
Di markas Area Boy milik Chico dimana lima ketua mafia berkumpul di Aula. Mereka saat ini tengah membahas masalah kelompok yang menyerang Darren dan Brenda.
"Bagaimana? Apa kalian sudah mendapatkan petunjuk kelompok yang menyerang Darren dan Brenda berasal dari mana?" tanya Chico kepada lima tangan kanannya.
"Kami belum mendapatkan petunjuk apapun, King!" Daksa.
"Kalian bagaimana?" tanya Noe kepada kelima tangan kanannya.
"Sama King. Kamu juga belum menemukan petunjuk apapun," jawab Zaky.
"Aku sangat yakin jika kelompok yang menyerang Darren adalah orang yang sama yang menyerang kedua kakak laki-laki Darren yaitu Dzaky dan Adnan," sahut Ziggy.
"Aku juga berpikir sama sepertimu, Ziggy." Noe menyuarakan pikirannya.
"Dan kemungkinan juga ada dua dalang," sela Enzo.
"Dalang pertama memerintahkan kelompok pertama menyerang Dzaky dan Adnan. Sementara dalang kedua memerintahkan kelompok kedua menyerang Darren," ucap Devian.
Mendengar perkataan dari Devian. Enzo, Chico, Noe dan Ziggy mengangguk membenarkan perkataan Devian.
Ketika mereka tengah membahas dan memikirkan dalang dari penyerangan yang dialami oleh Darren, tiba-tiba dua anggota mafioso Chico datang membawa kabar. Kabar yang akan membuat lima ketua mafia bahagia.
"Maaf King!" seru salah satunya yang sudah berada di Aula.
Kelima ketua mafia dan para tangan kanannya langsung melihat kearah dua anggota mafioso Chico.
"Ya, ada apa?" tanya Chico.
"Begini King. Kami berdua ingin menyampaikan sesuatu mengenai penyerangan yang dialami salah satu adik laki-laki anda, King!"
Mendengar perkataan dari salah satu anggota mafioso Chico membuat mereka semua menatap kedua anggota tersebut.
"Katakan," ucap Chico tegas.
"Kami sudah mengetahui dalang dari penyerangan terhadap tuan Darren."
"Benarkah?" tanya Noe.
"Benar, King!"
"Bahkan kami juga mengetahui dari kelompok mana yang telah menyerang kediaman Mondella sehingga menewaskan kedua orang dari putri angkat tuan Darren."
"Kami belum bisa melacak keberadaan dari dalang tersebut, tapi kami mencurigai satu orang."
"Siapa?" tanya Devian.
"Orang itu masih ada hubungan dengan nyonya Miranda, ibunya nona Erica. Dari hasil penyelidikan saya, orang itu adalah adik tiri laki-laki nyonya Melinda. Ayah dari nyonya Melinda memiliki dua istri. Istri pertama dikaruniai tiga anak. Sementara istri kedua dikaruniai dua anak."
"Kami juga mengetahui pria yang selama ini yang menjadi dalang dari permusuhan geng motor Vagos dengan geng motor tuan Darren. Pria yang sering menemui ketua dari geng motor Vagos itu hanya pengalihan saja."
Mereka semua terkejut ketika mendengar perkataan dari anggota mafioso itu.
"Jadi maksud kamu kalau orang itu bukanlah dalang yang sebenarnya melainkan suruhan atau tangan kanan dari orang itu. Begitu?" ucap dan tanya Chico.
"Benar, King!"
Mendengar jawaban dari anggotanya. Chico manggut-manggutkan kepalanya.
"Persiapan dan rencana yang sempurna," ucap Chico.
"Sekarang katakan pada kami. Siapa saja mereka!" seru Ziggy.
"Kelompok yang menyerang tuan Darren dari kelompok mafia nomor 10."
"Eeemm!"
Enzo, Chico, Ziggy, Noe dan Devian tersenyum di sudut bibir masing-masing ketika mendengar nama kelompok mafia nomor 10.
"BLACK COBRA!" seru Enzo, Chico, Ziggy, Noe dan Devian bersamaan.
"Kelompok yang sama yang menyerang kedua kakak laki-laki tuan Darren."
"Benar dugaanku," sahut Ziggy.
__ADS_1
"Saudara tiri laki-laki dari nyonya Melinda adalah Nicko Dilbara."
"Dalang yang membuat geng motor Vagos dan geng motor tuan Darren salah paham adalah Nirvan Sheehan."
"Dan untuk kelompok mafia yang menyerang kediaman Mondella adalah BLOODY LION."
"Lalu siapa nama dalang dari penyerangan Darren dan kedua kakak laki-lakinya?" tanya Noe.
"Ach, maaf King. Kami lupa!" seru keduanya bersamaan.
"Dalang yang sudah memberikan perintah kepada kelompok mafia BLACK COBRA adalah Brandon Armando dan Bruno Emmerick."
Mendengar perkataan dan juga penjelasan dari dua anggota mafioso Chico membuat mereka semua tersenyum bahagia. Akhirnya mereka semua mengetahui nama-nama musuh mereka.
"Baiklah. Dikarenakan kita semua sudah mengetahui nama dari musuh-musuh adik laki-laki kita. Sudah saatnya kita mempersiapkan untuk pembalasan!" seru Enzo.
"Hm." mereka semua berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, mereka pun mempersiapkan untuk pembalasan dan penyerangan.
***
Keesokkan paginya, Darren tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.
Darren berada di kamarnya saat ini. Sementara anggota keluarganya sudah berkumpul di meja makan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Ren, ini kakak Dzaky. Kakak masuk, ya!"
"Iya, kakak Dzaky. Masuk aja!"
