
Darren menerima berkas itu. Setelah berkas itu ada ditangannya. Darren melihat kearah salah satu kakaknya yaitu Andra.
"Kakak Andra."
"Iya, Ren."
"Bisa ambilkan aku air segelas?"
"Tentu. Tunggu sebentar."
Andra pun meminta asistennya untuk mengambilkan air segelas.
Tak butuh waktu lama, asistennya Andra datang dengan membawa air segelas di tangannya.
"Ren, ini airnya!"
"Terima kasih, kakak Andra!" Darren berucap sambil mengambil air itu.
"Sama-sama, Ren!"
Darren menatap kedua manusia rendahan dan menjijikan yaitu Armando dan pengacaranya.
"Coba kalian lihat ini," ucap Darren.
Darren meletakkan berkas itu di atas meja dengan keadaan terbuka, lalu Darren meneteskan setetes air tepat di atas tulisan-tulisan yang ada di kertas putih itu.
Melihat apa yang dilakukan oleh Darren membuat Armando marah.
"Sialan! Apa yang kau lakukan, hah!" bentak Armando.
Darren meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya bermaksud menyuruh Armando untuk diam.
"Lihat dan perhatikan baik-baik," ucap Darren.
Beberapa detik kemudian..
Tulisan-tulisan yang ada di kertas putih itu berlahan menghilang sehingga membuat kertas itu berubah kosong tanpa berbekas sama sekali.
Dan kemudian terlihat beberapa huruf muncul di atas kertas itu. Makin lama huruf-huruf itu membentuk semua kata, kalimat dan juga paragraf.
Melihat hal itu membuat mereka semu terkejut, syok dan juga berdecak kagum.
Dan dimenit ke sepuluh terlihatlah sebuah tulisan yang begitu rapi di atas kertas itu, lengkap dengan tanda tangan.
"Coba anda baca, tuan pengacara!"
Pria itu pun membaca isi dari tulisan yang ada di atas kertas itu.
"Bagaimana bisa?" tanya Armando dan pria itu gugup.
Darren memberikan berkas itu kepada ayahnya. Dan Erland langsung menerima berkas itu.
Darren menatap nyalang Armando dan pria itu sekaligus sehingga membuat keduanya seketika merinding.
"Anda memang lebih tua dariku. Tapi anda tidak sepintar diriku. Dan anda, tuan Armando. Anda memang berhasil menipu ayahku dan kedua kakakku dengan berkas palsu yang kau berikan agar ditanda tangani oleh ayahku. Tapi kau tidak akan pernah bisa bermain licik denganku. Aku Darrendra Smith langsung mengetahui isi dari berkas itu."
"Aku telah merubah isi berkas itu dengan menggunakan map yang sama. Kertas yang seharusnya ditanda tangani oleh ayahku telah aku buang dan menggantikannya dengan kertas dariku. Setelah itu aku tempel dengan kertas yang lain dimana semua tulisan yang ada dikertas yang asli darimu sudah aku salin disana. Dan setelah itu, ayahku pun menandatangani kertas itu."
__ADS_1
Mendengar perkataan dari Darren membuat Armando dan pengacaranya terkejut.
"Jadi, dengan kata lain. Ada dua kertas yang menempel di map itu. Kau tidak akan pernah tahu bagaimana caraku melakukannya."
"Kau pasti bingungkan kenapa ada tanda tanganmu di kertas itu?" tanya Darren dengan tersenyum manis.
"Jawabannya adalah aku mendapatkan tanda tanganmu itu ketika kau sedang bertemu dengan klien dari perusahaan CTS. Disana kau dan klienmu sama-sama menandatangi kontrak kerjasama. Apa kau tahu siapa pemilik dari perusahaan CTS itu?" ucap dan tanya Darren.
Darren menatap remeh Armando dan juga pengacaranya.
"Aku beritahu padamu. Pemilik dari perusahaan CTS itu adalah aku, Darrendra Smith. Orang yang kau temui itu adalah Direktur merangkap sebagai asistenku."
Lagi-lagi Armando dan pengacaranya dibuat terkejut akan perkataan dan kejutan dari Darren. Dan kali ini bukan hanya para karyawan, Armando dan pengacaranya yang terkejut. Erland, Davin dan Andra juga ikut terkejut ketika mendengar dan mengetahui nama pemilik perusahaan CTS.
Seketika keterkejutan mereka berganti dengan senyuman. Erland dan kedua putranya tersenyum bahagia dan juga bangga akan kepintaran, kecerdikan dan kejeniusan Darren.
"Kalian semua, masuk!" teriak Darren.
Dan setelah itu, masuklah sekita 50 orang laki-laki berpakaian hitam lengkap dengan senjata di tangan.
Melihat hal itu membuat semua karyawan ketakutan.
Darren menatap tajam pengacaranya Armando. "Aku beri kau dua pilihan. Pertama, pergi dari sini dan berhenti mengusik keluargaku. Kedua, memilih mati?"
Mendapatkan pertanyaan dari Darren. Seketika pria itu langsung pergi meninggalkan perusahaan ER.
"Pilihan yang bagus," ucap Darren tersenyum.
