KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kedatangan Talia


__ADS_3

Ziggy, Noe, Enzo dan Devian sudah berada di rumah sakit. Beberapa menit yang lalu setelah di hubungi oleh tangan kanannya Chico yaitu Zidan dan Dirga, keempatnya pun langsung pergi meninggalkan markas dan rumah mereka untuk menuju rumah sakit.


Di ruang rawat Erland kini Chico, Ziggy, Noe, Enzo dan Devian berada. Mereka semua melihat kearah Erland yang masih menutup mata.


"Apa kamu sudah memberitahu keluarga Smith?" tanya Ziggy kepada Chico.


"Belum. Aku akan menghubungi keluarga Smith setelah Paman Erland sadar," jawab Chico.


"Kalau begitu hubungi saja Paman Dellano, Paman Aldez, Paman David, Paman Valeo, Paman Eric, Paman Hendy dan Paman Dario. Katakan kepada mereka kalau kamu dan anggota-anggota kamu sudah berhasil menemukan Paman Erland. Secara mereka juga ikut mencari Paman Erland!" seru Noe.


Mendengar ucapan dari Noe. Ziggy, Devian dan Enzo membenarkan apa yang dikatakan oleh Noe.


"Benar apa yang dikatakan Noe. Ketujuh sahabatnya Paman Erland juga ikut mencari keberadaan Paman Erland."


"Baiklah. Aku akan menghubungi Paman Valeo," ucap Chico.


Chico mengambil ponselnya, mencari nama kontak Valeo. Setelah mendapatkan nomor ponsel Valeo. Chico langsung menggulir tombol warna hijau.


"Hallo, Chico."


"Hallo, Paman Valeo. Paman ada dimana sekarang?"


"Paman di kantor. Kenapa?"


"Aku ada kabar baik untuk Paman dan untuk Paman yang lainnya."


"Kabar baik apa, Chico? Apa ini soal Erland? Buruan katakan!"


"Iya, Paman! Ini tentang Paman Erland. Sekarang Paman Erland bersamaku dan yang lainnya. Paman Erland berada di rumah sakit milik Bibi Celsea."


Mendengar jawaban dari Chico membuat Valeo di seberang telepon terkejut sekaligus bahagia. Valeo bahagia akhirnya sahabatnya berhasil ditemukan.


"Apa itu benar, Chico?"


"Benar, Paman. Paman Erland ada di ruang VVIP lantai 2 kamar nomor 1C."


"Baiklah. Paman akan segera kesana. Dan Paman akan memberitahu yang lainnya. Terima kasih informasinya, Chico!"


"Sama-sama, Paman!"


Setelah itu, baik Valeo maupun Chico sama-sama mematikan panggilannya.


Dan bertepatan Chico yang selesai berbicara dengan Valeo. Erland pun membuka kedua matanya.


Melihat Erland yang membuka kedua matanya membuat Chico, Ziggy, Noe, Enzo dan Devian tersenyum bahagia.


"Paman Erland," sapa Chico, Ziggy, Noe, Enzo dan Devian secara bersamaan.


Erland menatap sekitarnya, lalu menatap lima pemuda yang ada di sampingnya. Setelah itu, dia menatap kelima pemuda itu lekat.


"Kalian siapa? Dan saya ada dimana?"


Melihat reaksi dan pertanyaan dari Erland membuat Chico, Ziggy, Noe, Enzo dan Devian terkejut.


"Paman Erland! Apa Paman tidak mengingat kami?" tanya Noe.


"Saya tidak kenal kalian. Kalian siapa dan saya dimana?"


Chico, Ziggy, Noe, Enzo dan Devian saling memberikan tatapan satu sama lain. Setelah itu, mereka kembali menatap kearah Erland.


"Paman benar-benar tidak ingat dan tidak kenal dengan kita?" tanya Devian.


"Tidak," jawab Erland.


Melihat ekspresi wajah dan mendengar jawaban dari Erland. Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico menyimpulkan bahwa Erland mengalami Amnesia. Dan pada akhirnya ketakutan kelimanya terjadi.


