
[Kediaman Antonius]
Eric, istrinya dan ketiga putranya saat ini berada di ruang tengah. Mereka sedang membahas sesuatu.
"Bagaimana dengan orang-orang yang sudah mengusik Tania dan sahabat-sahabatnya?" tanya Dendra.
"Apa kamu sudah mendapatkan identitas mereka?" tanya Satria.
"Sudah. Fito yang menginformasikan tentang ke sepuluh pemuda yang bersikap buruk terhadap Tania dan sahabat-sahabatnya kepada Darren." Jerry menjawab pertanyaan dari kedua kakaknya.
"Dari keluarga mana mereka?" tanya Eric.
"Mereka dari keluarga Jansen, keluarga Devries, keluarga Vanden, keluarga Bakker, keluarga Visser, keluarga Meyer, keluarga Mulder, keluarga Dekker, keluarga Leeuwen dan keluarga Bruwer."
"Siapa diantara kesepuluh keluarga tersebut yang sudah menyakiti Tania dan Vania?" tanya Yocelyn.
"Yang menyakiti Tania dan Vania berasal dari keluarga Bakker dan keluarga Devries. Mereka adalah Andro Devries dan Oliver Bakker. Yang menyakiti Vania adalah pemuda yang bernama Oliver. Sedangkan yang menyakiti Tania adalah Andro."
Mendengar jawaban dari Jerry membuat Eric dan kedua putranya yaitu Dendra dan Satria marah.
"Apa kamu akan diam saja? Dan tidak berniat untuk membalas mereka?" tanya Yocelyn.
"Masalah itu Mama tidak perlu khawatir. Aku, Darren dan sahabat-sahabat aku yang lain sudah merencanakan sesuatu untuk mereka. Saat ini aku, Darren dan sahabat-sahabat aku yang lain sedang mengawasi gerak gerik mereka."
Mendengar jawaban dari putra bungsunya membuat Yocelyn sedikit lega karena putra bungsunya itu tidak diam saja ketika mendengar kabar tentang kekasihnya. Justru putra bungsunya itu bersamaan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah menyusun rencana untuk membalas orang-orang yang sudah mengusik miliknya.
***
[Kediaman Carlo]
Tak jauh beda dengan keluarga Antonius. Anggota keluarga Carlo juga sedang berkumpul di ruang tengah. Sama halnya seperti keluarga Antonius, keluarga Carlo juga tengah membahas masalah yang menimpa Vania dan Tania.
"Jadi yang menyakiti Vania dan Tania bahkan lebih parahnya Vania adalah bajingan dari keluarga keluarga Bakker dan keluarga Devries?" tanya Ettan kepada adik bungsunya.
Ettan dan kedua orang tuanya sudah mengetahui perihal calon menantu/adik iparnya itu diganggu oleh beberapa pemuda. Mereka mengetahui masalah tersebut dari Daniel yang mana Daniel yang saat itu tak sengaja melihat kejadian tersebut. Di tambah lagi Daniel berada di lokasi yang sama dengan Vania dan sahabat-sahabatnya.
"Iya, kak!" jawab Dylan.
"Siapa mereka?" tanya Hendy.
"Yang menyakiti Tania adalah Andro Devries. Sedangkan yang menyakiti Vania adalah Oliver Bakker.
"Jadi mereka berasal dari keluarga Devries dan Bakker?" tanya Daniel.
"Hm." Dylan berdehem sebagai jawabannya.
"Terus untuk kedelapan pemuda lainnya, bagaimana? Bukannya mereka ada sepuluh?" tanya Evelyn.
"Mereka berasal dari keluarga Jansen, keluarga Vanden, keluarga Visser, keluarga Meyer, keluarga Mulder, keluarga Dekker, keluarga Leeuwen dan keluarga Bruwer."
"Lalu apa rencana kamu untuk membalas mereka? Kakak sangat yakin jika kedelapan teman dari dua pemuda yang menyakiti Tania dan Vania juga mengincar Brenda, Milly, Lenny, Felisa, Elsa dan Alice." Daniel berucap sembari bertanya kepada Dylan adiknya.
Dylan hendak menjawab pertanyaan dari kakak keduanya itu, namun tiba-tiba ponsel milik ayahnya berbunyi menandakan panggilan masuk.
Mendengar bunyi ponselnya membuat Hendy langsung mengambil ponselnya yang kebetulan berada di atas meja.
Setelah ponselnya di tangannya, Hendy melihat nama 'Mayang' Adi perempuannya di layar ponselnya.
Seketika rasa khawatir menggerogoti tubuhnya ketika melihat nama adik perempuannya di layar ponselnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Hendy pun langsung menjawab panggilan dari adik perempuannya itu.
