
Darren dan anggota keluarganya telah sampai di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Darren dan anggota keluarganya melihat ketujuh sahabatnya beserta anggota keluarganya lengkap dengan kelima kakak-kakak mafianya dan para tangan kanannya berdiri di depan ruang rawat Erland. Bahkan anggota keluarga Radmilo juga ikut hadir disana.
Rehan yang menyadari kedatangan Darren dan anggota keluarganya langsung menyapanya.
"Darren."
Mereka semua melihat kedatangan Darren dan anggota keluarganya.
Ziggy menghampiri Darren. Setelah berdiri di hadapan Darren, Ziggy langsung memeluk tubuh Darren.
"Ketika kamu masuk ke dalam. Kamu harus kuat ya," ucap Ziggy.
Mendengar ucapan semangat dari Ziggy, Darren hanya diam. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Untuk kalian juga. Kalian harus kuat jika kalian nanti masuk ke dalam dan mengetahui fakta langsung bahwa Erland melupakan kalian. Walaupun kalian sudah tahu dari Devian," ucap Dellano.
Agneta dan anggota keluarga Smith lainnya hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, mereka semua memasuki ruang rawat Erland.
^^^
Kini semuanya sudah berada di ruang rawat Erland. Darren, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, dan Melvin sudah berdiri di samping ranjang Erland. Mereka semua menangis menatap wajah lelap ayahnya/suaminya/pamannya/kakak laki-lakinya.
"Papa," panggil Davin.
Seketika Erland membuka kedua matanya.
Darren, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka serta yang lainnya tersenyum ketika melihat Erland yang membuka kedua matanya.
"Papa."
"Sayang."
"Paman."
"Kakak Erland."
Erland yang mendengar namanya yang dipanggil tersenyum.
"Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, Melvin."
Seketika mereka semua terkejut ketika Erland dengan lantangnya menyebut nama istri dan putra-putranya.
Mereka semua tidak menyangka jika Erland mengingat istri dan putra-putranya. Tapi yang membuat mereka semua bingung adalah Erland yang tidak menyebut nama Darren.
Mereka tak mempermasalahkan jika Erland melupakan Evan, Carissa, Daffa Tristan dan Davian. Kemungkinan besar Evan, Carissa, Daffa, Tristan, dan Davian tidak terlalu bersedih.
Ini masalah Darren! Erland melupakan satu putranya. Erland tidak mengingat bahwa dia memiliki putra bernama Darren.
Sementara Darren menatap wajah ayahnya dengan berusaha mati-matian untuk tidak menangis. Dia menahan agar air matanya tidak keluar.
Hasil pemeriksaan sebelumnya Erland mengalami Amnesia. Erland melupakan ketujuh sahabatnya dan kelima kakak-kakak mafia Darren.
Setelah diperiksa oleh dokter. Dokter tersebut belum bisa memastikan kondisi Erland yang sebenarnya. Apakah Amnesia Erland bersifat sementara atau permanen. Apakah Amnesia Erland melupakan semua orang-orang terdekatnya atau hanya sebagian saja.
Dokter memutuskan untuk memeriksa Erland ketika Erland sudah bertemu dengan anggota keluarganya. Dari situlah nanti Dokter bisa menyimpulkan kondisi Amnesia yang diderita oleh Erland.
"Pa-papa," panggil Darren dengan suara yang menahan tangisnya.
Gilang dan Darka berusaha untuk menguatkan adiknya dengan mengusap-usap lembut punggungnya.
"Kamu siapa?" tanya Erland.
Tes!
Dan pada akhirnya air mata yang sejak tadi Darren tahan akhirnya menggalir membasahi wajahnya ketika mendengar jawaban dari ayahnya.
"Papa, itu Darren. Putra kesayangannya Papa," ucap Davin.
"Darren? Kamu jangan bohong Davin!"
"Apa maksud Papa? Aku tidak bohong. Itu Darren, putra Papa!" tegas Davin.
