
Keesokkan paginya di perusahaan EL semua karyawan sudah hadir dan sudah berada di meja masing-masing. Begitu juga dengan Erland, Davin dan Andra. Mereka sudah berada di ruang kerja masing-masing.
Baik Erland, Davin maupun Andra sama-sama tengah sibuk dengan pekerjaannya.
Tak jauh beda dengan ketiganya, para karyawan juga tampak sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Di sebuah ruangan terlihat seorang pria yang saat ini tengah berbicara dengan seseorang di telepon.
Pria itu berbicara dengan cara sedikit berbeda agar tidak ketahuan dan juga tidak terekam melalui kamera yang ada di dalam ruangannya itu. Dirinya berbicara dengan cara memberikan kode kepada lawan bicaranya yang berada di seberang telepon dengan mengetuk jari telunjuk di atas meja.
Jumlah huruf ada 26, dimulai dari A sampai Z. Jika si penelpon mengetuk jari telunjuknya satu kali, maka lawan bicaranya akan mengetahui bahwa itu adalah huruf A. Bahkan si penelpon tidak menggunakan earphone. Justru menggunakan alat yang sudah dipasang di cincinnya.
Jika orang yang tidak terlalu pintar, jeli dan tidak menyadari trik seperti itu, maka orang tersebut dengan mudahnya ditipu dan dibohongi. Itulah yang dialami oleh Erland, Davin dan Andra.
Setelah selesai berbicara dengan seseorang di telepon, pria itu pun mematikan panggilannya tersebut.
"Sebentar lagi perusahaan ini akan menjadi milik keluarga Charly dan keluarga Ladoza," batin pria itu tersenyum di sudut bibirnya.
Tanpa disadari oleh pria itu bahwa hidupnya dan hidup keluarganya sebentar lagi akan hancur.
Pria itu beranggapan bahwa dirinya paling pintar dan licik. Namun sayangnya, pria itu tidak menyadari bahwa ada yang lebih licik, lebih pintar bahkan lebih jenius dibandingkan dirinya.
Orang itu adalah Darrendra Smith, putra bungsu dari Erland Faith Smith dan Belva Carlise Garcia.
Berkat kepintaran dan kejeniusan Darren. Kelicikan orang yang sudah bermain curang di perusahaan ayahnya seketika terpecahkan. Hanya butuh lima hari setelah Darren mengetahui latar belakang dari mantan Manager Keuangan lama. Darren mendapatkan banyak bukti dari si pengkhianat tersebut. Bahkan sampai dengan dua keluarga besar dari karyawan itu.
^^^
Andra saat ini tengah mengecek dan mempelajari berkas kerjasama dengan perusahaan JY'B Corp yang akan dilakukan besok. Dirinya tidak ingin ada kesalahan sama sekali saat kerjasama besok.
Setelah selesai memeriksa dan mempelajari berkas kerjasama itu. Andra meletakkan berkas itu di samping kiri mejanya.
Andra mengalihkan dengan menatap telepon yang ada di samping kanannya, lalu tangannya menekan nomor mesin penjawab (anggap saja seperti itu).
Ketika terdengar suara, Andra pun langsung berbicara.
"Riska, tolong suruh Soviana ke ruanganku!"
"Baik, Bos."
Setelah selesai, Andra mematikan kembali mesin penjawab itu.
***
Darren sudah sampai di kampusnya. Dan pagi ini Darren pergi kuliah dengan Gilang dan Darka, kedua kakaknya.
Seperti biasanya, sifat overprotektif kedua kakaknya itu akan kambuh setelah dirinya sembuh dari sakit. Dengan kata lain, keduanya tidak mengizinkan dirinya untuk membawa kendaraan sendiri.
Saat ini Darren berada di kantin bersama ketujuh sahabatnya. Mereka tengah sarapan pagi bersama. Sarapan kedua mereka jika sudah berada di kampus.
"Bagaimana kondisi lo, Ren?" tanya Dylan.
"Udah mendingan," jawab Darren sembari menyeruput jus pokatnya.
"Yakin?" tanya Axel dan Jerry bersamaan.
"100% yakin. Kalian bisa lihat sendiri keadaan gue saat ini," jawab Darren.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Darren membuat ketujuhnya menatap kearah Darren. Mereka menatap lekat wajah Darren.
Sejujurnya mereka masih sedikit khawatir akan kondisi Darren. Namun mereka tidak memperlihatkan didepan Darren karena tidak ingin membuat Darren makin tertekan akan kondisinya.
"Oh iya, Ren! Kita-kita masih penasaran akan rencana Connie kemarin? Lo tahu dari mana?" tanya Rehan.
"Dari anggotanya Fito," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat mereka semua makin penasaran.
"Bagaimana bisa?" tanya Darel.
"Aku meminta Fito untuk mengawasi dan memata-matai Connie. Aku curiga jika dia akan melakukan sesuatu," ucap Darren.
"Apa ini ada hubungan ketika Connie meluk lo, lalu berakhir perempuan itu berani ngancem lo?" ucap dan tanya Willy.
"Iya. Kalian tahu sendiri lah bagaimana watak seseorang jika keinginannya tidak terpenuhi," ucap Darren.
Mendengar jawaban dan ucapan dari Darren membuat Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan langsung paham.
"Apa lo yakin jika perempuan itu tidak berulah lagi?" tanya Qenan.