Sementara Evelyn, Ettan, Daniel dan Dylan memfokuskan pendengarannya dan mendengar pembicaraan suaminya/ayahnya dengan adiknya/bibinya.
"Hallo, Mayang! Ada apa?"
"Hallo, kak Hendy... Hiks."
"Mayang, kamu kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan keluarga kamu?" tanya Hendy panik ketika mendengar isak tangis adik perempuannya.
Tak jauh beda dengan Evelyn, Ettan, Daniel dan Dylan. Mereka menatap suaminya/ayahnya dengan tatapan khawatir.
"Camila, kak!"
"Camila? Kenapa dengan Camila?"
"Camila masuk rumah sakit. Aku mendapatkan informasi dari sopir pribadinya Camila katanya mobil mereka dicegat di jalan ketika hendak pulang dari supermarket."
"Kamu dimana sekarang?"
"Aku sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit, kak!"
__ADS_1
"Apa kamu sudah menghubungi Melky suamimu?"
"Belum. Aku memang sengaja tidak menghubungi Melky dulu. Aku ingin memastikan kondisi Camila terlebih dahulu."
"Rumah sakit mana Camila berada?"
"Pladys Hospital."
"Baiklah. Kakak dan kakak ipar kamu akan kesana. Jangan terlalu panik. Semoga Camila tidak apa-apa."
"Iya, kak!"
Setelah mengatakan itu, baik Hendy maupun Mayang sama-sama mengakhiri panggilannya.
"Kenapa, Sayang? Mayang ngomong apa?" tanya Evelyn.
"Camila di rumah sakit. Mayang bilang bahwa ketika perjalanan pulang ke rumah, mobil yang ditumpangi oleh Camila dan sopirnya dicegat oleh beberapa orang."
Mendengar jawaban dari Hendy membuat Evelyn, Ettan Daniel dan Dylan terkejut.
"Siapa mereka, Pa?" tanya Ettan.
"Papa tidak tahu. Bibi kalian tidak menyebutkan hal itu. Bibi kalian sudah panik duluan ketika berbicara dengan Papa."
"Ya, sudah! Kita ke rumah sakit sekarang! Mayang butuh kita. Sementara Melky berada diluar kota!" seru Evelyn.
Setelah itu, mereka semua beranjak dari duduknya dan menuju kamar masing-masing. Mereka akan bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
***
[Pladys Hospital]
Mayang sudah berada di rumah sakit. Ketika Mayang sampai disana, matanya melihat sopir pribadi putri bungsunya tengah duduk di depan ruang UGD.
Mayang menghampiri pria itu dengan sedikit berlari. Dirinya benar-benar panik.
"Hengky!"
Pria yang bernama Hengky itu langsung melihat keasal suara. Ketika melihat wajah orang itu, Hengky langsung berdiri dari duduknya.
"Nyonya."
"Masih di dalam, Nyonya."
Mayang langsung melihat kearah pintu ruang UGD yang tertutup rapat. Hatinya saat ini benar-benar khawatir akan putri bungsunya itu.
Ketika Mayang dan sopir pribadi putri bungsunya menunggu dengan pikiran panik, tiba-tiba terdengar suara derap langkah beberapa orang disertai dengan suara panggilan.
"Mayang!"
"Mami!"
Mayang mendengar suara itu langsung mengalihkan pandangannya menatap keasal suara. Dapat Mayang lihat kakak laki-lakinya, kakak iparnya, tiga keponakannya dan dua putri tercintanya berlari menghampiri dirinya.
"Mi, bagaimana Camila?" tanya Hasley sang kakak sulung.
"Adek masih di dalam," jawab Mayang.
Hasley langsung melihat kearah pintu ruang UGD. Begitu juga dengan Kesha kakak kedua Camila beserta Hendy, Evelyn, Ettan, Daniel dan Dylan.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Bibi? Kenapa Camila bisa masuk rumah sakit?" tanya Ettan.
Mayang melihat kearah Hengky dan memintanya untuk menjelaskan kronologinya.
"Hendy."
"Begini Tuan, Nyonya." sopir pribadi Camila langsung bercerita tentang kronologi yang sebenarnya.
Flashback On
Camila yang merasakan tangan pemuda itu sedikit melonggar. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Camila langsung menarik tangannya. Setelah tangannya terlepas, Camila sedikit menjauh.
"Lo udah berani menyebut gadis itu wanita murahan. Lo sama sekali tidak menghormati perempuan padahal lo lahir dari kaum perempuan!" Darren berucap dengan tatapan matanya yang tajam.
"Yak! Kau, lepaskan teman kami!" bentak salah satu teman pemuda itu.
