KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Amarah Darren Yang Menyeramkan


__ADS_3

Darren menarik kuat rambut perempuan yang sudah menyakiti dan membunuh ibunya. Dan jangan lupa tatapan matanya yang mengisyaratkan kemarahan.


Valen yang melihat ibunya disakiti oleh Darren seketika beranjak dari posisinya dan menghampiri Darren. Valen ingin membantu ibunya.


"Brengsek! Lepaskan ibuku!" bentak Valen.


Valen menyerang Darren. Namun kedua anggota mafia yang masih berdiri di belakang ibunya Valen langsung menahan tubuh Valen.


Dan setelah itu, tubuh Valen didorong kuat oleh kedua anggota mafia itu hingga jatuh ke belakang.


"Jika aku suntikan cairan ini ke tubuhmu. Kira-kira apa yang akan terjadi padamu?"


Wanita itu langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dengan brutal dengan matanya menatap jarum suntik yang ada di tangan Darren.


"Tidak. Jangan lakukan itu," ucap gugup wanita itu.


"Kenapa? Kau takut, hum? Bukankah dulu kau pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Bahkan kau langsung menggunakan empat jarum suntik sekaligus. Sementara aku hanya satu jarum suntik."


Darren berbicara sambil mengarahkan jarum suntik itu ke leher wanita itu.


"Tidak, jangan lakukan itu." wanita itu menggeleng ribut.


"Tidak, Mami!" teriak Valen.


"Salima!" teriak tuan Carloz yang saat ini sudah tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aish! Ayolah, jangan seperti ini. Jangan menahanku terlalu lama disini. Bantu aku agar pekerjaanku cepat selesai," ucap Darren.


"Tidak!" teriak wanita itu dengan tubuh bergetarnya.


"Aish! Kau tidak asyik, nyonya."


Darren mendorong kuat tubuh wanita itu hingga tersungkur ke belakang.


Darren berdiri dari duduknya, lalu menatap kearah Valen. Dan seketika terukir senyuman manis di bibirnya.


Darren mendekati Valen yang saat ini tengah ketakutan. Setelah berada didekat Valen. Darren pun berjongkok.


"Sepertinya ibumu tak mau diajak kerja sama. Bagaimana kau saja yang menggantikan ibumu, hum?"


"Tidak, aku tidak mau!" bentak Valen.


"Tapi sayangnya, aku tidak menerima penolakan darimu," ucap Darren.


Srek!


"Aakkhhh!" Valen berteriak kesakitan dengan kepala mendongak keatas.


Dan detik kemudian...


Jleb!


Darren menghentakkan kasar jarum suntik itu di leher Valen sehingga menimbulkan teriakan kesakitan dari Valen.


Setelah semua cairan yang ada di dalam jarum suntik itu habis. Darren menariknya secara kasar.


Setelah itu, Darren melemparnya asal jarum suntik itu.


Darren melepaskan tarikan di rambut Valen, lalu mendorong kuat tubuh Valen ke belakang.


Setelah melakukan hal itu kepada Valen. Darren berdiri dari posisi jongkoknya. Tatapan matanya menatap marah kearah ibu dan anak secara bergantian.


"Cairan yang aku suntikan ke lehermu itu akan bekerja selama dua jam dari sekarang. Kau akan merasakan sakit luar biasa di seluruh tubuhmu."


Darren berbicara sembari tersenyum menyeringai menatap Valen dan ibunya. Kadang-kadang Darren juga menunjukkan wajah sedihnya ketika mengingat semua laporan yang diberikan oleh Tommy.


Dan tanpa sadar, air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya.


"Jika kau ingin marah padaku atas apa yang telah aku lakukan barusan. Silahkan! Marahlah sepuasmu. Aku melakukan itu terhadapmu, karena ingin membalas kesalahan ibumu di masa lalu! Kau tahu apa yang telah dilakukan oleh ibumu dulu!" teriak Darren di hadapan Valen.


Mendengar perkataan dan teriakan dari Darren membuat mereka semua terkejut. Bahkan mereka semua ikut merasakan kesedihan ketika mendengar nada bicara Darren yang terdengar bergetar. Bisa mereka yakini bahwa Darren berusaha menahan tangisnya.


"Perempuan itu," ucap Darren sambil menunjuk kearah ibunya Valen.


Mereka semua yang ada di dalam gedung itu melihat kearah tunjuk Darren. Begitu juga dengan anggota keluarganya, anggota keluarga dari ketujuh sahabatnya dan juga Brenda.


"Perempuan itu telah menyakiti ibu kandungku dengan menyuntikkan cairan yang bisa membuat rasa sakit selama hidupnya. Dan lebih parahnya, cairan yang di suntikan oleh perempuan itu ke tubuh ibu kandungku tidak bisa terdeteksi oleh pihak Dokter manapun sehingga Dokter hanya bisa mengatakan bahwa ibu kandungku mengidap kanker ganas yang sewaktu-waktu bisa merenggut nyawanya!" teriak Darren.

