
Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel sudah berada di kampus. Mereka saat ini berada di kantin sambil menunggu sahabat kelincinya datang. Begitu juga dengan para cewek-cewek.
Sembari menunggu kedatangan Darren dan para cewek-cewek. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel kini membahas masalah ketiga rekan kerja perusahaan Accenture dari tiga negara yang kini masih disekap.
"Jadi ke rumahnya kak Ziggy?" tanya Qenan.
"Jadi," jawab Willy.
"Darren udah diberitahu?" tanya Axel.
"Sudah. Bahkan Darren sudah mengatur semuanya." jawab Willy.
"Baguslah kalau begitu," ucap Jerry.
"Oh iya! Aku dengar kalian sudah menyelesaikan mobil-mobil baru?" tanya Rehan.
"Iya. Seminggu lagi akan diadakan uji coba," jawab Dylan.
"Apa tetap di serkuit juga? Secara mobil-mobil yang baru kalian rakit itu bukan mobil yang biasa kalian rakit. Melainkan mobil BMW seri terbaru." Darel berbicara sambil menatap wajah Dylan, Jerry dan Axel.
"Aku, Jerry dan Dylan belum dapat informasi terbaru dari Darren. Kita tunggu saja Darren. Setelah Darren datang. Kita tanyakan langsung kepadanya," tutur Dylan.
"Hm." Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry dan Axel berdehem.
"Aku benar-benar bersyukur banget untuk bulan ini. Semua usaha kita semuanya berjalan lancar. Tiga hari yang lalu aku dan Darel baru menerima pembayaran sepuluh lukisan dari lima pengusaha," ucap Rehan.
"Uang itu sudah kami serahkan kepada Darren. Dan Darren langsung memberikan kami bonus," ucap Darel.
"Awalnya kami berpikir uang itu adalah gaji kami. Tapi ternyata bukan," sela Rehan.
"Kita juga berhasil menyelesaikan 20 mobil merek BMW seri terbaru dalam waktu tiga bulan. Dan mobil-mobil itu siap untuk diuji coba," ucap Axel.
"Hanya perusahaan Accenture yang mengalami kegagalan," sela Qenan.
Seketika raut wajah Qenan berubah tak mengenakkan. Dirinya benar-benar marah akan kelakuan menjijikkan orang-orang yang sudah menipunya dan kedua sahabatnya.
^^^
Darren saat ini berada di parkiran. Dirinya baru beberapa menit sampai di kampus.
Darren masih di dalam mobilnya karena Darren saat ini tengah berbicara dengan seseorang di telepon.
Setelah selesai berbicara dengan seseorang di telepon, Darren pun memutuskan untuk keluar dari dalam mobilnya.
Ketika Darren ingin melangkah meninggalkan mobilnya. Matanya tak sengaja melihat gadis yang dikenalnya tengah mengendap-ngendap kearah sebuah mobil.
Darren melihat gadis itu berjalan ke sebuah mobil yang sangat dikenal oleh Darren.
"Itukan mobilnya Brenda. Mau ngapain dia ke mobilnya Brenda?"
Darren terus memperhatikan gerak-gerik dari gadis itu sehingga berakhir gadis itu berjongkok di bawah mobil milik Brenda dan meletakkan sesuatu dibawah sana.
Setelah selesai dengan pekerjaannya. Gadis itu pun berdiri. Dan sebelumnya gadis itu melihat ke sekelilingnya.
Merasa dirinya aman. Gadis itu pun pergi meninggalkan mobil Brenda untuk menuju kelasnya.
Lima menit kepergian gadis itu. Darren kemudian menghampiri mobil milik Brenda.
Setiba didekat mobilnya Brenda. Darren berjongkok, lalu memiringkan kepalanya untuk melihat kearah bawah mobil milik Brenda.
Seketika Darren membulatkan matanya ketika melihat apa yang dilihat olehnya. Darren melihat boom rakitan yang terpasang apik di bawah mobil milik Brenda. Darren mencabut dengan paksa boom yang terpasang di bawah mobil milik Brenda.
