
Mereka semua melihat kearah pintu yang dibuka oleh seseorang. Dan mereka melihat seorang Dokter cantik bersama dengan dua perawatnya yang melangkah masuk.
Dokter cantik itu adalah ibunya Axel yaitu Celsea Immanuel.
Celsea menghampiri ranjang pesakitan Darren untuk memeriksa kondisinya. Melihat hal itu Brenda, ketujuh sahabatnya dan ketujuh sahabat Darren langsung memberikan ruang kepada Celsea.
Setelah itu, Celsea langsung memeriksa Darren dan dibantu oleh dua perawatnya.
Beberapa menit kemudian, Celsea pun selesai memeriksa Darren. Bahkan Celsea sempat tersenyum sekilas sembari matanya menatap wajah pucat Darren.
"Bagaimana Celsea?" tanya Erland.
"Ada kabar baik dan juga ada kabar buruk. Tapi untuk kabar buruknya, kalian tidak usah terlalu khawatir. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Celsea.
"Apa kabar baiknya, sayang?" tanya Dario.
"Kabar baiknya Darren sudah melewati masa kritisnya. Kondisinya sudah kembali normal dan stabil. Kita hanya menunggu kapan Darren akan sadar," jawab Celsea.
Mendengar jawaban dari Celsea membuat mereka semua tersenyum bahagia. Mereka benar-benar bersyukur akan berita ini, terutama untuk Dendra, Yocelyn, Rehan dan Darel.
"Lalu kabar buruknya apa, Bibi Celsea?" tanya Davin.
"Huff!" Celsea menghembuskan nafasnya secara kasar ketika mendapatkan pertanyaan dari Davin.
Mereka yang mendengar hembusan nafas kasar dari Celsea sangat mengerti.
"Darren memiliki jantung lemah sejak lahir. Dia bisa bertahan sampai detik ini itu karena kita selalu memberikan semangat dan selalu membuatnya tetap tersenyum. Kita tidak membiarkan Darren sendirian. Bahkan setiap Darren kambuh, kita berusaha untuk membantunya melawan rasa sesak itu."
Mendengar ucapan dari Celsea, mereka semua menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa apa yang dikatakan oleh Celsea adalah benar.
"Kabar buruknya itu adalah peluru itu berhasil melukai jantung Darren sehingga membuat jantung Darren terluka. Tapi kalian jangan khawatir. Luka yang aku maksud itu hanya luka lecet. Sama seperti kita terjatuh, lalu lutut kita terbentur aspal. Otomatis lutut kita itu terluka sehingga membengkak. Seperti itulah jantung Darren saat ini. Itulah alasan kenapa begitu banyak alat yang terpasang di dada kiri Darren. Alat itu untuk membantu pernapasan Darren."
"Berapa lama alat-alat medis itu di tubuh Darren, Bibi Celsea?" tanya Darka yang menangis melihat kondisi adik laki-lakinya.
"Sampai luka di jantung Darren sembuh. Jika dipaksa untuk dilepaskan, maka Darren akan sulit untuk bernafas. Jantung Darren sedikit mengalami pembengkakan akibat peluru itu," jawab Celsea.
"Jika memang nantinya Darren memaksa untuk alat-alat itu dilepas, bagaimana Celsea?" tanya Revina ibunya Rehan.
__ADS_1
"Aku juga bingung. Kalian tahu sendiri bagaimana keras kepalanya Darren kalau sudah berurusan dengan rumah sakit. Darren itu tidak suka berlama-lama berada di rumah sakit. Dan Darren juga paling risih jika banyak alat medis yang menyentuh tubuhnya. Darren itu akan patuh padaku hanya dua hari. Setelah itu, mode keras kepalanya akan keluar."
Mendengar penuturan dari Celsea. Mereka semua menyetujui dan membenarkan apa yang Celsea katakan tentang sifat Darren.
Mereka semua tahu jika Darren itu hanya betah di rumah sakit selama dua atau tiga hari saja. Lebih dari itu, Darren pasti uring-uringan dan akan memperlihatkan sifat keras kepalanya.
Mereka semua terdiam. Bukan diam karena mengkhawatirkan Darren atau bingung.
Keterdiaman mereka saat ini adalah tengah memikirkan solusi untuk membuat Darren tunduk dengar perkataan mereka semua.
