
Darren sudah berada di jalan. Dia mengendarai mobilnya dalam kecepatan tinggi. Pikirannya saat ini tertuju kepada pria yang telah menghubunginya beberapa menit yang lalu.
Darren fokus pada pandangannya ke depan dengan tangannya memegang kuat stir mobilnya. Darren saat ini benar-benar marah terhadap orang yang menghubunginya itu.
Ketika Darren fokus mengendarai mobilnya, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah yang tidak diketahui mengarah kearah mobilnya.
Dor.. Dor..
Dor..
Akibat tembakan tersebut membuat mobil Darren oleng dan berakhir Darren membanting stir ke kiri dan berakibat mobil tersebut menghantam tiang listrik dengan keras.
"Sshhh!" ringis Darren saat merasakan kepala membentur stir mobil dengan kuat. Darah mengalir deras dari sudut kening Darren akibat benturan tersebut.
Darren masih dalam keadaan sadar, walau merasakan sakit di kepala dan di bagian bahunya akibat mendapatkan satu tembakan.
Darren melepaskan safety belt. Setelah terlepas, Darren kemudian membuka pintu mobilnya. Berlahan Darren keluar dari dalam mobilnya.
***
Erland, Davin dan Andra yang berada di ruang kerjanya masing-masing tiba-tiba merasakan perasaan tak enak. Ketiga seketika mengkhawatirkan Darren.
Prang..
Erland tak sengaja menyenggol bingkai foto putra ketujuhnya yaitu Darren, Davin yang memegang gelas karena dirinya hendak minum tiba-tiba jatuh, sedangkan Andra yang sedang mengecek beberapa berkas tiba-tiba bayangan adik kelincinya dalam keadaan sakit berputar-putar di kepalanya sehingga membuat fokusnya hilang.
"Darren!"
Di ruangan yang berbeda dan di tempat yang sama. Erland, Davin dan Andra menggumam nama Darren. Mereka seketika kepikiran Darren.
Baik Davin maupun Andra memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya. Keduanya tiba-tiba teringat akan ayahnya. Mereka berpikir bahwa ayahnya pasti memiliki perasaan tak enak akan adiknya, sama seperti mereka.
Cklek..
Suara pintu ruang kerja yang dibuka oleh Davin dan Andra. Setibanya diluar baik Davin maupun Andra bertemu karena ruang kerja mereka berjarak beberapa meter saja.
"Apa kakak ingin ke ruangan Papa?"
"Iya, Ndra!"
"Apa kakak merasakan hal yang sama sepertiku?"
"Iya. Kakak tiba-tiba kepikiran Darren. Perasaan kakak mengatakan bahwa terjadi sesuatu terhadap Darren."
"Aku juga merasakan hal itu, kak!"
"Ya, sudah! Lebih baik kita ke ruangan Papa. Kemungkinan Papa juga merasakan hal itu."
Setelah itu, Davin dan Andra melangkah menuju ruang kerja ayahnya. Mereka mengkhawatirkan ayahnya itu setiap kali mengkhawatirkan adik kesayangannya.
__ADS_1
***
Qenan dan Willy masih dalam perjalanan. Mereka masih mencari keberadaan Darren. Beberapa detik kemudian..
Qenan dan Willy melihat sebuah mobil yang mereka kenal yang dalam keadaan tak baik-baik bagian depannya.
Seketika Qenan dan Willy membelalakkan matanya ketika melihat kondisi mobil tersebut. Ditambah lagi ketika tatapan matanya melihat Darren yang sudah berada di luar dengan keadaan tak baik-baik saja.
Qenan dan Willy langsung menghentikan mobilnya. Setelah itu, mereka berdua keluar dari dalam mobil masing-masing lalu berlari menghampiri Darren.
"Darren!" teriak Qenan dan Willy bersamaan.
Darren yang mengenali suara tersebut langsung mengalihkan pandangannya menatap keasal suara tersebut. Dapat dilihat olehnya bahwa kedua sahabatnya itu yang datang menyusulnya.
Darren kembali menatap ke depan. Tatapan matanya menelisik sekitarnya. Darren mencurigai bahwa ada beberapa orang yang kini mengawasinya.
"Lo nggak apa-apa?" tanya Qenan.
"Kenapa kalian kemari?"
Bukan jawaban yang diterima oleh Qenan dan Willy. Justru pertanyaan yang diberikan oleh Darren.
"Kita kesini karena khawatir terhadap lo, Ren!" jawab Willy.
"Justru kedatangan kalian kesini hanya untuk mengantarkan nyawa saja," sahut Darren tanpa menatap wajah Qenan dan Willy.
"Kita tidak peduli. Jika hari ini kita ditakdirkan mati. Setidaknya kita sudah berusaha untuk melindungi lo," jawab Qenan.
"Cih!" Darren berdecih ketika mendengar jawaban dari Qenan dan Willy. "Jika kalian mati, terus bagaimana dengan Alice dan Elsa?"
"Lalu bagaimana dengan lo? Kalau lo mati. Bagaimana dengan Brenda? Bagaimana dengan Erica? Erica adalah putri angkat lo. Dia butuh lo, walau ada kita ayah-ayahnya yang lain." Willy langsung membalas perkataan dari Darren.
Prokk.. Prokk..