__ADS_1
"Pemuda itu bukan Darren. Kamu pikir Papa tidak mengenal seperti apa wajah putra Papa bernama Darren. Darren saat ini berada di Amerika. Dan dia akan kembali dua minggu lagi. Jadi kamu jangan coba-coba membohongi Papa dan mengatakan pemuda itu adalah Darren!" bentak Erland.
Mendengar ucapan dan juga bentakkan dari Erland membuat Davin terkejut. Bukan hanya Davin, melainkan putra-putranya yang lain juga sama terkejutnya seperti Davin. Bahkan semua orang yang ada di ruang rawat Erland juga tampak syok atas apa yang mereka dengar.
Sementara Darren sudah tidak bisa membendung air matanya. Air matanya berlomba-lomba keluar dari kelopak matanya. Tubuhnya terhuyung ke belakang dan untungnya Gilang dan Darka menahan bobot tubuh Darren sehingga tidak terjungkal.
"Tidak... Tidak. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa Papa tidak mengingatku. Sementara Papa mengingat Mama, kakak Davin, kakak Andra, kakak Dzaky, kakak Adnan, kakak Gilang dan kakak Darka. Bahkan Papa juga kelima putranya dari Mama Agneta. Tapi aku....."
"Ren," lirih Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka.
Darren seketika menghempaskan tangan Gilang dan Darka dengan kasar, lalu mendorong kuat tubuh kedua kakak laki-lakinya itu.
Tatapan matanya menatap tajam kearah sang ayah. Hatinya saat ini benar-benar hancur.
"Aku tidak tahu apa Papa benar-benar melupakanku atau hanya sekedar mengerjaiku. Tapi.... Tapi jika Papa benar-benar melupakanku. Sementara Papa ingat dengan Mama dan juga yang lainnya. Maka aku.... Aku benar-benar kecewa terhadap Papa."
Mereka semua menangis melihat kondisi Darren saat ini. Mereka semua takut jika jantung Darren tiba-tiba kambuh.
Berlahan Darren melangkah mundur dengan dengan tatapan matanya menatap tajam kearah dimana ayahnya sedang berbaring.
"Ren."
"Darren."
"Kakak Darren."
"Darren, sayang."
Darren terus melangkah mundur sehingga tubuhnya membentur sebuah pintu. Dan jangan lupa tatapan matanya yang masih menatap kearah ayahnya.
Semua yang ada di dalam ruangan Erland dapat melihat sorot mata Darren. Terlihat kekecewaan dan kesedihan dan juga amarah disana.
Setelah itu, Darren membalikkan badannya dan kemudian membuka pintu ruang rawat ayahnya.
Ketika pintu terbuka, Darren langsung pergi begitu saja tanpa menoleh sama sekali ke belakang.
"Darren!"
Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, dan serta yang lainnya ikut keluar mengejar Darren.
"Darren."
Namun, Darren cepat langsung mendorong kuat tubuh Davin sehingga membuat tubuh Davin terhuyung ke belakang.
Melihat apa yang dilakukan Darren membuat Davin dan yang lainnya terkejut.
"Ren," lirih Davin ketika melihat adiknya menolak untuk dipeluk.
"Lebih baik kalian urusi saja ayah kalian. Jangan mengurusiku dan jangan pedulikan aku."
"Darren!" bentak Andra.
"Kenapa? Bukankah benar? Laki-laki yang ada di dalam itu adalah Papa kalian! Sudah seharusnya kalian temani dia!" teriak Darren.
"Ren, laki-laki di dalam itu juga Papa kamu." Dzaky berucap dengan suara bergetarnya. Air matanya sudah mengalir sejak tadi.
"Tapi buktinya laki-laki itu hanya ingat dengan kalian. Laki-laki itu tidak mengingatku. Jadi mana bisa kalian mengatakan bahwa laki-laki itu adalah Papaku!" teriak Darren.
