
Kini Dario, Radeva, Anshel, Axel dan yang lainnya sudah berada di ruang rawat Salsa. Sampai detik ini, Salsa masih belum sadarkan diri.
Baik Dario, Radeva maupun Anshel dan Axel menatap sedih dan khawatir Salsa. Mereka menangis melihat bungsu kesayangannya terbaring di rumah sakit.
"Sayangnya Papa," ucap Dario sembari memberikan kecupan di kening putrinya.
Radeva, Anshel dan Axel secara bergantian juga memberikan kecupan sayang di kening adik perempuannya.
Cklek!
Terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang.
Mendengar suara pintu dibuka. Dario, Radeva, Anshel, Axel, Brenda, Raya, Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Darel dan Rehan melihat ke asal suara.
Mereka melihat kedatangan Darren dan kedua adik laki-lakinya.
"Ren," panggil Brenda, Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Axel dan Jerry.
Darren melangkah mendekati ranjang Salsa. "Bagaimana?"
"Dokter bilang Salsa baik-baik saja untuk saat ini. Tapi Dokter belum yakin sebelum hasil Ct-scan nya keluar," jawab Axel.
"Kapan hasilnya keluar?" tanya Darren.
"Pukul 2 siang nanti," jawab Axel
Darren menatap lekat wajah Salsa yang terlihat sedikit pucat. Dan detik kemudian, rekaman kejadian dimana Salsa dibully berputar-putar di pikirannya. Dan tanpa sadar kedua tangannya mengepal kuat.
Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan dan Jerry yang melihat kedua tangan Darren yang mengepal kuat seketika mengerti.
"Maaf," ucap Darren pelan dengan tatapan matanya menatap wajah Salsa.
Mendengar ucapan dari Darren. Mereka semua menatap wajah Darren. Terlihat gurat kesedihan, amarah dan rasa bersalah di tatapan mata Darren.
Axel yang berdiri di samping Darren langsung menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
"Kamu nggak salah, Ren! Yang salah itu orang yang udah berbuat buruk terhadap Salsa," ucap Axel.
"Kamu sudah melakukan apa yang seharusnya kamu lakukan," ucap Anshel.
Cklek!
Pintu kembali dibuka. Mereka semua yang ada di dalam langsung melihat kearah pintu. Dan dapat dilihat seorang Dokter yang masuk.
"Mama."
"Sayang."
"Bibi."
Dokter yang masuk ke dalam ruang rawat Salsa adalah Dokter Celsea. Istri dari Dario dan ibu dari Radeva, Anshel, Axel dan Salsa.
Celsea mendekati ranjang putrinya, lalu memberikan kecupan sayang di kening putrinya itu.
"Mama," panggil Radeva.
"Iya. Ada apa, hum?" tanya Celsea.
"Apa Mama sudah mendapatkan hasil dari pemeriksaan Salsa dari Dokter yang menangani Salsa beberapa menit yang lalu?" tanya Radeva.
"Belum, sayang. Kita tunggu saja," jawab Celsea.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Salsa sampai masuk ke rumah sakit? Bukannya Salsa di sekolah karena ada acara disana?" tanya Celsea.
Mendengar pertanyaan dari Celsea. Mereka semua melihat kearah Darren untuk minta penjelasan.
__ADS_1
"Ren," ucap Axel.
Darren melirik sekilas kearah Axel. Setelah itu, Darren kembali menatap wajah Salsa.
"Salsa dibully oleh teman sekelasnya, karena cemburu." Darren berbicara dengan wajah dinginnya.
Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua terkejut. Mereka semua tidak menyangka jika teman sekelasnya Salsa membully Salsa sampai seperti ini. Mereka semua marah, terutama Dario, Radeva, Anshel dan Axel.
Dario, Radeva, Anshel dan Axel tak teriman jika bungsu kesayangannya dibully seperti ini.
Axel menatap wajah Darren. Dirinya saat benar-benar marah terhadap pelaku yang sudah membully adik perempuannya.
Axel ingin mengetahui dari sahabatnya itu, siapa nama dari pelaku pembullyan adik perempuannya.
"Ren....." perkataan Axel langsung dipotong oleh Darren.
