
[APARTEMEN]
Sebuah Apartemen terlihat beberapa orang yang sedang berkumpul. Dua pria dan satu wanita. Mereka adalah Helena Orlando, Samuel Frederick dan tangan kanannya Samuel.
"Aku dengar kau menyuruh anggotamu untuk mensabotase mobil-mobil hasil rakitan Darren dengan cara membayar beberapa karyawannya?" tanya Helena.
"Iya. Kenapa? Kau tidak senang?" tanya Samuel.
"Justru aku senang. Setidaknya pria brengs*k itu merasakan apa yang kurasakan," jawab Helena.
"Aku pastikan saat ini pria brengs*k itu sedang menangisi kematian empat sahabatnya sekaligus," ucap Helena lagi.
"Sepertinya kau sangat bahagia melihat bajing*n itu menderita," ujar Samuel.
"Tentu. Aku sangat bahagia melihatnya menderita. Apalagi saat pria brengsek itu menangis melihat orang-orang terdekatnya pergi untuk selamanya. Ini adalah balasannya karena telah menyakiti Papaku sehingga membuat Papaku koma," jawab Helena.
"Lalu apa rencana kita selanjutnya?" tanya tangan kanannya Samuel.
"Tetap jalankan rencana awal dimana Helena masih tetap terus mendekati Darren sampai Darren luluh dan kembali menjalin hubungan dengan Helena," ucap Samuel.
"Tidak masalah. Serahkan tugas itu padaku. Kali ini akan aku pastikan bajingan itu akan kehilangan segalanya." Helena berucap dengan rasa bangga.
"Baiklah. Kau urus bajingan itu. Dan aku akan mengurus Perusahaan keluarganya dan Perusahaan dari keluarga sahabat-sahabatnya itu," pungkas Samuel.
Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka telah disadap dan didengar oleh beberapa orang yang saat ini bertugas untuk memata-matai Apartemen tersebut.
***
[SHOOWROOM BMWX]
Darren, ketujuh sahabatnya dan anggota keluarganya masih berada di SHOOWROOM. Darren saat ini masih dalam keadaan marah dan juga emosi saat melihat empat karyawannya yang telah berkhianat. Selama ini dirinya selalu bersikap baik, ramah, sopan, lembut dan selalu membantu karyawan-karyawannya. Tapi apa yang didapat olehnya atas kebaikannya selama ini? Yang didapat olehnya adalah sebuah pengkhianatan.
Pengkhianatan yang diterima oleh Darren adalah sangatlah fatal. Pengkhianatan yang dilakukan oleh keempat karyawannya mengakibatkan 3 mobil mengalami kecacatan dan satu mobil hancur karena ledakan. Bahkan dirinya dan sahabat-sahabatnya hampir saja kehilangan nyawa atas pengkhianatan tersebut.
"Danar, Hansel, Deryl dan kau Gio. Bawa keempat pengkhianat itu ke aula."
"Baik, Bos." mereka menjawab dengan kompak.
Lalu mereka pun pergi meninggalkan ruang kerja Darren.
"Dan untuk kalian berdua." Darren melihat ke arah Juno dan Arley. "Kalian bawa ketiga mobil yang sudah disabotase oleh pengkhianat itu ke aula. Sedangkan mobil-mobil yang ada di aula, kalian pindahkan ke gudang penyimpanan mobil!" perintah Darren.
"Baik, Bos." Juno dan Arley menjawab apa yang diperintahkan oleh Darren.
"Minta bantuan dengan anggota tim kalian," ucap Darren.
"Baik, Bos."
Setelah Juno dan Arley pergi meninggalkan ruang kerja Darren untuk melaksanakan perintah yang diberikan.
^^^
Kini semuanya sudah berkumpul di aula. Baik Darren, ketujuh sahabatnya, anggota keluarganya dan semua karyawan-karyawannya, termasuk keempat pengkhianat.
Keempat pengkhianat tersebut dalam keadaan terikat dan bersimpuh di hadapan semua orang. Keempat pengkhianat itu belum menyadari apa yang sudah terjadi sehingga membuat mereka diperlakukan buruk didepan banyak orang.
Darren dan ketujuh sahabatnya menatap tajam dan nyalang keempat karyawan tersebut.
"Apa kalian sudah ingat kesalahan apa yang telah kalian lakukan?" tanya Jerry.