__ADS_1


Deg!


Mendengar perkataan dari Darren membuat semua orang terkejut, termasuk keluarga Smith.


"Apa?"


Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren tentang ibu kandung mereka. Tatapan mata mereka menatap marah kearah ibunya Valen.


Sedangkan Erland tubuhnya menegang seketika ketika mendengar perkataan dari putra bungsunya.


"Kau tahu tidak Valencia Carloz. Jika ibumu tidak melakukan hal keji itu terhadap ibuku, maka ibuku masih ada di dunia ini. Bahkan ibuku sama sekali tidak sakit. Ibuku dalam keadaan baik-baik saja!"


"Jika ibumu tidak melakukan itu terhadap ibuku, maka ibuku akan melahirkan putra bungsunya dengan selamat dan bisa dipastikan putra bungsunya itu dalam keadaan sehat!" teriak Darren dengan berlinang air mata.


Darren berjalan kearah ibunya Valen dengan tatapan penuh amarah.


"Willy," panggil Darren.


"Iya, Ren!" jawab Willy.


"Mana benda kesayanganku?" tanya Darren.


Mengerti akan pertanyaan dari Darren. Willy langsung mengeluarkan benda kesayangan Darren yaitu katana.


Setelah mengeluarkan katana kesayangan Darren. Willy memberikannya kepada Darren.


"Ren, ini!" seru Willy.


Willy langsung melempar katana itu kearah Darren. Dan disambut dengan sangat baik oleh Darren.


Melihat hal itu membuat semua yang ada di dalam gedung itu seketika bergidik ngeri ketika mengetahui benda kesayangan Darren yang berupa katana. Begitu juga dengan anggota keluarganya.


Darren membuka penutup katana kesayangannya itu. Terlihat mengkilap dan juga tajam.


"Kau tahu nyonya, katana ku ini sudah lama tidak meminum darah manusia. Sesuai janjiku kemarin kalau aku akan memberikannya minuman segar. Dan hari ini aku akan menepati janjiku kepada katana kesayanganku ini."


Mendengar perkataan dari Darren membuat sekujur tubuh ibunya Valen merinding dan juga ketakutan.


Darren menatap wanita yang ada di hadapannya itu dengan tatapan penuh amarah.


"Kau telah menyakiti ibuku. Kau telah menyuntikkan empat jarum suntik sekaligus ke tubuh ibuku. Kau telah membuat ibuku merasakan kesakitan selama dirinya dalam keadaan hamil."


Darren menangis ketika mengatakan semua itu di depan orang yang telah menyakiti dan membunuh ibunya.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat Erland dan anggota keluarga lainnya menangis. Hati mereka semua hancur ketika mengetahui sebuah fakta tentang perempuan yang begitu mereka sayangi.


Bukan hanya keluarga Smith saja yang menangis mendengar perkataan dari Darren. Semua yang ada di dalam gedung itu juga ikut menangis, kecuali Valen dan keluarganya.


"Tuhan masih sayang padaku dengan memberikan kesempatan hidup untukku. Disaat semua keluargaku bahagia, mereka harus kembali bersedih ketika Dokter memfonisku bahwa aku memiliki masalah di jantungku. Dengan kata lain, aku memiliki jantung yang lemah."


Darren menatap wanita itu dengan menyeringai bak iblis.


"Pegang wanita," ucap Darren.


Kedua anggota mafia yang masih berdiri tak jauh dari ibunya Valen langsung menarik kasar tubuh wanita itu untuk berdiri.


"Pegang kedua tangannya," pinta Darren.


Keduanya langsung mematuhi permintaan Darren dengan menarik kedua tangan wanita itu ke samping.


"Tidak. Jangan lakukan itu. Ma-maafkan aku," ucap wanita itu dengan suara bergetar dan ketakutan.


Darren melayangkan katana nya ke udara. Dan detik kemudian...


Ctas!


Darren memotong tangan kanan wanita itu hingga putus.


"Aakkhhh!" wanita itu berteriak.


Sementara orang-orang yang melihat kejadian itu langsung menutup mulutnya masing-masing. Bahkan ada yang membuang wajahnya kearah lain, termasuk ketujuh sahabatnya Brenda dan anggota keluarganya.


Tapi tidak dengan orang-orang terdekat Darren. Mereka menatap wanita itu dengan tersenyum bahagia, terutama keenam kakak-kakaknya Darren.


"Tangan itulah yang sudah menyuntikkan empat suntikan itu ke tubuh ibuku," ucap Darren.


"Jika kau tidak datang ke rumah sakit saat itu dimana ibuku terbaring tak berdaya karena penyakitnya. Kemungkinan besar ibuku memiliki banyak waktu berkumpul dengan keluarganya. Setidaknya Tuhan memberikan kesempatan hidup pada ibuku, walau hanya sebentar."

