
Di sebuah Apartemen terlihat sepasang suami istri dan tiga anaknya kini tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kota Berlin.
Charlie sudah mengetahui dan menyadari bahwa berkas kerja sama palsu yang telah ditandatangani oleh Liana telah hilang. Dan sebelum berkas itu hilang, Charlie sudah terlebih dahulu membuat duplikatnya atau salinannya. Jadi dengan begitu Charlie tidak merasa takut dan gagal jika dirinya tidak berhasil merebut semua milik Liana.
"Kamu siap, sayang?" tanya Charlie kepada istrinya.
"Dari kemarin-kemarin aku siap, sayang!" Soraya menjawab pertanyaan dari suaminya.
"Apa yang akan kau lakukan kepada mantan sahabatmu itu?" tanya Charlie.
"Yang jelas aku akan membuat wanita sialan itu bersimpuh di kakiku. Dia sudah merebut milikku. Dan aku akan merebut miliknya," jawab Soraya.
"Kita akan bermain-main terlebih dahulu pada wanita itu dan anak-anaknya. Setelah itu barulah kita keinti permasalahan yaitu mengusir mereka semua dari rumah mewah itu."
"Ya, sayang. Aku setuju. Itu yang aku inginkan."
"Ya, sudah! Katakan pada anak-anak kita berangkat sekarang."
"Baiklah."
***
Di kediaman Wilson tampak ramai dimana keluarga Brenda tengah berkumpul di ruang tengah bersama dengan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda.
Kenapa hanya ada ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda? Sedangkan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tidak ada bersama mereka. Padahal ini semua adalah rencana Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya tidak ada bersama dengan keluarga Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda, karena mereka saat ini berada di paviliun belakang rumah Brenda.
Ketika Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda sampai di rumah Brenda. Darren meminta ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda masuk duluan ke dalam rumah Brenda.
Sementara Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya menuju paviliun milik keluarga Brenda yang ada di belakang rumah.
Di paviliun itu, Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya akan membahas rencana untuk menyerang Charlie, Soraya dan anak-anaknya bersama Zoya, tangan kanannya Noe Afredo.
"Aku senang kalian datang kesini. Apalagi sampai nginap," sahut Brenda dengan tersenyum bahagia.
"Kami juga bahagia menginap disini, Brenda. Udah lama kita nggak nginap di rumah lo," jawab Lenny.
"Iya, benar. Udah berapa lama ya sejak kita lulus SMA?" ucap Milly.
"Aku kangen suasana disaat kita tidur bareng dalam satu kamar. Apalagi ketika mendengar ocehan tak jelas dari Vania dan Felisa," sahut Elsa.
"Mereka berdua bawel banget. Mau tidur aja banyak banget ritualnya," sela Alice.
__ADS_1
"Malam ini apa Vania dan Felisa bakal ngelakuin itu lagi?" tanya Lenny.
"Kalau iya. Gawat deh," celetuk Tania.
Vania dan Felisa menatap Tania. "Gawat kenapa?" tanya keduanya kompak dengan menatap horor Tania.
Tania tersenyum evil. "Kalian bakal gangguin acara tidur kita lagi. Niatnya malam ini kita mau tidur dengan tenang," jawab Tania.
Mendengar perkataan dari Tania membuat Vania dan Felisa mendengus. Sementara Brenda, Elsa, Alice, Lenny dan Milly tertawa.
Sedangkan Liana tersenyum bahagia ketika mendengar obrolan putrinya dengan ketujuh sahabat-sahabatnya. Begitu juga dengan Maura, Rangga, Barra, Riana dan Raya.
Ketika Brenda, keluarganya dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah asyik mengobrol, tiba-tiba seorang pelayan datang.
"Maaf Nyonya, Tuan muda, Nona Muda."
Liana dan yang lainnya langsung mengalihkan perhatiannya untuk menatap pelayan itu.
"Iya, ada apa?" tanya Liana.
"Tuan muda Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya datang."
"Suruh mereka langsung kesini, Bibi!"
"Kami sudah disini, Bibi Liana!" seru ketujuh sahabat-sahabatnya Darren.
Brenda berdiri dari duduknya dan langsung berlari menghampiri Darren. Dan detik kemudian, Brenda langsung memeluk erat tubuh Darren.
Darren yang tiba-tiba mendapatkan pelukan dari Brenda sedikit terhuyung ke belakang. Namun Darren langsung sigap menahannya bobot tubuhnya.
Liana tersenyum melihat putrinya yang berlari memeluk calon menantunya itu. Liana tahu alasan putrinya itu memeluk Darren. Putrinya itu ingin memberikan ketenangan kepada Darren akan ketakutan Darren itu.
"Ren... Hiks," seketika Brenda terisak.
Mendengar isakan dari Brenda membuat Darren terkejut. Darren tidak tahu apa penyebab Brenda yang tiba-tiba terisak.
