
Di ALPADIA High School terlihat para murid-murid tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang tengah berlalu lalang, ada yang sedang duduk di bangku-bangku yang tersedia di lapangan sembari bermain ponsel, ada yang mengobrol dan bersenda gurau dengan teman-temannya dan lain sebagainya.
Untuk Salsa dan Raya juga berada di lapangan. Sedangkan Ivan dan Melvin berada di kelas.
Salsa dan Raya saat ini sedang mengobrol masalah Erica, putri angkatnya Darren.
Baik Salsa maupun Raya sudah mengetahui perihal Erica dari Axel dan Brenda. Axel dan Brenda menceritakan tentang Erica kepada adik perempuannya.
"Aku nggak sabaran pengen ketemu Erica, Ray!" seru Salsa.
"Aku juga, Sal! Seperti apa wajahnya ya? Apa menggemaskan?" ucap dan tanya Raya sembari membayangkan wajah Erica.
Ketika Salsa dan Raya tengah asyik mengobrol. Tanpa disadari oleh keduanya. Rebeca dan ketiga temannya datang.
Para murid-murid yang ada di sekitarnya menatap takut Rebeca dan ketiga temannya dan menatap khawatir terhadap Salsa dan Raya, terutama Salsa.
"Aakkhh!"
Salsa tiba-tiba berteriak sembari memegang rambutnya.
Sementara Raya langsung berteriak dan menatap tajam kearah pelaku tersebut.
"Rebeca, apa yang kau lakukan? Lepaskan rambut Salsa!" bentak Raya.
Raya berdiri dan langsung menolong Salsa. Namun dihadang oleh Viola, Rachel dan Laura.
"Lo nggak usah ikut campur," ucap Laura.
Setelah itu, Laura mendorong kuat tubuh Raya hingga tersungkur di tanah.
Rebeca menarik kuat rambut Salsa ketika Salsa dan Raya tengah mengobrol.
"Lo pikir gue bakal diam aja setelah apa yang dilakuain oleh kakak laki-laki dari Melvin ke gue dan ketiga teman-teman gue, hah! Lo salah, Salsa! Justru gue dan ketiga teman-teman gue akan membalas orang-orang yang udah ikut campur dalam urusan gue!" bentak Rebece dengan makin menarik rambut Salsa.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Rebeca membuat Salsa tersenyum. Lebih tepatnya senyuman menyeringai.
"Dan apa lo pikir gue bakal diam aja kalau lo dan para sampah lo terus-terusan membully gue. Jawabannya tentu saja tidak!"
Setelah mengatakan itu, Salsa memegang kuat pergelangan tangan Rebeca yang menarik rambutnya sehingga membuat pergelangan tangan Rebeca kesakitan luar biasa.
Setelah memegang kuat tangan Rebeca. Salsa menariknya dan kemudian memutarnya ke belakang.
Srek!
"Aakkhhh!"
Kini giliran Rebeca yang berteriak. Salsa mencekik kuat leher Rebeca dengan menggunakan tangan kirinya.
FLASHBACK ON
Salsa berada di ruang rawatnya bersama dengan kedua orang tuanya dan ketiga kakak laki-lakinya.
Salsa saat ini dalam keadaan menangis mengingat kejadian yang dialaminya ketika di sekolah.
"Sayang, sudahlah. Jangan nangis lagi ya," hibur Celsea.
"Aku takut, Mama!" jawab Salsa.
"Apa yang kamu takutkan, hum?" tanya Dario kepada putrinya sembari menghapus air mata putrinya itu.
"Aku nggak mau dibully terus sama mereka. Aku ingin sekolah dengan tenang," sahut Salsa.
"Kamu bisa membuat mereka tidak akan membully kamu lagi. Kamu harus lawan mereka," ucap Radeva lembut.
"Iya, Salsa. Kamu nggak perlu takut kepada mereka. Justru kamu harus lawan mereka. Jika kamu takut. Mereka akan terus mencari masalah sama kamu," ucap Anshel.
"Kakak Axel setuju apa yang dikatakan oleh kakak Radeva dan kakak Anshel. Kamu harus lawan mereka. Kamu jangan diam aja. Kamu tunjukin ke mereka siapa kamu yang sebenarnya," ucap Axel menatap wajah adik perempuannya.
__ADS_1
"Salsa, lihat kakak!" seru Radeva.
