KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Tatapan Curiga Darren


__ADS_3

[Kampus]


Ketujuh sahabat-sahabatnya Darren saat ini berada di Aula. Mereka berkumpul disana untuk membahas pekerjaan, baik perusahaan Accenture, Galeri dan Showroom.


Qenan menceritakan bagaimana takutnya Darren ketika dirinya mengatakan akan pergi meninggalkan perusahaan Accenture dan bekerja di perusahaan sendiri.


Mendengar cerita dari Qenan tentang Darren yang ketakutan akan tinggal pergi oleh Qenan membuat Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy tertawa. Mereka tidak menyangka jika seorang Darren akan ketakutan seperti itu.


"Hahahahaha."


"Beneran anak kelinci itu ketakutan, Nan?" tanya Willy.


"Jadi lo nggak percaya sama cerita gue?" Qenan balik bertanya kepada Willy.


"Bukan nggak percaya. Hanya saja gue benar-benar nggak nyangka aja Darren segitu takutnya lo pergi ninggalin perusahaan Accenture," ucap Willy.


"Gue bisa dengar dengan jelas nada suaranya ketika ngomong sama gue di telepon. Dari nada suaranya, Darren itu udah nangis," ucap Qenan.


Ketika Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy tengah bercerita tentang Darren. Tanpa disadari oleh mereka semua di luar Brenda tengah menguping pembicaraan mereka. Brenda tidak sendirian, melainkan bersama ketujuh sahabatnya.


Brenda menatap kearah Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy dengan tatapan jahil. Dan detik kemudian, terlintas ide jahat di otaknya.


"Bebeb, kita jadikan jalan-jalan ke mall pulang dari kampus?"


Brenda sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy yang saat ini sedang membicarakan Darren.


Sementara ketujuh sahabatnya yaitu Alice, Elsa, Vania, Tania, Lenny, Milly dan Felisa berusaha untuk tidak tertawa.


Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy yang saat ini berada di dalam sontak terkejut ketika mendengar suara Brenda yang sedang berbicara dengan kekasihnya.


Baik Qenan, Axel, Jerry maupun Dylan, Rehan, Darel dan Willy berpikir jika Brenda sedang berbicara dengan Darren.


Dan detik kemudian, mereka semua melihat kearah Brenda yang tengah berdiri di depan pintu Aula. Mereka dapat melihat Brenda yang sedang tersenyum sembari sesekali kepalanya diletakkan di dada seseorang.


Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy secara bersamaan menelan kasar ludahnya. Bahkan mereka semua merapalkan doa agar Darren tidak mendengar apa yang mereka bicarakan barusan.


Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy saling lirik dan memberikan kode untuk menghampiri Darren.


Dan pada akhirnya, Axel bangkit dari duduknya dan melangkah kearah pintu dimana Darren dan Brenda sedang bermesraan. Sementara Qenan, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy mengikuti dari belakang.


"Darren, lo udah dari...."


Perkataan Axel terhenti ketika dirinya tidak melihat keberadaan Darren. Hal itu sukses membuat Axel mengumpat kesal.


"Sialan lo Brenda!" teriak Axel.


"Hahahahaha."


Akhirnya tawa Brenda dan ketujuh sahabatnya pecah. Sedari tadi mereka menahan tawa melihat wajah takut Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy ketika mendengar nama Darren disebut


Qenan, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy melihat keluar. Dan benar, Darren sama sekali tidak ada.


Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy menatap horor kearah Brenda dan ketujuh sahabatnya.


"Dasar kunti sialan lo," ucap Qenan dan Willy bersamaan.


"Cewek gila," ucap Dylan.


"Dasar manusia kera," ucap Darel sembari mengejek Brenda dengan memperagakan seperti monyet.


"Parah lo... Parah lo." Axel dan Jerry berucap sambil menunjuk-nunjuk kearah Brenda.


"Untung aja pacar lo sianak kelinci itu. Jika orang lain, udah gue buang lo ke sungai amazon," ucap Rehan.

__ADS_1


Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy kembali menduduki pantatnya di tempat semula. Mereka benar-benar kesal akan ulah Brenda dan ketujuh sahabatnya.


Sementara Brenda dan ketujuh sahabatnya masih tertawa melihat wajah kesal Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy.


Setelah itu, Brenda dan ketujuh sahabatnya melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Dan bergabung dengan Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy yang masih kesal.


"Yaelah! Gue bercanda kali. Sorry... Sorry."


"Bercanda lo garing, Brenda!" sahut Axel.


"Iya, ya! Maafin gue. Seharusnya kalian berterima kasih ke gue," ucap Brenda.


"Hah! Terima kasih sama cewek kunti kayak lo. Yang benar aja." Dylan berucap dengan nada ngegas kearah Brenda.


"Woi, kurus! Jika Darren yang terlebih dahulu yang datang, lalu Darren dengar obrolan kalian. Apa yang bakal terjadi. Pasti akan terjadi perang mulut antara anak kelinci melawan tujuh kurcaci jelek. Nah! Kebetulan gue dan ketujuh sahabat gue yang datang dan langsung menghentikan acara gosip kalian."


Mendengar perkataan kejam dari Brenda membuat Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy mendengus.


Sementara Alice, Elsa, Vania, Lenny, Milly, Vania, Felisa dan Tania hanya tersenyum melihat Brenda yang masih terus menjahili Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy.


Ketika sedang menatap satu persatu wajah kesal ketujuh sahabatnya Darren. Elsa melihat kearah Qenan. Dan tanpa diduga-duga, Qenan juga menatap kearah dirinya.


Melihat Qenan menatap kearahnya, Elsa langsung mengalihkan perhatiannya melihat kearah lain.


