KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Daniel Dan Bianca


__ADS_3

Darren sudah sampai di gerbang rumah keluarganya. Security yang melihat mobil Darren langsung membukakan pintu gerbang tersebut.


Setelah pintu gerbang terbuka, Darren langsung mengendarai mobilnya memasuki perkarangan rumah.


Darren keluar dari dalam mobilnya, lalu melangkah menuju pintu utama rumah.


Cklek!


Darren membuka pintu rumah itu, lalu melangkah masuk ke dalam rumah sembari berteriak memanggil kakak bantetnya.


"Kakak Gilang, dimana kau?!" teriak Darren.


^^^


Erland, Agneta dan putra-putranya saat ini masih berada di ruang tengah.


Ketika mereka tengah mengobrol. Ditambah lagi Darka dan kelima adik laki-lakinya masih terus menjahili Gilang seketika terkejut ketika mendengar suara teriakan dari Darren dari ruang tamu menuju ruang tengah.


"Kakak Gilang, dimana kau?!"


Deg!


Mereka semua terkejut. Yang lebih terkejut diantara mereka adalah Gilang. Seketika Gilang menelan air ludahnya kasar.


"Mampus gue. Anak kelinci ngamuk," gumam Gilang.


Mendengar gumaman dari Gilang. Erland, Agneta dan yang lainnya tersenyum.


Sedangkan Darka tersenyum menyeringai menatap wajah Gilang. Begitu juga dengan Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Mereka kini tengah merencanakan sesuatu untuk mengerjai Gilang.


"Sayang," sapa Erland ketika melihat putra bungsunya sudah berada di hadapannya dan yang lainnya.


Sementara Darren tak mempedulikan sapaan dari ayahnya. Justru matanya menatap horor kakak bantetnya itu. Dan jangan lupa, bibirnya yang bergerak-gerak menyumpah serapahi sang kakak.


Erland yang merasa diabaikan oleh putranya hanya bisa menghela nafas. Dia tahu bahwa saat ini putranya itu sedang kesal dengan putranya yang lain.


Darren menatap dengan mata melotot kearah Gilang. Sedangkan Gilang seketika menelan air ludahnya ketika melihat tatapan sang adik kepadanya.


"Siapa perempuan itu? Kenapa kakak Gilang membawanya ke rumahku?" tanya Darren dengan wajah menantangnya.


"Darren, kakak..."


"Kakak Gilang pikir rumahku itu tempat penampungan?!"

__ADS_1


"Bu-bukan begitu, Ren. Kakak..."


"Aku tidak pernah membawa masuk perempuan ke rumahku. Dan kakak Gilang..." Darren menatap wajah Gilang dengan makin membelalakkan matanya dan disertai dengan bibir yang mengerucut beberapa senti ke depan.


"Kakak Gilang sudah beraninya membawa perempuan ke rumahku!"


"Ren, dengarkan dulu. Kakak..."


"Hahahahaha."


Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin seketika tertawa melihat wajah takut Gilang ketika berhadapan dengan kakak kesayangannya.


"Kakak Gilang, kau benar-benar lucu!" seru Ivan.


Darren dan Gilang secara bersamaan melihat kelima adik laki-lakinya. Gilang menatap tajam kelima adik laki-lakinya itu.


Seketika Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin langsung mengatub bibirnya dan melihat kearah lain.


Gilang kembali menatap wajah adik laki-laki kesayangannya. Dia ingin menjelaskan semuanya kepada adik laki-lakinya ini.


"Ren, dengar dulu penjelasan kakak." Gilang memohon kepada adik laki-lakinya sembari menyentuh kedua bahunya.


"Ren, kalau saran kakak. Kamu langsung hukum aja tuh si bantet. Dia kan sudah berani membawa masuk perempuan ke rumah kamu. Kalau kakak jadi kamu. Kakak akan langsung memberikan hukuman padanya," ucap Darka dengan kejamnya sembari tersenyum manis menatap Darren dan Gilang.


"Darka sialan. Berhentilah menjadi kompor! Kalau mulutmu masih ngerocos terus. Aku bakal sumbat tuh mulut pakai kaos kaki milik kakak Dzaky! Bukan kaos kaki kakak Dzaky yang bersih. Tapi kaos kaki yang dipakai sama kakak Dzaky!" teriak Gilang.


"Kebetulan kakak Dzaky sedang memakai kaos kaki sekarang. Aku bisa membukanya, lalu memasukkannya ke mulutmu." Gilang berbicara sambil menatap tajam Darka.


Mendengar perkataan dan ancaman dari Gilang. Seketika tubuh Darka merinding. Dan tangannya reflek menutup mulutnya.


Sementara Erland, Agneta dan yang lainnya hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Bahkan mereka tidak ada niatan untuk menghentikan dan meleria putranya/adiknya.


