
"BRENDA, BANGUN UDAH SIANG!"
Gadis berambut hitam agak ke coklatan, lurus, berkulit putih dan memiliki wajah yang sangat cantik itu harus terpaksa bangun dari tidurnya. Telinganya terasa ingin meledak saat mendengar suara teriakan itu.
"Berisik! Jam berapa sih memangnya? masih pagi juga," ucap Brenda sambil menutupi tubuhnya dengan selimut tebalnya.
Cklek!
Suara pintu kamar Brenda terbuka menampakan seorang laki-laki yang sudah memakai setelan jasnya, lengkap dengan dasinya.
laki-laki itu kemudian berkacak pinggang sambil menatap Brenda dengan tatapan tajam dan kesal.
"Brenda, kamu niat ke kampus nggak? Ini sudah jam berapa? Buruan bangun!"
"Yaelah, kakak Barra. Berisik banget sih kakak! Iya-iya... Ini aku bangun!" Brenda berucap sambil mendudukan tubuhnya, mengucek kedua mata cokelatnya sambil mengumpulkan nyawanya yang masih terkumpul setengah.
Laki-laki yang masuk ke dalam kamarnya Brenda sembari berteriak membangunkan adik perempuannya adalah Barra.
"Lebih dari 15 menit kamu nggak turun. Kakak nggak akan segan-segan untuk ninggalin kamu. Kakak akan langsung pergi ke perusahaan. Kamu nggak lupakan kalau mobil kamu lagi di bengkel. Mama pergi sama kak Maura, kakak Rangga berada di luar negeri. Sementara Raya akan pergi bersama Riana. Nah kamu sendiri pergi sama kakak," omel Barra.
Mendengar perkataan serta penjelasan yang panjang dari kakak laki-lakinya itu membuat Brenda seketika membelalakkan matanya. Di dalam hatinya, Brenda membenarkan semua perkataan kakak laki-lakinya itu.
"Iya," jawab Brenda pelan lalu turun dari tempat tidurnya.
Brenda melangkah menuju kamar mandi dan tak lupa menarik handuk yang terjemur di jemuran handuk yang terletak di dinding depan kamar mandi.
Sementara Barra langsung pergi meninggalkan kamar adik perempuannya ketika melihat adik perempuannya sudah masuk ke dalam kamar mandi.
***
"Papa, Mama. Aku langsung berangkat ke kampus!" teriak Darka.
Mendengar teriakkan Darka. Erland, Agneta, Evan, Carissa, ketiga saudara sepupunya yaitu Daffa, Tristan dan Davian, keempat kakak laki-lakinya yaitu Davin, Andra, Dzaky dan Adnan. Serta kelima adik laki-lakinya yaitu Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin yang sudah berada di meja makan langsung melihat kearah Darka yang berdiri tak jauh dari hadapan mereka. Begitu juga dengan Gilang.
"Sarapan dulu, sayang!" ucap Erland.
"Aku sarapan di Kantin kampus, Papa!" seru Darka.
"Kamu Gilang?" tanya Agneta.
"Aku sama seperti Darka, Mama! Kita sarapan di kampus saja," jawab Gilang.
Mendengar jawaban dan penolakan dari kedua putranya membuat hati mereka sedih terutama Erland.
"Apa kalian sudah tidak mau sarapan pagi bersama Papa? Beberapa hari ini Papa tidak sarapan pagi bersama Darren. Dan sekarang kalian juga akan melakukan hal itu," ucap Erland lirih.
Darka dan Gilang langsung terkejut ketika mendengar pertanyaan dari ayahnya. Mereka tidak menyangka jika ayahnya akan berkata seperti itu.
"Papa," lirih Darka dan Gilang.
"Jika kalian tetap pergi ke kampus sebelum sarapan pagi dan memutuskan sarapan pagi di kampus. Lebih baik Papa tidak sarapan pagi sekalian. Untuk apa Papa sarapan jika anak-anak Papa tidak ikut sarapan pagi bersama Papa," ucap Erland.
