
Di kediaman keluarga Smith terlihat Agneta yang sedang menyiapkan sarapan pagi untuk suami dan putra-putranya. Begitu juga dengan Carissa. Keduanya sibuk berkutat di dapur.
Dzaky, Adnan bersama ayah dan kelima adiknya serta Paman dan ketiga saudara sepupunya berada di ruang tengah.
Sementara Davin, Andra, Gilang dan Darka berada di rumah Darren. Keduanya memutuskan untuk di rumah Darren tiga hari lagi sebelum kembali pulang ke rumah. Sedangkan Gilang dan Darka tetap berada di rumah Darren untuk menjaga dan menemani Darren.
Erland memperhatikan ketujuh putranya, saudara iparnya dan ketiga keponakannya dengan tatapan sulit diartikan. Sesekali tatapan matanya mencari sesuatu yang sejak tadi tidak terlihat.
Sejak keluar dari rumah sakit, Erland lebih banyak diam. Dia akan berbicara jika anggota keluarganya yang mengajaknya berbicara. Bahkan Erland sering menghabiskan waktunya di kantor dan di ruang kerja yang ada di rumahnya.
"Papa," panggil Ivan yang melihat ayahnya yang melamun.
Mendengar Ivan yang memanggil ayahnya. Dzaky, Adnan, Adrian, Mathew, Nathan, Melvin, Evan, Daffa, Tristan dan Davian langsung melihat kearah Erland.
"Papa kenapa? Apa Papa sakit?" tanya Dzaky yang sudah berpindah duduk di samping ayahnya.
"Papa merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidup Papa. Tapi Papa tidak tahu," jawab Erland.
Mendengar jawaban dari ayahnya membuat Dzaky menjadi sedih. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Itu benar, Papa! Ada yang hilang dalam hidup Papa. Orang yang sudah memberikan warna dalam hidup Papa tidak tinggal di rumah ini lagi. Papa yang sudah membuat orang itu tidak ingin tinggal di rumah ini lagi. Orang itu adalah putra kesayangan Papa. Orang itu adalah Darrendra Smith."
Dzaky berbicara di dalam hatinya sembari tatapan matanya menatap wajah sendu ayahnya.
"Yang hilang dalam hidup Papa itu adalah Darren. Papa melupakan Darren sehingga membuat Darren enggan untuk tinggal bersama kita," batin Adnan yang juga menatap wajah sendu ayahnya.
Tes!
Seketika air mata Erland jatuh membasahi wajahnya ketika pikiran dan hatinya memikirkan sesuatu, namun dia sama sekali tidak bisa mengingatnya.
"Papa!"
"Paman!"
"Kakak Erland!"
Dzaky langsung memeluk tubuh ayahnya. Hatinya benar-benar sakit ketika melihat kondisi ayahnya saat ini.
"Jika Papa tidak bisa mengingatnya. Jangan dipaksakan. Aku tidak mau Papa jatuh sakit," ucap Dzaky.
***
Darren dan keempat kakak-kakaknya sudah berkumpul di meja makan. Mereka akan sarapan pagi bersama.
__ADS_1
Ketika keempat kakaknya menikmati sarapan paginya. Beda dengan Darren. Dia sama sekali tidak semangat menikmati sarapan paginya kali ini. Sedari tadi dia hanya mengaduk-aduk sarapannya.
Melihat Darren yang tidak semangat dan melihat Darren yang hanya mengaduk-aduk sarapannya, Darka yang sedari tadi memang memperhatikan adiknya itu langsung menegurnya.
"Darren, kenapa? Apa menu sarapan paginya kurang enak ya? Atau kamu mau kakak Darka buatkan sup ayam kesukaan kamu, hum?"
Mendengar ucapan dan pertanyaan dari Darka membuat Davin, Andra dan Gilang langsung menghentikan sarapannya. Mereka menatap kearah Darren yang memang sama sekali belum memakan sarapannya.
"Ren! Kenapa sayang?" tanya Davin.
Darren menatap wajah kakak tertuanya itu, lalu beralih melihat kearah Andra, Gilang dan Darka.
"Papa. Aku rindu Papa," ucap Darren dengan suara lirihnya.
Davin, Andra, Gilang dan Darka menatap Darren dengan tatapan sedihnya.
"Mau pulang, hum?" tanya Andra dengan tatapan lembutnya.
Darren langsung menggelengkan kepalanya. Dia belum siap bertemu dengan ayahnya. Apalagi ketika ayahnya yang tidak mengingatnya sama sekali.
Melihat penolakan dari Darren membuat Davin, Andra, Gilang dan Darka paham. Dan mereka pun tidak memaksa Darren untuk pulang ke kediaman keluarga Smith.