Salsa kemudian menatap wajah kakak laki-laki tertuanya itu.
"Sekarang kakak nanya sama kamu. Apa tujuan kakak, kakak Anshel dan kakak Axel ngajari kamu ilmu bela diri?" tanya Radeva.
"Untuk jaga diri bila ada hal buruk yang menimpaku," jawab Salsa.
"Apa kamu sudah mempergunakan ilmu bela diri yang kami ajarkan kepadamu?" tanya Radeva.
Salsa seketika menundukkan kepalanya ketika mendengar pertanyaan dari kakaknya itu.
Melihat reaksi dari adik perempuannya membuat Radeva, Anshel dan Axel hanya menghela nafasnya.
"Salsa, sayang. Dengarkan kakak. Sudah waktunya kamu tunjukin siapa kamu sebenarnya. Tunjukin ke mereka bahwa kamu bukan murid yang gampang ditindas. Jangan seperti ini terus Salsa," ujar Anshel.
"Atau kamu mau kakak....." perkataan Axel terpotong karena Salsa langsung menatap wajah kakak laki-lakinya itu.
"Kakak Axel mau apa?" tanya Salsa.
"Kakak bakal bunuh mereka semua jika mereka kembali menyakiti kamu. Bahkan kakak juga akan menghancurkan keluarga mereka," jawab Axel.
"Tidak. Kakak nggak tega ngelakuin itu. Kakak bukan pembunuh," jawab Salsa.
"Demi melindungi anggota keluarga. Apapun akan dilakukan, sekali pun membunuh orang. Kamu nggak lupakan kejadian dimana kita semua menghadapi perang besar saat itu, hum!"
"Kita semua sudah menjadi pembunuh saat itu, Salsa! Dan kamu juga nggak lupakan kalau kakak memiliki lima kakak-kakak mafia. Apapun yang kakak minta kepada mereka. Mereka akan langsung mengabulkannya."
Mendengar penuturan dari kakak laki-lakinya itu. Seketika Salsa menyadari tentang siapa kakaknya itu.
Kakak laki-lakinya itu akan berubah menjadi sosok iblis yang kejam jika anggota keluarganya diusik. Kakak laki-lakinya itu juga tidak mengenal ampun terhadap musuh-musuhnya. Tak jauh beda dengan ketujuh sahabat-sahabat kakaknya itu.
"Bagaimana? Sudah ingat dan sudah menyadari siapa kakak? Apa kamu tetap milih untuk terus dibully dan sebagai balasannya kakak yang akan bertindak? Atau kamu bangkit dan lawan mereka," ucap dan tanya Axel menatap adik perempuannya yang masih terdiam.
Seketika Salsa menatap wajah kakak laki-lakinya. Salsa menatap tepat di manik hitam sang kakak.
Baik Dario, Celsea, Radeva maupun Anshel sama-sama menunggu jawaban dari Salsa.
"Ayo, sayang! Jawab pertanyaan dari kakak Axel," ucap Celsea sembari mengusap kepala belakang putrinya.
"Baiklah. Mulai sekarang aku akan balas siapa pun yang mengusikku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitiku lagi, termasuk mereka!" sahut Salsa.
Mendengar jawaban mantap dari Salsa membuat mereka semua tersenyum bahagia, terutama Axel.
"Itu baru adik perempuan kami!" seru Radeva, Anshel dan Axel bersamaan.
FLASHBACK OFF
Melihat apa yang dilakukan oleh Salsa. Sontak membuat semua murid-murid yang ada disekitarnya terkejut dan juga syok.
Mereka semua tidak menyangka dimana pada akhirnya seorang korban bully berani membalas pelaku pembullyan.
Raya yang melihat ada pembalasan dari Salsa seketika tersenyum bahagia. Di dalam hatinya berkata 'sudah waktu pembalasan dimulai'.
Raya berdiri dari terjatuhnya akibat dorongan dari Laura.
"Apa yang kau lakukan, hah? Lepaskan Rebeca!" bentak Viola dan Rachel.
Mendengar bentakkan dari Viola dan Rachel membuat Salsa makin menguatkan cekikannya di leher Rebeca.
Laura, Rachel dan Viola menyerang Salsa bersamaan. Namun langsung diserang balik oleh Raya dari arah belakang.
Srek!
Srek!
Duagh!