"Papa."
Gilang dan Darka langsung berlari menuju ruang makan dan memeluk tubuh ayahnya. Mereka menangis.
"Papa, maafkan aku!" Gilang dan Darka berucap bersamaan.
Gilang dan Darka memeluk ayahnya dan menangis di pelukannya. Sementara Erland yang mendengar ucapan maaf dan isak tangis kedua putranya menjadi tidak tega.
Erland sebenarnya tahu alasan kedua putranya ini tidak ingin sarapan pagi bersama. Kedua putranya ini begitu merindukan adik laki-lakinya. Kedua putranya ini begitu dekat dengan adik laki-lakinya. Setiap kali sarapan pagi, kedua putranya ini pasti merindukan adik laki-lakinya.
Erland mengusap-usap lembut punggung kedua putranya yang saat ini masih menangis terisak. Hatinya begitu hancur mendengar isakan keduanya.
"Papa mengerti perasaan kalian. Dan Papa juga paham kenapa kalian tidak ingin sarapan pagi bersama. Apa yang kalian rasakan, itu juga yang Papa rasakan hari ini dan hari sebelum-sebelumnya. Papa merindukan adik laki-laki kalian. Papa berharap adik laki-laki kalian itu segera kembali."
Mendengar ucapan dan nada lirih sang ayah membuat Gilang dan Darka merasakan sesak dan juga bersalah.
Sementara Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Serta Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian yang mendengar ucapan kerinduan dari Erland, Gilang dan Darka terhadap Darren membuat mereka semua ikut menangis.
Sama halnya dengan Erland, Gilang dan Darka. Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Serta Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian juga sangat merindukan Darren. Mereka ingin Darren segera pulang.
"Darren, putranya Mama!"
"Darren, sayang!"
"Ren."
"Kakak Darren."
***
__ADS_1
Di perjalanan terlihat tujuh motor sport mewah melaju dengan kecepatan sedang. Ketujuh motor sport itu hendak menuju kampus.
Ketujuh motor sport itu adalah Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel.
Di lokasi yang sama namun di tempat yang berbeda terlihat seorang pemuda juga menggunakan motor. Pemuda itu juga hendak menuju kampus.
Namun dipertengahan jalan, tiba-tiba ada beberapa motor yang menghadang jalannya. Jumlah pengendara motor itu sekitar 12 motor. Dan masing-masing berboncengan dua orang.
"Siapa kalian?! Lebih baik kalian minggir. Jangan menghalangi jalanku!" teriak pemuda itu.
"Kami tidak akan pergi dari sini sebelum kami berhasil menjalankan tugas kami!" teriak salah satu pengendara motor itu.
"Memangnya kalian mau apa, hah?!" teriak pemuda itu.
"Melenyapkanmu dari dunia ini!" teriak pengendara motor lainnya.
Mendengar ucapan dari pengendara itu membuat pemuda tersebut membelalakkan matanya, lalu kemudian pemuda itu tersenyum menyeringai.
"Pasti mereka adalah orang suruhan pria itu. Eemm... Mau menyingkirkanku ya? Kita lihat saja Endingnya nanti. Siapa yang bakal menang." pemuda itu berucap di dalam hatinya.
Pemuda itu menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya itu dengan masih menggunakan helm nya.
"Yakin bisa melenyapkanku dari dunia ini, hum? Bagaimana jika kalian yang pergi dari dunia ini untuk selamanya. Aku janji akan membuat kalian pergi tanpa merasakan sakit apapun," ucap pemuda itu.
Mendengar ucapan dan ejekan dari pemuda yang ada di hadapannya membuat pengendara motor tersebut menatap marah pemuda itu.
"Brengsek! Serang!"
Pemuda berkendara motor itu langsung turun dari motornya masing-masing dan berlari menghajar pemuda yang hanya sendirian.