Keempat karyawan itu saling pandang, lalu kemudian menatap kearah Jerry.
"Maaf, Bos. Kami benar-benar tidak mengerti dari pertanyaan Bos tadi," ucap pria pertama yang bernama Dicky.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Dylan.
"Benar, Bos. Kami benar-benar tidak mengerti," ucap pria kedua yaitu Jody.
"Coba ingat-ingat lagi. Siapa tahu saja salah satu dari kalian ingat apa kesalahan kalian," ujar Axel.
"Kami benar-benar yakin, Bos. Kami tidak melakukan kesalahan apapun selama bekerja disini," jawab pria yang ketiga yaitu Bobby.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Darren dengan menatap tajam kepada pria yang keempat yaitu Galang.
Galang sempat ragu. Di dalam hatinya ingin sekali mengaku akan kesalahannya, namun melihat ketiga rekannya yang berusaha menutupi semuanya. Mau tidak mau Galang pun ikut menutupi kesalahannya.
"Maaf, Bos. Saya benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Kami sama sekali tidak melakukan apapun," jawab Galang.
"Eeemmm... Baiklah. Jika itu mau kalian. Hanya ada satu cara membuat kalian mengaku," ucap Darren.
Setelah mengatakan hal itu, Darren pergi meninggalkan aula untuk menuju sebuah ruangan.
Sepuluh menit kemudian, Darren kembali dengan membawa Tongkat Baseball Besi di tangannya.
Mereka yang melihat Darren yang membawa tongkat di tangannya membuat mereka semua bergidik ngeri dan juga takut. Tapi tidak dengan ketujuh sahabatnya. Ketujuh sahabatnya tampak biasa-biasa saja.
Darren kini telah berdiri di hadapan keempat karyawannya yang telah mengkhianatinya dengan tongkat di tangannya dengan posisi tongkat tersebut berdiri tegap di lantai.
"Aku paling tidak suka ada yang mengkhianatiku. Selama ini aku sudah bersikap baik pada setiap karyawanku. Dan aku juga sudah mengatakan dari awal aku membuka SHOOWROOM ini. Kita adalah keluarga. Kita adalah saudara. Jika ada masalah, jangan ada yang ditutup-tutupi. Saling terbuka satu sama lain. Jika butuh bantuanku atau ketiga sahabatku, silahkan datangi salah satu dari kami dan berbagilah. Bukankah seperti itu yang aku sampaikan pada kalian." Darren berbicara dengan suara yang sedikit dikeraskan.
"Iya, Bos." semua karyawannya menjawab perkataan darinya.
Lalu Darren kembali menatap keempat karyawannya. "Katakan padaku. Kenapa kalian melakukan hal itu padaku? Apa kesalahanku pada kalian? Apa gaji yang aku berikan kurang sehingga kalian harus menerima upah dari orang lain?"
Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Darren. Keempatnya hanya menunduk dan tidak berani menatap wajah Darren.
DUAGH!
"Aakkkhhhh." teriak Bobby.
"Apa kalian tidak punya telinga, hah?!" bentak Axel.
"Jawab!" teriak Dylan.
Jody memberanikan diri untuk menatap Darren. Saat Jody ingin membuka mulutnya untuk berbicara, namun tiba-tiba.........
BUGH!
BRUUKK!
Darren langsung memukulkan tongkat tersebut dengan brutalnya tepat di kepala Jody sehingga membuat kepala Jody hancur dan menyemburkan darah segar. Seketika Jody mati di tempat.
Karyawan-karyawannya yang melihat apa yang dilakukan oleh Darren terkejut dan juga ketakutan. Begitu juga dengan anggota keluarganya. Mereka tidak menyangka jika Darren bisa menjadi kejam terhadap orang lain.
Mereka menutup mulut mereka saat melihat Darren yang tanpa rasa iba memukuli kepala karyawannya. Bahkan mereka memalingkan wajah kearah lain karena ketakutan dan juga ngeri.
Adrian dan keempat adiknya sudah menangis ketakutan saat melihat sisi lain dari Darren, kakak kesayangan mereka itu.
"Itu adalah hukuman untuk orang-orang yang berani mengkhianatiku," sahut Darren dengan wajah datar dan dingin.
Galang dan Dicky ketakutan. Mereka menatap Darren memohon.
