KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Mempersiapkan Peperangan


__ADS_3

Di kediaman Wiilian terlihat Aldez William bersama istri dan ketiga putranya bersiap-siap untuk tidur. Mereka saat ini berada di ruang tengah.


Ketika mereka ingin melangkah meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamar masing-masing, tiba-tiba ponsel milik Qenan berbunyi.


Mendengar ponselnya berbunyi, Qenan langsung melihanya. Terlihat di layar ponselnya nama 'kakak Zoya'.


"Kenapa kakak Zoya menghubungiku malam-malam begini?" batin Qenan.


Setelah itu, Qenan pun langsung menjawab panggilan dari Zoya.


"Hallo, kakak Zoya. Ada apa?"


"Qenan. Sekarang dengarkan kakak baik-baik dan jangan protes. Sekarang Kakak minta kau dan anggota keluargamu, termasuk para pekerja di rumahmu pergi sekarang juga ke rumah keluarga Darren. Malam ini anak buah pamannya Samuel akan menyerang keluargamu. Samuel dan pamannya sudah memberikan perintah untuk membunuhmu dan seluruh anggota keluargamu."


"Apa? Lalu bagaimana dengan Axel, Willy, Rehan, Dylan, Jerry, Darel dan keluarga mereka?"


"Keluarga mereka juga diserang. Samuel dan pamannya sengaja melakukan penyerangan sekaligus agar kalian tidak bisa saling bantu. Sekarang pergilah. Mereka akan melakukan penyerangan pukul 12 malam!"


"Baik, Kakak."


Setelah itu, baik Qenan maupun Zoya sama-sama mematikan panggilannya.


"Papa, Mama, Kakak Aaron, Kakak Raka! Kita malam ini ke rumah keluarga Darren. Samuel dan pamannya akan menyerang rumah kita malam ini. Rumah sahabat-sahabatku juga diserang. Mereka menyerang secara bersamaan agar kita tidak bisa saling membantu. Tujuan kita ke rumah Darren agar kita bisa bersama-sama menyerang balik Samuel dan pamannya beserta orang-orangnya." Qenan memberitahu anggota keluarganya.


"Brengsek!" umpat serta amarah Aaron dan Raka bersamaan.


"Baiklah. Kita ke rumah Darren sekarang," sahut Aldez.


"Kakak Raka, beritahu para security!


"Baik." Raka pun langsung memberitahu para security melalui alat pemanggil.


"Kakak akan memberitahu para pelayan!" seru Aaron.


***


Di sebuah rumah kecil yang terletak tak jauh dari lokasi markas milik utama Samuel terliha 4 pemuda yang tengah mengawasi dan mendengar percakapan dua orang. Dua orang itu adalah Samuel dan Gustavo.


Keempat pemuda itu adalah adalah Zoya, tangan kanannya Noe Alfredo. Zidan, tangan kanannya Chico Emilio. Lian, tangan kanannya Enzo Federico dan Yohanes, tangan kananny Devian Aldebaran.


"Bagaimana, Zoya?" tanya Zidan.


"Aku sudah menghubungi Qenan. Sekarang aku akan menghubungi Dylan." Zoya menjawab pertanyaan dari Zidan sembari fokus menatap layar ponselnya


"Kenapa kau harus bersusah payah menghubungi mereka satu-satu, bodoh! Ada yang mudah, tapi kau memilih yang sulit. Video Call mereka semua. Selesai urusan." Lian berucap dengan begitu kejam.


Mendengar perkataan dari Lian membuat Zoya mendengus kesal, tapi tetap melakukan apa yang diucapkan oleh Lian.


Zoya menghubungi Dylan, Jerry, Axel, Rehan, Darel dan Willy melalui Video Call. Sementara Yohanes dan Zidan hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Lian dan Zoya.


"Hallo, Kakak Zoya. Ada apa?" tanya Willy.


"Iya, kakak Zoya. Ada apa?" tanya Rehan.


"Begini. Samuel dan Pamannya, Gustavo akan menyerang rumah kalian malam ini sekita pukul 12 malam. Dan Kakak minta pada kalian semua. Sekarang juga kalian semua bawa keluarga kalian dan para pelayan serta security untuk pergi ke rumah keluarga Darren. Kakak tadi sudah menghubungi Qenan."


"Samuel dan Pamannya mengirim pasukannya ke rumah kalian masing-masing 200 orang. Sementara sisanya akan menyerang keluarga Darren. Samuel dan Pamannya memiliki 2500 pasukan."


Mendengar kabar yang disampaikan oleh Zoya membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika Samuel dan Pamannya akan membunuh mereka semua.

__ADS_1


"Brengsek," umpat penuh amarah Willy dan Rehan.


"Sialan kau Samuel," ucap Jerry, Axel, Dylan dan Darel bersamaan.


"Ini bukan waktunya untuk kalian marah-marah. Waktu kalian sangat singkat malam ini. Buruan! Tinggalkan rumah kalian dan pergi ke rumah keluarga Darren. Jika kalian semua berada di sana. Maka besar kemungkinan kalian bisa mengalahkan anak buah Samuel dan Gustavo. Kakak dan yang lainnya sudah menghubungi para kakak-kakak mafia kalian."


"Baik, Kak!" seru Willy, Rehan, Darel, Jerry, Dylan dan Axel bersamaan.


PIP!


Panggilan dimatikan secara sepihak oleh Zoya.


Setelah mendapatkan panggilan dari Zoya. Dylan, Axel, Jerry, Willy, Rehan dan Darel pun langsung memberitahu anggota keluarganya. Apa yang mereka dengar dari Zoya. Itu juga yang mereka sampaikan kepada anggota keluarganya.