"Kita lihat aja nanti. Semuanya tergantung sama dia. Pilihan ada ditangan dia," jawab Darren.
"Jadi apa yang lo ucapkan soal keluarga besar dari kedua orang tua Connie, terutama dari ibunya Connie itu benar? Lo nggak ngarang cerita?" tanya Axel.
"Menurut kalian?" tanya Darren balik sembari menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya.
"Kalau semua itu benar. Lo tahu....." perkataan Rehan terpotong.
"Aku minta bantuan sama kakak Zidan dan kakak Dirga. Aku meminta mereka untuk mencari tahu latar belakang keluarga besar dari kedua orang tua Connie. Bahkan aku juga meminta kepada kakak Zidan dan kakak Dirga untuk mencatat nama anggota keluarga dan juga pekerjaan mereka."
Ketika Darren dan ketujuh sahabatnya tengah menikmati sarapan paginya sembari menceritakan kembali kejadian kemarin, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.
Darren yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya di saku celananya.
Setelah ponselnya berada di tangannya, Darren melihat nama salah satu anggota timnya dalam membuat mobil.
Tanpa buang-buang waktu, Darren pun langsung menjawabnya.
"Hallo."
"Hallo, Bos. Aku ingin menunjukkan sesuatu!"
"Apa?"
"Bentar Bos. Aku matikan dulu teleponnya. Aku akan mengirimkannya melalui pesan WhatsApp."
"Baiklah."
Tutt!
Tutt!
Panggilan terputus.
Ting!
__ADS_1
Sebuah notifikasi WhatsApp masuk ke ponsel Darren.
Melihat satu notifikasi masuk, Darren langsung membukanya. Terdapat sebuah pesan gambar.
Ketika Darren melihat foto yang dikirim oleh salah satu karyawannya membuat Darren seketika membelalakkan matanya.
Sementara ketujuh sahabatnya yang melihat reaksi dari Darren dibuat penasaran.
"I-inikan benda yang dipasangkan di mobil BMW seri terbaru yang telah selesai dibuat satu bulan lalu. Benda ini hanya ada sepuluh," ucap Darren.
Darren berpikir sejenak kenapa benda itu ditemukan oleh salah satu karyawannya itu.
Dan detik kemudian..
"Oh, tidak!"
Qenan, Willy, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan menatap Darren makin penasaran.
"Ren, ada apa?" tanya mereka bersamaan.
Darren menatap wajah ketujuh sahabatnya itu. Dapat Darren rasa penasaran yang terpancar dari tatapannya.
"Aku sudah tahu dimana letak kesalahan mobil kemarin sehingga berujung ledakan," sahut Darren.
"Dimana letak kesalahannya?" tanya Axel.
"Katakan," ucap Dylan dan Jerry bersamaan.
"Nanti aku jelaskan. Sekarang kita harus ke kelas. Ini sudah pukul 8 lewat," ucap Darren.
"Eemm. Baiklah!" seru mereka bersamaan.
Setelah itu, mereka pun langsung pergi meninggalkan kantin dengan makanan yang masih banyak tersisa di piring. Bisa dibilang ada tiga piring yang belum disentuh oleh Darren dan ketujuh sahabatnya.
***
Di ruangan Andra kini sudah ada Soviana bagian divisi. Soviana duduk di kursi tepat di hadapan Andra.
"Apa kamu tahu alasanku memanggilmu kemari?" tanya Andra.
"Tidak, Bos. Tapi saya penasaran alasan Bos memanggil saya kesini," ucap Soviana.
"Kamu yakin ingin tahu?" tanya Andra.
"Iya, Bos. Saya ingin tahu alasan Bos Andra memanggil saya," jawab Soviana.
"Baiklah, aku akan beritahu kamu. Ada masalah apa kamu sama Kathleen? Kenapa kamu tidak suka cara kerjanya. Bahkan kamu terlihat iri dan cemburu Kathleen mendapatkan banyak pujian," ucap dan tanya Andra.
"Ma-maksud Bos Andra, apa? Saya tidak mengerti," jawab Soviana gugup.
"Saya tidak akan mengulangi perkataan saya barusan. Tapi disini saya tekankan sekali. Di perusahaan ini dilarang sesama karyawan berselisih paham, saling berlomba siapa yang paling pintar dan berbakat dan saling merendahkan satu sama lain. Perusahaan ini menginginkan semua karyawannya saling berangkul dan bekerja sama. Dan yang paling utama adalah kejujuran dan kesetiaan. Selain itu kami tidak membutuhkan apapun lagi."
"Saya sudah tahu apa yang kamu lakukan terhadap Kathleen beberapa hari yang lalu. Dan untuk kali ini, saya akan memaafkan kamu. Saya harap ini tidak terulang kembali, baik kepada Kathleen maupun kepada karyawan lain."
"Sekarang kamu boleh kembali ke ruanganmu."
Setelah mendengarkan perkataan terakhir dari bosnya, Soviana pun pergi meninggalkan ruang kerja Bosnya.
__ADS_1
Setiba di ruang kerjanya, Soviana terlihat marah. Dirinya tidak terima ditegur oleh Andra.
"Sialan kau Kathleen. Berani sekali kau mengadu kepada Bos Andra. Awas saja kau. Aku akan balas perbuatanmu," ucap Soviana.