"Sial. Kenapa jantung gue nggak karuan gini ketika Elsa menatap gue. Bahkan tatapan Elsa berbeda dari yang sebelumnya," batin Qenan.


Qenan masih terus memperhatikan wajah cantik Elsa. Dan tanpa disadari oleh Qenan, Brenda sedari tadi memperhatikan dirinya yang tengah mencuri pandang kearah Elsa.


"Eemmm." Brenda tersenyum bak iblis menatap kearah Qenan.


"Woi, hitam. Ngapain lo lihat-lihat sahabat gue. Naksir lo ya!"


Mendengar perkataan sarkas Brenda. Seketika Qenan langsung membuang wajahnya kearah lain.


Sedangkan Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel dan Willy langsung menatap wajah Qenan. Dan dapat dilihat oleh mereka wajah Qenan yang merah karena malu.


"Maafin gue, Qenan!" Elsa berucap di dalam hatinya.


***


[Di Perjalanan]


Darren saat ini dalam perjalanan menuju kampusnya. Darren tidak sendirian, melainkan bersama kedua kakaknya yaitu Gilang dan Darka.


Ketika Gilang tengah fokus mengendarai mobilnya, tiba-tiba seseorang menyeberang tanpa melihat kiri dan kanan sehingga membuat Gilang reflek menginjak rem mobilnya.


SREEKK!


SKIITT!


DUGH!


Darka dan Darren mengalami insiden kepala yang terbentuk di jok kursi.


"Yak! Gilang, apa-apaan sih? Bisa nyetir nggak?"


"Yak, Kakak Gilang! Kenapa berhentiin mobilnya mendadak sih?"


Gilang melihat kearah Darka yang duduk di sampingnya dan beralih melihat adiknya yang duduk di belakang melalui kaca spionnya. Terlihat gurat khawatir di wajahnya.


"Darka, kamu nggak apa-apa?"


"Ya, aku nggak apa-apa."

__ADS_1


"Darren, kamu nggak apa-apa?"


"Aku nggak apa-apa, kakak Gilang! Memangnya kenapa sih?"


Gilang kembali melihat kearah depan. "Tadi ada seorang gadis nyeberang gitu aja," jawab Gilang.


Setelah mengatakan itu, Gilang pun keluar dari dalam mobil. Dan disusul oleh Darka dan Darren.


Ketika mereka berada diluar. Mereka melihat gadis yang barusan menyeberang sembarang tengah kesakitan terduduk di depan mobil yang ditumpangi oleh Gilang, Darka dan Darren.


Gilang menghampiri gadis itu. Sementara Darka dan Darren tetap berdiri di tempatnya.


"Hei, kamu nggak apa-apa. Ada yang sakit?" tanya Gilang.


Gadis itu melihat kearah Gilang. "Ah aku nggak apa-apa. Hanya lututku saja yang sakit."


"Kamu yakin?"


"Iya. Terima kasih."


Ketika Gilang sedang berbicara dengan gadis itu. Sementara Darka dan Darren hanya diam sembari tatapan mata keduanya menatap kearah Gilang. Hanya Darka yang menatap Gilang. Sedangkan tatapan mata Darren mengarah ke gadis yang kini memegang lututnya.


"Kenapa gadis itu berlari tepat disaat mobil kakak Gilang melintas? Apa gadis ini sengaja?" Darren berbicara di dalam hatinya sembari matanya masih terus menatap kearah gadis itu.


Darka mengalihkan perhatiannya dari tatapannya kearah Gilang dan gadis itu untuk melihat kearah adiknya yang berdiri di sampingnya.


"Darren, kamu beneran nggak apa-apa?" tanya Darka.


Sementara Darren sama sekali tidak mendengar pertanyaan dari kakaknya itu. Matanya masih menatap intens gadis tersebut.


"Darren, kamu dengar kakak nggak?"


Tidak mendapatkan respon dari adiknya. Darka pun menepuk pelan bahu aadiknya itu. Dan itu sukses membuat kesadaran adiknya kembali.


"Ih, kakak Darka. Kaget tahu!"


"Akhirnya kamu kembali juga," sahut Darka.


"Aish! Nggak lucu." Darren mempoutkan bibirnya kesal.


Setelah itu, Darren langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Darka dan Gilang di luar.


Darka tersenyum melihat wajah cemberut adiknya. Inilah disukai oleh Darka. Darka paling suka melihat wajah cemberut adiknya itu. Wajah adiknya itu mirip bocah umur 4 tahun.


Darka kembali melihat kearah Gilang yang saat ini sudah berdiri bersama gadis itu.


"Gimana?" tanya Darka.


Gilang melihat kearah Darka. "Gadis ini baik-baik saja. Nggak ada luka serius," jawab Gilang.


"Darren mana?" tanya Gilang.


"Udah di dalam. Masih lama? Buruan! Ntar telat lagi!"


"Iya, iya!" jawab Gilang.


Gilang melihat kearah gadis itu. "Ach, maaf ya. Sepertinya aku dan kedua saudaraku harus segera ke kampus. Kita udah terlambat."


Mendengar perkataan dari Gilang membuat gadis itu paham.


"Gak apa-apa. Kalau kamu mau pergi. Pergi saja. Saya akan menghubungi kakak perempuan saya untuk menjemput saya disini."


"Ya, sudah kalau begitu. Aku pergi dulu."

__ADS_1


Setelah berpamitan, Gilang pun langsung berjalan menuju mobilnya. Sementara Darka langsung masuk ke dalam mobil ketika melihat Gilang yang berjalan menuju mobil.


Seketika gadis itu tersenyum penuh arti melihat kepergian Gilang.


__ADS_2