KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Kata-Kata Penghibur Dari Para Sahabat


__ADS_3

Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan berada di Lobi depan Kampus bersama kekasihnya, kecuali Brenda. Brenda masih di rumah.


"Bagaimana keadaan lo, Wil?" tanya Dylan.


"Udah baikan. Luka di bahu gue udah kering," jawab Willy.


"Lo, Nan? Bagaimana dengan lo?" tanya Darel.


"Seperti yang lo dan kalian lihat. Gue udah baik-baik aja. Gue saat ini kepikiran Darren," jawab Qenan sembari menyebut nama Darren.


Mendengar jawaban dari Qenan sembari menyebut nama Darren membuat Willy, Axel, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan seketika terdiam dengan perasaan dan pikiran masing-masing. Begitu juga dengan Tania, Elsa, Alice, Vania, Felisa, Milly dan Lenny. Mereka memiliki kondisi dan juga perasaan Darren.


"Sosok Rendra sudah tidak ada lagi dalam diri Darren," ucap Qenan.


"Kenapa lo bisa menyimpulkan hal itu, Nan?" tanya Jerry.


"Apa kalian masih tidak paham ketika mendengar igauan Darren yang mengatakan jangan pergi. Tetaplah bersamaku?" tanya Qenan dengan menatap wajah Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan bergantian.


"Aku langsung bisa menebak ketika mendengar igauan Darren. Aku langsung mengerti arah dari igauan Darren. Sosok Rendra telah pergi. Sosok Rendra sudah tidak ada lagi di dalam diri Darren. Darren tidak memiliki Altar Ego lagi," tutur Qenan.


Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Qenan membuat Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dijelaskan oleh Qenan tentang igauan Darren kemarin di rumahnya. Dan saat ini mereka tengah memikirkan Darren dan mereka juga ingin melihat reaksi Darren selanjutnya.


"Oh iya! Apa Darren kuliah hari ini?" tanya Rehan.


"Aku rasa iya. Darren kalau sudah sembuh sehari saja dia pasti memutuskan untuk kuliah," sahut Dylan.


"Kalau begitu kita tunggu saja. Apa Darren kuliah apa nggak hari ini," ujar Darel.


"Hm!"


"Oh iya! Brenda juga belum kelihatan. Tumben tuh anak belum datang?" ucap dan tanya Jerry.


"Mungkin Brenda mau mampir dulu ke rumah Darren. Nah, mungkin dari sana Brenda dan Darren pergi bareng," sahut Felisa.


"Mungkin juga!" seru mereka bersamaan.


Ketika mereka sedang membahas Darren, tiba-tiba tatapan mata Milly tak sengaja melihat keberadaan Darren.


"Hei, itu Darren!" seru Milly yang langsung menunjuk kearah Darren.


Mendengar seruan dari Milly membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Tania, Elsa, Alice, Vania, Felisa dan Lenny langsung melihat kearah tunjuk Milly. Dapat mereka lihat saat ini Darren sedang berbicara dengan dua Dosen.


"Ada urusan apa Darren dengan dua Dosen itu?" tanya Dylan.


"Kayaknya serius tuh. Coba lihat bagaimana dua Dosen itu berbicara dengan Darren," ucap Axel.

__ADS_1


"Kita samperin Darren sekarang!" seru Qenan.


Setelah mengatakan itu, Qenan langsung beranjak dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan lobi untuk menghampiri sahabat kelincinya itu. Dan diikuti oleh yang lainnya di belakang.


^^^


"Baiklah. Masalah itu biarkan aku yang mengurusnya. Anda berdua fokus saja pada tugas yang lainnya," ucap Darren.


"Baiklah. Terima kasih Darren!" ucap dua Dosen itu secara bersamaan.


"Hm!"


Setelah mengatakan apa yang terjadi di Kampus selama lima hari kepada Darren. Dua Dosen itu pun pergi meninggalkan Darren untuk menuju kantor.


"Aku harus melakukan sesuatu terhadap mereka," ucap Darren dengan tatapan matanya menatap nama-nama beberapa mahasiswa yang bermasalah.


Ketika Darren tengah fokus menatap kertas di hadapannya, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan suara panggilan dari sahabat-sahabatnya.


"Darren!"


Darren langsung melihat kearah sahabat-sahabatnya yang mengarah kearah dirinya.


"Sudah datang dari tadi?" tanya Darren.


"sepuluh menit yang lalu," jawab kompak ketujuh sahabat-sahabatnya itu.


"Kertas apa itu, Ren?" tanya Jerry yang tatapan matanya menatap kearah kertas yang dipegang oleh Darren.


Qenan, Willy, Axel, Dylan, Darel dan Rehan juga ikut melihat kearah kertas yang dipegang oleh Darren. Begitu juga dengan Tania, Elsa, Alice, Vania, Felisa, Milly dan Lenny.