***


Di kediaman keluarga Smith tampak lengang dan sepi. Semua para penghuni sudah terlelap di kamar masing-masing. Hanya ada satu orang yang masih bernyawa alias masih melek. Orang itu adalah Darren.


Darren saat ini tengah mengerjakan beberapa berkas untuk rapat siang besok agar tidak berhimpitan dengan jadwal tugasnya lainnya. Ditambah lagi tugas Kampusnya.


Darren memilih untuk menyelesaikannya malam ini. Lagian matanya belum mengatuk. Dibawa tidur pun tidak akan bisa.


Ketika Darren tengah fokus sama tugasnya, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan suara bell rumahnya.


TING! TONG!


TING! TONG!


"Siapa yang bertamu malam-malam begini." Darren berbicara sembari melihat kearah jam dindingnya. "Ini sudah pukul 10 malam."


TING! TONG!


TING! TONG!


Darren tidak langsung ke lantai bawah. Justru Darren menuju ruangan kamera CCTV dan kamera PENGINTAI.


Sementara di lantai bawah. Kedua orang tuanya, paman dan bibinya, para kakak-kakaknya dan adik-adiknya sudah berada di ruang tengah. Mereka semua terbangun karena mendengar suara bell rumah.


"Siapa yang datang malam-malam begini?" tanya Carissa.


"Yang datang adalah sahabat-sahabatku bersama anggota keluarga mereka!" seru Darren sembari melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.


Mendengar perkataan Darren. Mereka semua melihat ke arah Darren yang tengah menuruni anak tangga.


Sementara Gilang langsung pergi menuju ruang tamu untuk membukakan pintu ketika mendengar perkataan dari adiknya itu.


"Jadi kamu sudah tahu jika mereka ingin datang, sayang?" tanya Erland.


"Aku tidak tahu, Papa. Tapi sepertinya akan ada sesuatu yang besar terjadi malam ini," jawab Darren dengan ekpresi wajah yang sulit diartikan.


DEG!


Mereka terkejut mendengar ucapan dari Darren. Seketikan mereka semua menjadi panik dan juga takut.


"Darren, sayang. Kenapa kamu bicara seperti itu, Nak?" tanya Erland yang menatap wajah putranya.


Kini Darren sudah berada di bawah dan bergabung bersama keluarganya.


"Aku tidak tahu, Papa. Tapi perasaanku tidak enak. Apalagi melihat kedatangan Axel, Jerry, Dylan, Rehan, Darel, Qenan dan Qilly bersama seluruh anggota keluarga mereka. Bahkan para pelayan dan security mereka." Darren menjawab pertanyaan dari ayahnya dengan tatapan ke depan.

__ADS_1


KRIINGG!


KRIINGG!


Tiba-tiba telepon rumah Darren berbunyi. Mendengar suara telepon rumah berbunyi, Dzaky langsung mengangkatnya.


"Hallo, Ini siapa?"


"Hallo, bisa bicara dengan Darren. Ini Lian."


"Ooh. Tunggu sebentar ya."


Setelah itu, Dzaky pun langsung melihat kearah Darren. Begitu juga dengan Darren.


"Darren. Ini katanya dari Lian!"


Darren berjalan menghampiri Dzaky, kemudian mengambil ganggang telepon tersebut.


"Hallo, Kak Lian."


"Hallo, Ren. Akan ada penyerangan malam ini. Samuel dan Pamannya akan menyerang rumahmu dan rumah sahabat-sahabatmu secara bersamaan. Mereka ingin membunuhmu, sahabat-sahabatmu beserta seluruh anggota keluargamu."


"Dan saat ini pasti sahabat-sahabatmu beserta keluarga mereka telah sampai di rumahmu."


"Iya, kak."


"Zoya telah memberitahu sahabat-sahabatmu dan Zoya juga meminta mereka untuk datang ke rumahmu agar kalian dan kita semua bisa melawan Samuel dan Pamannya beserta anak buahnya secara bersama-sama."


"Iya. Aku mengerti, Kakak Lian."


"Kau dan yang lainnya tidak perlu khawtir. Keenam kakak-kakak mafiamu sudah tahu masalah ini. Dan sekarang mereka telah menyiapkan para mafiosonya untuk datang ke rumahmu dan membantai habis semua anak buah Samuel dan pamannya."


"Ya, sudah. Kakak tutup teleponnya. Kau bicarakan masalah ini dengan keluargamu dan sahabat-sahabatmu. Persiapkan segala keperluan untuk menyerang Samuel dan pamannya beserta anak buahnya."


"Baik, Kakak."


TUTT!


TUTT!


Setelah berbicara dengan Lian. Seketika tersirat kemarahan di wajah Darren. Kedua tangannya mengepal kuat.


BUGH!


PRAANGG!


Darren meninju kuat kaca yang ada di dinding di hadapannya sehingga kaca tersebut pecah dan berserak di atas lemari hias.


Melihat Darren yang tiba-tiba memukul kaca tersebut membuat Erland dan anggota keluarganya yang lainnya terkejut dan juga berteriak.


"Darren!"


"Brengsek kau, Samuel!" teriak Darren.


Mereka semua menatap sedih dan khawatir Darren. Agneta berlari mengambil kotak p3k untuk mengobati tangan putranya.


Ketika mereka semua menatap khawatir Darren dengan Agneta mengobati tangan Darren. Detik kemudian, mereka mendengar suara panggilan.


"Darren," panggil Qenan dan Willy secara bersamaan.

__ADS_1


Baik Darren maupun anggota keluarganya melihat ke arah Qenan dan Willy.


Qenan, Willy datang bersama sahabat-sahabatnya yang lainnya dan juga anggota keluarga masing-masing.


__ADS_2