
[KEDIAMAN KELUARGA SMITH]
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Erland dan kedua putranya, Davin dan Andra sudah berada di rumah. Begitu juga dengan yang lainnya, kecuali Gilang dan Darka.
Rencana awalnya Gilang dan Darka akan pulang dari kampusnya sekitar pukul 10 pagi, tapi rencana mereka meleset. Tiba-tiba saja dua Dosennya memberikan banyak tugas kepada para mahasiswa dan mahasiswinya sehingga berakhir Gilang dan Darka pulang terlambat.
Erland sedari tadi hanya diam. Pikiran terus tertuju kepada putra bungsunya dari pernikahan pertamanya. Wajahnya juga sedikit pucat karena Erland belum mengisi perutnya dari siang. Bahkan sarapan pagi saja hanya tiga suap.
"Papa." Davin memeluk Ayahnya. "Percayalah padaku, Darren pasti baik-baik saja."
"Bagaimana Papa bisa yakin jika adik bungsumu itu baik-baik saja, Davin! Adik bungsumu itu baru keluar dari rumah sakit kemarin, dan hari ini adik bungsumu ada di arena sirkuit untuk melakukan uji coba mobil-mobilnya. Papa benar-benar takut dan khawatir." Erland berbicara dengan nada bergetarnya.
Erland menangis. Dirinya benar-benar hancur saat ini. Walau terlihat bahagia dan tenang didepan, namun terlihat menyedihkan di belakang.
Semenjak kejadian enam bulan yang lalu dimana dirinya menyakiti putra manisnya, semenjak itulah membuat hati Erland diliputi rasa bersalah dan penyesalan yang amat dalam. Ditambah lagi kenyataan yang diterimanya mengenai kondisi kesehatan yang dialami sang putra.
"Papa tidak ingin ada yang pergi lagi. Cukup Papa kehilangan Mama kalian. Papa tidak ingin kehilangan adik bungsu kalian. Jika waktu bisa diputar ulang, Papa akan menghabiskan waktu bersamanya. Dan Papa juga tidak akan menyakitinya. Papa akan percaya padanya. Papa akan membelanya," ucap Erland dengan disertai isakannya.
"Pa! Papa tidak salah. Aku yang salah disini. Aku yang terlebih dahulu menyerang Darren," ucap Adnan.
"Kita yang salah, Pa. Kita adalah Kakak-kakak yang buruk untuk Darren. Kita semua telah menyakiti Darren," kata Andra.
"Jika saat itu kita percaya pada Darren. Masalah ini tidak sampai seperti ini," sela Dzaky.
Saat mereka tengah bersedih akan kesalahan, penyesalan dan rasa takut akan kehilangan, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bell rumah yang berbunyi.
TING
TONG
TING
TONG
Seorang pelayan berlari menuju pintu utama untuk membukakan pintu.
Gilang dan Darka melangkah memasuki rumahnya. Kaki mereka terhenti saat sudah berada ruang tengah, keduanya melihat anggota keluarganya sudah berkumpul disana.
Gilang dan Darka melihat kearah Ayahnya yang tampak sedang menangis dan kakak laki-laki tertuanya sedang menenangkan sang Ayah. Mereka juga melihat kearah yang lainnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa wajah mereka tampak sedih?" batin Darka.
"Apa terjadi sesuatu," batin Gilang.
Gilang dan Darka memutuskan untuk menghampiri keluarganya. Dan kini keduanya sudah duduk di sofa bersama anggota keluarganya.
"Kenapa dengan Papa? Kenapa wajah Papa terlihat pucat? Papa sakit?" tanya Darka.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Gilang.
Hening..
Tidak ada yang menjawabnya. Pikiran mereka saat ini benar-benar kalut dan takut.
__ADS_1
"Yak! Ada apa dengan kalian? Apa kalian semuanya tuli? Kami sedang bertanya. Dan kenapa tidak ada yang menjawabnya?" teriak Darka.
"Darka," tegur Daffa.
Darka melihat kearah Daffa, lalu detik kemudian Darka menyadari keadaan sekitarnya.
"Maaf," ucap Darka.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Gilang lagi.
"Tidak terjadi apa-apa, Gilang. Hanya saja kami saat ini tengah mengkhawatirkan Darren!" sahut Davian.
"Mengkhawatirkan Darren!" ulang Darka dan Gilang bersamaan.
"Iya. Kita semua mengkhawatirkan Darren," sahut Dzaky.
"Awalnya sejak di kantor Papa memiliki perasaan yang tidak enak terhadap Darren saat foto Darren yang tiba-tiba jatuh dan pecah. Saat kakak bicara dengan Papa dan mengatakan pada Papa kalau Darren pasti baik-baik saja, Papa sudah mulai sedikit tenang. Namun...." ucapan Davin terhenti.
