KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menyelesaikan Permasalahan


__ADS_3

Sesuai dengan apa yang sudah direncanakan oleh Darren, ketujuh sahabatnya, kelima kakak-kakak mafianya, anggota keluarganya beserta yang lainnya. Rencana-rencana tersebut sukses dijalankan dan dikerjakan dengan sangat sempurna.


Kini Darren beserta yang lainnya berkumpul di rumah keluarga Smith. Mereka membahas rencana selanjutnya. Rencana untuk melenyapkan kedua musuh-musuh mereka yaitu Nicko Dilbara dan Rolando Santa.


Saat ini Darren, anggota keluarganya, kelima kakak-kakak mafianya beserta yang lainnya sudah berada di ruang tengah untuk mendiskusikan bagaimana cara untuk menjebak atau membuat kedua musuh-musuhnya keluar.


"Apa kamu sudah memikirkan untuk menjebak Rolando agar dia keluar dari persembunyiannya, Ren?" tanya Devian.


"Sudah, Kakak Devian. Kemarin aku sudah membicarakan rencana tersebut dengan keluargaku," jawab Darren.


"Apa rencana kamu?" tanya Chico.


"Aku meminta Paman Ibra untuk menyiksa Roger yang memang saat ini berada di markas milik Paman Ibra. Dan aku juga meminta kepada Paman Ibra untuk merekam setiap aksi mereka menyiksa Roger, lalu rekaman itu akan aku perlihatkan kepada Rolando."


Darren menjelaskan rencana selanjutnya kepada kelima kakak-kakak mafianya dengan ekspresi wajah yang dingin.


Mendengar rencana dan penjelasan dari Darren membuat Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico tersenyum bahagia. Mereka sangat setuju dengan rencana Darren.


Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico sudah mengetahui kelemahan dari Rolando Santa dan Robert Dilbara.


Jika seorang Nicko Dilbara begitu takut akan kehilangan perusahaan yang sudah dibangun sejak dulu. Lebih tepatnya sejak ayahnya masih hidup. Nicko Dilbara akan melakukan apapun untuk mempertahankan perusahaan agar tetap berkembang dan berdiri kokoh.


Nicko Dilbara juga dikenal dengan sebutan sang penguasa bisnis. Tidak ada satu pengusaha yang bekerja sama dengannya yang berani bermain curang. Jangan untuk bermain curang. Mengajukan protes jika mereka tidak suka dengan cara kerjanya Nicko Dilbara, maka nyawa mereka sebagai taruhannya. Nicko Dilbara begitu ditakuti oleh kalangan bisnis yang bekerja sama dengannya.


Dua hal itu yang membuat seorang Nicko Dilbara bisa bertahan sampai sekarang. Nicko Dilbara ini menjadi satu-satunya penguasa dunia bisnis.


Sementara untuk Rolando Santa. Sifatnya dan karakternya tak jauh beda dengan Nicko Dilbara dan Samuel Frederick.


Jika Nicko Dilbara rela melakukan apa saja untuk memenuhi ambisinya, sekali pun harus menyakiti keluarga sendiri.


Samuel Frederick melakukan bisnis kotor dan kecurangan-kecurangan lainnya bersama Pamannya yaitu Gustavo Frederick demi membalaskan kematian ayahnya kepada Darren dan ketujuh sahabatnya.


Namun untuk Rolando Santa. Dibalik dia ingin membalaskan kematian ayahnya. Rolando Santa juga melakukan bisnis kotor dan kecurangan-kecurangan selama ini untuk memenuhi kebutuhannya dan kebutuhan adik laki-lakinya yaitu Roger Santa.


Rolando hanya memiliki Roger, adik laki-laki satu-satunya. Dia sudah tidak memiliki orang tua lagi, walau Rolando Santa dan Roger Santa masih memiliki Paman dan Bibi dari pihak ayahnya. Dan Bibi dari pihak Ibunya. Mereka semua begitu menyayangi Rolando dan Roger seperti anak-anak mereka sendiri. Namun bagi Rolando itu belum cukup jika bukan kedua orang tua kandungnya.