"Ini catatan nama-nama mahasiswa yang bermasalah," jawab Darren.


"Apa ada hubungannya dengan dua Dosen yang barusan bicara sama lo?" tanya Qenan.


"Iya. Mahasiswa-mahasiswa yang bermasalah itu punya masalah dengan dua Dosen tadi. Bukan itu saja, nama-nama mahasiswa yang tercantum di kertas ini banyak melakukan pelanggaran di kampus ini."


Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan terkejut. Begitu juga dengan Tania, Elsa, Alice, Vania, Felisa, Milly dan Lenny.


Darren seketika menatap kearah Qenan dan Willy. Darren menatap kedua dengan seksama.


"Kalian berdua udah baikan?" tanya Darren.


Mendengar pertanyaan dari Darren seketika membuat Qenan dan Willy tersenyum.


"Seperti yang lo lihat!" sahut Qenan.

__ADS_1


"Kita udah baikan," jawab Willy menambahkan.


"Kalau lo bagaimana?" tanya Willy.


"Seperti yang kalian lihat sendiri. Gue baik-baik saja, tapi hati gue nggak."


Mendengar jawaban dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan langsung paham. Ditambah lagi saat melihat perubahan mimik wajah Darren.


"Jadi... Jadi benar kalau Rendra......" Axel sengaja menghentikan ucapannya karena dia tidak ingin membuat hati sahabatnya itu makin terluka.


Darren menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat-sahabatnya itu yang juga mendapatkan tatapan dari ketujuh sahabatnya itu.


"Ren," lirih ketujuh sahabat-sahabatnya itu.


"Iya. Sosok Rendra sudah tidak ada lagi dari tubuh gue. Gue udah nggak punya Altar Ego lagi." Darren berucap dengan nada lirih.


Grep..


Willy seketika langsung memeluk tubuh Darren. Dia tahu pasti saat ini Darren tengah berusaha untuk kuat akan perginya sosok Rendra dari tubuhnya.


"Gue tahu perasaan lo saat ini. Dan gue juga tahu ini sangat berat buat lo. Lo memiliki Akta Ego sejak usia 5 tahun. Gue dan yang lainnya mengetahui lo memiliki Altar Ego ketika usia persahabatan kita memasuki dua tahun. Berarti ketika kita duduk di kelas 4 Sekolah Dasar," ucap Willy.


Setelah puas memeluk dan memberikan ketenangan kepada Darren. Willy pun kemudian melepaskan pelukannya. Tatapan matanya menatap sedih wajah Darren yang terlihat sedih.


"Lo jangan sedih lagi. Gue yakin jika Rendra akan kembali lagi dan menyatu kembali dengan tubuh lo," ucap Qenan yang ikut menghibur Darren.


"Seperti itulah yang dikatakan Rendra sama gue. Dia bilang kalau dia akan kembali lagi. Dia hanya pergi sebentar untuk menyembuhkan luka-lukanya," sahut Darren.


"Nah, berarti lo harus mempercayai ucapan Rendra. Nggak ada alasan buat lo sedih lagi karena Rendra hanya pergi sementara dari tubuh lo," ucap Axel.


"Apapun yang terjadi dan apapun yang lo hadapi sekarang ini. Lo harus tetap semangat dan kuat. Jangan sampai orang-orang melihat sisi lemah lo sehingga orang-orang itu memanfaatkan sisi lemah lo itu untuk berbuat jahat," ucap Rehan.


"Apa yang dikatakan oleh Rehan benar. Lo harus tetap kuat dan semangat. Jangan sampai ada oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan sisi lemah lo itu sehingga membuat oknum-oknum tersebut tidak memiliki rasa takut sama lo," pungkas Darel.


"Hm!" Alice, Elsa, Tania, Felisa, Lenny, Vania dan Milly bergumam sembari menganggukkan kepalanya.


Darren menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya dan wajah ketujuh sahabat-sahabatnya dari kekasihnya. Seketika Darren tersenyum.


"Kalian benar. Baiklah," jawab Darren.


"Oh iya! Gue hampir lupa. Ini pesan dari Brenda untuk kalian!" seru Darren dengan menatap kearah ketujuh sahabatnya Brenda.


"Apa?!" tanya Alice, Elsa, Tania, Felisa, Lenny, Vania dan Milly bersamaan.


"Brenda tidak kuliah hari ini. Dia ke perusahaan bersama bibi Liana. Ada banyak pekerjaan menumpuk disana. Brenda tidak ingin Bibi Liana kelelahan. Sementara untuk keempat kakaknya tidak bisa membantu. Izinkan Brenda!"

__ADS_1


"Siap!" jawab Alice, Elsa, Tania, Felisa, Lenny, Vania dan Milly bersamaan.


Setelah itu, Darren serta yang lainnya pergi meninggalkan tempat tersebut untuk menuju kelas masing-masing.


__ADS_2