KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Menyelesaikan Masalah Saskia


__ADS_3

"Nyonya, anda sudah datang?" sapa seorang security kediaman Egger.


Wanita itu adalah Samantha Egger, adik perempuan dari Delvian Egger. Dia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Siapa saja di dalam?"


"Seperti biasa Nyonya. Hanya Nyonya Shireen dan nona muda Saskia yang tidak ada."


"Apa?!" Samantha terkejut ketika mendengar ucapan dari security itu yang mengatakan bahwa kakak ipar dan keponakannya tidak ada di rumah kediaman Egger.


"Kemana mereka? Apa manusia-manusia busuk itu mengusir kakak iparku dan keponakanku?"


"Nyonya Shireen dan....." perkataan security itu terpotong karena seseorang datang lalu langsung memotongnya.


"Mereka ada di Apartemen saya, Bibi Samantha!"


Samantha dan security itu langsung melihat keasal suara. Dan dapat dilihat oleh Samantha dua orang laki-laki yang berbeda usia.


"Siapa dia?"


"Pemuda yang lebih muda itu bernama Elzaro Adelino. Dia kekasihnya nona muda Saskia," jawab security itu.


Mendengar jawaban dari security kediaman Egger membuat Samantha seketika tersenyum.


Pemuda yang berteriak sembari berucap itu adalah Elzaro Adelino bersama pengacaranya yaitu Reiki Altezza.


"Akhirnya kita bertemu, Bi! Kenalkan namaku Elzaro Adelino Radmilo."


"Ternyata dia keturunan Radmilo," batin Samantha.


"Saya Samantha Egger yang sekarang berubah menjadi Samantha Louis. Saya adik perempuannya Delvian Egger."


"Senang bertemu dengan Bibi."


"Saya juga senang bertemu denganmu. Bagaimana kabar kakak iparku dan keponakanku?"


"Selama mereka tinggal di Apartemen milikku, mereka dalam keadaan baik-baik saja."


"Ach, syukurlah!"


Elzaro menatap kearah rumah besar milik keluarga Egger. Setelah itu, Elzaro kembali menatap kearah Samantha.


"Apa tujuan Bibi sama dengan tujuanku?" tanya Elzaro.


"Menurutmu?"


Samantha menatap wajah Elzaro. Begitu juga dengan Elzaro. Keduanya saling memberikan tatapan sembari tersenyum menyeringai.


***


Darren saat ini bersama dengan ketujuh sahabat-sahabatnya, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda di kantin. Sejam yang lalu mereka habis mengikuti materi kuliah kedua selama dua jam.


Mereka kini tengah menikmati makan siangnya sembari mengobrol dan sedikit dibubuhi lelucon.


"Ren," panggil Dylan.


"Hm." Darren berdehem sebagai jawabannya.


"Terima kasih ya," ucap Dylan.


Darren seketika menghentikan makannya. Begitu juga dengan yang lainnya. Secara bersamaan, mereka semua melihat kearah Dylan yang saat ini tengah menyeruput es buah.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Darren yang benar-benar melupakan kejadian kemarin.


"Terima kasih karena lo udah nolongin Camila, sepupu gue."


Seketika Darren membelalakkan matanya, tersadar akan kelupaan setelah menolong Camila, sepupunya Dylan.


"Oh, iya! Aku lupa. Bagaimana keadaannya sekarang? Dia baik-baik saja kan? Apa dia ada cerita kronologi kejadiannya?" tanya Darren.


"Bukan Camila, melainkan sopirnya yang menceritakan kronologinya. Sementara untuk Camila, sepertinya dia masih syok akan kejadian itu."


"Apa mungkin Camila syok saat aku menghajar orang-orang itu? Secara saat kejadian itu, sosok Rendra muncul dan mengambil alih tubuhku."

__ADS_1


"Masalah itu aku belum tahu. Camila belum cerita."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren dan Dylan membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Darel dan Rehan bingung dan penasaran. Begitu juga dengan Brenda, Elsa, Alice, Felisa, Milly, Lenny, Vania dan Tania.


"He, kalian ngomong apa sih?!" tanya Darel.


"Memangnya Camila kenapa?" tanya Rehan.


"Apa yang terjadi?" tanya Axel.


Mendengar pertanyaan dari Darel, Rehan dan Axel seketika membuat Darren dan Dylan langsung menatap ketiganya, lalu kemudian menatap para gadis.


"Kemarin mobil Camila dicegat di jalan. Orang yang mencegat mobil Camila tak lain teman sekolahnya. Mereka ada berempat dan salah satunya menyukai Camila."


Deg..


Mendengar cerita dari Dylan membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Darel dan Rehan terkejut.


"Bagaimana dengan keempat orang itu, Ren?" tanya Qenan.