Sejak kedua orang tuanya meninggal, terutama ayahnya tujuh tahun yang lalu. Rolando Santa pergi meninggalkan keluarga ayah dengan membawa adik laki-lakinya bersamanya untuk memulai hidup baru berdua dengan adik laki-lakinya. Dia melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhannya dan adik laki-lakinya.


Satu tahun berjuang, Rolando berhasil membangun sebuah perusahaan yang dia inginkan dan juga keinginan ayahnya yang belum tercapai. Di tahun ketiga perusahaannya berkembang begitu pesat.


Di tahun keempat, Rolando Santa bertemu dengan Samuel Frederick. Dari pertemuan itu terjadilah kerjasama. Kerjasama untuk menghancurkan Darrendra Smith dan ketujuh sahabatnya.


"Kapan kamu akan memperlihatkan rekaman itu kepada Rolando? Kakak sudah tidak sabaran untuk menyelesaikan masalah ini. Mereka terlalu lama dibiarkan melakukan apa yang mereka mau selama ini," ucap dan tanya Noe.


Mendengar ucapan dari Noe membuat Darren paham. Begitu juga dengan yang lainnya. Bukan hanya Noe yang ingin menyelesaikan masalah ini. Mereka juga sama seperti Noe yang ingin menyelesaikan masalah tersebut.


Darren tersenyum sekilas ketika mendengar pertanyaan dari Noe. "Hari ini. Aku juga sama seperti kakak Noe yang ingin segera menyelesaikan masalah ini. Aku sudah benar-benar lelah."


Darren seketika menghempaskan tubuhnya ke punggung sofa. Dan memejamkan matanya sejenak.


"Aku capek. Aku sudah nggak kuat menghadapi banyak masalah dalam hidupku. Masalah selalu saja datang. Dan nggak pernah habis-habisnya."


Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua menjadi sedih. Mereka menatap Darren khawatir dan juga takut.


"Mama. Aku merindukan Mama," ucap Darren tiba-tiba.


Mendengar ucapan Darren yang menyebut dirinya merindukan ibunya membuat mereka semua menangis, terutama keluarga Smith.

__ADS_1


"Mama, aku lelah. Aku sudah nggak kuat. Boleh aku menyerah?!"


Deg!


Mereka semua dibuat terkejut akan perkataan Darren yang mengatakan bahwa dia ingin menyerah. Air mata mereka makin deras membasahi wajahnya ketika mendengar perkataan dari Darren.


"Ren," lirih ketujuh sahabatnya.


Erland bangkit dari duduknya lalu menghampiri putranya. Setelah itu, Erland duduk di samping putranya itu.


Erland menarik tubuh putranya itu dan membawanya ke dalam pelukannya.


Darren yang merasakan tubuhnya di peluk seseorang. Dan Darren tahu siapa orang yang memeluk tubuhnya, seketika tangisannya pun pecah.


"Papa, aku benar-benar tidak kuat. Aku sakit, Papa! Aku sakit..." adu Darren kepada ayahnya dan disertai isak tangisnya.


Air mata Erland jatuh membasahi wajahnya. Hatinya terasa sesak mendengar aduan dari putra kesayangannya.


"Belva, aku mohon padamu. Apapun yang terjadi nanti. Jangan ambil Darren. Jangan bawa dia pergi bersamamu. Biarkan Darren tetap bersamaku. Dia berhak untuk hidup lebih lama lagi. Dan dia juga berhak untuk meraih kebahagiaannya. Dan kebahagiaannya itu bersama Brenda."


Erland berucap sembari berdoa di dalam hatinya. Dia benar-benar takut jika putranya benar-benar memilih untuk menyerah.


"Kamu pemuda yang kuat. Kamu tidak akan menyerah hanya karena masalah yang sedang kamu hadapi sekarang ini. Kamu sudah berjuang selama ini. Perjuangan kamu sungguh-sungguh luar biasa. Jadi, Papa mohon. Kamu tidak boleh menyerah. Bagaimana kalau musuh-musuh kamu itu menertawaimu. Kamu tidak mau kan?"


