
Deg!
Mereka semua terkejut ketika mendengar suara seseorang. Suara yang mereka rindukan dua hari ini.
Mereka semua dengan kompak langsung melihat ke asal suara. Dan benar! Mereka melihat Darren yang sudah membuka kedua matanya. Mereka semua menangis bahagia.
"Darren," ucap Darka menangis. Tangannya menggenggam erat tangan adik laki-lakinya.
Darren langsung melihat ke samping. Dan dapat dilihat olehnya kakak laki-laki kesayangannya tersenyum padanya.
"Ka-kakak Darka," ucap Darren pelan.
Erland, Agneta dan yang lainnya berdiri lalu mendekati ranjang Darren. Mereka semua mengerubunginya.
"Sayang," ucap Erland dan Agneta.
Darren menatap wajah cantik ibunya. "Mama tidak salah. Tidak ada yang salah disini. Jika ingin mencari siapa yang salah. Yang salah itu adalah orang-orang yang selalu iri, dengki, busuk hati terhadap kita. Dengan segala cara mereka lakukan untuk menghancurkan kita."
Mereka semua tersenyum ketika mendengar ucapan bijak dari Darren.
"Pasti ketujuh sahabat-sahabat laknat aku itu sudah menceritakan apa yang terjadi di markas Almight Black sehingga Mama jadi seperti ini?" tanya Darren dengan menatap horor ketujuh sahabat-sahabatnya.
Axel, Jerry, Dylan, Qenan, Willy, Rehan dan Darel juga tak kalah horornya menatap Darren.
"Kenapa tuh mata? Apa mau dicolok, hah?!" tanya Darel dengan mengacungkan dua jarinya menghadap kearah mata Darren.
"Aish!" Darren langsung membuang wajah kearah lain.
Darren kembali menatap wajah ibunya. "Sekarang dengarkan aku, Ma! Apapun yang aku lakukan diluar sana itu semata-mata untuk melindungi harga diri Mama dan Mama Belva. Walaupun Mama Belva sudah tidak ada. Aku tidak akan pernah rela siapa pun menghina Mama dan Mama Belva. Mau dia perempuan, laki-laki, kakek-kakek atau sekali pun nenek-nenek. Jika mereka sudah menghina Mama dan Mama Belva, maka hidup mereka akan segera berakhir. Aku hanya memberikan satu kesempatan kepada mereka untuk meminta maaf dan menarik kata-katanya itu. Jika tidak, berarti mereka memilih mati."
Darren menatap wajah kedua orang tuanya, keenam kakak laki-lakinya. Dan terakhir kelima adik laki-lakinya. "Kalian keluargaku. Selama aku masih hidup di dunia ini. Aku akan menjaga dan melindungi kalian. Musuh-musuh kita banyak diluar sana. Dan kita tidak tahu siapa saja mereka. Musuh-musuh itu tercipta dari mereka yang memiliki hati busuk."
"Walaupun kita berhasil mengalahkan para musuh-musuh itu. Bukan berarti tidak akan ada musuh-musuh yang lainnya. Mati satu musuh akan datang musuh-musuh yang lainnya. Begitu seterusnya selama kita hidup di dunia ini."
Mereka semua menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren. Musuh-musuh mereka tidak akan pernah habis. Mati satu tumbuh seribu. Itulah pepatah yang cocok untuk menggambarkan kehidupan Darren dan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Erland dan Agneta secara bersamaan memberikan ciuman di kedua pipi Darren, lalu berpindah ke keningnya.
"Terima kasih sayang." Erland dan Agneta berucap bersamaan.
"Untuk apa?" tanya Darren.
"Untuk semuanya." Erland dan Agneta kembali menjawab secara bersamaan.
"Mama menyayangimu."
"Papa menyayangimu."
__ADS_1
"Kita juga menyayangimu, Ren!" seru Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka bersamaan.
"Kita juga sayang kakak Darren!" Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin berucap bersamaan.
"Aku tidak," jawab Darren singkat, padat dan jelas.
Mereka semua sontak membelalakkan kedua matanya ketika mendengar jawaban dari Darren.
"Dasar adik laknat," sahut Andra, Dzaky dan Adnan.
"Adik durjana," ucap Gilang dan Darka.
"Terima kasih pujiannya," balas Darren disertai cengiran khasnya.
Mereka semuanya tersenyum ketika melihat senyuman Darren. Rasa sedih mereka hilang seketika.
Erland mengusap lembut kepala putranya sehingga memperlihatkan kening putihnya.
"Apa ada yang sakit, hum?" tanya Erland sambil menyentuh lembut dada kirinya
"Tidak ada, Pa! Sakitnya sudah hilang ketika Papa menyentuhnya," jawab Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Erland tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Sayang," panggil Agneta.
