
Bugh..
Prang...
"Aakkhhh!"
"Andra!"
Setelah kepergian ketiga orang yang sudah membuat hidupnya jungkir balik, Andra seketika mengamuk dengan memukul guci besar milik ibunya hingga pecah disertai dengan teriakannya sehingga membuat semua berteriak histeris.
Grep..
Erland langsung memeluk putra keduanya itu dengan perasaan dan hati yang terluka. Dirinya benar-benar tidak tega melihat permasalahan yang dihadapi putranya itu.
"Hiks... Hiks... Papa. Kenapa menjadi seperti ini? Masalahku dengan perempuan busuk itu belum selesai. Sekarang datang masalah baru. Adik-adikku dan rombongannya tidak tahu dimana keberadaannya saat ini... Hiks," ucap Andra sembari menangis terisak.
Mendengar ucapan dari Andra membuat Erland seketika menangis dengan dirinya makin mengeratkan pelukannya pada putranya.
Bukan hanya Erland saja yang menangis, melainkan semua yang ada di kediaman Smith tersebut juga ikut menangis.
Erland melepaskan pelukannya, lalu kemudian dirinya menatap wajah putra keduanya itu. Hatinya kembali sakit ketika melihat wajah basah dan tertekan putra keduanya itu.
"Kamu bisa melewatinya sayang. Jangan kalah dengan adikmu. Adikmu saja sanggup menghadapi masalahnya selama ini. Bahkan masalah yang tidak pernah kita ketahui sekali pun. Masa kamu yang lebih tua tidak bisa. Kamu harus melakukan apa yang dilakukan oleh adik kamu itu setiap mendapatkan masalah. Tiru semuanya. Papa yakin kamu bisa menyelesaikannya."
Davin melihat kearah Jonathan yang saat ini masih bersama dengan anggota keluarga Smith serta yang lainnya.
"Paman Jonathan!" panggil Davin.
"Iya, tuan muda!"
"Apa Paman mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui?" tanya Davin tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Davin kepada Jonathan membuat semuanya langsung melihat kearah Jonathan. Mereka menatap intens kearah Jonathan.
"Jonathan, saya mohon padamu. Jika kamu mengetahui sesuatu, tolong katakan kepada saya dan kami semua." Erland berucap sembari memohon kepada Jonathan.
Jonathan menatap satu persatu wajah anggota keluarga Smith dan berakhir menatap wajah Andra.
Flashback On.
Darren saat ini sedang berada di dalam kamarnya. Dirinya saat ini tengah mempersiapkan barang-barang pribadinya untuk dibawa ke acara kegiatan Touring dua hari lagi.
Setelah selesai dengan urusannya, Darren memutuskan untuk keluar dari kamarnya.
Tap..
Tap..
Tap..
Darren menuruni anak tangga. Setibanya di bawah, Darren langsung menuju pos penjagaan dimana beberapa orang menjadi keamanan di rumah keluarganya.
^^^
"Paman Jonathan!" panggil Darren.
Jonathan yang saat ini tengah mengecek setiap rekaman kamera pengintai di setiap sudut rumah langsung melihat keasal suara. Dia melihat majikannya tengah memanggilnya.
__ADS_1
Jonathan kemudian melangkahkan kakinya menghampiri majikan mudanya itu. Dia tidak ingin membuat majikannya itu lama menunggunya.
"Iya, tuan muda. Ada apa?"
"Aku ada tugas untuk Paman!"
"Tugas apa, tuan muda?"
"Aku akan pergi untuk beberapa hari. Begitu juga dengan kakak Gilang dan kakak Darka. Paman tahukan aku dan kedua kakakku akan pergi kemana?"
"Tahu tuan muda."
"Tugas yang akan aku berikan kepada Paman adalah menjaga keluargaku dari ketiga orang yang datang saat itu."
"Maksud tuan muda perempuan yang mengaku hamil anaknya tuan muda Andra?"
"Iya, Paman. Di hadapan semua anggota keluargaku kalau aku lebih mempercayai perempuan itu dan juga bukti foto yang diperlihatkan oleh perempuan itu."