"Kemungkinan tiganya tewas di tempat. Tapi gue nggak tahu juga. Sementara yang satunya hampir mampus. Gue ninggalin mereka karena ingin membawa Camila ke rumah sakit."


"Oh iya, Ren! Kemarin lo juga ada meeting kan dengan beberapa rekan kerja di perusahaan Micro Sinopec. Apa lo...." perkataan Willy terhenti karena Darren sudah terlebih dulu bersuara.


"Gue terlambat, tapi Steven meng-handle dengan sangat baik. Meeting berjalan lancar."


"Lo terlambat karena habis nolongin Camila kan, Ren!" Dylan berucap sembari menatap wajah Darren.


Darren tersenyum ketika mendengar ucapan dari Dylan. "Gue nggak masalah akan hal itu, Lan! Nyawa lebih penting dari apapun. Camila itu adalah sepupu lo. Dan lo adalah sahabat gue. Jadi udah seharusnya gue nolongin sepupu lo itu."


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Darren membuat Dylan tersenyum bahagia. Begitu juga dengan yang lainnya. Baik Dylan maupun Qenan, Willy, Axel, Jerry, Darel dan Rehan bersyukur memiliki Darren di kehidupannya.


Darren menatap wajah Dylan dan dapat dia lihat wajah Dylan yang tampak sedih sekaligus bahagia.


"Jangan perlihatkan tampang lo seperti itu di hadapan gue. Jijik gue."


Bugh..


Dylan seketika melempar Darren dengan remasan tisu yang ada di atas meja ke wajah tampan Darren. Dirinya benar-benar kesal akan ucapan sahabat kelincinya itu, padahal dia sedang terharu. Justru dirusak.


Darren tersenyum melihat wajah Dylan. Dirinya benar-benar bahagia saat melihat wajah kesal sahabatnya itu.


"Bagaimana kalau nanti malam kita kencan massal?!" usul Darren dengan menatap wajah sahabat-sahabatnya, Brenda dan juga sahabat-sahabatnya Brenda.


Mendengar usulan dari Darren seketika membuat Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan tersenyum. Begitu juga dengan Brenda, Elsa, Alice, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania.


"Kami setuju!" seru Brenda, Elsa, Alice, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania semangat.


"Yuklah!" Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan bersamaan.


"Oke! Kita akan pergi sekitar pukul 7 malam. Dan kita langsung bertemu di Cafe favorit kita," ucap Darren.


"Siap!" Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan, Elsa, Alice, Vania, Felisa, Lenny, Milly dan Tania.


"Dan kamu sayangku. Bersiap-siaplah. Aku akan jemput kamu jam setengah tujuh." Darren berbicara sembari menatap wajah cantik Brenda yang duduk di sampingnya.


"Siap sayangku," jawab Brenda.


"Hueekk!" ledek Qenan, Willy, Axel dan Jerry.


"Pret!" ledek Dylan, Darel dan Rehan.


Mendengar ledekan dari Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan membuat Brenda mendengus.


"Aish!"


***


Plaak..


"Aakkhhh!" ringis seorang wanita paruh baya akibat tamparan keras dari seorang wanita yang tiba-tiba datang ke kediaman Egger.


"Lupa ya akan status asli kalian sehingga kalian menganggap rumah ini dan seluruh kekayaan keluarga Egger milik kalian!" bentak Samantha dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


"Sialan kau?! Siapa kau sebenarnya, hah?!" teriak anak perempuan pertama dari wanita paru baya itu.


"Aku?" tanya Samantha sembari menunjuk kearah dirinya sendiri.


"Jangan main-main kau!" bentak anak perempuan keduanya.


Anak perempuan pertama dari wanita paruh baya itu menatap kearah Elzaro dengan tatapan matanya yang tajam.


"Elzaro, siapa dia?! Kenapa kau membawa kesini? Memangnya kau pikir ini rumah tempat penampungan, hah?!"


Mendengar ucapan sekaligus bentakan dari perempuan tersebut membuat Elzaro tersenyum meremehkan.


"Dan kau juga. Kenapa datang lagi ke rumah ini. Kedua perempuan busuk itu sudah tidak disini. Bukankah kau sudah membawanya pergi!"


Elzaro melihat kearah Samantha yang berdiri di sampingnya. Begitu juga dengan Samantha. Keduanya tersenyum. Termasuk pengacara mereka masing-masing.


Setelah itu, Elzaro dan Samantha kembali menatap kearah tiga perempuan, satu laki-laki yang berstatus suami dari anak perempuan pertama dari dari wanita paruh baya itu dan tiga orang yang berstatus sebagai sanak saudaranya.


