KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Pemecatan


__ADS_3

Darren sudah sampai di perusahaan Micro Sinopec. Sesampainya di perusahaannya itu, Darren memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan.


Setelah memarkirkan mobilnya, Darren pun keluar dari dalam mobilnya. Dan berjalan menuju kantornya.


Ketika Darren tengah melangkahkan kakinya, matanya melihat sosok sahabatnya tengah bersandar di depan mobilnya dengan tatapan matanya menatap kearah ponselnya.


"Sudah lama datangnya?" tanya Darren.


Mendengar suara sahabatnya, Dylan langsung menghentikan aktifitas dan melihat kearah sahabatnya itu.


"Sepuluh menit yang lalu," jawab Darren.


"Masuk sekarang?"


"Menurutmu?"


"Apa kita nggak makan dulu? Ini sudah pukul 11 siang," ucap dan tanya Darren sembari melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Boleh juga. Tapi lo yang bayar," sahut Dylan.


Mendengar jawaban dari Dylan membuat Darren mendengus.


"Nyesel gue nerima tawaran lo," ucap Darren dan langsung pergi meninggalkan Dylan untuk menuju kantin yang ada di perusahaan itu.


Sedangkan Dylan terkekeh mendengar perkataan Darren dan kakinya melangkah mengikuti Darren.


***


Lino baru sampai rumah yang terlihat gelap gulita tersebut. Dengan sedikit sempoyongan. Lino turun dari motornya, lalu membuka pintu bercat putih itu.


Kesunyian lah yang menyambut kedatangan Lino. Helaan napas keluar dari bilah bibirnya.


Lino menutup kembali pintu rumahnya. Kemudian Lino berjalan ke arah tangga di mana saklar lampu berada.


Lino menekan saklar seketika ruangan tersebut diisi oleh cahaya lampu. Lino menutup mulutnya kala merasakan kantuk mulai menyerang.


Akhirnya Lino memutuskan untuk pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua. Kakinya berhenti saat dia melewati kamar ibunya, perempuan yang sudah menyelamatkan dan juga menjaganya selama ini.


Dengan perlahan Lino membuka kamar yang berada tepat di sebelah kamarnya itu. Bau bunga lavender menyeruak masuk dalam indera penciumannya. Mata hitam legam tersebut terpejam menikmati aroma yang sangat disukai oleh orang yang dia cintai setelah kedua orang tua kandungnya.


Lino mendudukkan dirinya di atas ranjang. Dia meraih figura yang ada di atas nakas. Senyum terbit di bibir pemudanya.


"Mama, Lino kangen banget sama mama," ujar Lino sembari mengelus figura mamanya.


Tidak terasa air mata menetes tanpa dia sadari. Namun dengan kasar Lino menghapusnya.


Lino sudah berjanji untuk kuat. Setelah puas menatap wajah perempuan yang selama ini menjaganya layaknya seorang ibu kandung, Lino kembali meletakkan figura tersebut di tempatnya.


"Tuhan! Tolong jaga Mama dan kedua orang tua kandungku untukku," lirih Lino.


Patah hati paling nyata adalah saat kita kehilangan orang yang kita sayangi untuk selamanya. Dan ini adalah yang kedua kalinya Lino rasakan.


Pertam, Lino melihat kedua orang tua kandungnya meninggal dengan cara dibunuh ketika dirinya berusia 10 tahun. Kedua, ibu angkatnya yang meninggal karena sakit kanker yang diderita tiga tahun yang lalu.


Lino berharap Tuhan masih berbaik hati padanya dengan mempertemukan dirinya dengan adik perempuannya. Lino juga berharap adik perempuannya itu tidak ikut dibunuh oleh pelaku itu.


Setelah puas melepaskan rindu di kamar ibunya, Lino pun memutuskan untuk menuju kamarnya.


Setiba di kamar, Lino langsung membersihkan diri. Dirinya berencana untuk istirahat sejenak sebelum berangkat ke kampus.


***


Darren dan Dylan sudah berada di kantin. Dan kini keduanya tengah menikmati makan siangnya.


Ketika orang-orang yang ada di kantin itu tengah menikmati makan siangnya, tiba-tiba terdengar keributan yang membuat mereka terkejut, termasuk Darren dan Dylan.


Prang!


Mendengar keributan, orang-orang yang ada di kantin itu melihat ke asal keributan, termasuk Darren dan Dylan.


Baik Darren, Dylan maupun orang-orang yang ada di kantin melihat seorang wanita jahat tengah membully seorang wanita baik dengan cara mendorong kuat tubuh wanita baik itu.


Mendapatkan dorongan keras dari wanita di hadapannya membuat wanita tersebut terjatuh.


Wanita jahat itu datang buru-buru ke kantin sehingga tidak memperhatikan ada teman kantornya yang berjalan dari arah depan sehingga menyenggol wanita dan mengakibatkan makanan untuk makan siangnya tumpah berserakan di lantai.


