KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Mempersiapkan Peperangan 2


__ADS_3

Kini mereka telah duduk di sofa ruang tengah. Baik Qenan, Willy maupun sahabat-sahabatnya yang lainnya melihat ke arah tangan kiri Darren. Mereka tahu apa penyebab tangan sahabatnya itu terluka.


Qenan dan Jerry mewakili yang lainnya dan menyampaikan alasan kedatangan mereka ke rumah keluarga Smith.


Mendengar penjelasan dan cerita dari Qenan dan Jerry. Erland dan anggota keluarganya terkejut.


"Apa yang harus kita lakukan untuk melawan mereka, Ren?" tanya Darka.


Mereka semua menatap wajah Darren. Begitu juga dengan Darren. Darren menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya. Dan tatapannya berhenti kearah kelima adik-adiknya.


Mereka semua melihat kearah tatapan mata Darren. Dan mereka tahu Darren menatap kearah Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.


"Adrian," panggil Darren.


"Iya, Kak Darren." Adrian menjawab panggilan dari Darren.


"Dari kalian berlima. Kau lah yang paling tua. Kakak mau kau melakukan satu hal untuk Kakak!"


Adrian menatap lekat tepat di manik coklat kakaknya itu. Tersirat kesedihan, harapan, kepedualian dan kasih sayang. Di dalam hati Adrian sangat yakin bahwa Kakaknya itu sangat menyayangi keluarganya, termasuk dirinya dan keempat adik-adiknya.


Adrian juga dapat melihat dari manik coklat kakaknya bahwa kakaknya itu menyimpan banyak masalah dan beban yang begitu berat.


"Kakak Darren mau apa dariku. Apapun yang Kakak Darren inginkan, aku akan melakukannya. Sekalipun Kakak Darren meminta nyawaku, aku siap memberikannya untuk kakak Darren." Adrian berbicara tulus dari hatinya.


Mendengar ucapan dari Adrian membuat mereka semua tersenyum bangga. Sekalipun Adrian akan memberikan nyawanya. Darren tidak akan meminta hal itu. Apalagi berbuat buruk terhadap adik-adiknya. Seketika terukir senyuman di bibirnya.


"Apa kamu yakin sanggup melakukannya?" tanya Darren.


"Sanggup, Kakak Darren." Adrian menjawab dengan penuh keyakinan dan tanpa keraguan.


"Baiklah." Darren tersenyum.


Kini Darren menatap wajah para orang tua, terutama para ibu.


"Untuk Mama, Bibi Carissa, Bibi Emma, Bibi Sophia, Bibi Bella, Bibi Revina, Bibi Yocelyn, Bibi Evelyn, Bibi Celsea dan kau juga Salsa. Kalian pergilah bersama Adrian ke paviliun belakang rumah. Di sana kalian aman. Bawa juga para pelayan dan security bersama kalian. Jangan keluar dari Paviliun itu, apapun yang terjadi. Tutup semua akses masuk. Selama kalian berada di dalam. Tidak akan ada satu musuh pun bisa masuk kesana. Bahkan Paviliun itu aman dari tembakan dan juga ledakan." Darren berbicara sembari menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.


"Adrian, kakak serahkan keselamatan mereka semua padamu. Termasuk keselamatanmu sendiri. Jaga mereka. Ingat! Jangan keluar dari paviliun itu. Apapun yang terjadi diluar." Darren berbicara dengan penuh penekanan dan juga peringatan.


"Baik, kakak Darren!"


"Dan untuk Mama dan Bibi Bibi juga. Aku menitipkan kalian semua kepada Adrian. Berarti kalian harus patuh kepada Adrian. Aku ingatkan sekali lagi. Keselamatan kalian semua ada pada kalian masing-masing. Selama kalian tetap di dalam paviliun. Selama itu pula kalian semua aman. Jika salah satu dari kalian keluar dari paviliun itu, maka kalian semua akan mati. Mati dengan sangat mengerikan!"


Darren berbicara dengan menatap satu persatu wajah ibunya dan bibinya, kelima adiknya, para ibu dari ketujuh sahabatnya, adik perempuan Axel. Serta pelayan dan security keluarga dari ketujuh sahabatnya.

__ADS_1


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat mereka ketakutan. Bagaimana tidak. Mereka semua melihat aura yang tak biasanya di wajah. Apalagi tatapan matanya ketika berbicara dengan anggota keluarganya dan anggota keluarga dari ketujuh sahabatnya.


Mereka semua paham dan mengerti maksud dari ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Darren, terutama para ayah, para kakak dan ketujuh sahabatnya. Darren berbicara seperti itu agar ibu/istri dan yang lainnya mengerti dan tidak melakukan kesalahan.


"Baik, sayang!" Agneta, Carissa dan para ibu dari ketujuh sahabatnya menjawab bersamaan.