"Ya, sudah! Sekarang habiskan sarapannya. Jangan ada yang tersisa. Kakak tidak mau kamu kembali jatuh sakit," ucap Gilang.
"Baiklah," jawab Darren.
Melihat Darren yang sudah memasukkan beberapa makanannya ke dalam mulutnya membuat Davin, Andra Gilang dan Darka tersenyum.
***
Di kampus ketujuh sahabatnya sudah tiba sejak dua puluh menit yang lalu. Mereka saat ini duduk di halaman kampus yang luas. Mereka berada disana untuk menunggu kedatangan sahabatnya yaitu Darrendra Smith.
"Apa lo yakin jika Darren kuliah hari ini, Xel?" tanya Rehan.
"Iya. Mama sendiri yang bilang begitu padaku. Darren ingin kuliah, tapi kakak Davin melarangnya. Dan kalian semua sudah pasti tahukan apa yang akan terjadi selanjutnya?"
Mendengar jawaban sekaligus pertanyaan dari Axel membuat Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung menganggukkan kepalanya.
"Terus?" tanya Dylan.
"Kakak Davin menghubungi Mama dan menjelaskan semuanya kepada Mama. Dan pada akhirnya Mama memberikan Darren kuliah," sahut Axel.
"Dan aku yakin saat ini Darren pasti ngedumal kesal karena pergi kuliahnya satu mobil dengan kakak Gilang dan kakak Darka," ucap Darel.
__ADS_1
"Sudah pasti. Secara kan mereka sudah tahu cara membuat Darren tunduk kepada mereka," ucap Qenan.
"Hm." Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bergumam bersamaan.
Ketika mereka sedang mengosip tentang sahabat kelincinya, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara dari si korban gosip.
"Ke kampus itu untuk menimba ilmu. Bukan untuk menggosip!"
Mendengar seruan dari Darren. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung melihat ke sumber suara. Dan mereka dapat melihat Darren bersama kedua kakaknya melangkahkan kakinya menuju kearahnya.
Darren berhenti sejenak di hadapan ketujuh sahabatnya, lalu menatap dengan horor sahabat-sahabatnya itu.
"Pagi-pagi sudah menggosip. Dasar!"
Setelah mengatakan itu, Darren langsung pergi meninggalkan ketujuh sahabatnya dan kedua kakaknya untuk menuju kelas.
Melihat kepergian Darren begitu saja membuat mereka semua hanya bisa tersenyum, menghela nafas pasrah dan geleng-geleng kepala.
Setelah itu, mereka semua pun memutuskan untuk pergi ke kelasnya. Begitu juga dengan Gilang dan Darka.
^^^
Darren dan ketujuh sahabatnya sudah berada di kelasnya. Saat ini Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tengah menanyakan tentang Rolando Santa. Mereka juga menanyakan apa yang akan dilakukan untuk melawan laki-laki itu.
"Apa rencana kita selanjutnya, Ren? Kita tidak bisa berdiam diri seperti ini tanpa melakukan apapun," ucap dan tanya Jerry.
"Jerry benar, Ren! Kita harus secepatnya memikirkan rencana untuk melawan Rolando Santa. Seperti yang kau katakan dua hari yang lalu ketika bajingan itu menghubungimu. Dia sudah memulai permainannya. Sasaran pertamanya adalah Paman Erland," ucap Willy.
Darren menatap satu persatu wajah ketujuh sahabatnya. Tersirat rasa khawatir dan juga takut di tatapan matanya.
"Kalian tidak perlu khawatir. Saat ini aku sedang memikirkan sesuatu," sahut Darren.
"Apa?!" tanya Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.
"Aku sedang mencari kelemahan Rolando Santa. Setiap orang pasti memiliki kelemahan, bukan?! Jadi aku akan mencari kelemahan bajingan itu. Dan untuk kalian, jangan melakukan apapun dulu."
"Baiklah," jawab Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.
"Apa kita tidak membahas masalah ini dengan para kakak-kakak mafia kita?" tanya Dylan.
"Kita akan membas masalah ini dengan kakak-kakak mafia kita. Dan aku yakin kakak-kakak mafia kita sudah merencanakan sebelumnya," sahut Darren.
"Kau benar, Ren! Sebelum kau mendapatkan panggilan dari Rolando Santa. Kelima kakak-kakak mafia kita sudah membahas masalah ini. Bahkan mereka juga mencurigai Rolando Santa," ucap Qenan.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Kita tunggu saja kabar dari kakak-kakak mafia kita," ucap Darren.
"Baiklah," jawab Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.