Mereka semua menangis ketika mendengar setiap perkataan Darren.
"Ren, bukankah kamu sudah janji kalau kita sama-sama akan menjaga Papa dan merawat Papa." Davin berbicara dengan lembut sembari membujuk adiknya itu.
"Aku memang berjanji karena aku pikir Papa melupakan kita semua. Tapi nyata berbanding terbalik. Hanya aku yang dilupakan oleh Papa. Sementara kalian termasuk Mama dan kelima putranya. Papa ingat dengan kalian semua. Bahkan Papa menyebut nama kalian satu persatu dengan sangat lancar dan juga lantang."
Darren menatap tajam kearah Davin. Setelah itu, Darren beralih menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya.
"Menjauhlah dariku. Aku tidak membutuhkan kalian lagi. Sekali pun kalian tetap bersamaku, tapi rasanya berbeda. Gairah dan semangat hidupku sudah hilang. Aku bertahan sampai detik ini demi laki-laki itu. Aku memilih bertahan juga demi laki-laki itu. Aku kembali juga demi menepati janjiku kepada laki-laki itu. Tapi apa yang aku dapatkan sekarang ini. Laki-laki itu melupakanku. Dia tidak mengingatku."
Ziggy melangkah mendekati Darren. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka berusaha untuk menenangkan Darren sembari membujuk Darren.
"Ren, ini hanya sementara. Papa kamu sedang sakit. Dia seperti ini bukan disengaja," ucap Ziggy.
Darren tersenyum kecut ketika mendengar perkataan dari Ziggy.
"Apa yang kakak Ziggy bilang? Hanya sementara? Sementaranya itu sampai kapan? Berapa lama aku harus menunggu agar laki-laki itu kembali mengingatku. Apa tunggu aku mati dulu, barulah laki-laki itu kembali ingatannya?"
__ADS_1
"Darren!" bentak mereka semua.
Mereka tidak terima jika Darren berbicara tentang kematian.
"Setidaknya kau bisa ajak bicara Papamu. Dengan begitu kau......."
"Dengan begitu aku akan setiap hari akan patah hati dan terluka setiap kali melihat bagaimana laki-laki itu tertawa dengan putra-putranya, itu maksud kakak Ziggy?"
"Aku harus setiap hari menjenguk laki-laki itu, lalu berakhir aku diabaikan. Laki-laki itu sibuk dengan putra-putranya. Sementara aku hanya dianggap orang asing. Apa itu yang kakak Ziggy inginkan?"
"Bukan begitu, Ren! Kamu....."
"Darren, sayang. Disini bukan kamu saja yang dilupakan oleh Papamu. Bibi, Paman Evan, Daffa, Tristan dan Davian juga. Bahkan Papa kamu juga melupakan ketujuh sahabatnya," ucap Carissa.
Darren menatap wajah Carissa. "Bibi Carissa itu sudah berbeda keluarga. Bibi memiliki keluarga sendiri. Sekali pun Papa melupakan Bibi. Itu tidak berpengaruh sama sekali. Sementara aku? Aku adalah putra kandungnya. Putra dari istri pertamanya. Laki-laki itu memiliki 12 orang putra. Tapi hanya aku yang dilupakan oleh laki-laki itu. Bukankah itu aneh?"
Darren menundukkan kepalanya sejenak. Melihat Darren yang tiba-tiba menundukkan kepalanya membuat mereka semua khawatir.
Dan detik kemudian....
Darren kembali mengangkat kepalanya keatas dan menatap semua orang.
Seketika Ziggy melangkah mundur ketika melihat bola mata Darren yang sudah berubah warna.
Melihat Ziggy yang tiba-tiba melangkah mundur membuat Noe, Chico, Enzo dan Devian langsung menatap tepat di manik Darren.
"Rendra!" seru Chico, Enzo, Noe dan Devian bersamaan.
