
Di lokasi dan di tempat yang berbeda namun di waktu yang sama Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan berada di ruang kerja di perusahaannya masing-masing. Mereka saat ini tampak sibuk dengan pekerjaannya.
Pekerjaan pertama mereka adalah mengecek berkas-berkas yang menumpuk di atas meja. Selesai dengan berkas-berkas tersebut. Darren, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan mengecek pekerjaan para karyawannya. Dan terakhir mengecek laporan keuangan perusahaan.
^^^
Beberapa menit kemudian semua pekerjaan yang Darren lakukan telah selesai. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan.
Darren masih di ruang kerjanya. Dirinya saat ini tengah memikirkan hukuman apa yang akan dia berikan kepada orang yang sudah menggagalkan kegiatan Touringnya beberapa hari yang lalu terutama untuk si pelaku utamanya.
Drrtt..
Drrtt..
Ketika Darren sedang melamun sembari memikirkan hukuman untuk para musuh, Darren dikejutkan dengan suara bunyi ponselnya.
Darren melihat kearah ponselnya yang ada di atas meja di samping, tertera di layar ponselnya itu video call dari ketujuh sahabat-sahabatnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Darren mengambil ponselnya itu dan langsung menjawab panggilan video call dari ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
"Hallo kelinci manis!" dengan kompak Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan menyapa Darren dengan menyebut kata keramat tersebut.
Pip...
Tanpa perikemanusiaan dan perikehatian. Darren seketika langsung memutuskan panggilan tersebut.
Bagaimana dengan ketujuh sahabat-sahabatnya yang berada di perusahaan masing-masing ketika panggilan video call nya langsung dimatikan oleh Darren secara sepihak? Sudah pasti ketujuh sahabat-sahabatnya Darren melotot, melongo dengan kedua mata yang membesar serta rasa ketidakpercayaannya terhadap apa yang dilakukan oleh Darren.
"Kelinci Baper!"
Baik Qenan, Willy, Axel maupun Jerry, Dylan, Darel dan Rehan di perusahaan masing-masing dengan kompak mengucapkan kata yang sama. Setelah itu, mereka kembali menghubungi Darren.
Sementara Darren tersenyum kemenangan karena untuk pertama kalinya dia memberanikan diri memutuskan panggilan dari ketujuh sahabat-sahabatnya karena kesal akan ulah dari sahabat-sahabatnya itu.
Drrtt..
Drrtt..
Ponselnya kembali berbunyi. Ketujuh sahabat-sahabatnya kembali menghubunginya melalui video call.
Darren menjawab dengan memperlihatkan wajah sepet dan wajah tak mengenakkan kepada ketujuh sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kalau motif kalian untuk membuat moodku buruk. Aku akan matikan panggilan ini," ucap dan ancam Darren.
"Yak! Ada dengan lo?" tanya Dylan.
"Lo lagi dapet ya?" tanya Rehan.
"Ada apa? Kalau tidak penting-penting amat. Gue matiin panggilannya," ucap dan tanya Darren.
Mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Daren membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan kesal.
"Darren!" Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan berteriak dengan kencangnya sehingga membuat Darren terkejut bersamaan dengan tangannya langsung menjauhi ponselnya.
"Dasar sahabat-sahabat setan!" teriak Darren.
"Termasuk lo!" teriak Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan.
Darren mendekatkan kembali ponselnya dan dapat dilihat olehnya wajah super kesal ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
"Lo berani matiin panggilan dari gue berarti kita udahan!" ucap Qenan.
"Kalau lo matiin panggilan dari gue, sahabat tertampan lo ini. Putus hubungan kita," ucap Willy.
"Berani lo matiin panggilan gue. Lo tanggung sendiri akibatnya. Gue bakal datengin lo malem-malem ketika lo sedang tertidur pulas. Setelah itu, gue suntik lo biar nggak bangun sampai pukul 12 siang. Ketika lo bangun, lo akan melihat di cermin bahwa dua gigi besar lo yang selalu berada di depan sudah hilang. Alian lo ompong!"
Sementara Darren seketika mengumpat di dalam hatinya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Axel tentang niatnya ingin menghilangkan dua gigi besarnya itu.
