
[Kediaman Caldwell]
Elsa saat ini masih belum sadarkan diri dari sejak dibawa pulang oleh Qenan, Willy dan Vania. Bahkan mereka juga sudah menceritakan kronologi yang dialami Elsa dan Vania di jalan.
Mendengar cerita dari Vania, Qenan dan Willy membuat kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Elsa terkejut dan juga marah.
Kini mereka berada di kamar Elsa lengkap dengan kedua orang tua Elsa dan kedua kakak laki-laki Elsa.
Baik Vania maupun Qenan dan Willy menatap khawatir Elsa. Ketiganya menatap wajah Elsa dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kamu, Elsa?" tanya Qenan di dalam hatinya.
"Elsa," lirih Vania.
Vania menatap wajah kedua orang tua Elsa. Dirinya ingin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Tante Agatha," panggil Vania.
Mendengar panggilan dari Vania. Agatha pun langsung melihat kearah Vania.
"Iya, Nak Vania. Ada apa?"
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Elsa, tante? Kenapa Elsa ketakutan padaku saat aku ingin menyentuhnya? Bahkan Elsa berulang kali memanggil kalian keluarganya," ucap dan tanya Vania dengan mata yang menatap wajah Elsa.
Mendengar pertanyaan dari Vania tentang kondisi Elsa membuat Agatha tak langsung menjawabnya. Justru Agatha menatap wajah putri bungsunya dengan tatapan sedih.
Melihat Agatha menatap Elsa dengan tatapan sedih membuat Qenan dan Willy menaruh kecurigaan. Di dalam hati mereka pasti terjadi sesuatu pada Elsa dulunya.
Suasana pun tampak hening..
Dan detik kemudian, ayahnya Elsa pun bersuara.
"Ada baiknya kita bicaranya diluar saja. Kalau disini takutnya akan mengganggu istirahat Elsa," ujar Henry.
Mendengar perkataan ayahnya Elsa. Mereka pun menganggukkan kepalanya.
Dan setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kamar Elsa untuk menuju ruang tengah di lantai bawah.
^^^
[Ruang Tengah]
Kini mereka semua sudah berada di ruang tengah minus Elsa.
"Om, tante. Tolong ceritakan pada kami apa yang terjadi pada Elsa?" tanya Vania.
Ketika ayahnya Elsa ingin memulai menceritakan kondisi Elsa, tiba-tiba pelayan datang.
"Maaf tuan, nyonya."
"Iya, Roza. Ada apa?" tanya Agatha.
"Itu di luar ada sahabat-sahabatnya nona Elsa."
"Suruh saja mereka langsung kesini," pinta Agatha.
"Baik, nyonya."
Dan butuh waktu lama, terdengar sapaan dari Brenda dan yang lainnya.
"Selamat siang om Henry, tante Agatha, kakak Andrez dan kakak Jacob!" seru Brenda, Alice, Milly, Lenny, Felisa dan Tania bersamaan.
Sedangkan Darren, Darel, Rehan, Axel, Dylan dan Jerry hanya mengikuti di belakang. Setelah itu, Brenda dan yang lainnya pun duduk.
Dylan langsung melihat kearah dimana Vania duduk. Dan seketika terukir senyuman di bibirnya.
"Syukurlah dia baik-baik saja," batin Dylan.
"Vania, lo nggak apa-apa?" tanya Brenda Brenda, Alice, Milly, Lenny, Felisa dan Tania bersamaan.
"Gue nggak apa-apa. Ini semua berkat Qenan dan Willy. Mereka datang tepat waktu. Tapi Elsa..."
Mendengar perkataan terakhir Vania tentang Elsa. Brenda, Alice, Milly, Lenny, Felisa dan Tania langsung melihat ke sekitarnya. Begitu juga dengan Darren, Darel, Rehan, Axel, Jerry dan Dylan. Dan benar saja, Elsa tidak bersama mereka.
"Elsa mana tante?" tanya Tania.
"Elsa di kamarnya, Nak Tania!"
"Elsa baik-baik saja kan tante?" tanya Brenda.
Mendapatkan dua pertanyaan daru dua sahabat putrinya membuat Agatha tersenyum. Agatha benar-benar bahagia putrinya memiliki sahabat yang peduli padanya.