Gilang kembali menatap wajah adik laki-laki kesayangannya. Dia akan menjelaskan kepada adik laki-lakinya alasan membawa seorang gadis ke rumahnya.


"Tatap mata kakak dan dengarkan kakak. Cukup kamu dengarkan kakak. Kamu nggak usah dengarkan para setan yang ada di sekitar kamu," ucap Gilang dengan kejamnya.


"Uhuk!"


Baik Erland, Agneta maupun Davin, Andra, Dzaky dan Adnan terkejut mendengar perkataan dari Gilang. Mereka menatap dengan menggeram marah kearah Gilang.


"Gilang!" seru Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky dan Adnan.


Gilang yang mendengar geraman amarah dari Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky dan Adnan langsung mengalihkan perhatiannya dari wajah adik laki-lakinya untuk menatap wajah kedua orang tuanya dan keempat kakak laki-lakinya.

__ADS_1


Seketika Gilang tersadar akan perkataannya barusan.


"Papa, Mama, Kakak Davin, Kakak Andra, Kakak Dzaky, Kakak Adnan. Maafkan atas perkataanku barusan. Kata-kata itu bukan untuk kalian, tapi itu untuk keenam orang jelek yang ada di hadapan kalian." Gilang berbicara sembari melirik sekilas kearah Darka dan kelima adik laki-lakinya.


Sementara Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin menatap horor Gilang dengan mulut mengeluarkan sumpah serapah.


Gilang menatap Darren dan mulai menjelaskan alasan dia membawa seorang gadis ke rumahnya.


***


Di sebuah bangku taman di pusat kota terlihat seorang gadis cantik yang sedang menangis. Gadis itu tidak sendirian, melainkan bersama dengan seorang pemuda tampan.


Pemuda tampan tersebut sedang berusaha menenangkan gadis cantik itu agar berhenti menangis.


"Sudahlah Bianca. Jangan menangis lagi," bujuk pemuda tampan itu.


"Aku tidak habis pikir akan perlakuan laki-laki brengsek itu, Daniel!"


Gadis cantik yang sedang menangis itu adalah Bianca. Sedangkan pemuda tampan yang sedang menghibur Bianca bernama Daniel Carlo.


Daniel Carlo adalah putra kedua dari pasangan Hendy Carlo dan Evelyn Carlo sekaligus kakak kedua dari Dylan Carlo sahabat dari Darrendra Smith.


"Mau cerita? Siapa tahu setelah kau bercerita tentang perlakuan laki-laki brengsek itu kepadaku. Pikiranmu bisa tenang. Dan siapa tahu aku bisa memberikan solusinya." Daniel berbicara sembari menatap lembut wajah Bianca.


Bianca menatap wajah Daniel. Hatinya benar-benar damai ketika bersama pemuda itu.


Sejak pertemuan pertama dengan Daniel dimana dia hampir saja tertabrak oleh mobilnya Daniel. Bianca merasakan kenyamanan di hatinya. Daniel pemuda yang sangat baik, tulus, perhatian dan peduli padanya.


Sejak Bianca memutuskan hubungan dengan keluarganya dan memilih tinggal sendiri di sebuah Apartemen yang dibelinya. Sejak itulah hubungan Bianca dan Daniel semakin dekat.


Dikatakan pacaran atau sepasang kekasih. Mereka berdua belum resmi pacaran. Tapi kedekatan mereka berdua sudah seperti layaknya sepasang kekasih.


Daniel selalu ada untuk Bianca. Ntah itu kebetulan atau bagaimana. Setiap Bianca dalam kesulitan, Daniel selalu datang tiba-tiba dan membantunya.


"Apa harus?" tanya Bianca dengan menatap sendiri wajah tampan Daniel.


"Kau harus menceritakan semuanya padaku. Jangan ada satu yang kau sembunyikan. Jika perlu, kau juga harus menceritakan tentang keluargamu. Bagaimana sikap dan perlakuan mereka selama ini terhadapmu."


"Setelah kau menceritakan semua kehidupanmu kepadaku. Maka kau tidak diizinkan untuk menangis lagi. Lupakan masa lalumu. Pikirkan kebahagiaan dan masa depanmu. Tidak perlu kau memikirkan yang lainnya. Bagaiman pun kau berhak untuk bahagia."


Daniel berbicara begitu tulus dan lembut sambil jari tangannya mengusap lembut air mata yang membasahi wajahnya.


Mendapatkan sentuhan lembut di wajahnya membuat Bianca nyaman. Dan pada akhirnya, Bianca memutuskan untuk menceritakan masalah tentang mantan keluarganya dan masalah yang membuatnya menangis saat ini kepada Daniel.

__ADS_1


__ADS_2