Kini Darren beralih menatap dua polisi yang masih setia di posisinya. "Untuk kalian. Pilihannya sama dengan pengacara itu."
"Kami akan pergi. Maafkan kami."
Setelah itu, kedua polisi itu pun pergi meninggalkan perusahaan ER.
Kini tinggal Armando sendirian tanpa ada orang-orang di sampingnya.
"Kau kalah, tuan Armando."
Darren menatap dengan tersenyum menyeringai.
"Aku beritahu satu hal padamu. Keluarga Charly dan keluarga Ladoza sudah hancur. Kedua keluarga itu sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Kekayaan yang mereka miliki sudah sepenuhnya menjadi milikku. Bahkan kekayaan pribadi milikmu juga sudah menjadi milikku."
"Tidak. Kau jangan mengada-ada!" bentak Armando.
"Tapi itulah kenyataannya. Kau dan dua keluarga busuk itu menjadi kaya karena mengambil milik keluarga Smith dengan cara menipu. Kau dan istrimu Carlita Agatha Charly bekerja di perusahaan ER bertahun-tahun dengan melakukan banyak kecurangan, penipuan. Salah satunya adalah kau dan istrimu memindahkan semua uang ke dalam rekening kalian. Bahkan dengan uang itu juga kalian bisa membantu perusahaan keluarga kalian yang diambang kehancuran."
"Aku sebagai anak dari pemilik perusahaan ER mengambil kembali apa yang sudah kau dan istrimu ambil dari perusahaan ini. Jadi, terima saja nasibmu dan juga keluarga besarmu."
Darren melirik kearah ayah dan kedua kakaknya.
"Jika Papa, kakak Davin dan kakak Andra ingin bermain-main dengan mantan Jendral Manager ini. Silahkan! Jika tidak biarkan bajingan ini dibawa pergi oleh orang-orangku."
Erland, Davin dan Andra saling memberikan tatapan. Dan setelah itu, ketiganya kembali menatap Darren.
"Kita serahkan kepadamu, Ren! Kau bebas mau melakukan apapun terhadap bajingan itu," ucap Davin.
"Iya, sayang. Papa serahkan padamu."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu."
Darren melihat kearah anak buahnya. "Kalian. Bawa bajingan ini untuk bertemu dengan keluarga Charly dan keluarga Ladoza. Kemungkinan kedua keluarga itu sudah berkumpul bersama. Aku akan memulai permainanku disana."
"Baik, Bos!" seru dua pemuda dari 50 anggota Darren.
Setelah itu, keduanya menarik paksa tubuh Armando untuk dibawa ke sebuah gudang penyekapan yang sudah ditentukan oleh Darren sebelum datang ke perusahaan ER.
Darren menatap wajah ayah dan kedua kakaknya itu. Mereka yang mengerti arti tatapan mata Darren langsung tersenyum.
"Ada apa, hum? Apa ada yang ingin disampaikan?" tanya Erland dengan tangannya mengusap lembut kepala putranya.
"Eemm. Apa Papa menghubungi seseorang untuk mencari tahu tentang pengeroyokan Rehan?" tanya Darren.
"Iya. Papa menghubungi tangan kanan Papa untuk mencari tahu tentang geng motor Vagos. Papa sudah menjelaskan secara garis besarnya kepada tangan kanan Papa itu," jawab Erland.
"Apa sudah dapat kabar dari tangan kanan Papa itu?"
"Belum, sayang. Tapi tangan kanan Papa itu bilang dia akan langsung menghubungi Papa jika sudah mendapatkan apa yang Papa inginkan."
"Terima kasih, Papa."
"Kamu tidak perlu mengucapkan itu. Itu sudah tugas Papa. Kau adalah putra Papa. Putra kebanggaan Papa."
"Aku menyayangi, Papa!"
"Papa juga menyayangimu."
"Bagaimana dengan kita?" tanya Davin dan Andra.
Darren melirik sekilas. "Aku hanya menyayangi Papa saja. Tidak termasuk kakak Davin dan kakak Andra."
Mendengar jawaban dari Darren membuat Davin dan Andra memperlihatkan wajah sedihnya.
"Tega kamu ya," ucap Davin sambil mencubit hidung mancung adik laki-lakinya.
"Aish!"
Erland, Davin dan Andra tersenyum melihat wajah kesal Darren.
"Masalah udah selesai. Kalau begitu aku harus menyelesaikan masalah banjingan itu dan keluarganya," sahut Darren.
"Kamu hati-hati ya. Jangan sampai terluka," ucap Erland.
"Baik, Papa!"
"Jangan ngebut bawa mobilnya," ucap Davin.
"Iya," jawab Darren.
"Jangan.....," perkataan Andra terpotong.
"Bawel."
Setelah itu, Darren langsung pergi meninggalkan perusahaan ER untuk menuju gudang penyekapan.
Sementara Erland, Davin dan Andra menatap punggung Darren dengan senyuman terpampang di bibirnya. Mereka benar-benar bangga akan kepintaran, kecerdasan dan kelicikan yang dimiliki oleh kesayangannya itu.
__ADS_1