Awalnya Agatha berpikir hidup putrinya tidak akan pernah baik-baik saja ketika salah satu sahabatnya pergi meninggalkan dirinya. Bahkan ketakutannya itu terbukti dimana putrinya tidak merasakan kebahagiaan sama sekali.
Namun dua minggu kemudian, tiba-tiba semangat putrinya kembali lagi yang dirinya tidak tahu apa penyebab putrinya bisa kembali bahagia sehingga berakhir putrinya memutuskan untuk pindah kuliah.
__ADS_1
"Elsa sekarang sedang istirahat di kamarnya. Keadaan baik-baik saja," ucap Agatha.
"Tolong ceritakan pada kami semua tante, om. Apa yang terjadi pada Elsa?" tanya Vania.
Brenda, Vania, Alice, Milly, Lenny, Felisa dan Tania menatap penuh harap wajah kedua orang tua Elsa. Begitu juga dengan Darren, Darel, Rehan, Qenan, Willy, Axel, Jerry dan Dylan. Terutama Qenan.
"Elsa memiliki trauma di dalam dirinya."
"Trauma!" seru Brenda, Vania, Alice, Milly, Lenny, Felisa, Tania, Darren, Darel, Rehan, Qenan, Willy, Axel, Jerry dan Dylan bersamaan.
"Iya, trauma!" Henry dan Agatha mengangguk.
"Jangan bilang jika Elsa pernah mengalami hal ini dulunya?" tanya Vania.
"Itu benar, Nak Vania. Kejadian yang kamu dan Elsa alami beberapa jam yang lalu itu adalah kejadian kedua yang Elsa alami," jawab Agatha.
"Apa?"
Mereka semua terkejut mendengar jawaban dari ibunya Elsa yang mengatakan bahwa apa yang dialami Elsa dan Vania adalah kejadian kedua untuk Elsa.
"Sejak Elsa tahu bahwa Nak Brenda memutuskan kuliah di Australia. Hidupnya Elsa benar-benar kosong. Kebahagiaan dan semangat juga hilang begitu saja. Elsa banyak mengurung diri di kamarnya." Agatha menangis ketika menceritakan tentang kondisi putrinya.
"Elsa berniat untuk tidak melanjutkan kuliahnya. Mendengar itu, kami semua sedih. Kami secara bergantian membujuknya. Namun usaha kami gagal," ucap Andrez.
"Dua minggu kemudian, kami semua dibuat bingung dan juga terkejut melihat perubahan sikap Elsa. Elsa mendatangi kami dan meminta kami untuk mendaftarkan dirinya di kampus yang mana sempat kami tawarkan padanya," ujar Jacob.
"Apa om, tante, kakak Andrez dan kakak Jacob nggak nanya sama Elsa langsung?" tanya Felisa.
"Tidak. Kami tidak menanyakan alasan kenapa tiba-tiba dia setuju untuk kuliah lagi. Bagi kami melihat kebahagiaan di mata Elsa. Itu sudah lebih dari cukup," jawab Agatha.
Mendengar jawaban dari Ibunya Elsa. Seketika Brenda teringat ucapan demi ucapan dari ketujuh sahabatnya ketika ketujuh sahabatnya itu berkunjung ke rumahnya.
"Apa ini ada hubungannya denganku?" tanya Brenda dengan menatap wajah kedua orang tua Elsa.
Mendengar pertanyaan dari Brenda. Kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Elsa menatap kearah Brenda. Begitu juga dengan Darren, ketujuh sahabatnya Darren dan juga sahabat-sahabatnya Brenda.
Brenda menatap wajah keenam sahabatnya yang juga tengah menatap dirinya.
"Kalian saat itu cerita ke gue kalau kalian semua kecewa sama gue. Kalian kecewa karena gue ingkar janji. Gue janji sama kalian, kita bakal kuliah di kampus favorit kita. Tapi justru gue mengkhianati kalian."
"Dan setelah itu, kalian semua tahu alasan gue memilih kuliah di Australia. Dan dari situlah kalian semua pada bangkit. Termasuk Elsa. Dan kalian semua pun memutuskan untuk kuliah di kampus yang berbeda."