"Mama tidak perlu membahas atau mengingat kejadian yang sudah berlalu. Lupakan semuanya," ucap Darren lalu tatapan matanya menatap satu persatu anggota keluarganya. "Kalian juga! Lupakan semuanya. Jangan pernah mengingat itu lagi. Dan untuk masalah yang sudah kalian dengar dari sahabat-sahabatku dimana aku berubah menjadi manusia kejam. Aku berharap kalian tidak takut, kecewa, marah atau bahkan membenciku."
Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka menatap Darren sedih. Mereka semua tahu maksud dari ucapannya itu. Darren berpikir jika mereka akan membencinya dan menjauhinya. Bahkan Darren berpikir jika mereka semua akan jijik padanya atas apa yang dilakukan olehnya.
Agneta mengusap lembut wajah putranya. "Kamu putra kebanggaan Mama. Mama beruntung memiliki kamu dalam kehidupan Mama. Terima kasih sudah membela Mama," ucap Agneta lalu mencium keningnya.
"Mama tidak perlu berterima kasih padaku. Mama dan Mama Belva adalah dua wanita yang begitu aku cintai. Mama Belva sudah pergi meninggalkanku untuk selamanya. Dan tersisa Mama. Dan sudah tugasku untuk melindungi Mama."
Tes!
Agneta meneteskan air matanya ketika mendengar ucapan bijak dari Darren. Dia benar-benar terharu akan perhatian dan perlakuan putranya itu padanya.
"Kak Belva. Terima kasih karena kau telah melahirkan seorang anak yang memiliki hati bak malaikat. Putra bungsumu benar-benar memiliki hati yang mulia. Maafkan aku kak Belva karena dulu aku sempat melanggar janji dan sumpahku. Aku sempat menyakiti putramu. Kak Belva, aku janji! Selama aku hidup, selama itulah aku akan selalu ada untuk ketujuh putra-putramu." Agneta berbicara di dalam hatinya dengan tatapan matanya menatap wajah sedikit pucat Darren.
Tangan Darren terangkat keatas, lalu tiba-tiba Darren menghapus air mata yang membasahi wajah cantik ibunya.
"Jangan nangis."
Agneta menyentuh dan menggenggam tangan Darren. "Air mata Mama ini adalah air mata kebahagiaan."
Darren menatap ketujuh sahabatnya yang juga tengah menatapnya.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan pria itu?" tanya Darren.
Darren seketika sadar bahwa beberapa jam yang lalu dia telah menyakiti seorang pria di jalanan.
"Dia baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir," ujar Willy.
"Aku sudah menjelaskan kepada pria itu alasan kamu sampai menyakitinya," ucap Rehan.
"Ach, syukurlah!" ucap Darren.
Setelah itu, Darren menatap kearah Axel. Tatapan yang penuh kecurigaan di mata ketujuh sahabatnya, terutama di mata Axel.
"Ngapain lo lihatin gue kayak gitu? Mencurigakan," ucap Axel curiga.
"Dari pada lo memperlihatkan wajah kucel lo tuh. Mending lo keluar dari sini."
Seketika mata Axel membelalak sempurna ketika mendengar ucapan dari Darren. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Lo ngusir gue?" tanya Axel ngegas.
"Nggak usah baper deh. Oh iya! Bukankah lo putra bungsu dari Dokter Celsea?"
Mendengar penuturan dari Darren. Seketika Axel tersenyum sembari manggut-manggut saat sudah mengetahui arah ucapan dari Darren barusan.
"Lo ngusir gue hanya buat nyuruh gue manggil Mama?" tanya Axel dengan ketus.
Darren tersenyum manis di hadapan Axel sembari jari telunjuknya menari-nari menunjuk kearah Axel bahwa apa yang dikatakannya itu benar.
"Sialan lo." umpat kesal Axel. "Tuh di belakang ranjang lo ada tombol. Tinggal tekan apa susahnya sih!" Axel menatap horor sahabat kelincinya itu.
"Yang jadi Dokternya itu Mama lo. Jadi nggak sopan jika menggunakan tombol itu. Tombol itu berlaku untuk Dokter lain," jawab Darren.
"Alah! Itu hanya alasan lo. Bilang aja lo memang niat nyuruh-nyuruh gue kan?" ucap dan tanya Axel.
Darren kembali tersenyum. "Lah, kok lo tahu?" tanya Darren.
"Kan memang itu sifat lo selama ini," jawab Axel.
Mendengar jawaban dari Axel membuat Darren tersenyum. Dia senang sekali sudah berhasil membuat Axel kesal.
Sementara anggota keluarganya dan yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Ketika Darren ingin membalas perkataan Axel. Axel sudah terlebih dahulu memotongnya.
"Mending gue cabut dari sini dari pada makin kesal mendengar kebacotan dari anak kelinci bodoh tak ketulungan itu," ucap Axel dengan kejamnya.
Mendengar ucapan kejam dari Axel membuat Darren mendengus dan mengumpati Axel dengan berbagai macam nama-nama hewan.
__ADS_1