celsea.
"Dan sekarang sudah pukul satu siang. Apa Darren sudah makan siang?" ucap dan tanya Dario.
"Kita nggak tahu kalau Darren sudah makan siang atau belum. Karena ketika kita mau makan siang, Darren mengatakan padaku untuk makan siangnya diantar ke kamarnya. Andra yang mengantar makan siang itu," ucap Davin.
Ketika mereka semua membahas tentang Darren. Gilang melihat seorang pelayan berjalan menuju lantai dua dengan membawa segelas susu di nampan.
"Nur," panggil Gilang.
Mereka semua melihat kearah Nur.
"Iya, tuan Gilang."
"Itu susu untuk Darren?"
"Iya, tuan. Tadi tuan Darren meminta dibuatkan susu. Tuan Darren meminta melalui alat penghubung yang terpasang di dapur."
"Baiklah," ucap Gilang.
"Ya, sudah. Bawalah segera susu itu ke kamar Darren. Jangan buat Darren terlalu lama menunggu," ucap Agneta.
"Baik, Nyonya."
Setelah itu, pelayan itu pun melanjutkan langkahnya untuk menuju kamar Darren yang ada di lantai dua.
***
Di kediaman Norin terlihat ramai dimana Talia sedang berkumpul di ruang tengah.
Talia sudah menceritakan pertemuannya dengan Davin yang gagal kepada kedua orang tuanya, kedua kakak laki-lakinya dan anggota keluarga Norin lainnya.
Mendengar cerita dari Talia membuat semua anggota keluarga Norin menghela nafas kecewanya.
Mereka semua kecewa karena tidak berhasil mendapatkan kepercayaan lagi dari Davin.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang buat menarik simpati dan perhatian Davin lagi?" tanya ibunya Talia.
"Kita jangan sampai kehilangan ladang kekayaan kita," ucap Paman Talia, adik laki-laki pertama ayahnya.
"Iya, kamu benar. Dulu kita telah menyiakan ladang kekayaan kita. Sekarang kita harus membawanya kembali," ucap ayahnya Talia.
__ADS_1
"Terus apa rencana kita Papi, Paman?" tanya kakak laki-laki tertuanya Talia.
"Disinikan Davin tahunya Talia yang sudah mengkhianati dia dengan laki-laki lain. Bahkan Davin mengetahui bahwa Talia hanya memanfaatkan dia saja selama ini. Sedangkan dengan kita, Davin tidak tahu jika kita juga sama seperti Talia. Davin tahunya kalau kita tidak ada hubungannya dengan Talia. Jadi, kita tetap jalankan tugas kita masing-masing seperti biasanya. Buat Davin percaya bahwa kita memang tidak mengetahui kelakuan Talia."
Mendengar perkataan dan juga ide dari istri dari adik laki-laki pertama ayahnya Talia membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Idemu sungguh brilian, sayang!" pria itu memuji ide istrinya.
Sementara wanita itu tersenyum ketika dipuji oleh suaminya.
***
Masih berada di kediaman keluarga Smith. Mereka akan pulang sekitar pukul 5 sore. Darren saat ini telah bergabung bersama dengan yang lainnya.
"Darren," panggil Agneta.
"Iya, Mama!"
"Kamu baik-baik sajakan, sayang?"
"Maksud Mama?"
"Wajah kamu sedikit pucat. Kamu sakit?"
Darren tersenyum. "Tidak, Mama. Aku baik-baik saja. Aku hanya lelah saja. Beberapa hari ini aku susah tidur. Apalagi kalau malam," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren seketika membuat mereka semua terkejut. Mereka semua benar-benar khawatir akan kondisi Darren.
"Darren! Kamu harus banyak istirahat, sayang! Jangan terlalu memforsir pikiran kamu. Paman tahu apa yang sudah menyebabkan kamu seperti ini. Kamu seperti ini karena merindukan ayah kamu," ucap Valeo lembut dengan menatap khawatir Darren.
"Bukan kamu saja yang merindukan ayah kamu, nak! Kita semua disini juga merindukan ayahmu. Dan kita semua disini berharap ayah kamu baik-baik saja," ucap Eric.
Tes..