__ADS_1
"Aakkhhh!"
Bruk!
Raya menarik kuat rambut Laura dan Viola secara bersamaan sehingga keduanya berteriak kesakitan.
Sementara untuk Rachel. Raya menendangnya keras sehingga tersungkur di tanah dengan tidak elitnya.
Setelah puas menarik rambut Laura dan Viola. Raya mendorong kuat keduanya sehingga tersungkur dan menubruk tubuh Rachel.
Mendapatkan tubrukan dari kedua temannya membuat Rachel berteriak kesakitan di seluruh tubuhnya.
"Sal, mereka sudah aku urus. Sekarang bermain-mainlah dengan tikus betina itu," ucap Raya.
Salsa melihat kearah Raya. Seketika Salsa memberikan senyuman termanisnya.
"Terima kasih, sobatku!"
"Terima kasih kembali, sobatku!"
Para murid-murid yang sedari tadi yang menonton adegan di hadapannya hanya bisa menelan ludah mereka masing-masing. Mereka semua benar-benar syok atas apa yang mereka lihat.
Seorang Salsa yang selalu dibully oleh Rebeca dan ketiga teman-teman berubah menjadi sosok gadis kejam.
Sementara Raya yang dikenal pendiam dan tidak banyak bicara berubah menjadi sosok gadis yang sama kejamnya dengan Salsa.
Dan para murid-murid pun sadar. Tidak selamanya seseorang itu akan diam jika dibully. Ketika waktunya tiba, si korban bully itu pasti akan membalasnya.
Dan sekarang terbukti sudah. Satu dari korban bully sudah menunjukkan sifat aslinya. Tinggal korban bully lainnya yang akan menyusul sehingga tidak ada lagi yang namanya pembullyan.
"Aahhh... le-lepas," ucap Rebeca dengan suara putus-putus.
"Apa kamu bilang? Lepas? Aku tidak akan melepaskannya sebelum aku puas. Kau sudah banyak menyakitiku. Maka dari itu aku harus membalasnya," sahut Salsa.
Salsa makin menguatkan cekikan di leher Rebeca. Dirinya tidak peduli jika hari ini Rebeca mati ditangannya.
"Aahh... Aahh..." Rebeca bernafas putus-putus. Wajahnya sudah pucat pasih saat ini.
Setelah puas mencekik leher Rebeca. Salsa pun menyudahi aksinya dengan mendorong kuat tubuh Rebeca hingga tersungkur di tanah.
Bruk!
"Tidak selamanya aku akan diam saja menerima bullyan dari manusia busuk seperti lo dan sahabat-sahabat lo. Dan ini langkah awal pembalasan dariku. Kemungkinan lo dan para sahabat lo akan mendapatkan lebih parah dari ini jika masih saja mencari masalah denganku."
Setelah mengatakan itu, Salsa pergi meninggalkan Rebeca dan ketiga sahabatnya dengan menggandeng tangan Raya untuk menuju kelas.
***
Saat ini Darren, ketujuh sahabatnya, Brenda dan juga sahabat-sahabatnya berada di sekolah dasar.
Sesuai yang dijanjikan oleh Darren bahwa dirinya akan mendaftarkan Erica ke sekolah dasar.
Ketika sampai di depan sekolah, Erica tak berhenti tersenyum. Dirinya benar-benar bahagia karena ayahnya mengabulkan keinginannya.
"Papa, ayo buruan!" seru Erica yang sudah keluar dari dalam mobil dan kini sudah berdiri di gerbang sekolah.
Mendengar seruan dan melihat raut bahagia Erica membuat Darren dan yang lainnya ikut merasakan kebahagiaan.
"Iya, sayang!" Darren, Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.
Mereka semua menghampiri Erica dengan tersenyum di bibir masing-masing.
Mereka semua mengantar Erica sampai bertemu dengan kepala sekolah. Tujuan mereka adalah agar pihak sekolah tahu bahwa mereka semua adalah keluarga Erica.
Setelah beberapa menit mengurus proses pendaftaran masuk sekolah Erica. Kini Erica sudah resmi menjadi murid KINKA High School. Erica masuk ke kelas 1A.
Setelah semuanya selesai. Baik Darren, ketujuh sahabatnya maupun Brenda dan sahabat-sahabatnya pamit kepada Erica untuk ke kampus.
__ADS_1