
Setelah sadar dari koma selama dua hari penuh. Dan setelah dinyatakan pulih, walau belum pulih sepenuhnya karena luka tembak di lengan dan di pinggang Darren belum kering. Kini Darren sudah tidak memakai alat medis apapun di tubuhnya. Yang masih bertahan hanya infus. Darren masih membutuhkan infus sampai kondisinya benar-benar pulih.
Erland, Agneta, para putra-putranya, Carissa, Evan, dan ketiga putra-putranya tampak begitu bahagia melihat Darren yang sudah dalam keadaan membaik, walau masih dalam pengawasan.
Baik Erland, Agneta dan para kakak laki-lakinya maupun Carissa, Evan, dan ketiga putranya tak henti-hentinya memberikan ciuman sayang di kening dan di kedua pipinya. Begitu juga dengan kelima adiknya. Kelima adiknya itu tak kalah memberikan ciuman kepada Darren. Bahkan kelimanya memberikan pelukan hangat untuk kakak favorit mereka.
Sementara Darren yang menjadi korban ciuman dan pelukan dari anggota keluarganya hanya bisa pasrah dengan berulang kali menghembuskan nafasnya secara kasar.
Sampai detik ini saja kelima adiknya saja masih memberikan ciuman di pipinya setiap kelimanya ngajak bicara.
"STOP!" Darren tiba-tiba berseru dengan mengarahkan telapak tangannya ke hadapan Mathew dan Ivan ketika kedua hendak memberikan ciuman untuk kesekian kalinya.
"Udah! Nggak ada acara ciuman-ciuman lagi," ucap Darren dengan menatap horor kelima adiknya itu.
Sementara kelima adiknya mendengar perkataan dan penolakan dari Darren langsung memanyunkan bibir mereka masing-masing. Baik Adrian, Mathew, Nathan maupun Ivan dan Melvin memasang wajah sedihnya. Siapa tahu jika memasang wajah sedih di hadapan sang kakak. Sang kakak bisa langsung luluh.
"Udah duduk disana. Nggak usah pasang wajah jelek seperti itu!" seru Darren.
Mendengar perkataan kejam dari sang kakak membuat Adrian, Mathew, Nathan maupun Ivan dan Melvin seketika membelalakkan matanya.
Bagaimana dengan anggota keluarga lainnya? Mereka semua tersenyum gemas melihat interaksi Darren dan kelima adiknya.
"Kak Darren nggak asyik," sahut Melvin.
Setelah mengatakan itu, Melvin berjalan menuju sofa dimana anggota keluarganya berkumpul disana dan diikuti oleh Adrian, Mathew, Nathan dan Ivan.
Agneta berdiri dari duduknya, lalu melangkah mendekati ranjang putranya dengan membawa potongan buah apel di tangannya.
"Kenapa?" tanya Erland kepada putra bungsunya dari istri keduanya.
"Kak Darren nggak asyik," jawab Melvin.
Erland tersenyum mendengar jawaban dari putranya.
Gilang dan Darka saling lirik, kedua menatap Melvin dengan tatapan evil.
"Kak Darren kamu itu bukannya nggak asyik. Hanya saja...." Darka sengaja menghentikan perkataannya.
Mendengar perkataan Kakaknya yaitu Darka. Melvin langsung mengalihkan perhatiannya untuk melihat kakaknya itu.
"Hanya saja apa? Kenapa nggak diteruskan?" tanya Melvin.
Darka melihat kearah Gilang. Gilang yang mengerti seketika tersenyum.
"Hanya saja kakak Darren kalian itu nggak mau sering-sering dicium sama kalian," sahut Gilang.
"Memangnya kenapa?" kini Nathan yang bertanya.
"Itu karena kakak Darren kalian itu nggak mau ketampanannya hilang jika sering-sering dicium oleh kalian," jawab Gilang.
Mendengar jawaban dari Gilang membuat Adrian, Mathew, Nathan maupun Ivan dan Melvin melotot. Dalam pikiran mereka saat ini 'Baru kali ini dengan jika seseorang dicium maka ketampanan orang itu menghilang'.
Setelah memikirkan itu, baik Adrian, Mathew maupun Nathan, Ivan dan Melvin melihat kearah Darren yang saat ini tengah menikmati potongan buah apel.
"Kakak Darren," panggil Ivan.
"Hm." Darren menjawab dengan deheman sembari asyik dengan buah apelnya.
"Apa benar jika kita cium kakak Darren sering-sering, ketampanan kakak Darren akan hilang?" tanya Ivan.
Seketika Darren menghentikan kegiatannya mengunyah buah apel ketika mendengar pertanyaan dari Ivan.
Erland, Agneta dan yang lainnya hanya tersenyum sembari terus menyaksikan drama yang sedang dimainkan oleh Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Plus Gilang dan Darka sebagai pihak ketiga. Sementara Darren sebagai korban drama mereka.