"Ach, baiklah! Jika Paman tidak mengingat kami. Tak masalah. Paman sekarang ini berada di rumah sakit. Paman mengalami kecelakaan pesawat beberapa hari yang lalu." Devian berbicara dengan lembut.


"Sebaiknya Paman istirahat saja. Paman tidak usah memikirkan apapun," ucap Noe.


Setelah mengatakan itu, Noe langsung keluar dari ruang rawat Erland. Dan diikuti oleh Ziggy, Devian, Chico dan Enzo.


Setibanya mereka diluar. Baik Noe, Enzo, Chico, Ziggy dan Devian terdiam. Mereka terkejut ketika mengetahui fakta bahwa ayah dari salah satu adik laki-lakinya mengalami Amnesia.


Yang mereka pikirkan saat ini adalah bagaimana reaksi dari adik laki-lakinya itu ketika mengetahui bahwa ayah yang begitu dia harapkan kembali dalam keadaan baik-baik saja berubah melupakannya. Ayahnya tidak mengingat dirinya.


Ketika Enzo, Devian, Ziggy, Noe dan Chico tengah memikirkan bagaimana reaksi Darren, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara derap langkah dan suara beberapa orang yang memanggil nama mereka.

__ADS_1


"Chico, Ziggy, Noe, Devian, Enzo!"


Secara bersamaan kelimanya langsung melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat ketujuh sahabat dari Erland sekaligus ayah dari ketujuh adik laki-lakinya telah datang.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Semua anggota keluarga Smith sudah berada di rumah, termasuk Gilang, Darka dan Darren. Beberapa menit yang lalu ketiga baru tiba di rumah setelah semua urusan di kampus selesai.


Mereka semua saat ini berada di ruang tengah. Berkumpul sembari membahas serta merindukan Erland.


"Paman Evan, bagaimana pencarian Papa? Apa Paman Evan sudah mendapatkan kabar dari orang-orangnya Paman?" tanya Andra.


"Terakhir salah satu tangan kanannya Paman mengatakan bahwa mereka sudah menemukan lokasi dimana pesawat yang ditumpangi oleh ayah kalian jatuh. Namun ketika mereka menelusuri lokasi itu, mereka hanya menemukan badan pesawat yang sudah hancur bagian kepalanya dan pesawat itu juga terbagi dua." Evan menceritakan kondisi pesawat yang ditumpangi oleh Erland kepada anggota keluarganya, terutama kepada para putra dari Erland.


Mendengar jawaban dari Evan membuat Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin terkejut. Dan tanpa diminta air mata mereka jatuh membasahi wajahnya.


"Papa," ucap Davin dan saudara-saudaranya.


"Sayang," ucap Agneta dengan suara lirihnya.


Ketika mereka semua tengah memikirkan Erland, tiba-tiba terdengar bell rumah berbunyi. Dan seorang pelayan perempuan berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.


Tak butuh waktu lama, pelayan perempuan itu datang menghampiri para majikannya di ruang tengah.


"Ada apa? Siapa yang datang?" tanya Agneta kepada pelayan perempuan itu.


"Itu tamunya tuan muda Davin."


"Tamu saya? Tapi saya tidak merasa mengundang seseorang. Dan saya juga tidak membuat janji apapun," ucap Davin.


"Tamunya laki-laki apa perempuan?" tanya Andra.


"Perempuan, tuan muda Andra."


Mendengar jawaban dari pelayan itu, Andra langsung melihat kearah sang kakak. Begitu juga dengan Davin. Keduanya saling memberikan tatapan.


Setelah itu, keduanya kembali menatap wajah pelayan perempuan itu.


"Sekarang tamu itu ada dimana?" tanya Davin.


"Baiklah."


Setelah itu, pelayan perempuan itu kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.


Davin berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Setelah itu, mereka pergi menuju ruang tamu.


^^^


"Mau ngapain kamu kemari, hah?! Berani sekali kamu mengotori rumahku!" bentak Davin ketika melihat perempuan yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


Mendengar bentakan dan perkataan dari Davin membuat perempuan itu terkejut. Perempuan itu beranjak dari duduknya dan menatap kearah Davin.