Tumpahan tersebut mengenai setelan kerja dan sepatu dari wanita jahat itu.


"Dasar wanita sialan. Tidak tahu diri! Apa kau sengaja, hah?!" bentak wanita jahat itu.


"Kenapa kamu malah menyalahkanku. Bukannya kamu yang jalan buru-buru," jawab wanita baik itu.


Mendengar jawaban dari wanita yang ada di hadapannya membuat wanita jahat itu menatap marah.


Wanita jahat kemudian menendang kuat bahu kiri dari wanita baik itu sehingga membuat tubuhnya tersungkur ke belakang.


"Berani kau melawanku, hah! Kau itu hanya karyawan rendahan di perusahaan ini. Dan kau itu baru beberapa bulan bekerja disini. Jadi jangan coba-coba untuk melawanku. Aku bisa saja membuatmu dikeluarkan secara tidak terhormat dari perusahaan ini!" bentak wanita jahat itu.

__ADS_1


Wanita jahat itu melangkah mendekati wanita itu, kemudian tangannya hendak menarik rambut dari wanita tersebut


Ketika tangannya sedikit lagi menyentuh rambut dari wanita tersebut, seseorang menahan tangannya dari belakang.


Sret!


Wanita jahat itu terkejut saat merasakan tangannya dipegang oleh seseorang.


Wanita jahat itu langsung melihat kearah belakang. Dan dapat dilihat oleh seorang pria tampan yang kini tengah menatapnya.


"Siapa kau? Jangan ikut campur urusanku!" bentak wanita jahat itu dan menarik tangannya dari pegangan pria yang ada di hadapannya.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan. Hanya saja, aku paling tidak suka jika ada pembullyan terjadi di hadapanku," jawab Darren.


Orang yang memegang tangan dari wanita jahat itu adalah Darrendra Smith, pemilik perusahaan Micro Sinopec.


Sedangkan untuk Dylan. Saat ini Dylan tengah membantu wanita yang disakiti oleh wanita jahat itu. Dylan ingin memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja.


"Lebih baik kau kembali bekerja. Jangan campuri urusanku disini. Apa kau mau aku memecatmu, hah?!" bentak wanita itu sembari menunjuk wajah Darren.


Salah satu penghuni kantin berdiri. Orang itu berjalan mendekati Darren.


Setelah berada di samping Darren. Orang itu membisikkan sesuatu di telinga Darren.


"Turuti saja dia, tuan! Dia itu memang terkenal dengan mulut pedas. Suka bersikap semena-mena dengan semua karyawan yang berada dibawahnya. Dia juga suka menindas kami, terutama karyawan perempuan." bisik orang itu.


"Oh iya, tuan! Dia bersikap seperti itu karena ada orang dalam."


Mendengar ucapan dari pemuda di sampingnya membuat Darren langsung menatap pemuda itu.


"Siapa orang dalam itu?" tanya Darren.


"Dia menjabat sebagai wakil Direktur, tuan!"


"Baiklah. Terima kasih informasinya."


"Sama-sama, tuan!"


"Oh iya! Siapa namamu?"


"Andre, tuan."


"Boleh aku minta tolong padamu?"


"Tentu, tuan. Minta tolong apa, tuan?"


"Baik, tuan. Saya akan segera ke ruangannya."


"Terima kasih sekali lagi."


Setelah itu, pemuda itu pun pergi meninggalkan kantin untuk menuju ruang kerja Direkturnya.


Wanita jahat itu menatap marah kearah Darren. "Mau apa kau bertemu dengan Direktur kami, hah?!" bentak wanita jahat itu.


"Itu urusanku. Bukan urusanmu," jawab Darren.


Tak butuh waktu lama. Pemuda itu datang bersama dengan Direktur nya di sampingnya.


Ketika sudah berada di kantin, pemuda yang berstatus sebagai Direktur langsung menyapa Darren dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.


"Presdir. Anda sudah datang? Kenapa anda tidak langsung ke ruangan anda?" tanya Steven.


Deg!


Semua orang-orang yang ada di kantin tersebut terkejut dan juga syok ketika mendengar Direktur mereka yang memanggil Presdir terhadap pemuda yang tadi sedang berdebat dengan wanita jahat.


Tak jauh beda dengan wanita jahat itu. Wanita itu menatap tak percaya terhadap pemuda yang ada di hadapannya itu.


"A-apa? Pemuda di hadapanku ini adalah Presdir disini," batin wanita jahat itu.


"Steven," panggil Darren.


"Ya, Bos!"


"Siapa yang mempekerjakan wanita sialan ini?" tanya Darren sembari menatap marah kearah wanita yang berdiri di hadapannya.


Steven menatap kearah wanita jahat itu. Dan dapat dilihat oleh Steven bahwa wanita jahat itu kini tengah ketakutan.