"Dan kalian kembali lagi ke Jerman karena mengetahui aku udah balik dari Australia."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Brenda tentang perjuangan putrinya/adik perempuannya dan ketujuh sahabatnya membuat Agatha, Henry, Andrez dan Jacob tersenyum bahagia. Mereka sekarang telah mengetahui alasan putrinya/adik perempuannya kembali ceria dan bersemangat.
"Elsa kuliah di Belanda dan ditemani oleh Jacob. Empat bulan Elsa kuliah disana semuanya berjalan lancar. Namun masuk bulan keenam terjadi sesuatu sama Elsa." Andrez yang menjawab pertanyaan dari Qenan.
"Ada yang tidak menyukai kesuksesannya om. Mereka ingin menghancurkan om dan membuat om berhenti dari dunia bisnis."
Mendengar perkataan ayahnya Elsa membuat Darren, Darel, Rehan, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Brenda, Vania, Alice, Milly, Lenny, Felisa dan Tania terkejut.
"Mereka berulang kali mencari masalah dengan om. Tapi om tidak pernah membalas mereka. Bahkan om tidak mempedulikan semua itu."
"Lalu mereka...."
"Mereka menggunakan Elsa sebagai senjata untuk menghancurkan om. Begitu?" ucap dan tanya Qenan.
"Iya, Nak Qenan."
"Apa yang mereka lakukan terhadap Elsa, om?" tanya Darren.
"Mereka menculik Elsa ketika Elsa dalam perjalanan pulang dari kampusnya. Dan kebetulan saat itu Jacob sedikit terlambat menjemput Elsa. Dan berakhir Elsa pulang sendiri dengan menggunakan taksi."
Mereka semua terkejut mendengar cerita dari keluarga Elsa tentang apa yang dialami Elsa.
"Mendengar kabar Elsa diculik om dan kedua putra om langsung bertindak. Kebetulan Jacob memiliki teman seorang polisi. Jacob pun meminta tolong kepada temannya itu."
"Singkat cerita. Kami berhasil menyelamatkan Elsa. Ketika kami menemukan Elsa. Kondisi Elsa benar-benar buruk. Bukan karena disiksa. Tapi lebih tepatnya mental Elsa. Elsa ketakutan melihat kedatangan kami," ucap Andrez.
Mendengar cerita dari kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Elsa membuat Brenda, Vania, Alice, Milly, Lenny, Felisa, Tania, Darren, Darel, Rehan, Qenan, Willy, Axel, Jerry dan Dylan menjadi sedih. Mereka semua tidak menyangka jika Elsa akan mengalami hal buruk ini.
"Aakkhh!"
"Mami, Papi, kakak Andrez, kakak Jacob!" teriak Elsa di kamarnya.
Mendengar teriakan Elsa di kamarnya membuat mereka semua terkejut.
Andres, Jacob langsung berdiri dan berlari menuju kamar adik perempuannya. Dan diikuti oleh Agatha, Henry, Brenda, Vania, Alice, Milly, Lenny, Felisa, Tania, Darren, Darel, Rehan, Qenan, Willy, Axel, Jerry dan Dylan.
^^^
"Elsa. Ini Mami, Nak!" Agatha menangis melihat ketakutan pada putri bungsunya.
"Bukan. Kau orang jahat. Kau pasti suruhan orang itu," jawab Elsa yang saat ini benar-benar ketakutan. Kejadian beberapa jam yang lalu masih membekas di pikiran Elsa.
__ADS_1
"Mami, Papi, kakak Andrez, kakak Jacob!" teriak Elsa memanggil kedua orang tua dan kedua kakak laki-lakinya. Dan jangan lupa air matanya yang membasahi wajah cantiknya.
Agatha tidak kuasa membendung air matanya kala melihat kondisi putrinya. Hatinya benar-benar hancur saat ini.
"Dek, ini kakak Andrez dan kakak Jacob. Kita ada disini untuk kamu," ucap Andrez lembut.
"Coba deh lihat wajah kita berdua," sela Jacob.
Baik Andrez maupun Jacob sudah meneteskan air matanya. Mereka berdua harus kembali menyaksikan dimana adik perempuannya kembali ketakutan.
"Pergi! Pergi!" Elsa mendorong kuat tubuh kedua kakak laki-lakinya.
Melihat kondisi Elsa membuat Brenda, Alice, Vania, Milly, Lenny, Felisa dan Tania menangis.
