
Darren sudah berada di kampus. Darren berangkat ke kampus bersama dengan kakak kesayangannya yaitu Darka. Sementara Gilang sudah pergi pagi-pagi sekali dengan alasan akan melakukan misi.
Darren saat ini berada di kelas bersama dengan ketujuh sahabat-sahabatnya. Di kelasnya sudah tampak ramai karena lima menit lagi materi matematika akan segera dimulai.
Jerry dan Axel sedikit menolehkan wajahnya untuk melihat kearah Darren. Ketika keduanya menatap wajah Darren. Seketika keduanya terkejut.
"Ren," panggil Rehan dan Jerry bersamaan.
Mendengar namanya dipanggil, Darren langsung melihat kearah Jerry dan Rehan.
"Iya."
"Kamu sakit?" tanya Jerry.
"Nggak. Kenapa?"
"Wajah kamu pucat, Ren!" kini Rehan yang bersuara.
Mendengar ucapan dari Rehan. Qenan, Willy, Axel, Darel dan Dylan langsung menatap wajah Darren. Dan benar apa yang dikatakan Rehan bahwa wajah Darren terlihat sedikit pucat.
"Ren," ucap Willy, Qenan, Rehan, Darel, Dylan, Axel dan Jerry bersamaan dengan menatap khawatir Darren.
"Yak! Kalian kenapa sih? Aku nggak apa-apa. Beneran! Lagian bukan kali ini sajakan kalian melihat wajahku pucat kayak gini. Kalian bahkan udah hampir setiap hari melihatnya," ucap Darren.
"Setiap aku lelah, setiap aku memikirkan masalah, setiap aku telat makan. Wajah aku pasti kayak gini. Pucat kayak mayat hidup," ucap Darren.
FLASHBACK ON
Darren berada di kamarnya. Dirinya sudah dalam keadaan rapi dengan pakaian kampusnya.
Ketika Darren ingin meraih tasnya dan hendak pergi meninggalkan kamarnya, tiba-tiba Darren merasakan sakit di kepalanya.
"Aakkhhh!" Darren meremat kuat rambutnya. Sakit yang dirasakan Darren benar-benar luar biasa.
Darren menghempaskan tubuhnya di sofa, lalu menyandarkan punggungnya di punggung sofa. Kemudian Darren memejamkan matanya sejenak hanya sekedar untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya.
Setelah beberapa menit, rasa sakit di kepalanya pun hilang. Darren membuka matanya, lalu beranjak dari duduknya.
Darren menghampiri lemari kacanya dan memandang wajahnya di cermin. Dan terlihat olehnya wajahnya terlihat sedikit pucat.
Darren pergi ke kamar mandi hanya sekedar untuk membasuh wajahnya. Setelah selesai, Darren mengeringkan wajahnya.
Darren mengambil pelembab bibir, lalu mengoleskannya ke bibirnya agar bibir pucatnya tidak terlihat.
FLASHBACK OFF
"Aku ini memang laki-laki lemah dan penyakitan. Semoga kalian nggak malu memiliki sahabat sepertiku. Dan semoga kalian nggak pergi ninggalin aku dalam kondisi seperti ini," ucap Darren lagi.
Mendengar perkataan terakhir Darren membuat Willy, Qenan, Rehan, Darel, Dylan, Axel dan Jerry menggeram marah. Mereka tidak terima jika Darren berbicara seperti itu. Bagi mereka, Darren itu pemuda yang paling kuat diantara mereka. Jika Darren itu lemah, kemungkinan Darren sudah memilih menyerah dan pergi meninggalkan orang-orang yang menyayanginya.
Brak!
Tiba-tiba Axel berdiri dari duduknya sembari memukul meja dengan sangat keras sehingga membuat Darren, Willy, Qenan, Rehan, Darel, Dylan dan Jerry terkejut. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
__ADS_1
"Aku paling nggak suka setiap kali kamu berbicara seperti itu, Ren! Kenapa? Kenapa kamu hobi sekali mengatakan kata-kata sensitif itu?" ucap dan tanya Axel dengan menatap marah kearah Darren.
Mendengar perkataan dan melihat tatapan amarah yang diberikan Axel padanya. Darren hanya diam dengan matanya menatap wajah Axel. Begitu juga dengan Willy, Qenan, Rehan, Darel, Dylan dan Jerry.
"Xel, kamu....!"
"Ren, berapa kali aku bilang sama kamu. Kamu itu laki-laki kuat. Kamu itu bukan laki-laki lemah. Dan kamu itu bukan laki-laki penyakitan. Kamu sehat, Ren! Kamu sehat!" teriak Axel. Dan seketika air mata Axel jatuh membasahi wajah tampannya.