"Brenda," ucap Darren.
Darren hendak melepaskan pelukan Brenda agar dirinya bisa melihat wajah kekasihnya itu. Namun Brenda makin mengeratkan pelukannya.
"Aku mencintaimu... Aku mencintaimu," ucap Brenda.
"Iya, aku tahu. Aku juga mencintaimu. Sekarang lepaskan dulu. Kamu terlalu erat meluknya. Sesak nih," ucap Darren.
__ADS_1
Seketika Brenda pun langsung melepaskan pelukannya. Setelah pelukannya terlepas, Brenda melihat Darren yang sedikit sulit bernafas.
"Ren, ma-maafkan aku. Aku kekencangan meluknya ya?" ucap dan tanya Brenda dengan tangannya mengusap lembut dada kiri Darren.
Melihat wajah khawatir kekasihnya membuat Darren menatap tidak tega. Dan kemudian, Darren memberikan senyuman untuk Brenda.
"Aku baik-baik saja," jawab Darren dengan tangannya mengusap pipi kekasihnya.
"Beneran?"
"Hm." Darren kembali memberikan senyuman untuk Brenda.
"Ren."
"Ada apa?"
"Apapun yang terjadi dalam hidup kamu. Apapun yang kamu rasakan. Aku Brenda Wilson tidak akan pernah ninggalin kamu. Aku akan selalu ada buat kamu. Aku akan selalu ada di samping kamu. Aku akan selalu buat kamu tersenyum. Aku akan selalu mendampingi kamu baik suka maupun duka. Baik sedih maupun bahagia. Sampai nanti ada pihak ketiga dalam hubungan kita, aku akan selalu ada untuk kamu. Aku tidak akan pergi ninggalin kamu hanya karena cemburu. Justru aku akan pertahankan kamu disisi aku."
Mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Brenda membuat Darren menatap Brenda dengan tatapan sedih, terharu dan juga bahagia. Dirinya tidak menyangka jika Brenda akan mengatakan kata-kata indah itu untuknya.
Tes!
Seketika air matanya jatuh membasahi wajah tampannya. Darren menangis kala mendengar ucapan tulus dan janji kekasihnya untuknya.
Liana, Maura, Rangga, Barra, Riana, Raya, ketujuh sahabat-sahabatnya Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda juga ikut menangis ketika melihat Darren yang menangis.
Melihat Darren yang menangis membuat Brenda paham. Brenda berpikir bahwa saat ini Darren tengah memikirkan apakah dirinya layak untuk dicintai dan dipertahankan dalam keadaannya seperti ini.
Brenda menyentuh pipi Darren, lalu mengusap-ngusapnya lembut. "Apapun yang terjadi. Kita akan melewatinya bersama-sama. Kamu nggak sendirian. Ada aku, ada Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Rehan dan Darel. Mereka sudah pasti akan selalu ada untuk kamu. Ada kelima kakak-kakak mafia kamu yaitu kakak Ziggy, kakak, Noe, kakak Devian, kakak Enzo dan kakak Chico. Mereka juga akan selalu ada untuk kamu. Dan jangan pernah kamu lupakan satu hal yaitu keluarga kamu. Merekalah orang pertama yang akan ada di garda depan ketika terjadi sesuatu terhadap kamu. Sejak mereka berdamai dengan kamu. Sejak mereka mendapatkan maaf dari kamu. Sejak itulah mereka semua berubah menjadi overprotektif terhadap kamu, terutama kakak Gilang dan kakak Darka. Jadi aku mohon sama kamu. Terbukalah pada kami semua. Jangan ada satupun yang kamu sembunyikan dari kami."
Brenda menangis kala mengatakan semua itu. Brenda sudah tidak bisa membendung kesedihannya yang sedari ditahan.
"Kita semua menyayangi kamu, Ren!"
Darren menghapus air mata Brenda. Setelah itu, Darren memberikan kecupan di kening Brenda.
"Aku mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku. Tetaplah bersamaku. Selamanya!"
"Aku juga mencintaimu. Aku tidak akan pernah ninggalin kamu. Aku akan selalu ada di samping kamu. Di hati aku hanya ada nama kamu. Dan di hati kamu ada nama aku. Kamu juga jangan pernah tinggalkan aku. Apalagi menyuruhku pergi."
Darren menarik tubuh Brenda dan membawanya ke dalam pelukannya. Dan air matanya kembali jatuh membasahi wajah tampannya.
"Terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku dan melengkapi kebahagiaanku. Aku berjanji padamu akan selalu berusaha untuk terbuka. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatku dan juga keluargaku."
__ADS_1
Mendengar ucapan dan janji Darren membuat Brenda tersenyum bahagia. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren.
Baik Qenan, Willy, Axel, Jerry maupun Dylan, Rehan dan Darel bisa bernafas lega untuk saat ini ketika mendengar janji sahabatnya itu yang akan terbuka kepadanya.