"Baik, kakak Darren!" jawab Adrian dan keempat adik laki-lakinya dan juga Salsa.


"Kakak Gilang. Aku boleh pinjam laptopnya?" ucap Darren.


"Boleh. Tunggu sebentar Kakak akan ambilkan!"


Gilang langsung pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.


Setelah beberapa detik, Gilang kembali dengan membawa laptop di tangannya.


"Ini, Ren." Gilang memberikan laptopnya pada Darren.


Darren mengambil laptop tersebut, lalu menghidupkannya. Setelah itu, Darren membuka sebuah Aplikasi yang mengakses keamanan Paviliun tersebut.


"Kalian lihatlah ini." Darren memperlihatkan layar laptop tersebut pada mereka semua.


Mereka semua melihat ke arah layar laptop tersebut. Mereka semua berdecak kagum ketika melihat akses masuk ke Paviliun itu terjaga dengan begitu sempurna.


"Wah, Ren! Ini benar- benar keren!" seru Jerry.


"Darren. Sejak kapan kamu..." perkataan Evan terpotong.


"Tidak ada waktu untuk menjelaskannya Paman Evan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Waktu kita hanya tersisa 2 jam saja."


"Baik, sayang. Maafkan paman."


"Tak apa, Paman." Darren tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


"Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, Melvin. Pergilah ke Paviliun sekarang juga bersama Mama, Bibi dan para ibu dari sahabat-sahabat kakak!"


"Baik, Kakak Darren!" jawab Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.


"Mama, Bibi Carissa dan bibi-bibi semuanya. Pergilah bersama Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Dan bawa para pelayan serta security kalian bersama kalian!"


"Baik, sayang!" jawab Agneta, Carrisa, Celsea, Emma, Sophia, Bella, Revina, Yocelyn dan Evelyn bersamaan.


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju Paviliun belakang rumah keluarga Smith.

__ADS_1


Kini tinggallah Erland, Evan, Aldez, David, Dellano, Valeo, Eric, Hendy dan Dario beserta para putra-putra mereka.


"Apa kalian semua siap bertempur malam ini?" tanya Darren sembari menatap satu persatu wajah anggota keluarganya, ketujuh sahabatnya dan anggota keluarga sahabatnya.


"Kami sangat siap," jawab mereka semua dengan mantap dan dengan penuh keyakinan.


"Aku minta pada kalian jangan ada yang terluka. Jangan lengah. Berhati-hatilah saat bertarung nanti. Aku sangat tahu bagaimana sifat asli Samuel. Bajingan itu sangat licik. Dia akan menggunakan kelemahan kalian, salah satunya adalah kami." Darren berucap dengan wajah datarnya.


"Urusan Samuel akan menjadi urusanku. Aku sangat yakin. Samuel mengincarku," ucap Darren.


Mereka semua menatap khawatir Darren. Mereka dapat melihat wajah lelah Darren.


"Paman juga minta padamu. Berhati-hatilah ketika menghadapi Samuel," ucap Hendy dengan menatap penuh khawatir Darren.


"Jangan sampai terluka," sela Aldez.


Darren tersenyum ketika mendengar ucapan dari ayahnya Willy dan Dylan.


"Ren," panggil Axel.


"Iya, Xel."


"Kita tidak memiliki senjata apapun. Bagaimana kita menghadapi mereka. Mereka pasti membawa banyak senjata." Axel berbicara sembari menatap wajah Darren.


"Axel benar, Ren. Kita tidak memiliki senjata. Bahkan kita kesini saja buru-buru tanpa mempersiapkan apapun." Dylan menambahkan.


"Jika mereka semua membawa senjata. Sudah jelas kita semua akan mati sia-sia," sela Darel.


"Menghandalkan kekuatan bela diri saja tidak cukup jika kita tidak dilengkapi dengan senjata!" seru Willy.


Mendengar ucapan-ucapan dari keempat sahabatnya, Darren tersenyum menanggapinya.


"Kalian tidak perlu khawatir. Masalah senjata atau alat-alat tempur lainnya sudah tersedia dari dulu." Darren menjawab dengan santainya.


"Haaah!" mereka semua membelalakkan kedua matanya tak percaya ketika mendengar perkataan Darren.


Lagi-lagi Darren tersenyum melihat wajah bingung anggota keluarganya, ketujuh sahabatnya dan anggota keluarga dari sahabat-sahabatnya itu.


"Jangan perlihatkan wajah jelek kalian seperti itu di hadapanku. Ayo, ikut aku!"


Setelah mengatakan hal itu, Darren langsung pergi meninggalkan mereka semua.


Sementara mereka semua yang mendengar perkataan Darren hanya bisa pasrah, sabar dan menghela nafas. Dan mereka semua pun beranjak dan mengikuti Darren.

__ADS_1


__ADS_2