"Talia, apa belum cukup kamu menyakiti kakakku dengan pengkhianatan kamu itu. Kenapa kamu masih saja mengganggu kakakku," sahut Andra yang menatap marah kearah Talia.


Perempuan yang bertamu itu adalah Talia, mantan kekasihnya Davin. Talia mengetahui alamat rumah Davin dengan cara membayar seseorang untuk memata-matai Davin.


Sementara anggota keluarganya seketika terkejut ketika mendengar perkataan dari Andra yang mengatakan bahwa perempuan tersebut telah mengkhianati Davin.


Seketika mereka berpikir jika perempuan tersebut adalah mantan kekasih Davin.


"Maafkan aku. Aku tahu aku salah," ucap Talia lirih.


"Hahahaha." Andra seketika tertawa dengan sangat keras ketika mendengar ucapan dari Talia. "Kau mengakui kesalahanmu dan menyesali perbuatanmu karena kau sudah mengetahui identitas asli dari kakakku. Jika kau tidak mengetahui kebenaran tentang kakakku bahwa kakakku adalah putra sulung dari keluarga Smith, kemungkinan kau tidak akan pernah sudi meminta maaf apalagi bertemu dengan kakakku. Jangankan bertemu dengan kakakku. Menatapnya saja kau tidak akan pernah sudi!" bentak Andra.


Davin menatap tajam kearah Talia, perempuan yang sudah membuat hatinya terluka dan juga mempermalukannya.


"Aku sudah berulang kali mengatakan kepadamu, Talia! Aku sudah tidak ingin menjalin hubungan denganmu. Aku sudah tidak ingin memiliki hubungan dengan dan juga keluargamu. Apa kau masih belum mengerti juga? Apa masih belum cukup rahasiamu dan juga rahasia besar keluargamu yang sudah terbongkar di depan banyak orang!" Davin berbicara dengan menatap tajam kearah Talia.


Setelah mengatakan itu, Davin pergi meninggalkan ruang tamu. Dia tidak ingin berlama-lama melihat wajah menjijikkan itu.


Namun ketika Davin hendak pergi, Talia dengan cepatnya menghampiri Davin. Talia berusaha untuk menghalangi Davin.


Ketika Talia sedikit lagi menyentuh tangan kiri Davin. Darren dengan gesit berhasil menahan pergelangan tangan kiri Talia.


Sret!


Talia seketika terkejut melihat tangannya yang dipegang oleh salah satu adik laki-laki Davin.

__ADS_1


Bukan hanya Talia saja yang terkejut. Davin dan anggota keluarganya juga ikut terkejut melihat Darren yang berhasil menahan Talia. Bahkan mereka juga bisa melihat tatapan mata Darren yang tajam menatap Talia.


"Apa kau tidak dengar yang barusan dikatakan oleh kakakku? Kakakku sudah tidak ingin punya hubungan lagi denganmu. Jadi menjauhlah dari kakakku. Apa kau mengerti!" Darren berucap dengan penuh penekanan dan disertai tatapan matanya yang menajam.


Talia menatap tak suka kearah Darren. Bahkan Talia menatap wajah Darren dengan tatapan menantang.


"Itu bukan urusanmu. Kau jangan ikut campur!" bentak Talia.


Talia menarik tangannya dari pegangan tangan Darren. Namun dia tidak berhasil karena Darren begitu kuat memegang tangannya.


Sedangkan untuk Davin dan anggota keluarganya menatap nyalang kearah Talia. Mereka tidak terima jika kesayangannya dibentak.


"Kau memang benar aku tidak berhak untuk ikut campur masalahmu dengan kakakku. Tapi kau harus ingat satu hal. Aku adalah Darrendra Smith, adik laki-laki dari Davin Aldan Smith. Ini rumah keluargaku. Kau datang tanpa diundang kesini. Jadi, ini sudah termasuk pelanggaran."


