KEBENCIAN DARREN

KEBENCIAN DARREN
Sebuah Fakta


__ADS_3

Hari ini benar-benar hari yang sial untuk Gilang. Bagaimana tidak seharian ini badannya sangat lelah karena materi kuliah yang menumpuk ditambah lagi dia habis menyelesaikan pekerjaannya di perusahaan Tr'Tn Corp milik Tristan sepupunya. Beberapa menit meninggalkan perusahaan sepupunya itu, Gilang harus menjadi kuli pengangkut barang seorang nenek.


Nenek-nenek itu mengira jika Gilang adalah seorang pengangkut barang belanjaan yang dipersiapkan oleh pemilik toko.


Bak sudah jatuh tertimpa tangga pula, itulah peribahasa yang cocok untuk Gilang saat ini.


Gilang mengendarai mobil mewahnya menuju pulanh ke rumah. Tanpa disengaja dia bertemu dengan seseorang gadis cantik yang tengah mabuk di tengah jalan. Lebih tepatnya gadis itu yang tiba-tiba menghadang mobilnya. Melihat hal itu, seketika Gilang menginjak rem mobilnya.


Gilang keluar dari dalam mobil bermaksud menghampiri gadis itu. Ketika tiba di hadapan gadis itu seketika Gilang terkejut melihatnya. Gadis itu dalam pengaruh alkohol dan keadaannya benar-benar kacau.


"Perempuan itu disana!" teriak seseorang.


Gilang yang mendengar suara teriakan seorang laki-laki langsung melihat kearah samping kanannya. Dia melihat ada sekitar 4 laki-laki berpakaian hitam menuju kearahnya.


"Apa mereka mengincar gadis ini? Siapa mereka? Dan siapa gadis ini?" tanya Gilang pada dirinya sendiri.


Gilang terus memperhatikan keempat laki-laki itu yang semakin mendekat padanya dan gadis yang ada di hadapannya.


"Ach, sial!"


Gilang langsung memapah gadis itu lalu membawanya masuk ke dalam mobil. Setelah tiba di dalam mobil, Gilang pun segera melakukan mobilnya dan meninggalkan lokasi tersebut.


Melihat gadis incaran mereka pergi bersama seorang laki-laki. Keempat laki-laki itu pun kembali menuju mobilnya.


"Kalian kejar mobil itu!" perintah sang pemimpin.


"Baik, Bos!"


Setelah itu, dua mobil Van hitam melaju kencang mengejar mobil mewah milik Gilang.


***


Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya kini berada di markas Black Guerilla. Begitu juga dengan kedua kakak laki-laki Darren yaitu Dzaky dan Adnan.


Kini mereka saat ini berada di ruang penyiksaan. Baik Brendan Armando maupun Bruno Emmerick dalam keadaan luka-luka di seluruh tubuhnya.


Darren, Dzaky, Adnan dan ketujuh sahabat-sahabatnya menatap tajam kedua orang itu. Terutama Darren.


"Yang sebelah kanan itu orang yang sudah memberikan perintah kepada kelompok mafia BLACK COBRA untuk menyerang kamu ketika dijalan bersama Brenda, Ren!" seru Noe sembari melihat kearah Darren yang saat ini tatapan matanya masih menatap dua pelaku di depannya.


Flashback On


Darren sedang berkutat dengan laptop miliknya. Dia sedang membuat tugas kampusnya dan akan dikumpulkan besok.


Ketika Darren tengah fokus dengan tugas kampusnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Darren mengambil ponselnya yang terletak di samping laptopnya. Darren melihat nama salah satu orang kepercayaannya, lebih tepatnya orang yang menjaga kediaman pribadinya yaitu Fito.


Tanpa membuang-buang waktu, Darren pun langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Fito."


"Hallo, Bos. Apa saya mengganggu?"


"Tidak Fito. Ada apa?"


"Ada informasi Bos!"


"Katakanlah."


"Ini mengenai perusahaan Micro Sinopec, Bos!"


"Ada apa? Apa ada masalah?"


"Ada seseorang yang mencoba masuk ke dalam perusahaan dan juga mengakses data-data perusahaan Micro Sinopec, Bos!"


"Terus apa yang terjadi? Apa Steven sudah mengetahui masalah ini?"


"Sudah Bos. Steven sudah tahu dan dia sudah berhasil menangkap orang yang berhasil masuk ke dalam perusahaan."

__ADS_1


"Apa yang dilakukan Steven kepada orang itu?"


"Steven mengurungnya di sebuah gudang selama dua hari tanpa makan dan minum. Tujuan Steven adalah agar orang itu mau mengaku dan berkata jujur. Tapi setelah dua hari dikurung. Justru orang itu tetap tutup mulut. Bahkan orang itu berani meludahi wajah Steven. Dan berakhir Steven membunuhnya."


Mendengar cerita dari Fito membuat Darren menghela nafas panjangnya. Fito yang berada di seberang telepon mendengar helaan nafas dari Bosnya.