Setelah menatap wajah dari wanita jahat itu, Steven kembali menatap wajah Darren, atasannya itu.


"Rindi bekerja di perusahaan ini karena wakil Direktur yang membawanya masuk ke perusahaan ini, Bos."


"Sudah berapa lama?"


"Sudah cukup lama, Bos! Sekitar dua tahun."


"Apa kau sudah memberikan tes kepada perempuan sombong ini sebelum diterima di perusahaan ini? Aku memberikan tanggung jawab dan kepercayaan penuh akan perusahaan ini padamu, Steven Johanes!"

__ADS_1


"Sudah, Bos. Bahkan wakil Direktur juga sudah memberikan beberapa bukti tentang kinerjanya. Dan aku melihatnya sendiri hasilnya. Selama dua tahun ini Rindi bekerja dengan sangat baik."


"Tapi kau melupakan satu hal, Steven!"


Darren berbicara dengan tatapan matanya yang menakutkan.


Mendengar perkataan dan tatapan mata atasannya itu, seketika tubuh Steven menegang. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Aku menerima karyawan bekerja di perusahaanku ini bukan hanya dia pandai dalam bidangnya, rapi dalam pekerjaannya, disiplin, jujur dan tepat waktu. Yang paling aku butuhkan di perusahaan ini adalah sikap, karakter, perilaku, tata krama, sopan santun dan tutur katanya. Salah satunya adalah saling menghormati dan menghargai sesama karyawan. Tidak peduli mau statusnya tinggi maupun rendah!"


Darren berbicara dengan tatapan matanya tak lepas dari wanita jahat itu yang kini tengah ketakutan.


Wanita jahat itu berusaha untuk mengambil hati bos nya. Namun niatnya tersebut sudah terbaca oleh Darren.


"Steven."


"Iya, Bos!"


"Wanita ini menjabat sebagai apa di perusahaanku?"


"Manager keuangan, Bos! Rindi ini menggantikan Manager keuangan yang lama," jawab Steven.


"Kenapa dengan Manager yang lama?" tanya Darren.


"Kabar yang saya dapatkan dari bagian personalia katanya bahwa Manager keuangan yang lama mengundurkan diri karena dilarang oleh suaminya untuk bekerja lagi."


"Apa kau yakin itu alasannya?"


"Yakin, Bos. Fredy, bagian personalia sudah mengatakan semuanya padaku."


"Baiklah. Aku percaya padamu."


"Apa yang harus aku lakukan, Bos?"


"Pecat wanita ini dari perusahaanku. Sekarang!"


"Baik, Bos!"


"Tidak, Bos!"


Bruk!


Wanita jahat itu langsung bersimpuh di di hadapan Darren dan memohon-mohon kepada Darren agar dirinya tidak dipecat.


"Bos, maafkan saya. Tolong jangan pecat saya."


"Steven, kau pecat wanita tak berguna ini dari perusahaan Micro Sinopec. Setelah wanita ini dipecat. Masukkan namanya di daftar hitam seluruh perusahaan yang ada di negara ini dan juga di seluruh dunia."


"Dengan begitu, jika dia ingin melamar kerja di perusahaan manapun baik di negara Jerman maupun di luar negeri. Wanita ini tidak akan pernah diterima, karena kelakuan buruknya."


"Baik, Bos."


Setelah itu, Steven memanggil dua orang security untuk membawa paksa wanita jahat itu keluar dari perusahaan Micro Sinopec.


Darren menatap wanita yang menjadi korban bully dari wanita jahat itu.


"Kau, kemarilah!"


Wanita itu pun langsung mendekati Darren dan Steven yang berstatus Bos nya.


"Ada apa, Bos?"


"Siapa namamu?"


"Lalita, Bos."


"Mulai sekarang kau yang akan menggantikan wanita sialan itu. Dan mulai detik ini kau resmi menjadi Manager Keuangan yang baru. Bekerjalah dengan baik."


"Bos, aku...." wanita seakan tak percaya apa yang barusan didengarnya.


"Kau layak mendapatkan jabatan baru. Aku memberikan masa jabatanmu selama 1 tahun. Jika dalam 1 tahun kinerjamu bagus. Kau akan menjadi Manager Keuangan selamanya."


"Terima kasih, Bos. Saya janji akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Dan saya tidak akan menjadi manusia yang serakah dan sombong."


"Saya percaya. Saya bisa melihat dari tatapan mata kamu."


"Terima kasih, Bos."


"Steven, temui bagian personalia. Minta padanya untuk dibuatkan surat pemecatan untuk Wakil Direktur. Aku mau hari ini bajingan itu keluar dari perusahaan Micro Sinopec!"


"Baik, Bos!"


"Setelah kau selesai dengan bajingan itu, temui aku di ruanganku."


"Baik, Bos!"


Setelah itu, Darren pergi meninggalkan kantin untuk menuju ruang kerjanya dan diikuti oleh Dylan di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2