
Darren sudah bergabung bersama dengan anggota keluarganya, kekasihnya dan juga para sahabatnya di ruang tengah.
Semua anggota keluarganya menatap dirinya untuk meminta penjelasan tentang gadis kecil yang dibawa olehnya.
"Ren. Sekarang ceritakan kepada kita semua. Siapa gadis kecil itu?" ucap dan tanya Davin.
"Atau jangan-jangan!" seru Adrian dan Mathew tiba-tiba.
Mendengar seruan dari Adrian dan Mathew. Mereka semua menatap keduanya, termasuk Darren.
"Jangan-jangan apa?" tanya Darren yang sudah menatap tajam kedua adiknya itu.
"Kakak Darren pasti menculik gadis kecil itu di jalan," sahut Adrian.
"Setelah kakak Darren berhasil. Kakak Darren membawanya pulang. Dan setelah itu......" perkataan Mathew terpotong.
"Setelah itu aku akan meminta uang tebusan kepada keluarganya. Begitu?" ucap dan tanya Darren dengan menatap tajam Mathew.
Baik Adrian maupun Mathew dengan kompaknya menganggukkan kepalanya dengan semangat.
Mendapatkan jawaban dari kedua adiknya itu membuat Darren makin menatap tajam keduanya. Di dalam hatinya, bisa-bisanya keduanya mempunyai pikiran seperti itu.
"Yak! Apa yang kau katakan barusan, hah?! Kau pikir kakakmu ini tidak punya uang sampai nekat menculik anak orang!" teriak Darren melengking di ruang tengah.
Mendengar teriakan dari Darren. Mereka semua menutup telinga masing-masing, termasuk Adrian dan Mathew.
"Hei, saudara Adrian dan saudara Mathew! Apa anda-anda berdua lupa siapa saya? Saya adalah Darrendra Smith, pemilik perusahaan Accenture, pemilik Darren Galery Of Art, pemilik perusahaan Micro Sinopec, pemilik perusahaan lokomotif dan pemilik Showroom mobil dan motor sport mewah. Jadi dengan begitu aku tidak butuh uang haram, karena aku memiliki banyak uang!"
Darren berbicara sembari menyebutkan satu persatu usaha yang dimilikinya. Dan jangan lupa tatapan matanya yang masih menatap tajam kedua adiknya itu.
Sementara anggota keluarganya, kekasihnya dan para sahabatnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala ketika mendengar perkataan darinya.
Bagaimana dengan Adrian dan Mathew? Sudah dipastikan keduanya menatap syok Darren ketika mendengar Darren dengan bangganya menyebutkan semua jenis usahanya itu.
"Sombongnya," sahut Mathew setelah sadar dari syoknya.
Setelah itu, Mathew menyandarkan punggungnya ke punggung sofa dan kembali ke layar ponselnya.
"Iya. Kau benar, Mathew. Kakak Darren benar-benar sombong. Buktinya tadi kakak Darren dengan bangga menyebutkan satu persatu usaha di depan kita semua," ucap Adrian yang juga menyandarkan punggungnya ke punggung sofa dan bermain dengan ponselnya.
Mendengar perkataan Adrian dan Mathew membuat Darren mendengus. Kenapa hari ini kedua adiknya itu berubah menyebalkan.
Darren kembali menatap ayah dan kakak laki-laki tertuanya. Darren pun mulai menjelaskan siapa gadis kecil yang dibawanya itu.
"Gadis kecil itu bernama Anin Mondella. Anin adalah putri tunggal dari rekan kerjaku dari perusahaan FN'MD Crop yang bernama Fransisko Mondella," ucap Darren.
"Terus kenapa kamu membawanya kemari, Ren? Nanti jika orang tuanya mencarinya, bagaimana? Kakak nggak mau kamu mendapatkan masalah dari keluarga dari gadis kecil itu. Apalagi perusahaan kamu dan perusahaan dari ayah gadis kecil itu menjalin kerja sama." Andra berucap sembari menatap wajah adiknya khawatir.
__ADS_1
Mendengar perkataan dan nada khawatir Andra. Darren hanya tersenyum menanggapinya.
"Kedua orang tuanya tidak akan datang untuk menjemput Anin. Tidak akan pernah. Selamanya!" Darren berucap dengan wajah sedihnya.
Mendengar perkataan dan wajah sedih Darren membuat semua anggota keluarganya menatap khawatir dan juga penasaran.
"Ada apa, sayang? Ceritakan kepada Papa dan kita semua," tanya Erland.
"Iya, Ren! Ceritakan kepada kita semua. Ada apa?" sahut Daffa.
"Tuan Fransisko yang berstatus rekan kerjaku dan sekaligus ayah dari Anin telah meninggal," jawab Darren
Deg!
Mereka semua, kecuali Brenda, ketujuh sahabatnya dan sahabatnya Brenda terkejut.
"Wanita yang mengasuh Anin datang ke kampus. Wanita itu menceritakan semuanya kepadaku dan di depan teman-teman kampusku bahwa kediaman Mondella diserang semalam sehingga menewaskan semua yang ada di kediaman itu."
"Sebelum istri dari tuan Fransisko meninggal. Istri tuan Fransisko menyuruh pengasuh putrinya untuk pergi membawa putrinya melalui pintu rahasia. Bahkan istri tuan Fransisko sudah membakar semua foto-foto putrinya agar tidak bisa dilacak oleh orang-orang itu."
Mendengar cerita dari Darren membuat mereka semua sedih akan kehidupan gadis kecil itu.
"Terus pengasuhnya Anin itu tahu dari mana kampus kamu, Ren?" tanya Davian.
