
Keesokan harinya dimana keluarga Smith akan melakukan aktifitasnya seperti biasa yaitu sarapan pagi bersama. Dan sarapan pagi kali ini bersama dengan anggota keluarga Mendez.
Semuanya sudah berada di meja makan, kecuali satu orang yaitu Darren. Darren masih berada di dalam kamarnya.
"Aku akan ke kamar Darren," ucap Darka lalu beranjak dari duduknya.
Namun ketika Darka hendak pergi, terdengar suara langkah kaki menuju kearah ruang makan. Dan dengan kompak semua yang ada di ruang makan langsung menolehkan wajahnya melihat keasal suara.
Seketika terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing ketika melihat sosok pemuda yang begitu mereka sayangi, mereka hormati, mereka segani dan mereka hargai. Siapa lagi kalau bukan Darren.
Darren saat ini tengah sibuk dengan ponselnya. Dirinya tengah mengetik sesuatu disana, maka dari itulah tidak ada dari mereka yang mengganggu atau hanya sekedar menjahilinya. Mereka berpikir jika Darren tengah mengetik sesuatu mengenai pekerjaannya di kantor.
Setelah Darren mengetik sesuatu di layar ponselnya, Darren melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Pukul enam tiga puluh. Waktu yang luar biasa. Semua pekerjaanku selesai. Tersisa dua lukisan lagi," ucap Darren dengan senyuman manis di bibirnya.
Benar dugaan anggota keluarga Smith jika Darren tengah mengerjakan tugas kantornya. Untung saja mereka bisa menahan diri untuk tidak menjahili kesayangannya itu, terutama kelima adik laki-lakinya itu. Karena mereka yang selalu mencari ribut dengan menjahili Darren setiap pagi.
Selesai dengan urusannya, Darren pun melangkahkan kakinya kembali menuju meja makan. Dan ketika tatapan matanya menatap kearah ruang makan, semua yang ada di meja makan melihat kearah dirinya lengkap dengan senyuman yang tercetak di bibir masing-masing.
Darren yang melihat semua orang tersenyum menatap dirinya hanya bisa membalas dengan ekspresi bingungnya.
Setelah tiba di kursi miliknya, Darren langsung menduduki pantatnya. Sementara semua orang masih menatapnya dengan senyuman.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilanku pagi ini?" tanya Darren sembari memasukkan roti yang sudah diolesi oleh Agneta ke dalam mulutnya.
Mendengar pertanyaan dari Darren membuat mereka semua berpura-pura terkejut secara berjamaah. Bahkan mereka juga secara bersamaan menjawab pertanyaan dari Darren tersebut sehingga membuat Darren kesal.
"Tidak!"
Darren menatap satu persatu anggota keluarga Mendez. "Bagaimana tidur kalian semalam?"
"Sangat baik, Ren!"
Para anggota keluarga Mendez menjawab dengan kompak.
"Ach, syukurlah! Semoga kalian nyaman disini."
"Kami sangat nyaman berada disini, Askara!" seru Mehdy.
"Apalagi ada kamu. Kamu itu orangnya yang memiliki auranya buat orang nggak bisa lupain kamu. Selalu aja ingat kamu," sahut Monica menggoda Darren.
Mendengar ucapan dari Monica membuat Darren memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Sementara Monica dan yang lainnya tersenyum melihat wajah Darren yang pasrah akan ucapan dari Monica.
"Makanya cari pacar," ucap Darren.
"Apa hubungannya?" jawab Monica.
"Ada hubungannya. Kamu tadi bilang kalau wajahku ini punya aura yang buat orang termasuk kamu selalu kangen padaku." Darren berucap sembari bertanya kepada Monica.
"Iya, terus? Dimana letak hubungan aku harus cari pacar?" tanya Monica yang masih belum paham.
Sementara anggota keluarga Smith dan anggota keluarga Mendez lainnya hanya tersenyum mendengar perang mulut antara Darren dan Monica sembari tetap menikmati sarapan paginya.
"Ada. Kamu kangennya sama orang yang sudah punya pacar. Dengan kata lain kamu kangen padaku yang jelas-jelas milik cewek lain. Bagaimana kalau pacar aku marah karena kamu selalu merindukanku? Bisa-bisa kamu diamuk tuh sama pacarku. Kamu nggak tahu aja bagaimana pacarku kalau sudah marah. Dia sudah seperti singa kelaparan yang siap menerkam mangsanya."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren membuat Monica mendengus kesal. Bisa-bisa Darren berbicara seperti. Kan Monica takut.
"Yeeeyy! Aku kan rindu sama kamu bukan rindu layak seseorang yang lagi kasmaran. Tapi rindu aku sama kamu itu layaknya seorang saudari perempuan terhadap saudara laki-lakinya," sahut Monica.
"Yeeeyy! Sejak kapan aku jadi saudara kamu? Kamu berasal dari keluarga Mendez. Sedangkan aku berasal dari keluarga Smith. Dua keluarga yang berbeda," jawab Darren.
