
Keesokkan paginya di kediaman Darren. Semua anggota keluarga, kecuali Darren berkumpul di ruang tengah.
Di ruang tengah itu juga ada ketujuh sahabat-sahabatnya. Mereka memutuskan menginap di rumah Darren.
Baik Qenan, Willy, Axel, Dylan maupun Jerry, Rehan dan Darel tahu bahwa Darren membutuhkan mereka
Mereka saat ini masih memikirkan kejadian kemarin dimana Darren yang begitu mengerikan ketika sedang marah dengan keluarga Valencia apalagi terhadap ibunya Valencia, terutama Erland dan keenam putra-putranya.
Adnan tiba-tiba menatap wajah ketujuh sahabatnya dari Darren. Tatapan matanya mengisyaratkan keingintahuan tentang adik bungsunya yang tidak diketahuinya.
Adnan berpikir jika adik bungsunya itu banyak menyimpan rahasia. Atau dengan kata lain dirinya dan anggota keluarganya tidak mengetahui semua tentang adik bungsunya. Hanya sebagian saja yang dirinya dan anggota keluarganya tahu, itupun diketahui setelah hubungannya, anggota keluarganya dengan adik bungsunya itu membaik.
Melihat Adnan yang menatap ketujuh sahabatnya Darren membuat Erland, Agneta, keenam putranya dari Belva dan yang lainnya menatap Adnan.
"Kenapa Adnan menatap ketujuh sahabatnya Darren seperti itu?" batin mereka semua.
"Qenan," panggil Adnan.
Qenan yang merasa dipanggil langsung melihat kearah Adnan. Dan dapat dilihat oleh Qenan bahwa kakak dari sahabat kelincinya itu ingin menanyakan sesuatu kepada dirinya.
"Iya, kakak Adnan. Ada apa?" tanya Qenan.
"Kakak mau nanya sesuatu kepada kamu dan juga kalian," jawab Adnan.
"Kakak Adnan mau nanya apa?" kini Jerry yang bertanya.
"Kalian sudah berapa lama bersahabat dengan Darren?" tanya Adnan.
"Sudah 15 tahun masuk 16 tahun," jawab Axel.
"Berarti kalian sudah saling mengenal satu sama lain, bukan?"
"Iya," jawab mereka bersamaan.
"Sekarang jawab jujur. Apakah Darren memiliki Altar Ego?" tanya Adnan dengan matanya menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat Darren.
Kenapa Adnan bisa berpikir seperti itu? Dan kenapa Adnan bisa menanyakan apakah adik bungsunya itu memiliki Altar Ego?
Adnan memiliki firasat tentang Darren setelah berulang kali melihat setiap adik bungsunya itu meluapkan kemarahannya.
Setiap adik bungsunya itu emosi dan marah. Adik bungsunya itu akan langsung menyakiti orang tersebut. Jika kesalahan orang itu sangat fatal, maka adik laki-lakinya itu akan langsung membunuhnya.
Mendengar pertanyaan dari Adnan membuat ketujuh sahabatnya Darren terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarga Smith.
Mendapatkan pertanyaan dari Adnan mengenai Altar Ego Darren. Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel saling memberikan tatapan.
Sedangkan Adnan dan anggota keluarga Smith menatap curiga ketujuh sahabatnya Darren. Bahkan Erland, Agneta dan yang lainnya menduga jika pertanyaan dari Adnan yang mengatakan bahwa Darren memiliki Altar Ego itu benar.
"Kenapa kakak Adnan berpikir seperti itu?" tanya Darel.
"Karena cara Darren yang memberikan hukuman kepada para musuh-musuhnya dengan cara tak wajar. Seperti kejadian kemarin," jawab Adnan.
__ADS_1
Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel kembali memberikan tatapan satu sama lain. Mereka bingung harus mengatakan apa kepada anggota keluarga Darren.
Dan detik kemudian...
"Jika kalian ingin mengetahui lebih banyak tentangku. Tanyalah kepadaku. Kalian tidak perlu mengintrogasi ketujuh sahabat-sahabatku!" seru Darren tiba-tiba.
Deg!
Mereka semua terkejut ketika mendengar suara dan perkataan dari Darren, lalu mereka semua pun melihat kearah Darren dimana saat ini Darren telah berdiri di anak tangga.
"Darren," ucap mereka semua.
Erlanda dan anggota keluarga lainnya menatap Darren takut. Mereka takut jika Darren marah.
Darren melangkahkan kakinya menuju ruang tengah dan bergabung dengan yang lainnya disana.
Kini Darren sudah duduk di sofa dengan matanya menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.
"Sekarang silahkan tanyakan apa yang ingin kalian tanyakan kepadaku?" tanya Darren.
"Maafkan kakak, Ren! Kakak tidak bermaksud untuk...." perkataan Adnan terpotong.
"Aku mengerti. Kakak Adnan tidak perlu merasa takut atau pun tak enak hati terhadapku. Aku sama sekali tidak marah kepada kakak Adnan," ucap Darren.
Mendengar perkataan lembut dari Darren membuat hati Adnan merasakan kelegaan. Begitu juga yang lainnya.