Prokk..
Terdengar tepuk tangan sehingga membuat Darren, Qenan dan Willy melihat keasal suara. Ketiganya melihat seorang pria dengan beberapa orang di belakangnya. Ada sekitar 4 orang yang dibawa oleh pria itu.
"Nicko Dilbara!" Darren berucap dengan senyuman menyeringai.
Darren, Qenan dan Willy menatap tajam kearah Nicko Dilbara yang saat ini juga menatap tak kalah tajam kearah Darren, Qenan dan Willy.
"Sudah berbincang-bincangnya, hum?" tanya Nicko dengan aksen mengejeknya.
"Dasar banci. Jika kau punya nyali besar, lawan aku sendirian. Tidak perlu membawa orang-orang yang tak berguna itu," ucap Darren dengan tersenyum jahat.
"Jika kau melawanku. Aku jamin kau belum tentu bisa mengalahkanku," Darren kembali berucap sehingga membuat Nicko menggeram marah.
"Brengsek! Serang mereka!"
__ADS_1
Dan pada akhirnya terjadilah pertarungan antara Darren, Qenan dan Willy melawan keempat puluh anak buah Nicko Dilbara.
***
Di kediaman Smith tampak ramai dimana semuanya berkumpul disana. Erland, Davin dan Andra memutuskan untuk pulang ke rumah ketika perasaannya tidak karuan dan tidak baik-baik saja.
Di kediaman Smith berkumpul sahabat-sahabatnya Darren yaitu Jerry, Axel, Dylan, Darel dan Rehan. Elzaro dan kelima sahabatnya, anggota keluarga Radmilo, anggota keluarga Mendez dan anggota keluarga dari ketujuh sahabat-sahabatnya Darren. Dan kelima ketua mafia.
"Apa itu benar, nak Ziggy jika Nicko Dilbara melarikan diri dari penjara?" tanya Eric.
"Benar Paman. Saya mendapatkan kabar ini dari anggota kakak Farraz," jawab Ziggy.
"Darren," ucap Erland dengan suara lirihnya.
"Ponsel Darren, ponsel Qenan dan ponselnya Willy tidak aktif. Ketiganya susah dihubungi sekarang ini," sahut Devian yang sudah berulang kali menghubungi ketiga adiknya itu bergantian.
"Yang aku takutkan disini adalah Darren. Nicko pasti mengincar Darren karena Darren memiliki hubungan dengan Fransisco ayah kandungnya Erica. Sementara untuk Qenan dan Willy juga akan masuk hitungan incaran Nicko karena Qenan dan Willy sahabatnya Darren sekaligus juga rekan kerja Fransisco," sahut Noe.
"Paman Erland, Paman Aldez dan Paman David tidak usah khawatir akan Darren, Qenan dan Willy. Aku sudah memerintahkan dua tangan kananku untuk mengawasi mereka bertiga. Jika terjadi sesuatu terhadap mereka, maka tangan kananku atau salah satu anggota mafiaku akan langsung melaporkannya kepadaku." Ziggy berucap sembari memberikan ketenangan kepada ketiga ayah dari ketiga adiknya.
"Aku juga sudah memerintahkan dua tanganku untuk mencari lokasi Darren, Qenan dan Willy. Kita hanya menunggu kabar dari mereka," sahut Enzo.
Ketika semuanya tengah memikirkan keadaan Darren, Qenan dan Willy. Ponsel milik Enzo berbunyi.
Enzo yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Seketika terukir senyuman di bibirnya ketika melihat nama tangan kanannya di layar ponselnya.
"Bagaimana Zee?"
"Saya dan Lian bersama anggota lainnya. Begitu juga dengan Tory, Billy dan anggotanya sudah berhasil menemukan keberadaan tuan Darren, tuan Qenan dan tuan Willy. Dan benar apa yang dicurigai oleh King Ziggy bahwa Nicko Dilbara mengincar tuan Darren. Saat ini tuan Darren, tuan Qenan dan tuan Willy sedang bertarung melawan 40 anak buah yang dibayar oleh Nicko, King! Keempat puluh anak buah Nicko Dilbara menggunakan senjata tajam. Sedangkan tuan Darren, tuan Qenan dan tuan Willy hanya menggunakan tangan kosong."
"Baiklah, Zee! Awasi terus mereka. Pastikan Darren, Qenan dan Willy tidak terluka."
"Baik, King! Mereka berada di lokasi perempatan jalan Flamboyan."
"Baiklah."
Pip..
Enzo langsung mematikan panggilannya setelah mengetahui lokasi keberadaan ketiga adiknya itu. Enzo langsung berdiri dari duduknya bersamaan mulutnya mengatakan untuk segera pergi ke lokasi.
"Kita pergi sekarang. Ketiga adik kita membutuhkan kita! Mereka berada di perempatan jalan Flamboyan."
"Yang lainnya tetap disini. Anggota keluarga Smith butuh kalian!" seru Chico.
"Hm!"
"Ayo!"
Setelah itu, kelimaa ketua mafia tersebut pergi meninggalkan kediaman Smith untuk menolong Darren, Qenan dan Willy.
__ADS_1
"Darren, Qenan, Willy. Bertahanlah kalian!" batin Ziggy, Noe, Enzo Devian dan Chico.