"Namun apa?" tanya Darka ketus.
"Kakak mengatakan pada Papa jika hari ini Darren melakukan uji coba mobil-mobilnya di arena sirkuit. Mendengar kakak bicara hal itu, Papa kembali kepikiran Darren. Bukan Papa saja. Kakak dan kakak Davin juga kepikiran Darren dan juga mengkhawatirkan Darren." Andra menjelaskan rasa khawatirnya, ayahnya dan kakak tertuanya kepada Darka.
Darka melihat kearah Gilang. "Tuh kan, Gil! Bukan aku saja yang mengkhawatirkan Darren. Mereka juga," lirih Darka.
"Aku akan menghubungi, Darren."
Gilang mengambil ponselnya, lalu menekan nama adik kesayangannya di layar ponselnya.
"Hallo, Darren."
"Ach, Willy! Bisa bicara dengan Darren."
"Maaf, Kak Gilang. Darren... Darren...,"
Gilang sudah mulai was-was saat mendengar nada bicara dan suara Willy. Sementara anggota keluarganya menatap khawatir Gilang.
"Ada apa, Willy? Katakan pada Kakak."
"Darren di rumah sakit, Kak Gilang."
"Apa?" teriak Gilang sambil berdiri dari duduknya. Anggota keluarganya yang melihat Gilang berteriak, rasa takut dan khawatir mereka makin bertambah.
"Gil," panggil Darka.
Gilang tidak menghiraukan panggilan dari Darka.
"Apa yang terjadi Willy?"
"Saat melakukan uji coba, mobil yang dikendarai oleh Darren meledak. Awalnya kami kira Darren tidak berhasil menyelamatkan diri. Tapi ternyata dugaan kami salah. Darren berhasil menyelamatkan diri dari ledakan itu."
Gilang menangis saat mendengar penuturan dari Willy. Dirinya benar-benar syok. Adiknya hampir mati dalam ledakan tersebut.
"Tuhan. Terima kasih kau sudah menyelamatkan adikku," batin Gilang.
__ADS_1
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang, Willy?"
"Masih diperiksa, Kak Gilang. Kami sekarang di rumah sakit Pladys Hospital, didepan ruang UGD."
"Baiklah. Kakak akan segera kesana. Kakak titip Darren."
"Kakak Gilang tidak perlu khawatir. Kami akan selalu bersamanya."
"Baiklah. Kalau begitu kakak tutup teleponnya."
"Hm."
PIP!
Gilang langsung mematikan teleponnya. Kemudian menatap wajah Darka dan anggota keluarganya.
"Gil. Apa yang terjadi? Kenapa dengan Darren?" tanya Darka yang sudah menangis.
"Darren masuk kerumah sakit, Darka. Willy bilang mobil yang dikendarai oleh Darren tiba-tiba saja meledak, namun......" ucap Gilang terpotong karena Erland tiba-tiba berteriak.
"Darreeeennn!" seketika Erland tidak sadarkan diri.
"Papa."
"Sayang."
"Paman."
"Kak Erland."
Mereka semua berteriak ketika melihat Erland yang tidak sadarkan diri.
"Papa," isak Darka memeluk erat tubuh Ayahnya.
"Pa! Bangun, Papa. Darren tidak apa-apa. Darren baik-baik saja. Darren selamat, Papa." Gilang berbicara sembari mengelus-elus wajah Ayahnya.
"Davin. Usapkan ini atau dekatkan ke hidung Papamu." Carissa memberikan minyak angin pada Davin.
Davin mengambil botol minyak angin itu. Kemudian Davin membuka tutupnya, lalu mendekatkan botol itu ke hidung Ayahnya.
Beberapa detik kemudian, Ayahnya pun sadar. "Darren, sayang." Erland terisak sembari menyebut nama putra bungsunya.
"Papa. Darren baik-baik saja. Darren selamat," ucap Gilang.
"Benarkah, sayang. Kau tidak bohongkan?" tanya Erland dengan suara bergetarnya.
"Aku tidak bohong, Pa. Darren baik-baik saja. Willy bilang Darren sedang diperiksa oleh Dokter di UGD," jawab Gilang.
"Ya, sudah! Lebih baik sekarang kita ke rumah sakit," sela Evan. Mereka semua pun mengangguk.
Mendengar perkataan Evan. Mereka semua pun langsung beranjak dari duduknya dan bersiap-siap untuk ke rumah sakit.
Mereka semua benar-benar sangat mengkhawatirkan Darren, terutama Erland.
__ADS_1
Sejak dimana foto putra bungsunya jatuh hingga kini rasa khawatirnya belum juga hilang sebelum melihat keadaan putranya itu.