Mendapatkan serangan beruntun membuat pemuda itu langsung turun dari motornya dan menghajar orang-orang yang hendak menyerangnya.
Pemuda itu memberikan pukulan demi pukulan kepada orang-orang yang hendak memukulnya. Pemuda itu tidak akan membiarkan tubuhnya disentuh atau pun terluka.
Disisi lain dimana Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel yang masih melajukan motor sportnya di jalan raya yang arahnya mengarah dimana seorang pemuda yang bertarung dengan 24 orang-orang yang tidak dikenal.
Seketika Axel menghentikan laju motornya ketika matanya tak sengaja melihat ada perkelahian di depan. Dan yang membuat Axel terkejut adalah seorang pemuda yang bertarung sendirian melawan 24 orang-orang yang berpakaian hitam.
Melihat Axel yang tiba-tiba menghentikan motornya membuat Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel juga ikut menghentikan laju motornya.
"Xel, ada apa? Kenapa berhenti?" tanya Jerry.
Axel tidak menjawab pertanyaan dari Jerry. Tatapan matanya masih fokus menatap kearah depan dimana seorang pemuda yang bertarung sendirian melawan 24 orang-orang yang berpakaian hitam.
"Wah, gila! Bisa mati tuh cowok!" seru Dylan yang melihat orang-orang yang berpakaian hitam itu dengan sangat brutalnya menyerang satu orang yang menjadi sasarannya.
"Eh, tunggu!" seru Darel tiba-tiba dengan tatapan matanya menatap ke depan.
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry dan Rehan langsung melihat kearah Darel. Mereka penasaran apa yang akan disampaikan oleh Darel.
"Ada apa, Rel?" tanya Willy.
"Coba lihat pemuda itu. Dan perhatikan baik-baik. Dari gaya pemuda itu bertarung sama persis dengan Darren. Tidak jauh beda," ucap Darel.
Qenan, Willy, Dylan, Jerry dan Rehan melihat kearah pemuda itu. Sementara Axel memang sejak tadi tidak lepas tatapan matanya menatap pemuda itu.
"Darren!"
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel secara bersamaan menyebut nama Darren.
"Apa itu kamu, Ren!"
Qenan menghidupkan kembali mesin motornya. Setelah hidup, Qenan melajukan motornya kearah para orang-orang yang masih menyerang pemuda itu.
Melihat Qenan yang sudah bertindak. Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel pun melakukan hal yang sama.
Motor sport mereka melaju mengarah kearah orang-orang yang menyerang pemuda itu.
Sesampainya disana, baik motor Qenan, motor Willy, motor Axel maupun motor Dylan, motor Jerry, motor Rehan dan motor Darel mengelilingi orang-orang tersebut dengan mengencangkan bunyi deru mesin motornya sehingga membuat orang-orang yang menyerang pemuda itu marah.
"Brengsek! Siapa kalian?!" teriak salah satu orang-orang itu.
Bukannya pergi Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel makin mengencangkan tangannya di stang motor dan makin menderukan mesin motornya.
Sementara pemuda yang sejak tadi bertarung kini menatap ketujuh motor sport tersebut. Di dalam hatinya berpikir 'siapa mereka'.
Beberapa detik kemudian, Qenan dan keenam sahabatnya mematikan mesin motornya. Kemudian mereka dengan kompaknya membuka helmnya yang dipakai.
"Maaf jika kami mengganggu kesenangan kalian semua," ucap Dylan dengan aksen mengejeknya.
"Kalian payah. Masa kalian menyerang seseorang yang hanya sendirian secara bersamaan. Satu-satu dong," ucap Darel berucap sembari tersenyum meremehkan.
__ADS_1
"Tidak usah ikut campur. Lebih baik kalian pergi dari sini!" bentak salah satu orang-orang yang berpakaian hitam itu.
"Oooo... Takut."