Boom yang terpasang di bawah mobil milik Brenda belum aktif. Boom itu akan diaktifkan ketika sipemilik mobil sudah berada di dalam mobil.
"Brengsek! Beraninya dia melakukan hal ini kepada Brenda. Aku tidak akan memaafkannya," ucap Darren penuh amarah.
Darren pergi meninggalkan parkiran tersebut untuk menuju kelas dimana gadis itu berada. Darren benar-benar marah saat ini.
^^^
Ketujuh sahabat-sahabatnya Darren masih berada di kantin. Dan kini mereka telah bersama dengan Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Kenapa Darren lama sekali? Ini udah jam berapa loh," ucap dan tanya Felisa.
"Aku berulang kali menghubungi Darren. Tapi nggak diangkat," ucap Willy.
"Kok perasaanku nggak enak ya," ucap Brenda.
Mendengar ucapan dari Brenda. Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel langsung melihat kearah Brenda. Begitu juga dengan Alice, Elsa, Felisa, Vania, Milly, Lenny dan Tania.
"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Darren," sahut Rehan.
"Lebih baik kita ke kelas. Siapa tahu Darren sudah berada di kelas," ucap Axel.
__ADS_1
"Dan mungkin juga Darren lupa kalau kita ada disini," ucap Jerry.
"Iya, benar juga tuh. Bagaimana pun Darren itu hanya manusia biasa," ujar Vania.
"Ya, sudah! Yuk."
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kantin untuk menuju kelas.
^^^
Jessica dan ketujuh teman-temannya kini tengah membahas masalah ulang tahun Jessica tadi malam.
Baik Jessica maupun ketujuh teman-temannya benar-benar kesal akan kelakuan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Gue benar-benar nggak nyangka jika Rehan tega ngelakuin itu ke gue. Gue udah dandan cantik-cantik. Ternyata dia cuma ngibulin gue," ucap Pamela.
"Apalagi gue. Gue rela nungguin Dylan dan berharap Dylan datang. Tapi Dylan sama sekali nggak datang," ucap Lori.
"Gue udah ngatur rencana buat naklukin Jerry saat di acara ulang tahunnya Jessica. Tapi semuanya gagal," ucap Arianna kesal.
"Ini pasti kerjaannya Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya itu. Pasti mereka yang nahan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya datang ke acara ulang tahunnya Jessica dan mereka juga yang nahan Willy, Rehan, Darel, Dylan dan Axel untuk jemput kita." Wanda berbicara dengan raut wajah yang marah.
"Sudah pastilah. Kalau bukan mereka. Siapa lagi," sahut Janet.
Ketika Jessica dan ketujuh teman-temannya sedang mengeluarkan kekesalan dan kemarahannya terhadap Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya, tiba-tiba Darren masuk ke dalam kelas dan langsung menyerang Jessica.
PLAK!
"Aakkhh!" Jessica merasakan perih dan panas di wajahnya akibat tamparan dari Darren.
"Darren, apa-apaan lo! Datang-datang lo main tampar Jessica," sahut Arianna yang tak terima temannya ditampar.
Mendengar ucapan dari Arianna membuat Darren langsung menatap nyalang kearah Arianna.
"Jangan ikut campur urusan gue. Mending lo dan yang lainnya menjauh. Atau kalau tidak kalian semua habis ditangan gue."
Mendengar ucapan dari Darren membuat Arianna seketika tubuhnya merinding. Ditambah lagi dengan tatapan mata Darren yang menatapnya begitu mengerikan.
Bukan hanya Arianna yang ketakutan. Melainkan Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda juga sudah ketakutan ketika mendengar perkataan dan tatapan mata Darren. Bahkan teman-teman sekelas mereka juga merasakan hal yang sama.
Darren menatap penuh amarah kearah Jessica, lalu tangannya menarik dengan kuat rambut panjang Jessica sehingga membuat Jessica berteriak kesakitan.
Setelah itu, Darren membawa tubuh Jessica keluar dari kelas dengan cara menarik rambut Jessica.
"Dareen, lepaskan Jessica!" teriak Arianna, Kelly, Kathy, Pamela, Janet, Lori dan Wanda.