"Yeeeyy! Apa kamu lupa kalau kamu itu sudah dianggap cucu dan putra oleh kakek Reymond, Daddy Baren dan Daddy Yufal. Bahkan nama kamu adalah Askara Eleon Mendez," jawab Monica tak mau kalah.
"Yeeeyy! Apa kamu lupa kalau sekarang ini statusku adalah Darrendra Smith bukan Askara Eleon Mendez. Ingatanku sudah kembali. Jadi mana berlaku lagi status itu terhadapku di keluarga Mendez? Bahkan sekarang ini kamu dan keluarga Mendez berada di keluarga Smith."
"Mana bisa begitu. Aku putra kandung dari Erland Faith Smith. Dan selama akan tetap menjadi putra dari Erland Faith Smith."
Melihat dan mendengar perang mulut antara Darren dan Monica yang tak berkesudahan membuat semuanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan menepuk jidat masing-masing.
Disaat Monica ingin membalas perkataan dari Darren, Dzaky sudah terlebih dulu mengambil tindakan.
Ting!
Ting!
Ting!
Dzaky memukul sebanyak tiga kali gelas minumannya dengan sendok makan yang di pegangnya sembari berkata.
"Pertandingan selesai. Silahkan kedua peserta perang mulut untuk menyantap sarapan paginya," sahut Dzaky dengan menatap wajah Darren dan Monica.
Mendengar ucapan dari Dzaky membuat Darren dan Monica melihat menghentikan perdebatannya dan langsung melihat kearah Dzaky.
"Siapa yang perang mulut, kakak Dzaky? Kita nggak lagi perang mulut. Hanya saja aku sekedar memberitahu Askara bahwa dia adalah bagian dari keluarga Mendez. Itu aja."
__ADS_1
"Iya, kakak Dzaky tahu. Tapi percuma saja kamu mengatakan hal itu. Sampai mulut kamu mengeluarkan busa. Kamu nggak akan pernah bisa mengalahkan setiap jawaban-jawaban yang diberikan oleh Darren kepada kamu," ucap Dzaky.
"Jika kamu memiliki lima ratus pertanyaan untuk Darren, maka Darren akan memiliki lebih dari seribu jawaban untuk mematahkan lima ratus pertanyaan dari kamu itu." Adnan ikut bersuara.
Mendengar perkataan dari Dzaky dan Adnan membuat Monica langsung mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia membenarkan apa yang dikatakan kedua kakak laki-laki Darren. Sudah terbukti ketika dia dan Darren beberapa detik yang lalu habis selesai berperang mulut.
Sementara Darren sudah tersenyum lebar ketika mendengar perkataan dari kedua kakak laki-lakinya itu ketika kedua kakak laki-lakinya itu mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan aksi debatnya.
"Tuh kamu lihat sendiri bagaimana bahagianya dia ketika kita berdua memujinya barusan," sahut Adnan sembari menunjuk kearah Darren dengan dagunya.
Mereka semua melihat kearah Darren yang memang saat ini tengah tersenyum. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
"Jadi kita harus banyak-banyak sabar jika sudah berhadapan dengan yang namanya Darrendra Smith. Semua yang kenal dan dekat dengan Darren hanya bisa sabar dan ngelus dada," ucap Gilang menambahkan.
Ketika mereka tengah menikmati sarapan paginya sembari mengobrol, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi.
Darren langsung menghentikan sarapannya lalu mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah ada di tangannya, Darren melihat nama orang yang bertugas menjaga dan mengawasi Adrian dan Mathew selama diluar rumah. Orang itu adalah Robby.
"Kenapa Robby menelponku?" batin Darren.
Setelah itu, Darren langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya yang bertugas melindungi Adrian dan Mathew.
"Hallo, Robby. Ada apa?"
Mendengar sang kakak laki-laki menyebut nama Robby. Adrian dan Mathew langsung saling memberikan tatapan. Keduanya tahu nama itu.
"Kakak Adrian. Nama Robby itu bukannya orang yang menjaga dan melindungi kita selama di luar rumah?" tanya Mathew di telinga sang kakak.
"Iya. Tapi kenapa tuan Robby menghubungi kakak Darren? Apa ada masalah?" tanya Mathew.
"Mungkin saja," jawab Adrian.
"Ada berita buruk, Bos!"
"Berita buruk apa? Katakan!"
Mendengar ucapan dari Darren seketika membuat anggota keluarga Smith menatap Darren dengan wajah khawatir. Begitu juga dengan anggota keluarga Mendez.
Mathew kembali membisikkan sesuatu di telinga Adrian. "Tuh kan! Benar! Ada masalah lagi!" ucap Mathew.
"Lima teman-teman sekolahnya tuan Adrian dan tuan Mathew yang beberapa bulan lalu pernah dihajar oleh tuan Adrian dan tuan Mathew. Dua diantaranya meninggal dua hari yang lalu karena kecelakaan. Dan yang lebih parahnya, keluarga dari dua anak itu menuduh tuan Adrian dan tuan Mathew sebagai pelakunya. Bahkan mereka sudah membuat laporan ke kantor polisi."
__ADS_1