Cklek!
Dzaky membuka pintu kamar adik kesayangannya.
"Kamu tampan sekali, Ren! Kakak menyayangi kamu. Selamanya! Jangan sakit-sakit lagi," batin Dzaky.
Darren yang sadar bahwa kakaknya itu menatap dirinya langsung bersuara.
"Kenapa kakak Dzaky menatapku seperti itu?" tanya Darren.
Mendengar pertanyaan dari Darren membuat Dzaky tersadar dari lamunannya menatap Darren.
Dzaky melangkah mendekati Darren. Setelah berdiri di hadapan adiknya, tangannya terangkat untuk menyentuh dan mengusap kepalanya.
"Kakak sayang kamu. Maafkan kakak jika kakak masih kurang menjadi kakak yang baik untuk kamu."
"Aku juga menyayangi kakak Dzaky. Tidak! Kakak Dzaky adalah kakak yang luar biasa untukku. Begitu juga dengan yang lainnya. Kalian sudah memberikan yang terbaik untukku. Kalian sudah menjadi kakak yang terbaik untukku." Darren berbicara tulus di hatinya.
Mendengar perkataan dan jawaban dari Darren membuat hati Dzaky menghangat. Di dalam hatinya, Dzaky benar-benar bahagia dan juga bangga memiliki adik laki-laki seperti Darren.
"Ya, sudah! Sekarang kita ke bawah untuk sarapan. Papa, Mama dan yang lainnya sudah menunggu kita."
"Baiklah," jawab Darren.
Setelah itu, Darren dan Dzaky pergi meninggalkan kamar untuk menuju ruang makan.
^^^
Kini Dzky dan Darren sudah berada di meja makan bersama dengan anggota keluarga lainnya.
"Ini sarapanmu, sayang!" Agneta memberikan sepiring nasi goreng lengkap dengan sepotong ayam goreng pada Darren.
"Terima kasih, Mama!" Darren berucap lembut.
"Sama-sama sayang," jawab Agneta.
"Papa, Mama, Kakak!" Darren memanggil kedua orang tuanya dan keenam kakak laki-lakinya.
__ADS_1
"Iya, sayang."
"Iya, Ren."
"Aku butuh bantuan kalian," sahut Darren.
"Apa itu?" tanya Erland, Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka bersamaan.
"Akhir bulan ini adalah ulang tahun perusahaan Accenture. Aku ingin kalian membantuku untuk mempersiapkan semuanya," ucap Darren.
"Tentu. Kami dengan senang hati akan membantumu, Ren!" Davin langsung mengabulkan keinginan adiknya itu dengan penuh semangat.
"Hm." Andra, Dzaky, Adnan, Gilang dan Darka berdehem sambil menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan Erland dan Agneta.
"Dimana kamu akan mengadakannya, sayang?" tanya Erland.
"Rencananya di hotel, Papa! Tapi aku belum menentukan hotel mana," jawab Darren.
Erland tersenyum mendengar jawaban dari putranya. Begitu juga dengan Agneta dan keenam kakaknya.
"Untuk masalah hotel, kamu tenang saja. Serahkan sama Mama. Pilihan Mama tidak akan mengecewakan kamu." Agneta berbicara sembari memperlihatkan senyumannya di hadapan Darren.
Darren yang mendengar dan melihat senyuman ibunya seketika menyadari sesuatu. Ach, lebih tepatnya mengingat sesuatu.
Sementara Erland, keenam kakak laki-lakinya dan kelima adik laki-lakinya tersenyum ketika melihat wajah Darren yang kini tengah menatap wajah Agneta.
"Aku melupakan sesuatu," sahut Darren.
Mereka yang mendengar perkataan Darren tersenyum. Mereka sudah tahu arti dari perkataan Darren tersebut.
"Berarti kamu sudah ingat sekarang?" tanya Andra meledek adiknya.
Darren mempoutkan bibirnya sebagai jawaban dari pertanyaan dari kakak pucatnya itu.
Ketika Darren dan anggota keluarganya tengah menikmati sarapan paginya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Darren yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambilnya di saku celananya.
Setelah ponselnya berada di tangannya, Darren melihat nama 'Willy' di layar ponselnya.
"Hallo, Wil. Ada apa?"
"Kau tidak lupakan akhir bulan ini acara ulang tahun perusahaan Accenture?"
"Iya. Aku tidak lupa. Ini aku barusan membahasnya bersama keluargaku. Lalu bagaimana persiapan kamu dan Qenan?"
"Kau tidak perlu khawatir. Aku dan Qenan sudah mempersiapkan semuanya. Hanya tinggal hotel saja. Kau mau di hotel mana?"
Darren tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Willy.
"Masalah hotel itu menjadi urusan Mama."
"Bibi Agneta?"
"Iya, siapa lagi? Memangnya Papaku punya istri lagi selain Mama Agneta?"
"Bisa jadi. Kitakan nggak tahu," jawab Willy asal.
"Willy!" teriak Darren.
Seketika Willy di seberang telepon langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika mendengar teriakan nyaring dari Darren.
"Sial!" umpat Willy.
"Apa ada lagi yang ingin anda sampaikan, tuan Willy Anse Dominic?"
Mendengar nama panjangnya disebut beserta lengkap dengan kata tuan di depan namanya membuat Willy mendengus.
"Sialan lo kelinci oncom," kesal Willy.
Setelah mengatakan itu, Willy langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
Sementara Darren mengumpat dan menyumpahi Willy karena kesal.
__ADS_1
Bagaimana dengan anggota keluarganya? Mereka semua tersenyum dan geleng-geleng kepala ketika mendengar percakapan Darren dan Willy di telepon