"Aku adalah Samantha Egger, putri kedua dari Benjamin Egger. Tujuan kedatanganku kemari adalah untuk mengusir kalian dari rumah ini. Kalian tidak punya hak apa atas semua kekayaan keluarga Egger. Kalian bukan keturunan asli keluarga Egger. Yang berhak atas semua kekayaan keluarga Egger adalah aku, anak-anakku, kakak iparku Shireen Egger dan keponakanku Saskia Alexa Egger."


Mendengar ucapan dari Samantha membuat wanita itu dan kedua anak perempuannya seketika tertawa. Begitu juga dengan menantu dan sanak saudaranya.


"Jangan mimpi!" bentak anak perempuan pertama.


"Seharusnya aku yang berbicara seperti itu. Bukan kau, wanita sialan!" bentak Samantha balik.


"Semua kekayaan keluarga Egger sudah sah menjadi milik kami!" teriak wanita paruh baya itu.


"Semua kekayaan tuan Benjamin secara hukum milik Nyonya Samantha dan anak-anaknya dan milik Nyonya Shireen dan putrinya Nona Saskia Alexa Egger." seketika pengacara yang dibawa Samantha langsung membuka suara.


Wanita itu, kedua anaknya, menantunya dan tiga saudaranya langsung melihat kearah laki-laki yang berdiri di samping Samantha.


"Siapa kau?!"


"Aku pengacara tuan Benjamin. Sebelum Tuan Benjamin meninggal, beliau telah membuat dua surat wasiat. Surat wasiat yang pertama hanya bertuliskan nama putra sulungnya yaitu Tuan Delvian Egger. Surat wasiat yang kedua bertuliskan nama dua anaknya yaitu Tuan Delvian Egger dan Nyonya Samantha Egger. Perempuan yang berdiri di samping saya ini adalah Nyonya Samantha Egger."


Deg..


Wanita paruh baya itu, kedua anaknya, menantunya dan tiga saudaranya terkejut dan tak percaya akan perkataan laki-laki tersebut.


"Jangan bohong kau!" bentak wanita paruh baya itu.


"Disini yang berbohong itu adalah kalian. Kalian dengar sadar memalsukan isi surat wasiat itu sehingga kalian bisa menguasai semua kekayaan keluarga Egger."


"Bukan kau saja. Kalian bekerja sama dengan pengacara Tuan Benjamin yang terdahulu karena kalian berpikir bahwa surat wasiat yang pertama sudah sah menjadi milik Tuan Delvian Egger sehingga kalian bisa mengubahnya atau memalsukannya." Reiki Altezza pengacara Elzaro ikut bersuara.


"Sebenarnya surat wasiat yang asli adalah surat wasiat yang kedua yang mana isinya bertuliskan nama Tuan Delvian Egger dan Nyonya Samantha Egger. Dalam surat wasiat itu juga tertulis bahwa jika Tuan Delvian dan Nyonya Samantha meninggal dunia, maka semua kekayaan keluarga Egger otomatis jatuh ke tangan anak-anaknya."


Mendengar ucapan demi ucapan sekaligus penjelasan dari dua pengacara di hadapannya membuat wanita paruh baya itu, kedua anaknya, menantunya dan tiga saudaranya terkejut bersamaan dengan gelengan kepala.


"Tidak! Itu tidak mungkin!"


"Itu adalah kenyataannya, penipu!" bentak Elzaro.


"Penipu tetaplah penipu. Beribu-ribu kali pun mengatakan tidak. Semuanya tidak akan pernah berubah," ucap Samantha.


Elzaro memanggil beberapa anggotanya yang dia bawa bersama dirinya dan pengacaranya untuk masuk ke dalam rumah. Dia ingin menyelesaikan masalah ini secepat mungkin agar calon ibu mertuanya dan calon istrinya bisa kembali pulang ke rumah ini.


"Kalian, masuklah!" Elzaro memanggil anggotanya itu melalui earphone yang terpasang di telinganya.


Dan tak butuh lama, masuklah sekitar 25 laki-laki berpakaian hitam.


"Bos!"


"Seret mereka semua keluar dari rumah ini. Bawa mereka langsung ke kantor polisi. Setibanya di kantor polisi, serahkan langsung kepada kapten polisi bernama Farraz Chaim. Aku sudah menceritakan semuanya pada beliau."


"Baik, Bos!"


Setelah itu, semua anggota Elzaro menarik paksa wanita paruh baya itu, kedua anaknya, menantunya dan tiga saudaranya.


"Tidak!"


"Lepaskan!"

__ADS_1


Elzaro dan Samantha tidak mempedulikan teriakan dari wanita paruh baya itu, kedua anaknya, menantunya dan tiga saudaranya. Justru mereka tersenyum penuh kemenangan.


__ADS_2