Erland berusaha menghibur dan memberikan ketenangan kepada putranya. Dia tahu saat ini putranya benar-benar lelah. Bukan hanya lelah tubuhnya, melainkan lelah pikiran juga.


Darren hanya diam di dalam pelukan ayahnya. Dia sama sekali tidak memberikan respon apapun. Saat ini dia tidak bisa memikirkan apapun.


Darren seketika melepaskan pelukan ayahnya. Lalu menatap wajah tampan ayahnya itu. Dan jangan lupakan air matanya yang jatuh membasahi wajahnya.


"Aku benar-benar lelah, Papa! Tubuh dan pikiran aku, semuanya sakit. Aku tidak baik-baik saja," ucap Darren dengan menatap wajah ayahnya dengan air matanya yang mengalir.


"Sekarang katakan padaku. Apa alasanku untuk tetap bertahan di dunia ini?"


Erland menghapus air mata putranya lalu mengecup kedua kelopak mata putranya itu.


"Banyak alasan untuk kamu bertahan di dunia ini, sayang! Pertama untuk Papa dan Mama Agneta. Papa dan Mama Agneta sudah kehilangan Mama kamu dan Papa dan Mama Agneta tidak ingin kehilangan kamu juga. Walau pada akhirnya kita semua akan pergi meninggalkan dunia ini. Tapi setidaknya kita punya hak untuk hidup bahagia di dunia ini dan melakukan hal-hal positif. Pergi jika memang kita harus pergi. Tapi jika waktu kita masih panjang, sebaiknya kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Kedua untuk ketujuh sahabat-sahabat kamu. Ketujuh sahabat kamu sangat membutuhkan kamu. Mereka tidak ingin kamu pergi dan menyerah begitu saja. Apa kamu tidak kasihan terhadap mereka. Ketiga untuk keenam kakak-kakakmu. Mereka pasti akan sedih jika melihat adik laki-lakinya menyerah begitu saja. Adik laki-lakinya pergi meninggalkannya. Dan mereka tidak ingin kamu pergi. Keempat untuk kelima kakak-kakak mafia kamu. Mereka pasti akan terpukul akan kepergian kamu. Mereka begitu menyayangi kamu layaknya saudara kandung."


"Dan satu hal alasan yang paling penting yang membuat kamu harus memilih bertahan. Kamu mau tahu itu apa, hum?"


Darren menatap lekat wajah ayahnya. "Apa?"


Erland tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua paham akan pertanyaan dari Erland tersebut.


"Brenda! Perempuan yang begitu mencintai kamu. Apa kamu tega meninggalkan Brenda setelah dia berjuang selama ini untuk mendapatkan cinta kamu? Dia melakukan banyak hal diluar sana tanpa kamu dan keluarganya tahu. Dan pada akhirnya dia berhasil mendapatkan cinta kamu. Setidaknya, lakukan demi Brenda. Berjuang demi perempuan yang sudah berjuang untuk kamu selama ini."


Erland menatap lembut wajah basah putranya. Kedua tangannya mengusap-usap kedua pipi putih putranya itu.


"Jadi Papa mohon sama kamu. Tetaplah bersama Papa. Tetaplah baik-baik saja. Jangan menyerah sebelum waktunya kamu untuk pergi." Erland menangis menangis ketika mengatakan hal itu kepada putranya.


Darren mengalihkan perhatiannya untuk menatap semua orang yang ada di ruang tamu. Mulai dari keenam kakak laki-lakinya, kelima adik laki-lakinya, ibunya, Paman dan Bibinya, ketiga saudara sepupunya, ketujuh sahabatnya dan semua yang ada di hadapannya.


Melihat Darren yang menatap mereka. Mereka semua dengan kompak memberikan senyuman tulus untuk Darren.


"Tetaplah bersama kami! Disini!" seru mereka semua secara bersamaan.


"Kakak Darren nggak boleh menyerah," ucap Melvin.

__ADS_1


"Kakak Darren adalah kakaknya Ivan yang paling kuat," ucap Ivan.


"Jangan menyerah dan jangan pernah tinggalkan kami," ucap Adrian.


"Aku sayang kakak Darren. Aku ingin kakak Darren selalu ada disisiku," ucap Mathew.