"Jadi saat itu tu-tuan muda....,"
"Iya, Paman! Aku hanya berpura-pura. Aku percaya sama kak Andra. Kakak Andra tidak mungkin melakukan hal menjijikan itu. Semua itu adalah rencanaku untuk membuat ketiga manusia busuk itu masuk dalam permainanku. Aku menyakiti kak Andra dengan tidak mempercayainya. Bahkan aku mengungkit-ungkit kejadian tersebut dimana mereka tidak mempercayaiku agar mempermudah rencanaku."
Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari tuan mudanya membuat Jonathan paham. Bahkan Jonathan tersenyum ketika mendengar penjelasan serta rencana tuan mudanya itu. Dirinya benar-benar bangga akan tuan mudanya tersebut.
"Aku meminta mereka untuk datang kesini lagi setelah satu minggu sembari membahas pernikahan. Setelah aku mengatakan itu kepada mereka, beberapa detik kemudian aku ingat jika empat hari lagi aku akan pergi Touring. Maka dari itulah kenapa aku meminta bantuan Paman."
"Apa yang harus Paman lakukan?"
"Jika ketiga manusia busuk itu datang. Paman cukup halangi mereka. Jangan sampai mereka berurusan langsung dengan kakak Andra atau dengan kedua orang tuaku, apalagi Papa. Katakan kepada mereka jika mereka ingin menikahi anak mereka dengan kakak Andra, maka mereka harus menungguku pulang karena aku yang berjanji kepada mereka bukan kakak Andra apalagi keluargaku."
"Jika mereka tetap memaksa untuk langsung berurusan dengan kakak Andra, maka tidak akan ada pernikahan sama sekali. Dan masalah ini akan dibawa kejalur hukum."
"Baik tuan muda. Paman mengerti. Paman akan lakukan seperti yang tuan muda katakan."
"Terima kasih Paman. Aku mengandalkan Paman. Jika Paman butuh bantuan. Langsung hubungi Fito. Aku sudah memberitahu masalah ini kepada Fito."
"Baik tuan muda!"
Flashback Off.
Seketika semua orang yang ada di ruang tengah itu terkejut ketika mendengar cerita dari Jonathan, tak terkecuali anggota keluarga Smith.
Tes..
"Hiks... Darren... Darren... Hiks," isak tangis Andra seketika pecah.
Andra seketika menangis histeris ketika mengetahui fakta bahwa adik kelincinya begitu mempercayai dirinya. Adik kelincinya itu percaya bahwa dirinya tidak salah. Bahkan yang membuat Andra menangis histeris adalah bahwa adiknya sampai rela melakukan hal tersebut untuk membantunya mengungkap kebohongan ketiga orang tersebut.
Tak jauh beda dengan Andra. Erland, Agneta, Davin, Dzaky, Adnan, Carissa, Evan, Daffa, Tristan dan Davian juga menangis histeris ketika mendengar cerita dari Jonathan.
"Pa-paman, apa itu benar? Pa-paman tidak lagi membohongi kami semua kan?" tanya Andra.
"Tidak tuan muda. Itulah yang sebenarnya. Tuan muda Darren begitu mempercayai tuan muda. Tuan muda Darren melakukan semua itu untuk membantu tuan muda dengan cara tuan muda Darren mengungkit-ungkit kejadian di masa lalu dimana tuan muda Darren tidak dipercayai oleh keluarganya sendiri."
Air mata Andra kembali jatuh membasahi pipinya. Hatinya benar-benar bahagia saat ini ketika mendengar cerita dari Jonathan. Adik kelincinya mempercayainya.
"Ren, terima kasih sayang!" Andra berucap di dalam hatinya.
__ADS_1
"Darren sayang... Hiks," isak Erland.
Mereka semua menangis. Menangis akan kasih sayang dan kepedulian Darren terhadap mereka semua.
Setelah menceritakan apa yang diceritakan oleh tuan mudanya kepada anggota keluarganya, Jonathan pun meminta izin untuk kembali berjaga-jaga di depan.