Darren menatap satu persatu anggota keluarganya. Dan ketujuh sahabatnya.
Mereka terkejut mendengar Darren yang mengatakan bahwa dirinya kecelakaan mobil.
"Kejadian itu satu tahun lalu. Tuan Fransisko membawaku ke rumahnya, karena jarak rumah sakit sangat jauh dari lokasi kejadian. Setiba di rumahnya, istri tuan Fransisko menghubungi Dokter pribadi keluarganya. Setelah aku sadar, aku memberikan dua kartu kepada tuan Fransisko. Satu kartu namaku dan satu kartu mahasiswaku."
"Aku mengatakan kepada mereka. Jika ada sesuatu atau masalah. Silahkan hubungi salah satu alamat di kartu itu. Dan kemungkinan saat kejadian dimana kediaman Mondella diserang. Istri dari tuan Fransisko seketika teringat kepadaku dan langsung mengambil dua kartu yang aku berikan kepada suaminya dan memberikannya kepada pengasuh putrinya."
Mendengar cerita dari Darren membuat mereka semua menjadi paham dan mengerti. Bahkan di dalam hati mereka masing-masing merutuki orang-orang yang sudah membunuh kedua orang tua dari gadis kecil itu.
"Lalu pengasuhnya kemana? Kenapa tidak sekalian diajak?" tanya Carissa.
"Pengasuh itu mengatakan jika dia bersama Anin, maka orang-orang itu akan lebih mudah menemukan Anin. Dan usaha dari istri tuan Fransisko yang membakar foto-foto putrinya sia-sia saja," ucap Darren.
"Maka dari itulah pengasuh itu memintaku menjaga Anin. Sementara Pengasuh itu memutuskan untuk pulang kampung," ucap Darren lagi.
Mereka semua merasakan kesedihan atas apa yang dialami oleh Anin. Gadis kecil berumur 5 tahun.
"Kasihan Anin. Usianya yang terbilang masih kecil sudah hidup tanpa orang tua," ucap Agneta.
Agneta menatap wajah putranya itu. "Mama janji sama kamu, sayang. Mama akan membagi waktu Mama buat Anin. Selama kamu kerja dan kuliah. Mama akan jaga Anin biar Anin tidak merasa asing di rumah ini."
Mendengar penuturan dari ibunya membuat Darren tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Terima kasih, Mama! Aku percayakan Anin sama Mama disaat aku tidak ada di rumah."
"Sama-sama, sayang. Mama akan jaga Anin dengan sangat baik. Anin akan aman sama Mama selama kamu berada di luar rumah."
"Kamu juga tidak perlu khawatir, Ren! Kita juga akan ikut menjaga Anin selama tidak ada kamu di rumah," sahut Dzaky.
"Hm!" anggukan yang didapat oleh Darren dari semua kakak-kakaknya.
"Kami juga akan jagain Anin selama kakak Darren diluar rumah!" seru Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin bersamaan.
"Paman dan Bibi juga akan ikut menjaga Anin," ucap Evan.
"Jadi kamu tidak perlu khawatir. Banyak yang akan menjaga Anin," ucap Carissa.
Darren tersenyum mendengar ucapan demi ucapan dari anggota keluarganya.
"Oh iya. Bibi ada usul. Itu pun kalau kamu setuju," ucap Carissa.
"Usul apa, Bibi?" tanya Darren.
"Setelah apa yang dialami oleh keluarga Mondella. Dan apa yang telah dilakukan oleh ibunya Anin sebelum meninggal. Itu sudah menandakan bahwa ibunya Anin sudah memberikan kepercayaan penuh dan hak atas Anin kepada kamu. Jadi bibi mengusulkan, bagaimana kalau kamu mengangkat Anin menjadi putri angkat kamu. Jadi dengan begitu Anin masih memiliki orang tua dan juga keluarga."
"Dengan kamu menjadikan Anin putri angkat kamu. Kamu akan punya hak lebih atas Anin jika terjadi sesuatu terhadap Anin."
Mendengar usulan dan penjelasan dari Carissa membuat mereka setuju akan usulan tersebut, termasuk ketujuh sahabatnya Darren.
"Ren," panggil Axel.
Darren menatap wajah Axel yang juga menatap dirinya.
"Iya, Xel!"
"Aku setujuh usulan dari Bibi Carissa. Jika kamu menjadikan Anin putri angkatmu, kehidupan Anin akan benar-benar terjamin. Secara Anin itu sudah yatim piatu," ucap Axel.
"Atau kalau kau setuju. Kita semua yang akan menjadi ayah angkat untuk Anin," sahut Jerry.
Mendengar ide dari Jerry membuat mereka semua langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju. Begitu juga dengan Brenda dan ketujuh sahabatnya.
"Ide yang bagus itu. Papa setuju dengan idenya Jerry. Dengan Anin memiliki delapan orang ayah, maka hidupnya Anin akan benar-benar terlindungi. Kita melakukan ini sampai Anin tumbuh menjadi gadis yang cantik," ucap Erland.
"Paman juga setuju," sela Evan.
"Apalagi kami. Kami bahkan lebih setuju lagi. Kami siap menjadi Paman untuk Anin," sahut Tristan, Daffa dan Davian. Dan diangguki oleh keenam kakaknya dan kelima adik laki-lakinya.
Darren seketika tersenyum lebar ketika melihat begitu semangatnya anggota keluarganya, kekasihnya dan para sahabatnya yang mau ikut menjaga Anin.
"Baiklah. Aku menyetujui usulan Bibi Carissa dan Jerry."
__ADS_1