Darren menatap lekat wajah Axel. "Jangan lakukan apapun untuk saat ini."
Mendengar ucapan dari Darren membuat Axel menatap sahabatnya itu dengan tatapan bingungnya.
"Tapi, Ren....."
Lagi-lagi perkataan Axel dipotong oleh Darren. Darren mengerti arah pembicaraan Axel kepadanya.
"Dengarkan aku. Aku sudah memberikan balasan dua kali lipat kepada mereka yang sudah membully Salsa. Nasib mereka sama seperti Salsa. Mereka saat ini juga berada di rumah sakit. Kondisi mereka lebih parah dari Salsa. Jadi kau tidak perlu membalas mereka."
"Aku tidak melarangmu atau keluargamu untuk membalas mereka yang telah membully Salsa. Tapi untuk saat ini kita biarkan saja mereka. Kita tunggu apa yang akan mereka lakukan. Jika mereka tak terima atas apa yang terjadi kepada anak-anaknya. Dan mereka akan menuntut balas. Barulah kita nyerang balik."
Mendengar perkataan dari Darren membuat mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren itu.
"Mama setuju apa yang dikatakan Darren. Kita tidak usah membalas mereka. Seperti yang dikatakan oleh Darren barusan bahwa Darren sudah memberikan balasan yang setimpal terhadap orang yang sudah membully Salsa. Itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini. Kita akan bertindak jika keluarga dari si pembully itu menuntut balas."
"Papa juga setuju apa yang dikatakan oleh Darren. Kita ikuti saja permainan dari keluarga pembully itu. Mereka menyerang kita. Kita balas dengan menyerang balik mereka."
Mendengar perkataan dari kedua orang tuanya membuat Radeva, Anshel dan Axel juga ikut menyetujui perkataan Darren. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Darel, Rehan, Dylan, Jerry dan Brenda.
"Iya, Paman."
"Kalau Paman boleh tahu. Siapa nama teman sekelasnya Salsa yang telah membully Salsa?"
"Nama mereka adalah Rebeca, Viola, Laura dan Rachel."
Deg!
Raya terkejut ketika mendengar keempat nama teman sekelas yang telah membully Salsa. Selama ini Raya tahunya bahwa keempat temannya itu hanya membully murid-murid yang mencari masalah atau yang tak sengaja mencari masalah dengan mereka. Tapi ternyata keempat temannya itu juga membully Salsa.
"Apa hampir setiap hari Salsa dibully oleh mereka?" batin Raya.
Brenda melihat kearah adik perempuannya yang saat ini tengah melamun.
"Raya," panggil Brenda.
Mereka semua melihat kearah Raya, termasuk Darren.
"Ada apa, kak Brenda?" tanya Raya.
"Apa kamu juga pernah dibully sama Rebeca dan ketiga temannya?" tanya Brenda.
"Nggak, kak Brenda." Raya menjawab dengan jujur.
"Benar? Kamu nggak bohong sama kakak?" tanya Brenda lagi.
"Beneran, kak Brenda. Mereka sama sekali tidak pernah membullyku. Justru aku kaget ketika kakak Darren bilang bahwa Rebeca, Viola, Laura dan Rachel membully Salsa dengan sangat kejam. Selama ini aku nggak pernah dengar dan nggak pernah lihat jika mereka membully Salsa. Yang aku tahu Salsa baik-baik saja selama ini. Nggak ada masalah."
Mendengar perkataan dari Raya membuat mereka semua berpikir akan satu hal tentang Salsa.
__ADS_1
"Menurut pendapatku. Kemungkinan Salsa itu udah menjadi target bully dari Rebeca dan ketiga temannya. Kenapa Raya, Ivan dan Melvin tidak mengetahuinya? Bisa saja Salsa menyembunyikan apa yang dialaminya dari mereka bertiga. Salsa tidak ingin mereka bertiga tahu. Maka dari itu, Salsa tampak baik-baik saja ketika bersama mereka."
Jerry berbicara sembari menjelaskan maksud dari yang disampaikan oleh Raya.
"Apa ini ada hubungannya dengan Salsa yang selalu menghindar dari aku," tanya Melvin pada dirinya sendiri.
Mendengar ucapan pelan dari Melvin. Darren langsung melihat kearah adik laki-lakinya itu. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua menatap wajah Melvin.