Mendengar perkataan dan teriakan Axel membuat semuanya terkejut. Tak terkecuali Darren. Darren juga meneteskan air matanya ketika mendengar perkataan dan teriakan dari Axel. Bahkan Darren juga melihat sahabatnya itu menangis karena dirinya.
"Xel." Qenan dan Willy menepuk pelan bahunya dan memberikan ketenangan pada Axel.
Baik Willy, Qenan, Rehan maupun Darel, Dylan dan Jerry tahu bahwa Axel sangat sensitif terhadap Darren. Sifat Axel dan Darren hampir sama. Keduanya memiliki perasaan peka akan sekitarnya. Keduanya juga memiliki sifat sensitif.
"Ren," panggil Rehan, Darel, Dylan dan Jerry ketika melihat Darren yang hanya diam dengan matanya yang mengeluarkan air mata.
Willy, Qenan, Rehan, Darel, Dylan, Axel dan Jerry menatap khawatir Darren yang tidak memberikan respon sama sekali.
Ketika Rehan dan Darel ingin menyentuh bahu Darren, tiba-tiba dosen pembimbing memasuki kelas.
"Selamat pagi mahasiswa dan mahasiswi semuanya!"
"Selamat pagi, Bu!"
Axel kembali menduduki pantatnya di kursi. Begitu juga dengan yang lain. Sedangkan Darren hanya melirik sekilas dosen tersebut, lalu pikirannya kembali melayang ntah kemana.
"Baiklah semuanya. Sekarang buka buku matematika kalian halaman 140!" seru dosen itu.
Mendengar perintah dari dosen matematika itu, mahasiswa dan mahasiswi itu pun langsung membuka buku matematika halaman 140. Termasuk ketujuh sahabat-sahabatnya Darren.
Dikarenakan keadaannya tak baik-baik saja, tiba-tiba Darren berdiri dari duduknya dan pergi begitu saja meninggalkan kelas.
"Ren," panggil Willy, Qenan, Rehan, Darel, Dylan, Axel dan Jerry.
"Darrendra Smith," panggil dosen itu.
Darren tidak mempedulikan panggilan dari ketujuh sahabat-sahabatnya dan juga dosen pembimbingnya. Darren tetap terus melangkah menuju pintu keluar.
^^^
Setelah sampai diluar, Darren memutuskan untuk pergi ke rooftop untuk menenangkan pikirannya dan juga berusaha melupakan perkataan dan teriakan Axel di kelas beberapa menit yang lalu. Keadaan Darren saat ini benar-benar kacar dan juga buruk.
Darren sudah berada di depan pintu rooftop. Tangannya terulur untuk membuka pintu itu.
Setelah pintu itu terbuka. Darren pun langsung menaiki anak tangga yang menghubungkan dengan rooftop.
Sesampainya di rooftop. Darren langsung rebahan dan menatap langit yang sangat indah. Beberapa detik dalam posisi rebahan. Darren pun memposisikan tubuhnya untuk duduk.
Tatapan mata Darren fokus menatap ke depan. Darren memejamkan matanya sejenak, lalu bayangan Axel seketika melintas di pikirannya. Dan seketika perkataan dan teriakan Axel terngiang-ngiang di pikirannya.
"Aku paling nggak suka setiap kali kamu berbicara seperti itu, Ren! Kenapa? Kenapa kamu hobi sekali mengatakan kata-kata sensitif itu?" ucap dan tanya Axel dengan menatap marah kearah Darren.
"Ren, berapa kali aku bilang sama kamu. Kamu itu laki-laki kuat. Kamu itu bukan laki-laki lemah. Dan kamu itu bukan laki-laki penyakitan. Kamu sehat, Ren! Kamu sehat!" teriak Axel. Dan seketika air mata Axel jatuh membasahi wajah tampannya.
__ADS_1
Tes!
Darren menangis ketika mengingat perkataan dari Axel. Seketika dirinya sadar atas apa yang telah diucapkannya.
Sebenarnya Darren juga tidak sadar akan perkataannya itu. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Bahkan Darren tidak tahu kenapa mulutnya bisa berkata seperti itu sehingga membuat ketujuh sahabat-sahabatnya menatap marah padanya dan berakhir salah satunya kelepasan.
"Maafkan aku. Maafkan aku, karena aku sudah menyakiti kalian."
"Xel, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah."
Darren berucap lirih sembari mengucapkan kata maaf untuk ketujuh sahabat-sahabatnya.
Tanpa Darren sadari bahwa perkataannya itu didengar oleh seseorang yang sedari tadi memang berada di rooftop. Orang itu memperhatikan Darren dengan diam. Dan tatapan mata yang mengisyaratkan kesedihan.
"Aakkhhh!"