Darren tidak mempedulikan teriakan serta bentakan dari salah satu teman dari pemuda yang ada di hadapannya saat ini.
"Lo udah berani menghina sepupu dari sahabat gue. Sekarang, lo harus minta maaf padanya atas ucapan lo barusan!" bentak Darren.
"Hahahaha. Memangnya lo siapa?! Jangan harap gue minta maaf sama perempuan murahan itu."
__ADS_1
Darren menggeram marah ketika mendengar untuk yang kedua kalinya pemuda di hadapannya ini menyebut perempuan murahan untuk Camila sepupunya Dylan sahabatnya.
Sementara Camila saat dalam kondisi tak baik-baik saja yang mana Camila merasakan sakit di pergelangan tangannya akibat rematan kuat yang dilakukan oleh pemuda yang beberapa menit yang lalu mengatakan bahwa pemuda itu menyukai dirinya. Di tambah lagi kondisi Camila yang syok ketika disebut sebagai perempuan murahan sehingga membuat mentalnya sedikit terganggu.
Tanpa diketahui oleh pemuda itu dan tiga temannya bahwa sosok Rendra yang ada di dalam tubuh Darren muncul dan mengambil alih tubuh Darren.
"Lo udah bosan hidup ternyata."
Detik kemudian...
Sreekkk..
"Aakkhh!"
Rendra seketika langsung mencekik leher pemuda itu sehingga membuat pemuda itu sulit bernafas.
Melihat apa yang dilakukan oleh pemuda yang menolong Camila membuat ketiga temannya seketika terkejut.
"Yak! Apa yang kau lakukan, hah?!"
"Lepaskan teman kami!"
"Apa kau ingin membunuhnya?!"
"Dia harus mati!" itulah jawaban yang keluar dari mulut Rendra atas ucapan yang diberikan oleh ketiga teman dari pemuda yang ada di hadapannya.
Mendengar jawaban dari pemuda itu membuat ketiga teman dari pemuda yang menyakiti Camila terkejut.
Detik kemudian..
Ketiganya secara bersamaan menyerang Darren yang saat ini tubuhnya dikuasai oleh Rendra.
Rendra sekilas melirik kearah ketiganya dengan tangannya yang makin kuat mencekik leher pemuda tersebut seketika tersenyum bak iblis.
Duagh..
Duagh..
Duagh..
Rendra langsung memberikan tendangan kuat secara bersamaan sehingga membuat ketiganya tersungkur di tanah. Sebelum itu, tubuh ketiganya menghantam sebuah tiang yang berada tak jauh dari mereka berada.
Mendapatkan tendangan dari sosok Rendra membuat ketiganya tak sadarkan diri.
Rendra menatap tajam kearah pemuda di hadapannya. Dirinya saat ini benar-benar ingin membunuhnya.
Namun detik kemudian, terdengar suara jeritan dari sang sopir pribadi Camila sehingga membuat sosok Rendra melihat keasal suara tersebut..
"Nona Camila, anda tidak apa-apa?"
Sosok Rendra melihat kearah Camila. Dan dapat dilihat olehnya bahwa Camila yang sudah tak sadarkan diri.
Sosok Rendra kembali menatap wajah pemuda tersebut. "Berterima kasihlah lo sama sopir itu. Jika bukan karena teriakannya, maka hari ini lo sudah pergi meninggalkan dunia ini."
Setelah itu, sosok Rendra tersebut mendorong kuat tubuh pemuda itu sehingga tubuh pemuda itu tersungkur dan menghantam mobil yang ada di belakangnya.
Sosok Rendra pergi dan Darren kembali mengambil alih tubuhnya. Kemudian Darren mendekati Camila.
"Camila."
Darren langsung menggendong tubuh Camila dan membawanya masuk ke dalam mobil miliknya.
"Paman, ikuti mobilku dari belakang. Kita ke rumah sakit, sekarang!"
"Ba-baik, Tuan!"
Flashback Off
Mendengar cerita dari Hengky membuat Mayang serta yang lainnya benar-benar marah akan keempat orang yang sudah mengusik Camila.
"Apa Paman tahu nama orang yang sudah membantu Paman dan Camila?" tanya Hasley.
"Paman baru pertama kali melihatnya, Nona! Tapi sepertinya nona Camila mengenali orang itu. Bahkan Nona Camila sempat menyebut nama orang itu."
"Siapa, Paman?" kini Kesha yang bertanya.
"Ketika orang itu bertanya. Nona Camila menjawab aku baik-baik saja, Ren!"
"Berarti orang yang menolong Camila adalah Darren!" seru Daniel.
"Hm." mereka semua menganggukkan kepalanya.
__ADS_1