"Elsa," lirih mereka semua.
Qenan menatap wajah kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Elsa, lalu memanggilnya.
"Om, tante, kakak Andrez, kakak Jacob. Izinkan saya untuk berbicara dengan Elsa."
Kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Elsa melihat kearah Qenan. Dan kemudian, mereka pun menganggukkan kepalanya memberikan izin kepada Qenan.
Setelah mendapatkan izin dari kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Elsa. Qenan melangkah mendekati ranjang Elsa.
Qenan duduk di tepi ranjang Elsa dengan mata yang tak lepas menatap Elsa yang masih ketakutan.
Dan detik kemudian...
Qenan menarik dengan lembut tubuh Elsa dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Elsa, jika lo bisa dengar gue. Dan jika lo kenal dengan suara gue. Tolong berikan reaksinya."
"Elsa, gue Qenan. Gue orang yang selalu buat lo kesal. Baik waktu kita sekolah dulu sampai kita udah kuliah. Seperti yang dikatakan Brenda. Kita ini seperti anjing dan kucing setiap kali bertemu."
Mendengar perkataan dari Qenan. Seketika Elsa melepaskan pelukannya. Melihat Elsa yang tiba-tiba melepaskan pelukan dari Qenan membuat mereka semua takut jika Elsa memberontak.
Namun diluar dugaan mereka semua. Elsa justru menunjukkan reaksi yang bagus terhadap Qenan.
"Qe-qenan," lirih Elsa.
Qenan tersenyum. "Iya, ini gue! Laki-laki yang selalu buat lo kesal."
Qenan berlahan menyentuh telapak tangan Elsa. Dan kemudian, Qenan menggenggam erat tangan itu.
"Elsa. Dengerin gue! Lo udah aman sekarang. Nggak akan ada lagi orang yang berbuat jahat sama lo. Keluarga lo, gue, sahabat-sahabat lo dan semuanya akan ngelindugi lo. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah!"
"Tapi... Hiks," isak Elsa.
"Percayalah! Semuanya akan baik-baik saja. Selama ada kita semua di samping lo. Semuanya akan baik-baik saja. Sekarang coba lihat mereka semua." Qenan berbicara dengan lembut kepada Elsa sembari menunjuk kearah kedua orang tua Elsa, kedua kakak laki-laki Elsa, sahabat-sahabat Elsa dan juga sahabat-sahabatnya.
Elsa langsung melihat kearah tunjuk Qenan dimana Elsa dapat melihat bahwa kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya kini tengah menangis menatap dirinya. Begitu juga dengan keenam sahabatnya dan keenam sahabatnya Qenan.
"Mami, Papi, kakak Andrez, kakak Jacob... Hiks," ucap Elsa terisak.
Henry, Agatha, Andrez dan Jacob langsung mendekati Elsa. Sedangkan Qenan sudah berpindah ke tempat semula.
"Kita semua akan selalu bersama kamu, sayang."
"Semuanya akan baik-baik saja, oke!"
"Selama ada kita. Kamu nggak akan kenapa-kenapa."
Itulah ucapan-ucapan dari Agatha, Henry, Andrez dan Jacob untuk Elsa, princess kesayangan mereka.
"Jangan tinggalin aku."
"Tidak akan."
Elsa melihat kearah Qenan. Dan detik kemudian, Elsa tersenyum.
"Qenan, terima kasih."
"Sama-sama," jawab Qenan dengan membalas senyuman dari Elsa.
"Oh iya. Gue akan kasih hadiah buat lo jika lo berhasil melupakan kejadian yang menimpa lo. Dan tidak mengingat kejadian itu lagi, selamanya!"
"Bagaimana kal..."
"Gue bakal bantu lo sampai bisa."
"Benarkah?"
"Hm."
"Baiklah."
__ADS_1
Mereka semua tersenyum bahagia melihat interaksi antara Qenan dan Elsa. Baik Darren, Brenda maupun para sahabat-sahabatnya bisa melihat kesungguhan di mata Qenan untuk Elsa. Dan juga semangat dari Elsa untuk melawan rasa trumanya. Begitu juga dengan kedua orang tua dan kedua kakak laki-laki Elsa. Mereka menaruh harapan besar terhadap Qenan.