"Berani lo lakuin itu ke gue, maka gue akan mengirimkan surat pemutusan persahabatan sama lo," balas Darren.
"Oh, tidak masalah. Dengan senang hati gue akan menerimanya dan gue akan tanda tangani surat tersebut. Secara gue udah nggak butuh lo lagi. Gue bersahabat dengan lo karena lo memiliki wajah tampan sekaligus cantik, manis dan menggemaskan ketika sedang merajuk. Lo bisa tampan sekaligus cantik, manis dan menggemaskan seperti itu kan berkat dua gigi besar lo itu. Sementara lo udah nggak memiliki dua gigi besar itu lagi alias ompong. Jadi gue ogah bersahabat dengan lo lagi."
Axel berucap dengan begitu lantangnya di depan layar ponselnya dengan tatapan matanya menatap wajah Darren. Hatinya sangat puas melihat wajah tak mengenakkan Darren ketika mendengar ucapannya itu.
Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan saat ini mati-matian menahan tawanya atas ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Axel.
Sementara Darren seketika memberikan pelototan tajam kearah layar ponsel dengan tatapan matanya tertuju pada Axel.
"Lo benar-benar ya, Xel!" Darren menggeram kesal atas ulah Axel.
"Hahahahaha."
Dan pada akhirnya tawa Qenan, Willy, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan pecah termasuk Axel sendiri.
__ADS_1
"Wajah lo lucu banget, Ren!" seru Jerry.
"Bodo!" jawab Darren dengan nada kesalnya.
"Hahahahahaha!" Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan kembali tertawa. Dan dibalas dengan tatapan tajam dari Darren.
"Oke, Oke! Kita serius sekarang!" Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan berucap bersamaan.
Darren masih memberikan tatapan tajamnya kearah layar ponselnya. Sedangkan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan seketika menghela nafas pasrahnya.
"Ayolah, Ren! Jangan serius begitu. Kita kan cuma bercanda doang kok," ucap Willy.
"Payah lo, Ren!" seru Rehan dan Darel bersamaan.
"Tuh tatapan matanya bisa nggak dinormalisasikan kembali. Balik seperti semula. Ngeri melihatnya," ucap Qenan.
Detik kemudian...
"Hah!" Darren menghela nafas pasrahnya ketika mendengar ucapan serta permohonan dari ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
"Ada apa?" tanya Darren.
Mendengar pertanyaan dari Darren seketika membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan tersenyum.
"Gue mau nanya sama lo masalah Touring kita yang gagal. Apa rencana lo?" ucap dan tanya Dylan.
"Masalah apa yang akan kita lakukan, itu nanti kalian akan tahu. Yang jelas saat ini gue fokus sama si dalangnya," sahut Darren.
"Terus rencana kita yang akan ke markas kakak Ziggy, apa jadi?" tanya Jerry.
"Ya, jadilah. Kita langsung saja ke Markas kakak Ziggy setelah selesai dengan pekerjaan masing-masing di perusahaan. Tujuan kita kesana untuk ajak kerjasama mereka. Kita tetap mencari tahu siapa dalangnya dari mereka."
"Jika mereka tetap bungkam, bagaimana Ren?" tanya Rehan.
"Itu urusan mereka. Berarti mereka memiliki masuk penjara. Setelah itu, kita tidak punya urusan lagi dengan mereka dan kita fokus sama dalangnya. Seperti yang dikatakan salah satu dari mereka kalau dalangnya satu kampus dengan kita. Kalian tidak lupakan ketika salah satu dari mereka mengaku di depan kita ketika dia hendak dibunuh?"
Mendengar ucapan serta pertanyaan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan langsung menganggukkan kepalanya ketika mengingat salah satu kesembilan pemuda desa itu mengaku.
"Oh, iya! Ren, apa lo kuliah hari ini?" tanya Darel.
"Iya. Gue kuliah hari ini. Gue masuk pas materi kuliah bahasa Inggris."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu!" seru Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan bersamaan.
Setelah mereka selesai berbicara lewat video call. Mereka secara bersamaan mematikan panggilannya.