"Dan satu hal yang harus kau ingat. Aku tidak pernah mempermasalahkan dengan siapa kakak-kakakku menjalin hubungan. Selama perempuan itu setia, tulus dan tidak mengkhianati kakak-kakakku. Tapi jika perempuan-perempuan itu berani menyakiti dan mengkhianati cinta tulus kakak-kakakku, maka aku orang pertama yang akan buat perhitungan dengan perempuan tersebut. Apa sekarang kau mengerti, nona!"


Darren menatap penuh amarah wajah Talia. Sementara Talia berani menatap dan menantang Darren, seketika berubah ciut. Rasa takut itu muncul ketika mendengar perkataan dari Darren. Di tambah lagi tatapan mata Darren yang begitu menyeramkan.


"Aku peringatkan sekali lagi padamu. Menjauhlah dari kakakku. Dan jangan mengganggunya lagi. Kami sedang banyak masalah saat ini. Dan kau jangan menambahkan masalah dengan terus mengganggu kakakku. Tapi jika kau masih terus mengganggu kakakku, jangan salahkan aku jika aku berbuat nekat padamu!"


Talia membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan terakhir dari Darren. Tapi Talia berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa takut itu di hadapan Darren. Bahkan sebaliknya, Talia justru menantang Darren.


"Apa kau mengancamku? Aku tidak takut dengan ancamanmu itu," jawab Talia.


Mendengar ucapan dari Talia membuat Davin menatap penuh amarah kearah Talia. Begitu juga dengan anggota keluarganya.


Darren tersenyum disudut bibirnya ketika mendengar perkataan dan wajah menantang dari Talia.


"Baiklah kalau itu keputusanmu," ucap Darren.


Darren mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya.


Setelah ponselnya sudah ada di tangannya, Darren mencari nama kontak salah satu kakak mafianya. Darren menghubungi Ziggy dengan melakukan video call.


Beberapa detik kemudian...


"Hallo, kakak Ziggy."


"Iya, Ren. Kenapa?"


"Aku butuh bantuan kakak Ziggy."


"Bantuan apa yang kau inginkan. Katakan pada kakak."


Semua bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Ziggy di seberang telepon. Begitu juga dengan Talia. Bahkan Talia bisa melihat wajah Ziggy di layar ponsel milik Darren.


Darren mendekatkan layar ponselnya di hadapan wajah Talia.


"Apa kakak Ziggy melihat wajah perempuan yang ada di layar ponselnya kakak?"


"Iya. Kakak melihatnya. Siapa dia?"


"Dia adalah mantan kekasihnya kakak Davin. Kakak Davin dulunya sangat mencintai perempuan itu, tapi perempuan itu mengkhianati kakak Davin."


"Jadi maksud kamu kalau perempuan itu kembali mengganggu Davin dan berniat ingin menjalin hubungan lagi dengan Davin, begitu?"


"Benar sekali. Kakak Ziggy ternyata sangat pintar dan langsung paham apa yang aku katakan."


"Apa yang kamu inginkan?"


"Kakak Ziggy sudah tahu apa yang aku inginkan, bukan?! Dalam hidupku, aku paling tidak suka jika ada orang lain mengusik keluargaku."


"Baiklah. Kakak akan pastikan perempuan itu tidak akan menggangu Davin lagi."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Darren ketika mendengar perkataan dari Ziggy.


"Kakak Ziggy yang terbaik."


Setelah mengatakan itu, Darren langsung mematikan panggilannya. Dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.


Darren menatap nyalang kearah Talia. "Apa kau sudah dengar pembicaraanku dengan kakakku yang lainnya? Kalau kau masih beranggapan bahwa aku main-main dengan perkataanku, maka kau bisa buktikan sendiri. Jadi sarankan padamu, jauhi kakakku jika kau masih sayang dengan nyawamu."


Darren menarik kasar tangan Talia menuju keluar rumah. Setiba diluar, Darren langsung mendorong kuat tubuh Talia sehingga tersungkur di teras rumah.


"Sekarang pergilah dari sini. Jangan pernah lagi kau menginjakkan kakimu di kediaman Smith!"


Setelah itu, Darren melangkah memasuki rumahnya dan diikuti oleh Agneta dan yang lainnya. Mereka semua tidak peduli akan nasib Talia diluar.

__ADS_1


__ADS_2