"Apa maksud kamu, Melvin?" tanya Darren.
Melvin menatap wajah kakak laki-laki kesayangannya itu.
"Jelaskan semua yang kamu ketahui selama di sekolah," ucap Darren penuh penekanan.
"Satu bulan ini Salsa selalu menghindari aku selama di sekolah. Tapi bukan berarti aku bakal diam aja. Sekali pun Salsa menghindari aku. Aku malah justru makin terus mendekati Salsa. Aku nggak peduli akan sikap Salsa padaku. Bahkan Salsa juga jaga jarak denganku."
"Apa Salsa ada bilang sesuatu?" tanya Radeva.
"Nggak ada, kakak Radeva. Justru aku berusaha nanya sama Salsa apa alasan dia selalu menghindar setiap bertemu denganku. Tapi aku nggak dapat jawaban apa-apa dari Salsa."
"Bahkan sikap ceria Salsa berubah jadi dingin. Tutur katanya juga ketus dan kasar setiap berbicara denganku. Padahal selama ini Salsa tidak seperti itu. Dia selalu bicara lembut padaku."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Melvin membuat mereka semua menjadi paham. Pasti ada sesuatu diantara Melvin dan Salsa.
Darren menatap lekat wajah Melvin, lebih tepatnya di manik coklat adik laki-lakinya itu.
"Katakan pada kakak. Apa kamu dan Salsa memiliki hubungan?" tanya Darren.
Mendengar pertanyaan dari kakak laki-laki kesayangannya itu, Melvin seketika menundukkan kepalanya. Dirinya tidak berani menatap wajah kakaknya itu.
"Katakan saja, sayang. Paman selaku ayah dari Salsa tidak marah jika kamu memiliki hubungan special dengan Salsa. Justru Paman bahagia." Dario berucap sembari menghibur Melvin yang kini ketakutan akan kakak laki-lakinya.
"Kakak nggak marah sama kamu kalau kamu jujur. Sekarang lihat wajah kakak. Tatap mata kakak," ucap Darren lembut.
Seketika Melvin mengangkat kepalanya keatas dan melihat wajah kakak laki-lakinya itu yang kini juga tengah menatap dirinya.
"Katakan. Apa kamu suka sama Salsa?"
"Kakak Darren," lirih Melvin.
"Iya atau tidak?" tanya Darren lagi.
"I-iya, kakak Darren. Aku menyukai Salsa. Begitu juga dengan Salsa."
Mendengar jawaban dari Melvin membuat mereka semua tersenyum bahagia, terutama keluarga dari Salsa.
Grep!
Darren langsung memeluk tubuh adik laki-laki itu erat. Dirinya benar-benar tidak menyangka jika adik laki-lakinya ini telah punya kekasih.
"Kenapa kamu nggak bilang sama kakak, Mama, Papa dan yang lainnya? Kenapa disembunyikan?"
"Maafkan aku, kakak Darren. Bukan maksud aku menyembunyikan hal ini dari kakak Darren dan keluarga. Hanya saja aku....."
"Kamu takut kalau kakak dan yang lain melarang kamu pacaran karena kamu masih sekolah. Begitu?"
"I-iya, kakak Darren."
Mendengar jawaban dari Melvin membuat Darren tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Alasan kita melarang kamu pacaran disaat status kamu masih pelajar, apalagi pelajar SMP adalah karena kita nggak mau kamu maupun Salsa salah dalam pergaulan. Kita nggak mau kamu dan Salsa melakukan hal-hal buruk diluar rumah."
"Iya, kakak Darren. Aku mengerti. Aku tidak pernah melupakan semua nasehat kakak Darren dan juga nasehat anggota keluarga lainnya. Aku selalu ingat semua itu."
Setelah beberapa detik memeluk tubuh Melvin. Darren pun melepaskan pelukannya. Kini matanya menatap kearah adik laki-lakinya yang lain yaitu Ivan.
__ADS_1
"Kamu juga, Ivan. Apa yang kakak sampaikan ke Melvin. Itu juga berlaku untuk kamu."
"Iya, kakak Darren." Ivan menjawab perkataan kakak laki-lakinya itu.