__ADS_1


"Tapi kau!" teriak Darren dengan menatap marah dengan mata yang memerah kearah ibunya Valen.


"Kau dengan tega membunuh ibuku saat itu juga! Karena kau tidak ingin melihat ibuku hidup bahagia dengan keluarganya!" teriak Darren.


"Kau benar-benar wanita menjijikkan. Setelah apa yang kau lakukan kepada ibuku. Kau kembali menyakiti keluargaku melalui putrimu itu. Kau dan keluargamu merencanakan untuk menghancurkan keluargaku dengan cara mendekati kakakku Gilang!" teriak Darren.


Seketika tubuh Erland terhuyung ke belakang ketika mendengar perkataan dari putranya.


"Papa!"


"Sayang!"


"Kakak Erland!"


"Paman!"


"Erland!"


Mereka semua menatap khawatir Erland.


Sementara Darren menatap sendu ayahnya dari jauh.


"Papa," lirih Davin dan kelima adik laki-lakinya.


"Sayang," lirih Agneta.


Erland menatap kearah Salima. "Salima. Kenapa kau tega melakukan semua itu kepada Belva? Apa kesalahan Belva padamu?"


Mendengar pertanyaan dari Erland. Perempuan yang bernama Salima tersebut hanya diam. Dirinya tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari Erland.


Seketika Erland teringat sesuatu dimana dirinya sempat pernah dekat dengan Salima.


Setelah mengingat itu, Erland kembali bertanya kepada Salima.


"Apa kau marah padaku karena aku menolak cintamu saat itu? Apa kau marah ketika itu aku lebih memilih Belva untuk menjadi pasangan hidupku?"


"Jika semua itu memang benar. Aku minta maaf padamu, Salima! Jujur, sebelum aku bertemu denganmu. Aku sudah terlebih dahulu bertemu dengan Belva. Dan kita berdua sudah pacaran selama setengah tahun. Bahkan saat itu aku sudah berbicara baik-baik kepadamu. Tidak ada kata-kata kasarku untukmu. Begitu juga dengan Belva. Belva bahkan sudah menganggapmu sebagai saudarinya sendiri."


Mendengar perkataan dari Erland. Salima hanya diam. Hatinya sudah terlanjur sakit. Dendamnya juga sudah sangat dalam sehingga membuat keadaan menjadi buruk.


Darren menatap marah kearah perempuan yang berdiri di hadapannya.


"Nyawa dibayar nyawa," ucap Darren.


"Dikarenakan kau sudah membunuh ibuku. Dan kau juga sudah membuatku menderita selama ini dengan rasa sakit yang aku rasakan di jantungku. Maka dengan sangat terpaksa, aku harus mengakhiri hidupmu." Darren berbicara dengan penuh penekanan.


Darren mengayunkan katana nya ke udara dengan bermaksud ingin menyelesaikan pekerjaannya.


Namun ayunan katana nya terhenti ketika mendengar teriakan dari ayahnya.


"Darren, sayang. Hentikan, Nak!"


Erland berlahan berjalan mendekati putranya itu dan diikuti oleh Davin, Andra, Dzaky, Adnan dan Darka. Sementara Gilang memang sedari tadi bersama adiknya itu.


Kini Erland sudah berdiri di hadapan putranya. Berlahan tangannya mengusap lembut kedua wajah putranya itu.


"Papa mohon hentikan. Jangan diteruskan," ucap Erland dengan berurai air mata.


"Perempuan itu sudah membunuh Mama! Perempuan itu yang sudah membuat hidupku menderita selama ini. Perempuan itu....."


Erland langsung memeluk erat tubuh putranya. Hatinya benar-benar hancur melihat kondisi putra bungsunya saat ini.


"Papa tahu, sayang. Tapi kau sudah membalasnya. Dan itu sudah cukup. Jika kita ingin menghukumnya, kita bawa saja dia dan keluarganya ke kantor polisi. Dan biar hukum yang memberikan hukuman mati kepada mereka semua."


"Iya, Ren! Apa yang dikatakan Papa benar. Biarkan hukum yang memberikan hukuman mati untuk perempuan itu dan keluarganya," ucap Andra lembut dengan tangannya mengusap kepala adiknya.


Prang!


Seketika Darren menjatuhkan katana nya. Melihat Darren yang melepaskan katana nya membuat mereka semua bernafas lega.


Gilang mengambil katana milik adiknya itu, lalu memberikannya kepada Willy.


Erland melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah basah putranya itu.


"Kita pulang ya."


Setelah mengatakan itu, Erland pun memapah tubuh putranya untuk menuju pintu keluar. Dan disusul oleh semua orang yang ada di dalam gedung itu.

__ADS_1


Sementara kelima ketua mafia beserta tangan kanannya dan para anggota mafiosonya masih berada di gedung itu untuk melakukan tugas terakhir.


__ADS_2