Darren melihat kearah Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin. Dan detik kemudian, Darren melihat kearah Gilang dan Darka. Dan Darren lihat bahwa kedua kakaknya itu memberikan kode padanya.
Darren yang mengerti langsung memulai aksinya. Darren kembali pada kegiatannya yaitu memakan buah apelnya.
"Iya, itu benar! Jika kalian terus menerus mencium wajahku. Bisa-bisa wajahku menjadi jelek. Dan jika wajahku menjadi jelek, maka ketampananku akan hilang," sahut Darren.
Mendengar jawaban dari Darren membuat Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin sontak membelalakkan matanya.
Sementara anggota keluarganya tersenyum gemas melihat wajah syok Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin.
"Aish! Mana ada seperti itu. Itu pandai-pandainya kakak Darren saja biar nggak dicium oleh kita lagi," ucap Nathan sembari merengut kesal.
Agneta yang saat ini berada di samping ranjang Darren dengan setianya menemani Darren makan buah.
"Bagaimana dengan luka di perut kamu sayang?" tanya Agneta.
"Masih ngilu. Tapi hanya dikit," jawab Darren.
"Jangan banyak gerak dulu, ya!"
__ADS_1
"Hm."
***
Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel saat ini berada di kampus. Satu jam lalu mereka telah selesai mengikuti materi kuliah mereka. Dan saat ini mereka berada di lapangan basket yang ada luar.
Mereka tengah mengerjakan beberapa tugas-tugas mereka di laptop masing-masing.
Willy dan Qenan sedang mengecek satu persatu data-data dan file kerja sama dua perusahaan dengan perusahaan Accenture.
Rehan dan Darel mengecek data pesanan pelanggan yang memesan lukisan di galeri mereka.
Sedangkan Axel, Jerry dan Dylan sedang mengecek perlengkapan untuk dipasangkan ke mobil-mobil yang mereka buat.
Ketika mereka semua tengah sibuk dengan tugas masing-masing, tiba-tiba ponsel milik Axel berbunyi.
Axel yang mendengar ponselnya berbunyi langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Axel melihat nomor tak dikenal tertera di layar ponselnya.
"Kenapa gak diangkat?" tanya Jerry yang melirik sekilas Axel.
"Nomor nggak dikenal," jawab Axel.
"Angkat aja. Siapa tahu penting," tutur Rehan.
"Jangan lupa di lounspeaker panggilannya biar kita bisa dengar," ujar Qenan.
Setelah itu, Axel pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo."
"Hallo, tuan Axel."
Mendengar seseorang di seberang telepon memanggil Axel dengan sebutan 'Tuan' membuat Axel membelalakkan matanya. Begitu juga dengan Qenan, Willy, Rehan, Darel, Dylan dan Jerry.
Axel melihat kearah keenam sahabatnya. Begitu juga dengan keenam sahabatnya itu yang juga melihat dirinya.
Dan detik kemudian, mereka dengan kompak mengangkat kedua bahu keatas menandakan jika mereka tidak kenal dengan orang yang ada di seberang telepon.
"Hei, anda salah orang kali."
"Tidak. Saya memanggil anda dengan sebutan Tuan karena anda adalah sahabat dari Tuan Darren. Dan tuan Darren adalah mantan musuh dari Bos saya."
"Mantan musuh dari Bos saya," batin Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel.
Setelah mengetahui identitas si penelpon, Axel pun langsung bersuara.
"Kamu Morris, tangan kanannya Samuel!"
"Iya, tuan. Ini saya."
"Ada apa? Kenapa kamu menghubungi saya?"
"Maafkan saya, tuan! Saya menghubungi tuan hanya ingin memberitahu hal penting pada tuan dan sahabat-sahabat tuan."
"Hal penting apa?" kini Jerry yang bertanya.
"Ini masalah tuan Darren."
"Darren!" seru Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel bersamaan.
"Ada apa? Kenapa dengan sahabat kami?" tanya Willy.
"Begini tuan. Saya mendapatkan informasi bahwa Helena, ibunya dan dua pamannya akan datang ke rumah sakit. Mereka akan melakukan hal buruk terhadap tuan Darren."
"Apa?" teriak Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel terkejut ketika mendengar informasi yang diberikan oleh tangan kanannya Samuel.
"Kapan wanita murahan itu dan keluarganya akan beraksi?" tanya Axel.
"Nanti malam. Kira-kira sekitar pukul 10 malam."
"Baiklah."
"Ya, sudah kalau begitu. Saya tutup teleponnya."
"Baiklah. Terima kasih informasinya."
"Sama-sama, tuan!"
PIP!
"Wah! Besar juga nyali perempuan lumpuh itu," sahut Dylan.
