
Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Andra sudah tiba di depan rumahnya dengan wajah tak baik-baik saja.
Cklek..
Blaamm..
Andra membuka pintu rumah dan menutupnya kembali dengan cara membanting pintu dengan sangat kerasnya sehingga membuat orang-orang yang ada di ruang tengah terkejut.
Andra berjalan memasuki rumah dan terus menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Dirinya saat ini benar-benar lelah. Bukan hanya lelah tubuhnya melainkan lelah pikirannya.
"Andra!" panggil Davin.
Sedangkan Andra sama sekali tak mengindahkan panggilan dari Davin. Justru Andra menghiraukan tatapan dan panggilan dari kakaknya itu.
"Ada apa dengan Andra? Kenapa dia pulang dalam keadaan seperti itu? Tidak biasanya," tanya dan ucap Davin yang melihat adik pertamanya pulang dalam keadaan tak baik-baik saja.
Davin kemudian berdiri dari duduknya. Dirinya hendak menyusul adiknya itu, namun ketika Davin hendak melangkah, Agneta langsung mencekal tangan putranya itu.
Davin seketika langsung melihat kearah ibunya. "Ma!"
"Kamu tidak akan bisa berbuat apa-apa jika mood Andra seperti sekarang ini. Orang yang lagi emosi atau dalam masalah biasanya butuh untuk sendiri dulu. Kita tidak bisa masuk atau menenangkannya."
"Apa yang dikatakan oleh Mama Kamu benar sayang. Biarkan Andra sendiri dulu. Nanti setelah beberapa menit, baru kita ajak Andra bicara." Erland ikut meyakinkan putra sulungnya itu. Erland tahu bahwa putra sulungnya begitu mengkhawatirkan putra keduanya itu.
Mendengar penuturan dari kedua orang tuanya membuat Davin memutuskan untuk duduk kembali, walau pikirannya masih tertuju pada adiknya.
***
Di kediaman Chaim terlihat sepasang suami istri dan tiga anak-anaknya tengah berkumpul di ruang tengah. Mereka berkumpul disana untuk sekedar melepaskan rasa lelah sembari bersenda gurau bersama.
"Ziggy," panggil Farraz.
"Iya, kak."
"Kakak dengar kalau Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan serta para Organisasi Kampusnya akan melakukan Touring. Apa itu benar?"
"Iya. Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan dan para anggota Organisasi Kampusnya akan melakukan Touring empat hari lagi."
__ADS_1
"Baiklah. Nanti ketika hari itu tiba, kakak akan mengerahkan sekitar seratus anggota kepolisian untuk mengawal kegiatan mereka," sahut Farraz.
"Benarkah, kak?" tanya Ziggy.
"Iya. Kegiatan Touring yang dilakukan oleh Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan adalah kegiatan mulia. Kakak tidak ingin kegiatannya itu gagal atau terjadi sesuatu," ucap Farraz.
"Papa setuju dengan kakak kamu. Jarang-jarang ada anak pemuda seperti Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan melakukan kegiatan mulia ini. Kebanyakan pada umumnya mereka hanya membuat onar dan ngebut-ngebutan dengan sepeda motor mereka di jalan raya. Jadi, ada baiknya kegiatan mereka dikawal sampai selesai." Zeroun berucap membenarkan apa yang dikatakan oleh putra sulungnya itu. Dirinya begitu bangga dengan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Mama juga bangga dengan mereka," sahut Gloria.
"Apalagi kakak," sela Wilona.
"Baiklah. Nanti aku akan sampaikan niat kakak itu kepada Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan!" ucap Ziggy.
"Oh iya! Mereka pergi menggunakan motor atau mobil?"
"Dua-duanya sepertinya. Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan akan menggunakan motor sport mereka dengan pasangan mereka masing-masing. Akan ada empat mobil yang mana empat mobil itu berisikan perlengkapan mereka selama Touring dan beberapa makanan, minuman serta yang lainnya untuk dibagi-bagikan kepada warga-warga yang kurang mampu."
Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Ziggy membuat Zeroun dan Farraz menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Nah, kak Farraz! Berarti yang harus benar-benar dijaga dan dilindungi adalah empat mobil itu!" seru Wilona.