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel secara bersamaan menutup mulutnya seolah-olah mereka takut akan bentakkan dari pria itu.
"Brengsek! Kalian, serang ketujuh pemuda itu. Dan sisanya bersamaku menyerang pemuda tadi!" teriak laki-laki itu.
"Baik!"
Setelah itu, mereka semua kembali menyerang para musuhnya. Kini penyerangan mereka menjadi beberapa kelompok.
Pertarungan makin memanas dimana Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry Rehan dan Darel memberikan pukulan-pukulan mereka tepat di perut dan di wajah lawannya sehingga membuat para lawannya mengerang kesakitan.
Tak jauh beda dengan Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel. Pemuda yang ditolong tersebut juga memberikan pukulan-pukulannya. Bahkan sedikit tendangan kearah musuh-musuhnya.
Beberapa menit kemudian...
Pertarungan selesai dimana semua orang-orang yang sok hebat dan sok jago kalah dalam keadaan tubuhnya tak baik-baik saja.
"Lebih baik kalian pergi dari sini?" teriak Axel.
Seketika para orang-orang yang hendak menghabisi pemuda itu pun pergi meninggalkan lokasi. Dan kini tinggal Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersama pemuda itu.
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel melihat kearah pemuda itu yang juga melihat kearah mereka.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jerry.
Pemuda itu tidak langsung menjawabnya. Justru pemuda itu terus menatap ketujuh pemuda yang ada di hadapannya dengan masih menggunakan helm.
"Aku Willy. Kamu siapa?"
Mengetahui nama dari salah satu ketujuh pemuda yang ada di hadapannya itu membuat pemuda itu akhirnya membuka helm miliknya.
Deg!
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel seketika terkejut ketika melihat wajah dari pemuda yang mereka tolong.
Seketika setetes liquit bening mengalir membasahi wajah tampan mereka.
"Darren," ucap mereka bersamaan dengan suara lirihnya.
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung berlari menghampiri Darren lalu kemudian mereka memeluk erat tubuh sahabatnya itu.
"Ren, kita kangen lo!" seru Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.
Pemuda itu seketika terkejut ketika tubuhnya tiba-tiba saja dipeluk oleh ketujuh pemuda yang telah menolongnya. Dan pemuda itu lebih terkejut lagi ketika mendengar ketujuh pemuda itu memanggilnya dengan nama Darren.
"Lepaskan."
"Biarkan seperti ini sebentar, Ren!"
"Iya, Ren!"
"Kita rindu sama lo."
"Aku bilang, lepas!" ucap pemuda itu
"Ren....,"
"Lepas!" bentak pemuda itu.
Mendengar bentakan dari Darren membuat Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel langsung melepaskan pelukannya. Mereka menatap wajah Darren yang terlihat tak bersahabat.
"Ren," ucap Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel bersamaan.
"Maaf kalau aku kasar sama kalian. Bahkan aku sudah membentak kalian. Dengan berat hati aku mengatakan bahwa aku bukan Darren yang kalian sebut itu. Namaku adalah Askara Eleon Mendez."
Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel terkejut ketika mendengar perkataan dari Darren. Hati mereka benar-benar hancur ketika Darren yang tidak mengenali mereka sama sekali.
"Ren, lo...." Axel menangis menatap wajah Darren.
"Sekali lagi maafkan aku. Aku bukan Darren. Aku Askara. Permisi!"
Setelah mengatakan itu, Askara kembali memakai helmnya sembari melangkah menuju motor sportnya.
Sementara Qenan, Willy, Axel, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel menatap punggung Askara/Darren dengan air mata yang mengalir membasahi wajahnya.
Bruk!
Seketika tubuh Axel terkulai lemah dan terjatuh di aspal dengan posisi bersujud. Hatinya benar-benar hancur melihat sahabat terbaiknya tidak mengenali dirinya.
__ADS_1
"Ren," isak Axel.
"Darren." Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Rehan dan Darel tak kalahnya terisaknya.