Darren tidak peduli panggilan dari teman-temannya Jessica. Darren tidak peduli jika dirinya menjadi tontonan oleh semua mahasiswa dan mahasiswi. Dan Darren juga tidak peduli jika dirinya dicap sebagai laki-laki bejat yang berani menyakiti wanita.
Beberapa mahasiswi berlari untuk memberitahu kejadian yang mereka lihat kepada rektor dan dekan. Dan ada juga yang berlari menuju kelas dimana kedua kakak Darren berada.
Semua mahasiswa dan mahasiswi telah berkumpul di halaman dimana Darren membawa tubuh Jessica kesana.
BRUK!
Tubuh Jessica tersungkur di tanah akibat didorong kuat oleh Darren sehingga mengakibatkan lutut dan pergelangan tangannya terluka.
"Lo benar-benar perempuan gila, perempuan gak waras. Dimana otak lo, hah?! Lo sakit ya? Kalau lo sakit, mending lo periksa otak lo ke rumah sakit jiwa!" teriak Darren dengan menatap marah kearah Jessica.
"Darren," panggil Gilang dan Darka.
"Ren," Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel.
Gilang dan Darka datang bersama Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel. Serta Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Sementara Darren tidak mempedulikan kedatangan kedua kakaknya, ketujuh sahabat-sahabatnya, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Jessica berdiri dari terjatuhnya. Setelah dirinya sudah dalam keadaan berdiri, Jessica melangkah mendekati Darren.
"Apa salah gue sama lo, Ren? Gue nggak pernah cari masalah sama lo dan ketujuh sahabat-sahabat lo. Gue dekatin lo karena gue suka sama lo. Gue cinta sama lo. Apa gue salah kalau gue cinta sama lo?"
"Gue nggak suka sama lo. Gue nggak cinta sama lo. Gue baik karena gue adalah ketua organisasi kampus ini. Dan sudah kewajiban gue berbuat baik kepada semua mahasiswa dan mahasiswi disini, termasuk lo dan antek-antek busuk lo itu!" bentak Darren.
"Kenapa, Ren? Kenapa lo nggak cinta sama gue? Apa kurang dari gue sehingga lo nggak tertarik sama sekali sama gue? Apa karena wanita murahan itu, hah?! Dia kan yang udah ngeracuni otak lo!" teriak Jessica.
"Jessica! Jaga ucapan lo. Nggak sepantasnya lo ngomong kayak gitu. Ini kampus!" bentak Qenan.
"Diem lo! Lo nggak usah ikut campur dan lo nggak usah ngebelain wanita murahan itu!" teriak Jessica.
PLAK! PLAK!
Darren memberikan dua tamparan keras di kedua pipi Jessica sehingga membuat sudut bibir Jessica berdarah.
"Lo ngatain Brenda sebagai wanita murahan. Terus lo pantasnya disebut apa, hah! Lo dekatin cowok yang sama sekali tidak tertarik sama lo. Lo terus ngejar-ngejar cowok itu. Bahkan lo rela ngelakuin apapun untuk mendapatkan apa yang lo incar selama ini!" bentak Darren.
__ADS_1
"Dengarkan gue Jessica. Gue tahu apa yang sudah lo lakuin beberapa menit yang lalu. Dan gue bakal buat lo menderita seumur hidup lo," ucap Darren.
Darren melihat kearah salah satu sahabatnya yaitu Jerry, lalu Darren meminta Jerry untuk menghubungi Farraz.
"Jerry."
"Iya, Ren."
"Hubungi kakak Farraz. Suruh kakak Farraz datang ke kampus. Dan jangan lupa suruh kakak Farraz membawa dua atau empat anggotanya."
"Baik, Ren."
Setelah itu, Jerry pun menghubungi Farraz.
"Hallo, Jerry. Ada apa?"
"Hallo, kakak Farraz. Apa kakak Farraz bisa datang ke kampusku?"
"Kapan?"
"Sekarang."
"Baiklah. Kakak Farraz akan kesana."
"Jangan lupa kakak Farraz membawa anggotanya."
"Baiklah."