Mendengar seruan dari Chico, Enzo, Noe dan Devian. Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel seketika melihat ke tatapan mata Darren. Dan benar saja, bola mata Darren berubah menjadi abu-abu.
"Rendra," ucap Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan, dan Darel bersamaan.
Sementara keenam kakak-kakaknya yaitu Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, dan Darka. Serta Paman, Bibinya dan ketiga saudara sepupunya terkejut ketika mendengar perkataan dari ketujuh sahabat dan kelima kakak mafia Darren.
"Qenan, siapa Rendra?" tanya Elzaro.
"Altar Ego Darren," jawab Qenan.
Seketika Elzaro terkejut ketika mendengar jawaban dari Qenan. Begitu juga dengan anggota keluarga Radmilo lainnya.
"Menjauhlah kalian semua dari Darren. Jangan lagi kalian mengusiknya. Aku sendiri yang akan menjaga dan melindunginya. Darren sudah tidak membutuhkan kalian lagi. Sudah cukup penderitaan Darren selama ini. Sudah cukup Darren menangis akan sikap kalian."
"Kalian semua tahu bagaimana hancurnya Darren. Laki-laki yang ada di dalam ruang rawat itu bukan hanya sekedar ayah bagi Darren, tapi merupakan Penopang dan Semangat hidupnya Darren. Sama seperti pohon. Jika akarnya kuat, maka pohon itu akan berdiri kokoh. Tapi jika akarnya kayu, maka pohon itu akan mati. Seperti itulah yang dirasakan oleh Darren. Jadi, bagaimana bisa kalian memaksa Darren untuk tetap disini. Bahkan kalian meminta Darren untuk setiap hari mengunjungi laki-laki itu!"
"Jadi, aku minta kepada kalian semua. Jangan coba-coba untuk mengganggunya. Aku akan membawanya pergi menjauh dari kalian semua."
Setelah mengatakan itu, Darren yang sudah dikuasai oleh Rendra, altar ego nya langsung pergi meninggalkan keenam kakak-kakaknya, kelima kakak-kakak mafianya, ketujuh sahabatnya dan yang lainnya.
Mereka semua yang melihat kepergian Darren menangis. Mata mereka masih terus menatap punggung Darren yang kian menjauh.
"Aku benar-benar takut jika hal itu terjadi lagi," ucap Axel.
Mendengar ucapan dari Axel membuat Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan, dan Davian terkejut. Begitu juga dengan anggota keluarga Radmilo.
"Apa maksud kamu, Axel?" tanya Davin.
"Apa yang akan terjadi?" tanya Andra.
"Sosok Rendra itu dikenal dengan kekejamannya. Kekejaman Darren ditambah dengan kekejaman Rendra akan menjadi dua kali lipat. Jadi, jika ada orang yang mencari masalah dengan Darren, maka orang itu akan langsung mati." Axel berucap sembari menjelaskan seperti apa sosok Rendra.
"Bukankah kakak Davin dan keluarga Smith lainnya sudah melihat sendiri buktinya ketika acara pernikahan kakak Gilang beberapa bulan yang lalu," sahut Qenan.
Mendengar ucapan dari Qenan membuat mereka semua langsung mengingat kejadian tersebut.
Dalam kejadian itu, Darren dengan kejamnya memenggal tangan ibunya Valencia, calon istri Gilang. Bahkan Darren juga menyuntikkan sesuatu ke tubuh Valencia.
"Dan untuk kali ini Rendra benar-benar tidak akan melepaskan Darren. Dan bisa dipastikan Rendra akan selamanya menguasai tubuh Darren," ucap Jerry.
"Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Darren harus kembali. Adikku harus kembali!" Darka berteriak histeris ketika mendengar perkataan Jerry.
"Darka."
Andra langsung memeluk tubuh adik laki-lakinya.
"Kakak Andra, Darren harus kembali. Darren harus kembali," ucap Darka sembari terisak.
__ADS_1
"Percayalah! Adik kita akan kembali. Kita akan membawanya pulang," hibur Andra.