***
Darren, Gilang dan Darka sudah berada di rumah. Sekitar sepuluh menit yang lalu ketiganya sampai di rumah.
Kenapa Darren, Gilang dan Darka baru pulang ke rumah sementara waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore? Itu dikarenakan Darren, Gilang, Darka, ketujuh sahabat-sahabatnya Darren, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya serta pengurus lainnya sedang menyelesaikan tugas-tugas untuk kegiatan Touring empat hari lagi. Baik Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, Gilang, Darka maupun yang lainnya sedang mengecek barang-barang yang akan dibawa dan barang-barang yang akan dibagi-bagikan kepada warga-warga yang kurang mampu di lokasi tersebut.
Setelah mematikan semuanya sudah lengkap. Semua barang-barang itu dimasukkan ke dalam mobil yang akan mereka bawa.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Dan waktunya anggota keluarga Smith akan melaksanakan makan malam bersama. Semuanya sudah berkumpul di ruang makan termasuk Andra.
Anggota keluarga Smith makan malam dengan keheningan. Tidak ada yang bersuara sama sekali. Biasany Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin selalu mengeluarkan kata-kata lucunya.
Namun sekarang kelimanya saat ini fokus pada makan malamnya. Tidak ada satu pun dari mereka yang bersuara.
Darren menatap curiga satu persatu anggota keluarganya termasuk kakak keduanya. Begitu juga dengan Gilang dan Darka. Baik Darren maupun Gilang dan Darka berpikir bahwa salah satu dari mereka ada masalah sehingga membuat yang lainnya memutuskan untuk tidak berbicara ketika makan.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kenapa semuanya diam? Dan kenapa kalian berubah menjadi bisu?" tanya Darren dengan tatapan matanya menatap semua anggota keluarganya dan berakhir menatap kearah Andra.
Tidak ada yang bersuara atau hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan dari Darren. Erland serta yang lainnya fokus pada makan malamnya, walau tatapan matanya sesekali menatap kearah Andra, Darren Gilang dan Darka.
Prang..
Tiba-tiba Darren menjatuhkan sendoknya secara kasar di atas piring makannya sehingga membuat semua terkejut dan melihat kearah dirinya.
Darren seketika berdiri dari duduknya lalu mendorong kursinya ke belakang.
"Tiba-tiba nafsu makanku hilang karena aku makan hanya sendirian. Sementara orang-orang yang ada di sekitarku semua berubah menjadi manusia pucat tanpa nyawa. Terlihat jelas dari wajah masing-masing. Awalnya hanya satu manusia pucat di rumah ini. Sekarang semua penghuni berubah menjadi manusia pucat."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat Erland, Agneta serta yang lainnya berusaha untuk tidak tertawa sembari melirik kearah Andra. Sedangkan Andra di dalam hatinya mengumpat penuh kesal akan ucapan adiknya itu.
Setelah mengatakan itu, Darren pergi meninggalkan meja makan. Dirinya memutuskan menuju ruang tengah dan duduk disana.
Beberapa detik kemudian, Gilang dan Darka berdiri. Mereka memutuskan untuk menyusul adiknya di ruang tengah.
"Kita juga kehilangan nafsu makan!" seru Gilang dan Darka bersamaan.
Setelah itu, Gilang dan Darka pergi dari meja makan untuk menuju ruang tengah.
"Kita sudah kenyang hanya melihat wajah kakak Andra!" seru Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
Setelah mengatakan itu, mereka pun pergi meninggalkan meja makan. Kelimanya memutuskan untuk menyusul ketiga kakaknya di ruang tengah.
Namun ketika Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin baru menginjakkan kakinya di ruang tengah, tiba-tiba Darren berteriak.
"Kalian pergi ke kamar masing-masing. Dan langsung tidur!"
"Hahahaha!"
Seketika semuanya kecuali Andra di meja makan tertawa ketika mendengar ucapan serta teriakan dari Darren.
"Yah, kakak Darren! Kita kan...."
"Sekarang!" teriak Darren lagi.
__ADS_1
"Iya, kita ke kamar sekarang!" Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menjawab bersamaan.
Setelah itu, mereka berlima langsung berlari menaiki anak tangga untuk menuju kamar masing-masing.