"Terima kasih, kakak Farraz."
Setelah selesai berbicara dengan Farraz. Jerry pun langsung mematikan panggilannya.
"Aku sudah menghubungi kakak Farraz. Sebenarnya ada apa, Ren?" ucap dan tanya Jerry.
"Iya, Ren. Sebenarnya ada apa?" tanya Dylan.
"Nanti kalian semua juga akan tahu. Dan kalian semua akan terkejut dan juga marah terhadap perempuan sialan ini setelah kalian mengetahuinya," jawab Darren dengan menatap jijik Jessica.
Setelah menunggu selama dua puluh menit, akhirnya Farraz dan empat anggotanya pun datang.
Melihat kedatangan polisi membuat rektor, dekan dan dosen terkejut. Begitu juga dengan para mahasiswa dan mahasiswi.
"Ada apa, Darren?" tanya Farraz kepada Darren.
"Untuk mempersingkat waktu. Kakak Farraz lihat ini. Setelah itu, aku minta sama kakak Farraz untuk membawa wanita menjijikkan ini ke kantor polisi."
Farraz mengambil ponsel milik Darren, lalu melihat sebuah video. Setelah melihat video itu, Farraz menatap Jessica dengan tatapan sulit diartikan.
"Demi cinta. Anda rela melakukan hal rendah itu. Saya tidak habis pikir dengan pola pikir anda," ucap Farraz.
Qenan mengambil ponsel Darren dari tangan Farraz, lalu melihat apa yang barusan dilihat oleh Farraz. Begitu juga dengan Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel. Mereka melihat video yang ada di ponsel Darren.
Setelah melihat video itu, mereka menatap marah kearah Jessica. Sama halnya dengan Gilang dan Darka.
"Lo benar-benar menjijikkan Jessica. Apa yang ada diotak lo, hah?! Hanya karena Darren nggak bales cinta dari lo. Hanya karena Darren dekat sama Brenda. Lo tega ngelakuin hal rendah itu!" bentak Qenan.
"Lo dengan kejinya ingin membunuh Brenda dengan cara memasang boom di mobilnya Brenda!" bentak Willy.
Mendengar perkataan dari Willy membuat rektor, dekan dan dosen. Serta para mahasiswa dan mahasiswi terkejut. Begitu juga dengan ketujuh teman-temannya Jessica.
Sementara Brenda sudah menangis ketika mengetahui bahwa dirinya akan dibunuh oleh Jessica. Brenda tidak menyangka jika Jessica begitu dendam padanya.
"Kalian! Bawa nona Jessica ke kantor polisi," perintah Farraz kepada empat anggotanya.
"Siap, Kapten!"
"Tidak. Lepaskan aku. Darren... Darren!" teriak Jessica ketika tubuhnya ditarik dan dibawa pergi oleh anggota polisi.
Keempat anggota polisi membawa Jessica pergi meninggalkan kampus untuk dibawa ke kantor polisi.
"Ya, sudah kalau begitu. Kak Farraz kembali ke kantor. Kak Farraz akan proses kasus ini," ucap Farraz sembari matanya melihat kearah Brenda yang masih syok.
"Hiburlah Brenda. Sepertinya Brenda masih syok mendengar kenyataan bahwa Jessica ingin membunuhnya," ucap Farraz lagi.
Mendengar perkataan Farraz. Darren, Gilang, Darka dan ketujuh sahabat-sahabatnya langsung melihat kearah Brenda. Dan benar, Brenda masih dalam keadaan syok yang kini sedang ditenangkan oleh Elsa dan Alice.
Darren kembali melihat kearah Farraz. "Aku mau wanita sialan itu mendapatkan hukuman berat. Dan juga jangan ada orang yang bisa menjaminnya."
"Masalah itu, kau tenang saja. Melihat video barusan. Jessica akan mendapatkan hukuman berat dari kepolisian."
"Terima kasih, kakak Farraz."
"Sama-sama. Kalau begitu kakak Farraz pamit dulu."
__ADS_1
Setelah itu, Farraz pun pergi meninggalkan kampus untuk kembali ke kantor.