Seketika air mata Darren jatuh membasahi wajahnya. Darren menangis ketika mendengar perkataan dari ayahnya Rehan, Jerry dan Darel.
Mereka yang melihat Darren yang tiba-tiba menangis merasakan sesak di dada masing-masing, terutama anggota keluarganya.
"Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak? Bagaimana aku bisa dalam suasana yang baik-baik saja? Sementara yang ada di otak dan pikiranku selalu memikirkan Papa."
"Disini, aku benar-benar kecewa akan sikap Papa, kakak Davin dan kakak Andra. Bagaimana bisa kakak Davin dan kakak Andra membiarkan Papa pergi, sementara tiket keberangkatannya adalah besok. Sementara Papa, hanya karena ingin menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan terbesar di negara Singapura. Papa rela untuk mempercepat keberangkatannya.
"Yang membuatku jadi pikiran adalah kenapa Papa bisa menaiki pesawat yang bukan pesawat yang sesuai dengan tiketnya. Di dalam tiket Papa. Seharusnya Papa menaiki pesawat Air Berlin Boeing 737-800. Tapi justru Papa menaiki pesawat Air Berlin Boeing 737-780."
"Kesalahan kakak Davin dan kakak Andra adalah karena mereka tidak mengecek pesawat yang akan dinaiki oleh Papa."
Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren tentang Erland yang menaiki pesawat yang berbeda.
Sementara Davin dan Andra merutuki kebodohan dan juga kecerobohannya karena tidak menyadari jika ayahnya menaiki pesawat yang berbeda.
"Ren, maafkan kakak Davin. Kamu benar! Seharusnya kakak dan Andra menyadari hal itu," ucap Davin dengan nada lirihnya.
"Kakak Andra juga minta maaf, Ren!"
Sementara Darren hanya menatap dengan tatapan menyenduhnya ketika mendengar permintaan maaf dari kedua kakak laki-laki tertuanya.
Davin dan Andra menatap wajah Darren dengan penuh rasa bersalah dan penyesalan.
__ADS_1
"Sekali pun Papa dinyatakan meninggal, aku mau melihat jasadnya. Dan aku tidak akan pernah percaya jika Papa sudah meninggal sebelum aku melihat jasadnya."
Drtt! Drtt!
Tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.
Mendengar suara bunyi ponselnya, Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Mereka semua melihat kearah Darren.
Darren melihat nama 'Thomas' di layar ponselnya.
Tanpa membuang waktu lagi, Darren langsung menjawab panggilan tersebut.
Sementara anggota keluarganya dan yang lainnya memasang telinga masing-masing untuk mendengar apa yang dibicarakan oleh Darren dengan si penelpon.
"Hallo, Thomas!"
"Thomas," batin Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.
"Hallo, Ren. Lo dimana?"
"Gue di rumah. Kenapa?"
"Gue tunggu lo di bandara, sekarang!"
Tutt..
Tutt..
Setelah mengatakan itu, Thomas langsung mematikan panggilannya itu sehingga membuat Darren menjadi bingung dan juga penasaran.
"Ren," panggil Axel.
Darren langsung melihat kearah Axel. "Iya, Xel?"
"Thomas ngomong apa sama lo?"
"Thomas nyuruh gue ke bandara, sekarang!"
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel saling memberikan tatapan. Setelah itu, mereka kembali menatap wajah Darren.
"Ren! Bisa jadi Thomas mendapatkan petunjuk tentang kecelakaan pesawat yang ditumpangi oleh paman Erland!" seru Jerry.
Mendengar seruan dari Jerry membuat semua yang ada di ruang tengah tersebut langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah. Kita ke bandara sekarang!" ajak Darren
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung mengangguk.
"Kakak Ziggy ikut denganku ya. Siapa tahu tenaga dan pikiran kakak Ziggy dibutuhkan disana."
"Baiklah, Ren!" Ziggy langsung mengiyakan ajakan Darren.
"Darren, kakak Davin ikut!"
Darren melihat kearah kakak laki-laki tertuanya. "Baiklah. Kakak Davin boleh ikut."
"Kakak Andra juga ikut denganmu, Ren!"
__ADS_1
Darren menganggukkan kepalanya. "Ayo!