"Apa yang dilakukan Steven setelah membunuh mata-mata itu?"


"Yang jelas Steven semakin memperketat penjagaan. Dia memberikan cap stempel di punggung tangan kiri semua karyawan. Cap stempel itu permanen. Tidak akan bisa hilang, kecuali Steven sendiri yang akan menghilangkan cap itu. Dan hanya Steven yang memiliki cap stempel itu. Jadi jika ada yang datang atau mengaku-ngaku sebagai karyawan Micro Sinopec, maka orang itu harus memperlihat cap stempel yang ada di punggung tangannya."


Mendengar perkataan dari Fito membuat Darren tersenyum bahagia dan juga bangga akan apa yang dilakukan oleh Steven.


"Aku bersyukur memiliki kamu, Steven!" batin Darren.


"Untuk masalah orang yang berusaha masuk ke dalam data-data perusahaan. Sampai detik ini Steven, saya dan beberapa anggota saya masih menyelidikinya Bos."


"Terima kasih Fito. Tetap selidiki. Dan terus kabari aku."


"Baik, Bos!"


Setelah itu, baik Darren maupun Fito sama-sama mematikan panggilannya.


Flashback Off


Darren melangkahkan kakinya mendekati laki-laki yang menjadi dalang penyerangan dirinya dan juga dalang yang ingin menghancurkan perusahaannya.


"Bruno Emmerick. Ternyata kaulah orang yang sudah memasukkan orangmu ke dalam perusahaan Micro Sinopec dan juga ingin mencuri data-data perusahaan. Cara yang sangat menjijikkan."


Pria yang bernama Bruno Emmerick tersebut hanya bisa diam dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Darren.


"Apa tujuanmu dan alasanmu sehingga berani mengusik perusahaanku, hum?" tanya Darren dengan tersenyum di sudut bibirnya.


Tidak mendapatkan jawaban dari pria yang ada di hadapannya membuat Darren tersenyum. Darren melirik salah satu anggota mafioso Noe yang berdiri tak jauh dari pria itu.


Melihat tatapan mata dari Darren membuat anggota mafioso tersebut langsung mengerti.


Bugh!


"Apa kau masih ingin diam? Atau..." tanya Darren.


"Aku melakukan itu semua karena kau yang terlebih dahulu memulainya?" bentak Bruno.


Mendengar perkataan dan juga bentakkan dari pria itu membuat Darren terkejut. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya, Noe, Dzaky, Adnan dan para tangan kanannya Noe.


"Apa maksud perkataanmu, hah?! Aku tidak pernah mengusikmu dan juga keluargamu. Aku bahkan tidak mengenalimu. Jadi bagaimana bisa kau menuduhku yang telah terlebih dahulu mengusikmu!" bentak Darren.


"Hahahaha. Setelah apa yang telah kau lakukan terhadap perusahaan milik kakak laki-lakiku sehingga perusahaannya bangkrut. Bahkan kakak laki-lakiku sampai masuk rumah sakit jiwa karena melihat perusahaan yang dia bangun dari nol dan sudah berdiri selama 15 tahun bangkrut tanpa sisa!"


Lagi-lagi Darren terkejut mendengar pengakuan dari Bruno.


"Kenapa kau begitu yakin jika aku yang sudah membuat perusahaan kakak laki-lakimu bangkrut? Apa kau sudah menyelidikinya, hum?"


"Kau dengarkan aku baik-baik. Aku Darrendra Smith hanya memiliki tiga perusahaan utama. Pertama perusahaan Accenture, kedua perusahaan Micro Sinopec dan yang ketiga perusahaan CTS. Dan untuk perusahaan-perusahaan lainnya, itu semua perusahaan yang aku rebut dari orang-orang serakah. Dengan kata lain, mereka telah menipu perusahaanku dan perusahaan ayahku. Jadi aku mengambilnya."


"Qenan," panggil Darren.


"Iya, Ren."


"Bawa kemari nama-nama perusahaanku, termasuk nama perusahaan yang aku rebut."


Qenan mengambil map di dalam tasnya sembari melangkah mendekati Darren.


"Ini Ren!"


Darren menerima map itu. Dan kemudian membukanya. "Kau lihat dan kau baca. Disini tertulis nama-nama perusahaanku," ucap Darren dengan menghadap isi map itu di hadapan wajah Bruno.


Bruno menatap isi map itu dan menatap secar teliti. Dia membaca satu persatu nama-nama perusahaan yang terlihat oleh matanya.


Dan detik kemudian...

__ADS_1


"Ti-tidak mungkin," ucap Bruno dengan nada gugupnya.


Darren menutup map itu kembali dan tersenyum menatap wajah Bruno.


"Apa ada disana nama perusahaan yang sudah menipu dan bermain curang dengan perusahaan kakak laki-lakimu, hum? Apa ada nama perusahaan yang sudah membuat perusahaan kakak laki-lakimu bangkrut tertulis disana?"