Tiba-tiba Darren merasakan sakit di kepalanya sehingga membuat Darren berteriak kesakitan.
Darren meremat kuat rambutnya ketika merasakan sakit yang teramat kuat di kepalanya.
"Kenapa sakit ini datang lagi? Ini adalah yang ketiga kalinya," ucap Darren dengan suara lirihnya.
"Aakkhhh!"
Darren kembali berteriak dengan meremat rambutnya.
"Tuhan, kenapa kau memberikan rasa sakit di kepalaku disaat rasa sakit di jantungku belum sembuh? Apa salahku, Tuhan? Kenapa kau memberikan dua penyakit padaku? Apa tidak cukup satu saja penyakit yang kau berikan padaku? Kau memberikan rasa sakit di jantungku sejak aku dilahirkan ke dunia ini. Sampai sekarang rasa sakit itu masih aku rasakan."
"Dan sekarang... Hiks... Kau menambahkan satu penyakit lagi untukku. Rasa sakit yang kedua yang aku rasakan yaitu di kepalaku."
Darren menangis ketika mengatakan kata-kata itu. Tatapan matanya menatap ke langit yang berwarna biru.
"Kenapa, Tuhan? Kenapa?" teriak Darren histeris.
"Mama! Tolong sampaikan kepada Tuhan untuk tidak memberikan aku rasa sakit lagi. Cukup satu saja yaitu jantungku. Aku takut, Mama! Aku takut!"
"Mama! Aku sangat mencintai Brenda. Aku... Aku tidak mau Brenda pergi meninggalkanku setelah mengetahui kondisi kesehatanku. Brenda memang sudah tahu jika aku memiliki masalah di jantungku. Tapi... Tapi Brenda tidak tahu jika beberapa hari ini aku sering sakit kepala. Bagaimana jika Brenda tahu bahwa aku tidak baik-baik saja? Kemudian Brenda memutuskan untuk pergi meninggalkanku. Brenda tidak ingin memiliki kekasih atau calon suami penyakitan sepertiku."
"Mama! Aku tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya. Aku benar-benar mencintai Brenda. Aku ingin Brenda menjadi pendamping hidup aku selamanya."
"Tapi... Tapi aku tidak mau egois. Bagaimana pun Brenda juga berhak untuk hidup bahagia bersama laki-laki lain. Brenda berhak mendapatkan laki-laki yang sehat. Tidak sepertiku yang penyakitan. Aku tidak ingin mengekang Brenda dan meminta Brenda untuk selalu bersamaku. Mama!Jika suatu saat nanti Brenda memilih meninggalkanku. Aku siap! Aku siap melepaskannya."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat orang itu menangis terisak. Orang-orang itu benar-benar merasakan sakit di hatinya. Orang itu benar-benar hancur ketika mendengar semua keluh kesah yang keluar dari mulut Darren.
Setelah mengeluarkan semua keluh kesahnya dan juga kesedihannya. Darren bangkit dari duduknya. Darren memutuskan untuk pergi meninggalkan rooffop.
Setelah dipastikan kepergian Darren. Orang itu pun keluar dari persembunyian. Seketika tubuhnya merosot kebawah. Dan tangisnya pun pecah.
"Hiks... Hiks... Darren... Hiks! Aku mencintaimu... Aku sangat mencintaimu. Rasa cintaku tidak akan pernah berubah sedikit pun untukmu. Bahkan rasa cintaku ini semakin kuat untukmu. Kau laki-laki yang kuat, Ren! Kau bisa melewati semuanya. Aku bersumpah pada diriku sendiri. Dan aku bersumpah demi cintaku padamu! Aku akan selalu ada di sampingmu. Dan aku tidak akan pergi kemana-mana. Kau berhak untuk bahagia. Dan kebahagiaanmu adalah bersamaku. Kita akan melewatinya bersama-sama."
Orang itu adalah Brenda. Brenda sedari tadi mendengar semua keluh kesah Darren. Hari ini Brenda benar-benar hancur kala melihat betapa rapuhnya kekasihnya itu.
Selama ini Brenda hanya tahu bahwa Darren laki-laki yang kuat. Namun ternyata semua itu hanyalah topeng belaka. Darren dengan sangat baiknya menyembunyikan semua rasa sakitnya di depan orang-orang yang peduli dan sayang padanya. Tidak ada yang tahu betapa hancurnya Darren selama ini.
__ADS_1
Walau sebagian kesedihan dan permasalahan Darren telah diketahui oleh ketujuh sahabat-sahabatnya, keluarganya dan kelima kakak-kakak mafianya. Namun masih ada beberapa yang tidak diketahui oleh ketujuh sahabat-sahabatnya, keluarganya dan kelima kakak-kakak mafianya itu. Inilah salah satunya.