"Maafkan kami, Bos. Maafkan kami yang telah mengkhianati, Bos." Dicky berucap memohon kepada Darren.
"Kami.. kami terpaksa melakukannya, Bos. Kami......." ucapan Dicky terpotong karena Darren kembali mengangkat tongkatnya ke atas.
Saat Darren ingin melayangkan tongkat itu ke kepala Dicky. Jerry bersuara.
__ADS_1
"Ren. Biarkan aku yang melakukannya. Bagaimana pun aku juga hampir kehilangan nyawaku gara-gara mereka," ucap Jerry dingin dan tatapan tajamnya menatap ketiga karyawan tersebut.
"Dengan senang hati, sahabatku." Darren berucap dengan tersenyum di sudut bibirnya.
Darren memberikan tongkat tersebut kepada Jerry. "Lakukanlah tugasmu. Habisi orang yang sudah hampir merenggut nyawamu. Setelah itu, sisakan dua. Kita masih butuh mereka untuk bermain-main."
"Hm." Jerry mengangguk.
Setelah itu, Jerry menatap nyalang kearah Galang dan Dicky.
"Maafkan kami, Bos!" seru keduanya ketakutan.
"Ucapkan selamat tinggal dengan rekanmu," sahut Jerry dengan menatap tajam Galang.
"Maaf........"
BUGH!
BRUUKK!
Tubuh Galang terkapar di lantai dengan kondisi kepala hancur dan menyemburkan darah segar.
Jerry memukul kepala Galang dengan kuat dan tanpa ampun.
"Ini peringatan untuk kalian semua!" seru Axel dengan nada dingin dan tatapan tajamnya.
"Jika kalian sudah tidak ingin bekerja disini lagi, silahkan datangi kami dan kalian bisa mengurus surat pengunduran diri kalian!" seru Dylan.
"Tapi jika kalian masih ingat bekerja disini. Bekerjalah dengan baik. Selama kalian berkelakuan baik, maka kami juga akan bersikap baik pada kalian semua. Bahkan kami tidak akan segan-segan untuk membantu kalian, jika kalian dalam masalah. Bagaimana pun kalian adalah tanggung jawab kami." Jerry berbicara dengan menatap satu persatu karyawan-karyawannya.
"Jadi siapa diantara kalian yang masih ingin bekerja disini?" tanya Dylan.
Tanpa ada keraguan di dalam hati para karyawan. Mereka semua mengangkat tangan mereka ke atas.
"Kami masih ingat bekerja disini, Bos!"
"Iya, Bos! Kami benar-benar senang dan merasa bersyukur memiliki Bos seperti kalian!"
"Kami akan bekerja dengan sungguh-sungguh!"
"Kami tidak ada niat sedikit pun untuk mengkhianati tempat kami bekerja!"
"Kami sudah merasa nyaman disini!"
Itulah beberapa ungkapan-ungkapan tulus dari karyawan-karyawan yang memang setia dan benar-benar jujur dalam bekerja.
"Baiklah. Kalau begitu kembali bekerja. Dan saya minta sepuluh orang untuk membawa dua mayat pengkhianat itu keluar dari SHOOWROOM ini. Setelah itu kubur mereka."
"Baik, Bos."
"Untuk karyawan wanita, tolong bersihkan lantai yang penuh darah itu."
"Baik, Bos!" jawab karyawan wanita tersebut.
"Danar, Hansel, Deryl, Arley. Bawa kedua pengkhianat itu ke gudang karena besok mereka berdua akan menggantikan kita untuk uji coba round kedua di serkuit. Mereka berdua akan menggunakan mobil yang sudah mereka sabotase itu," perintah Darren.
"Baik, Bos."
Danar, Hansel, Deryl dan Arley membawa Dicky dan Bobby dengan paksa ke gudang.
"Bos.. jangan, Bos. Kami mohon.. maafkan kami!" teriak Dicky.
"Bos.. kami tidak mau melakukan uji coba itu, Bos. Kami mohon Bos!" teriak Bobby.
__ADS_1
Darren menulikan telinganya dan tidak mempedulikan teriakan dari kedua pengkhianat tersebut. Jika saja kesalahan mereka tidak terlalu fatal, Darren masih bisa memberikan kesempatan untuk keduanya.
Dikarenakan kesalahan keduanya itu sudah bermain-main dengan nyawa, maka Darren tidak bisa memberikan kata ampun untuk keduanya.