Bruno seketika bungkam. "Jika bukan laki-laki di depanku ini yang sudah menipu kakak laki-lakiku. Lalu siapa pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan milik kakak laki-lakiku?" Bruno berbicara di dalam hatinya. Dan seketika air matanya menetes begitu saja membasahi wajahnya.


"Kakak Almo," lirih Bruno.


Darren yang melihat pria di hadapannya menangis seketika merasakan kasihan. Darren mengerti akan apa yang telah diperbuat oleh laki-laki itu. Jika Darren berada diposisi pria itu, Darren juga akan melakukan hal yang sama.


"Sekarang katakan padaku. Siapa nama dari orang yang sudah mengatakan padamu kalau aku yang sudah membuat perusahaan kakak laki-lakimu bangkrut? Katakan padaku nama perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan milik kakak laki-lakimu?" tanya Darren.


Bruno menatap wajah Darren. Dapat Bruno lihat ekspresi wajah Darren sudah tidak seperti beberapa menit yang lalu.


"Nama perusahaannya adalah RCB Grup. Ketika menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan milik kakak laki-lakiku, orang itu menggunakan nama yang sama dengan namamu. Darrendra Smith! Maka dari itulah kenapa aku mengincar perusahaanmu yang nomor dua yaitu Micro Sinopec."


"Apa kakak laki-lakimu mengenali wajah dari orang itu?"


"Tidak. Kakak laki-lakiku hanya bertemu dengan Direkturnya. Kadang-kadang dengan asistennya. Kakak laki-lakiku belum pernah sekali pun bertemu dengan sipemilik perusahaan."


"Sekali lagi aku katakan padamu. Aku Darrendra Smith pemilik perusahaan yang tertulis di map itu. Diluar dari itu, perusahaan itu bukan milikku."


"Aku memiliki tujuh sahabat. Mereka yang berdiri tepat di belakangku itu adalah sahabat-sahabatku. Sementara dua laki-laki di sampingnya yang berdiri sedikit berjarak adalah kedua kakak laki-lakiku."


"Dua laki-laki yang berdiri di sebelah kanan, mereka sebagai Direktur perusahaan Accenture. Dan Direktur perusahaan Micro Sinopec adalah Steven Johanes. Dan untuk perusahaanku yang lainnya, aku sendiri yang mengelolanya. Belum ada Direkturnya sama sekali."


Darren membuka galeri fotonya dan mencari foto Steven. Setelah mendapatkannya, Darren memperlihatkannya kepada Bruno.


"Ini Steven Johanes menjabat sebagai Direktur di perusahaan Micro Sinopec."


Darren memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. "Aku yakin kakak laki-lakimu pasti sudah memberitahumu tentang Direktur atau asistennya kepadamu, bukan?!"


"Iya. Kakak laki-lakiku sudah memberitahuku. Bahkan aku juga sudah melihat wajah-wajah mereka. Setiap aku dan kakakku bertanya tentang CEO mereka. Mereka hanya menjawab bahwa CEO mereka sibuk. Dan setiap berbicara dengan mereka. Mereka selalu menyebut nama Darren."


Darren membalikkan badannya untuk menatap wajah kakak mafianya.


"Kakak Noe."


"Iya, Ren!"


"Lepaskan dia. Musuh kita yang sebenarnya masih berkeliaran diluar sana. Aku memutuskan untuk memaafkannya. Aku pikir ini hanya kesalahpahaman saja."


"Kamu yakin?" tanya Noe.


"Yakin, kakak Noe!"


"Baiklah kalau itu keputusanmu. Kakak akan lepaskan dia."


"Terima kasih kakak Noe."


"Oh iya! Apa kakak Noe dan yang lainnya juga melakukan hal itu kepada keluarganya?"


"Kau tahukan apa moto dari kelima kakak laki-laki mafiamu, Ren!"


Mendapatkan pertanyaan dari Noe membuat Darren mengangguk paham.


"Baiklah. Aku tahu jawabannya. Terima kasih kakak Noe."


Sementara Bruno sudah menangis ketika mendengar perkataan dari laki-laki yang berdiri di hadapannya. Dia tidak menyangka jika laki-laki yang bernama Darrendra Smith memilih memberikan maaf untuknya.


"Masalah kita sudah selesai. Kau bebas sekarang. Aku akan membantumu untuk mencari dalang yang sudah membuat kakak laki-lakimu masuk rumah sakit jiwa. Disini aku yang menjadi korban. Korban fitnah dari orang itu. Jadi aku harus ikut dalam masalah ini."


"Maafkan aku. Terima kasih."


"Sama-sama."


Darren menatap kedua kakak laki-lakinya yang saat ini tengah berurusan dengan musuhnya atau dengan kata lain saingan bisnisnya.

__ADS_1


Dzaky dan Adnan tampak begitu marah terhadap orang yang ada di hadapannya. Orang yang sudah membuatnya hampir celaka.


__ADS_2