KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Membahas Keberangkatan Touring


__ADS_3

"Bagaimana persiapan kalian untuk Touring empat hari lagi?!" tanya Darren dengan menatap semua anggotanya.


"Sudah siap semuanya!" jawab para anggota.


"Tinggal berangkat saja!" jawab anggota lainnya.


Seketika Darren tersenyum ketika mendengar jawaban dari para anggotanya. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya dan kedua kakaknya.


Darren, ketujuh sahabat-sahabatnya, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya, Gilang, Darka, Mehdy, Monica dan sahabat-sahabatnya sang sepupu yaitu Nandito berada di ruang rapat. Mereka berada disana sedang mendiskusikan dan merencanakan keberangkatan mereka untuk Touring


"Jika ada diantara kalian yang belum semuanya disiapkan. Silahkan kalian mempersiapkan semuanya terlebih dahulu. Aku mengizinkan kalian pulang lebih awal," sahut Darren.


"Siap!" seru semua anggota, terutama anggota yang masih belum selesai menyiapkan kelengkapan Touringnya termasuk kebutuhan-kebutuhan yang akan disumbangkan untuk orang-orang yang tak mampu di lokasi Touring tersebut.


"Ingat! Semua sembako, obat-obatan dan uang sumbangan jangan sampai kelupaan, karena semua itu adalah penting. Jika semuanya itu terlupakan, berarti Touring kita gagal."


"Kami mengerti!"


"Baiklah! Rapat kali ini kita selesaikan sampai disini. Kalian boleh kembali ke kelas masing-masing. Jika kelas kalian berakhir, kalian boleh langsung pulang!"


"Siap Komandan!" seru semua anggota dengan kompak sembari memberikan hormat kepada Darren.


Gilang, Darka, Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel, Rehan, Brenda dan ketujuh sahabat-sahabatnya, Nandito, Mehdy, Monica dan sahabat-sahabatnya tersenyum ketika melihat para anggota memberikan hormat kepada Darren.

__ADS_1


Setelah itu, semua anggotanya tersebut pergi meninggalkan ruang rapat untuk kembali ke kelas masing-masing. Dan tinggallah Darren serta yang lainnya.


Nandito sejak tadi hanya diam, walau telinga setia mendengar apa yang disampaikan oleh Darren serta yang lainnya. Dan sesekali tatapan matanya menatap kearah Darren sepupunya itu.


Sementara Darren yang sejak tadi berbicara di depan semua anggotanya juga melakukan hal yang sama seperti Nandito. Darren sejak tadi menyadari bahwa sepupunya itu menatap dirinya.


Seketika Darren berdiri dari duduknya. Kakinya melangkah menuju satu arah.


Melihat Darren yang tiba-tiba berdiri dan melangkah pergi membuat mereka semua berpikir bahwa Darren akan pergi meninggalkan ruang rapat.


Darren seketika menduduki pantatnya di samping Nandito yang saat ini tatapan matanya ke bawah. Dirinya belum tahu bahwa Darren telah duduk di sampingnya.


Detik kemudian, Darren merangkul bahu Nandito sepupunya itu sehingga membuat Nandito terkejut dan langsung melihat ke samping. Dapat Nandito lihat bahwa sepupunya itu tersenyum padanya.


"Maafin gue kalau sudah menekan lo tadi pagi dengan kata-kata gue," ucap Darren.


Namun tidak dengan Gilang dan Darka. Keduanya melihat kearah Darren. Baik Gilang maupun Darka berpikir jika kedua adiknya itu sedang bermasalah.


"Ren," panggil Gilang.


Darren yang mendengar panggilan dari kakak pendeknya itu langsung melihat kearah kakaknya itu.


"Iya, kak!"

__ADS_1


"Kamu sama Nandito berantem?" tanya Gilang.


"Nggak," jawab Darren.


"Terus tadi kamu ngomong sembari minta maaf sama Nandito?" tanya Darka.


"Oh, itu! Tadi pagi aku sama anak cunguk ini ada sedikit perdebatan. Dikarenakan aku sudah mendapatkan julukan pemuda yang baik, maka aku memutuskan untuk meminta maaf duluan walau nyatanya bukan aku yang salah." Darren menjawab pertanyaan dari kedua kakaknya memperlihatkan wajah bangganya.


Sementara Nandito seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Darren. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala akan perkataan Darren tersebut.


Darren kembali menatap kearah Nandito yang juga menatap dirinya. Seketika Darren tersenyum.


"Maafin gue yang udah buat lo terluka dengan kata-kata gue tadi pagi. Alasan gue melakukan itu karena gue sayang sama lo. Gue paling nggak suka melihat pembullyan, apalagi yang menjadi korban pembullyan itu adalah orang-orang terdekat gue. Lo itu jago bela diri. Gunakan bela diri lo itu untuk melindungi diri lo dari manusia-manusia yang otaknya udah nyangkut di tiang listrik dan berakhir konslet."


Darren berucap dengan penuh penekanan. Bahkan Darren mengucapkan kata tiang listrik, namun tatapan matanya menatap kearah Willy sehingga membuat Willy langsung menyerang dirinya dengan kata-kata yang super kejam.


"Kalau ngomong, cukup ngomong aja. Jangan lihat ke gue juga ketika lo nyebut tiang listrik, anak setan!"


"Hahahahahaha!" Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan seketika tertawa nista ketika mendengar ucapan sarkas dari Willy.


"Nama yang keren. Satu tiang listrik dan yang satunya anak setan," sahut Dylan.


"Hahahaha!" Qenan, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan kembali tertawa.

__ADS_1


Sementara Darren memberikan tatapan mematikannya kepada ketujuh sahabat-sahabatnya disertai dengan mulutnya yang mengabsen satu persatu penghuni kebun binatang.


Sedangkan Gilang, Darka, Brenda, ketujuh sahabatnya, Mehdy, Monica dan sahabat-sahabatnya dan Nandito hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Darren dan Qenan, Willy, Axel, Jerry, Dylan, Darel dan Rehan.


__ADS_2