"Kakak Darren nggak boleh pergi kemana-mana. Tetaplah bersama kami," ucap Nathan.


Seketika Darren tersenyum. "Aku akan bertahan demi kalian semua. Tapi dengan satu syarat," ucap Darren memberikan penawaran.


"Apa? Katakanlah!" seru mereka semua.


"Jangan pernah menjauhiku. Jangan pernah pergi meninggalkanku apapun yang terjadi. Tetaplah bersamaku."


Mendengar ucapan dari Darren membuat mereka semua tersenyum bahagia. Dan dengan kompaknya mereka langsung mengabulkan keinginan Darren tersebut.


"Baiklah!"


"Sesuai permintaanmu!"


Darren tersenyum menatap semua orang yang juga kini menatap dirinya.


"Baiklah. Mari kita lanjutkan rencana untuk menghancurkan Nicko Dilbara dan Rolando Santa.


"Hm!"


Mereka semua bergumam sembari menganggukkan kepalanya.


Dan setelah itu, mereka semua pun memulai merencanakan untuk membuat kedua musuh-musuhnya itu keluar dari sarangnya.


Darren pun mengirim rekaman penyiksaan Roger kepada Rolando Santa. Dia juga tidak lupa mengatakan kepada Rolando untuk menemuinya di tempat yang dulu mereka bertemu.


Sementara Ziggy memerintahkan dua tangan kanannya dan beberapa anggota mafianya langsung menyerang kediaman Robert Dilbara. Setelah itu, Ziggy meminta mereka untuk membawa paksa Robert Dilbara ke markas.


Baik Darren, ketujuh sahabatnya, kelima kakak-kakak mafianya beserta yang lainnya akan menyelesaikan masalahnya dengan Rolando Santa dan Nicko Dilbara hari ini juga. Mereka tidak akan menunggu besok atau besoknya lagi.


Disaat Darren dan yang lainnya sedang mempersiapkan kejutan untuk Rolando Santa dan Nicko Dilbara.


***


Disisi lain Nicko Dilbara dan Rolando Santa juga melakukan hal yang sama. Di tempat yang berbeda dan di waktu yang sama, baik Rolando Santa maupun Nicko Dilbara sama-sama tengah merencanakan untuk menghancurkan Darren dan ketujuh sahabatnya.


Sampai detik ini, baik Rolando Santa maupun Nicko Dilbara belum mengetahui bahwa mereka berdua sudah kalah. Mereka sudah tidak memiliki anak buah lagi.


Terakhir Nicko Dilbara mendapatkan pesan dari salah satu tangan kanannya. Isi pesan itu mengatakan bahwa mereka berhasil menjalan tugasnya.


Mendapatkan pesan dari salah satu tangan kanannya dan mendengar berita itu membuat Nicko Dilbara begitu sangat bahagia. Dia tidak tahu bahwa yang mengirim pesan itu bukanlah tangan kanannya, melainkan Carly tangan kanannya Devian yang mengirim pesan itu dengan membajak ponsel milik tangan kanannya Nicko Dilbara.


Bukan hanya Carly yang berhasil membajak ponsel milik tangan kanannya Nicko Dilbara.


Diaz tangan kanannya Noe juga membajak ponsel milik tangan kanannya Rolando Santa. Dengan mereka membajak ponsel milik tangan kanannya Rolando Santa dan Nicko Dilbara, mereka akan tahu rencana apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


"Bersiap-siaplah kalian. Sebentar lagi kehancuran kalian akan mendatangi kalian."


Rolando Santa dan Nicko Dilbara berucap secara bersamaan di tempat yang berbeda.


Baik Rolando Santa maupun Nicko Dilbara telah mengirim pesan kepada tangan kanannya masing-masing untuk menyerang rumah milik keluarga Smith, rumah keluarga dari ketujuh sahabat Darren dan kediaman pribadi Darrendra Smith.

__ADS_1


Namun sebaliknya itu, perintah yang diberikan oleh Rolando Santa dan Nicko Dilbara justru berbalik ke mereka berdua. Justru rumah merekalah yang akan diserang.


__ADS_2