"Aku benar-benar tidak menyangka jika Darren memiliki ide cemerlang untuk membuat musuh-musuhnya mempercayai dirinya," sahut Dellano.
"Kak Dellano benar. Aku juga tidak menyangka jika Darren memiliki ide seperti itu. Bahkan saat Darren memilih mempercayai perempuan itu, terlihat jelas dari tatapan matanya. Dari tatapan matanya tidak terlihat kalau Darren hanya berpura-pura saja," sahut Evan.
"Bahkan cara Darren berbicara pun terdengar sangat serius. Apalagi ketika Darren mengatakan apa yang kak Andra rasakan saat ini itulah yang aku rasakan dulu ketika kalian tidak mempercayaiku. Mendengar ucapan Darren tersebut membuat kita semua sedih," pungkas Tristan.
"Itulah Darren. Dia memiliki sejuta rencana di otaknya. Semua rencananya itu adalah rencana licik dan juga kejam. Dia akan mengeluarkan rencana tersebut jika para musuh-musuhnya sudah sangat keterlaluan terhadap dirinya dan orang-orang terdekatnya," sahut Noe dan langsung diangguki oleh Ziggy, Enzo, Devian dan Chico.
Ketika mereka sedang membahas tentang Darren, tiba-tiba ponsel milik Ziggy berbunyi. Ziggy langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Setelah ponselnya di tangannya, Ziggy melihat nama 'Kakak Farraz' kakaknya di layar ponselnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Ziggy langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, kak!"
"Hallo, Ziggy. Salah satu anggota kakak sudah mendapatkan titik keberadaan Darren dan rombongannya. Segera kesana dan bawa mereka semua pulang!"
"Baiklah kak."
Tuttt..
Tutt..
Setelah selesai berbicara dengan kakaknya, Ziggy kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Kak Farraz bicara apa?" tanya Chico.
"Salah satu anggota kepolisian kakak Farraz sudah menemukan keberadaan Darren dan rombongannya. Kita kesana, sekarang!" seru Ziggy.
Mendengar jawaban dari Ziggy membuat semua yang ada di ruang tengah tersebut tersenyum penuh kebahagiaan. Akhirnya doa dan harapan mereka terkabul.
"Kami ikut!"
Para kakak laki-laki tertua dari Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya Darren langsung bersuara bersamaan. Mereka adalah Davin, Aaron, Angga, Ardy, Cakra, Dendra, Ettan dan Radeva.
"Disini aku yang paling sedih karena keempat adikku ada disana. Tiga adik kandungku dan satu adik sepupuku yaitu Nandito," sahut Davin.
"Baiklah. Kalian boleh ikut," sahut Ziggy.
"Kami juga ingin ikut!" seru para kakak-kakak dari Brenda, ketujuh sahabat-sahabatnya Brenda bersamaan.
Mereka adalah Rangga yang berstatus kakak kedua Brenda, Andrez kakaknya Elsa, Dhafi kakaknya Tania, Galih kakaknya Milly, Marvel kakaknya Vania, Edric kakaknya Felisa, Jayden kakaknya Alice dan Abian kakaknya Lenny.
"Lebih baik kalian disini saja. Tidak perlu ikut. Kami kesana bukan hanya membawa pulang Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Kami kesana akan membawa pulang semuanya. Kalian tidak perlu khawatir akan hal itu," ucap Enzo.
"Yang kami butuhkan saat ini adalah doa dari kalian semua. Dengan kalian berdoa, apa yang kami lakukan disana membuahkan hasil." Devian berbicara sembari memberikan ketenangan kepada semua anggota keluarga yang anak-anaknya dalam keadaan tak baik-baik saja.
"Bawa pulang anak-anak kami," ucap Lidia dengan nada lirihnya. Serta tatapan penuh harap.
"Kami akan membawa semua anak-anak kalian!" Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico berucap bersamaan.
Setelah mengatakan itu, mereka pun pergi meninggalkan kediaman Smith untuk menuju lokasi yang sudah dikirimkan oleh Farraz ke ponsel milik Ziggy.
__ADS_1