"Bagaimana kalau kita memberikan ancaman kepada Darren jika kita akan pergi ninggalin dia. Kita tidak mau kenal dengan dia lagi. Dengan kita ancam seperti itu, Darren pasti akan menurut apa yang kita katakan!" seru Ettan, kakak laki-laki tertua dari Dylan.
Mendengar ide dari Ettan membuat mereka semua saling memberikan tatapan. Dan berakhir mereka menatap Erland dan Agneta selaku orang tua Darren.
"Bagaimana Erland? Apa kau setuju dengan idenya Ettan, putra sulungku?" tanya Hendy.
"Apa tidak ada ide lain, kakak Ettan?" tanya Adnan.
"Kalau kakak pikir-pikir, ini adalah ide terbaik untuk melawan sifat keras kepalanya Darren. Kita melakukan semua ini agar Darren mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit sampai Darren benar-benar sembuh, terutama untuk jantungnya." Ettan berbicara sembari menjelaskan alasan kenapa dia memiliki ide gila itu.
Mereka semua menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan dari Ettan.
"Kami juga setuju!" seru yang lainnya, termasuk keluarga Smith.
***
Di kediaman Radmilo dimana Elzaro sedang duduk santai di ruang tengah.
Elzaro sedang menatap ke layar ponselnya. Lebih tepatnya, Elzaro tengah bermain game.
Beberapa hari ini, Elzaro disibukkan dengan tugas kantornya yang begitu menumpuk. Sejak Elzaro dipercayakan oleh keluarga angkatnya, terutama kakak laki-lakinya yaitu Gavin untuk meneruskan memimpin perusahaan membuat Elzaro makin dewasa dan bertanggung jawab.
Ketika Elzaro sedang sendirian di ruang tengah dengan ponsel di tangannya, tiba-tiba semua anggota keluarganya datang dan bergabung dengannya.
Mereka semua tersenyum menatap wajah Elzaro ketika lagi serius menatap layar ponselnya.
"Asyik nih!" seru Satya.
__ADS_1
Mendengar seruan dari salah satu kakak laki-laki sepupunya, Elzaro langsung melihat kearah kakak laki-lakinya itu.
Elzaro juga dapat melihat semua anggota keluarganya telah duduk santai di sofa.
"Kamu memangnya lagi lihat apa sih? Serius amat dari tadi. Sampai kita datang aja, kamu nggak nyadar!" seru Robert sang kakek.
"Lagi main game untuk merilexkan otakku yang pusing beberapa hari ini ngurus kantor," jawab Elzaro.
"Apa kamu sudah makan siang, hum?" tanya Mita sembari mengelus lembut kepala belakang Elzaro.
"Sudah, Mami! El sudah makan siang ketika pulang dari kampus tadi," jawab Elzaro.
Elzaro tiba-tiba menghentikan kegiatannya bermain game. Setelah itu, Elzaro menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Dan berakhir menatap wajah ayahnya.
"Papi."
"Iya, sayang!"
"Eeem... Begini! Bagaimana kalau kita mengunjungi Alin di Apartemen miliknya. Sekalian kita memberikan kejutan kapada Alin," usul Elzaro.
Mendengar usulan dari Elzaro membuat mereka semua langsung menganggukkan kepalanya.
"Kita sangat setuju akan usul kamu itu, Lino!" seru para saudara dan saudari sepupunya.
"Kami juga setuju usulan dari Lino!" seru Paman dan Bibinya kompak.
"Baiklah. Kita semua akan ke Apartemen Alin," sahut Atalaric.
Melihat reaksi dari anggota keluarganya membuat Elzaro tersenyum bahagia.
"Alin, sebentar lagi kita akan bertemu dan berkumpul lagi. Kakak sudah tidak sabar untuk memeluk kamu. Kakak rindu kamu," batin Elzaro.
"Alin, sayangnya Mami! Mami rindu kamu, sayang!" batin Mita.
"Alin! Papi rindu kamu, Nak! Papi sudah tidak sabaran membawamu pulang," batin Atalaric.
"Alin, adik perempuan kakak. Kakak akan datang menemui kamu. Setelah itu, kakak akan bawa kamu pulang." Danesh berucap di dalam hatinya.
__ADS_1
"Tunggu kakak, Alin! Kakak akan datang menemui kamu. Dan kakak akan bawa kamu pulang ke keluarga Radmilo," batin Nuel.
Mereka semua tampak bahagia karena akan mengunjungi Apartment milik Kathleen. Bahkan mereka semua sudah tidak sabaran menunggu hari esok.