__ADS_1
"Bahkan tak tanggung-tanggung. Perempuan itu membawa pasukannya ke rumah sakit," ucap Darel.
"Kebetulan sekali. Bukankah Darren dan Brenda memang berencana ingin memberikan hukuman terakhir terhadap perempuan lumpuh itu!" seru Rehan.
Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel saling melirik satu sama lainnya.
"Kita beritahu informasi ini kepada Brenda," pungkas Willy.
"Hm." Qenan, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel mengangguk.
Dan bertepatan ketika Willy menyebut nama Brenda. Sipemilik nama pun muncul.
Brenda kini tengah melangkahkan kakinya menuju kantin. Perutnya saat ini sudah lapar dan harus segera diisi.
"Nah! Itu orangnya!" seru Darel ketika melihat Brenda yang kini melangkah menuju kantin.
"Woi, anak curut!" teriak Willy, Qenan dan Dylan.
Brenda yang mendengar suara teriakan dari Qenan, Willy dan Dylan langsung menghentikan langkah.
Setelah itu, Brenda membalikkan badannya untuk melihat kearah Qenan, Willy dan Dylan.
Ketika Brenda melihat kearah dimana Qenan, Willy dan Dylan tengah berkumpul dengan Jerry, Rehan, Darel dan Axel.
Dengan seenaknya dan tanpa perasaan. Qenan, Willy dan Dylan memerintah dirinya agar mendekat.
"Woi, curut! Ngapain lo berdiri disana?" tanya Qenan.
"Buruan kemari. Jangan kayak orang bego lo berdiri disana," sahut Dylan.
"Ada informasi penting nih," ucap Willy.
Mendengar perkataan demi perkataan yang keluar dari mulut ketiga sahabat-sahabat terlaknat Darren membuat Brenda mendengus kesal.
"Dasar tiang listrik, hitam, kurus sialan." Brenda mengumpat di dalam hatinya.
Setelah itu, Brenda melangkah mendekati para sahabat-sahabat Darren yang super-super nyebelin.
Kini Brenda sudah berdiri di hadapan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren. Dan jangan lupa tatapan matanya yang tajam menatap Qenan, Willy dan Dylan.
"Ada apa? Katakan padaku sekarang tuan tiang listrik, tuan hitam dan tuan kurus?" tanya Brenda dengan menyebut gelar ketiganya.
Seketika Qenan, Willy dan Dylan membelalakkan matanya ketika mendengar pertanyaan sarkas dari Brenda.
Sementara Axel, Jerry, Rehan dan Darel tertawa ketika mendengar pertanyaan dari Brenda.
"Hahahahaha."
Ketika Qenan ingin membalas perkataan dari Brenda. Brenda sudah terlebih dahulu berbicara.
"Jika tidak hal yang penting. Aku pergi!" seru Brenda.
"Jangan pergi. Kamu disini saja," sahut Willy.
"Kalau begitu buruan katakan. Informasi apa yang ingin kalian sampaikan?" ucap dan tanya Brenda.
"Perempuan lumpuh itu akan datang ke rumah sakit bersama ibunya dan dua pamannya," sahut Axel.
"Untuk apa perempuan lumpuh itu ke rumah sakit?" tanya Brenda.
"Tidak perlu kami jawab. Kau sudah tahu jawabannya!" seru Rehan.
"Apa dia dan ibunya masih menyimpan dendam terhadap Darren?" tanya Brenda.
"Itu salah satu tujuannya datang ke rumah sakit," ucap Darel.
"Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu kepada perempuan itu, hum? Bukankah kau dan Darren sudah berencana untuk menemuinya dan memberikan hukuman terakhir padanya?" tanya Jerry.
"Ada baiknya kau mempersiapkan kejutan untuk perempuan lumpuh itu, ibunya dan dua pamannya!" ucap Jerry lagi.
Mendengar ucapan Axel, Jerry dan Rehan. Seketika terukir senyuman manis di bibir Brenda.
Melihat senyuamn Brenda membuat Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel langsung mengerti.
"Kapan perempuan lumpuh itu akan datang ke rumah sakit?" tanya Brenda.
"Jam 10 malam ini. Kebetulan perempuan lumpuh itu belum tahu jika Darren sudah sadar dari koma. Perempuan lumpuh itu tahunya Darren masih koma di rumah sakit," jawab Qenan.
"Baiklah. Kita akan memberikan kejutan untuk perempuan lumpuh itu, ibunya dan kedua pamannya ketika mereka sudah berada di ruang rawat Darren," sahut Brenda dengan menatap wajah Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel.
"Hm." Qenan, Willy, Dylan, Jerry, Axel, Rehan dan Darel mengangguk bersamaan.
"Helena. Kita lihat nanti malam. Apa yang akan terjadi padamu, ibumu dan kedua pamanmu." Brenda berbicara di dalam hatinya.
__ADS_1