"Kakak Adnan ingin mengetahui apakah aku memiliki Altar Ego atau tidak?" tanya Darren.
"I-iya, Ren!" Adnan menjawab pertanyaan dari adiknya itu dengan suara yang sedikit gugup.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Adnan dan anggota keluarga lainnya terkejut.
"Sejak kapan sayang?" tanya Erland lirih.
"Aku tidak tahu sejak kapan. Yang jelas ketika aku berusia 12 tahun, aku sudah merasakan hal aneh dalam diriku. Salah satunya adalah aku gampang tersulut emosi ketika ada yang mencari masalah denganku. Apalagi sampai menghinaku. Bahkan aku juga tak segan-segan membunuh orang jika orang itu menghina kalian."
Darren menceriakan sosok yang ada dalam dirinya kepada anggota keluarganya dengan ekspresi wajah dinginnya.
Anggota keluarganya yang mendengar cerita Darren membuat hati mereka sakit dan terluka. Mereka kembali menyalahkan diri mereka sendiri karena telah gagal menjaga dan melindungi Darren sehingga Darren memiliki Altar Ego.
Mereka semua tahu dari mana dan apa penyebab terbentuknya Altar Ego tersebut dalam diri Darren.
Mereka lah penyebab dari terbentuknya Altar Ego yang ada dalam diri Darren. Mereka telah memberikan luka kepada Darren sehingga membuat Darren sakit hati dan dendam.
"Kejadian kemarin ketika kamu melakukan hal itu kepada ibunya Valen. Apakah itu kamu atau sosok itu, Ren?" tanya Darka.
"Sosok itu," jawab Darren.
"Jika sudah menyangkut nyawa dan darah. Sosok itu akan langsung keluar dan mengambil alih tubuhku. Dan dengan begitu sosok itu akan membunuh semua musuh-musuhnya."
"Kapan sosok itu akan keluar, Ren?" tanya Dzaky.
__ADS_1
"Tergantung pada moodku. Selama aku bisa menahan amarahku. Selama itu pula sosok yang ada dalam diriku ini tidak akan muncul. Dan jika sosok itu sudah keluar, maka habislah semua."
"Dan satu lagi. Sosok itu tidak akan menyakiti orang-orang terdekatku, karena sosok itu memiliki sifat yang sama sepertiku."
Mendengar penjelasan tentang sosok yang ada dalam diri Darren membuat Erland dan yang lainnya merasakan kelegaan di hati.
Darren menatap wajah ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel." Darren memanggil ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
"Iya, Ren!" jawab mereka bersamaan.
"Kalian ke kampus hari ini?" tanya Darren.
"Iya. Kita ke kampus," jawab mereka bersamaan.
"Nanti jika kalian sudah tiba di kampus. Tolong buatkan data-data para mahasiswa dan mahasiswi. Minta bantuan kepada tim kalian masing-masing. Aku mungkin sekitar pukul 11 siang ke kampus."
"Baiklah, Ren!" seru mereka semua.
"Ya, sudah. Lebih baik kita pulang sekarang!" seru Rehan.
"Hm."
Setelah itu, mereka semua pun pamit kepada anggota keluarga Darren untuk pulang ke rumah.
Lima menit kepergian ketujuh sahabat-sahabatnya Darren. Darren menatap wajah kedua kakak laki-lakinya yaitu Gilang dan Darka.
"Kakak Gilang, kakak Darka. Aku butuh tenaga dan otak kalian," ucap Darren sembari tersenyum.
Mendengar ucapan sekaligus permintaan. Serta melihat senyuman manis adiknya membuat Gilang dan Darka ikut merasakan kehangatan di hatinya.
"Apapun keinginan dan permintaan kamu. Kita berdua siap melayanimu," sahut Gilang dan Darka bersamaan.
Senyuman Darren makin lebar ketika mendengar jawaban kompak dari kedua kakak kesayangannya itu.
Darren menatap wajah ibunya. "Mama. Sepertinya ketiga putra Mama yang tampan ini akan bekerja keras hari ini. Aku mau Mama membuatkan makanan yang enak dan minuman yang segar untuk kita bertiga."
Mendengar perkataan dan permintaan dari putranya itu, Agneta seketika tersenyum. Dirinya dengan senang hati akan melakukannya.
"Baiklah, sayang. Mama akan membuatkan makanan yang enak dan minuman yang segar buat kamu dan kedua kakak kamu itu," jawab Agneta.
"Terima kasih, Mama! Mama yang terbaik."
"Sama-sama, sayang."
"Bibi akan membantu Mama kamu membuat makanan dan minuman untuk kamu dan kedua kakak kamu yang aneh itu," sahut Carissa yang menjahili Gilang dan Darka.
Darren tersenyum ketika mendengar perkataan sang Bibi. "Terima kasih, Bibi!"
"Sama-sama, keponakan tampannya Bibi."
__ADS_1
Sementara Gilang dan Darka sudah merengut kesal mendengar perkataan dari bibinya itu.
"Aish! Selalu saja begitu," gumam Gilang dan Darka.