
Darren menatap wajah cantik ibunya lalu berkata, "Boleh aku minta satu hal kepada Mama?"
"Apa itu sayang? Katakanlah," jawab Agneta.
"Eemm... Bagaimana kalau Mama buang kelima putra Mama yang tengil itu?" ucap Darren sembari melihat kearah Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, dan Melvin.
Mendengar permintaan dari Darren seketika membuat Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, dan, Melvin terkejut dengan kedua matanya membelalak sempurna.
Sementara Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan, dan Davian tersenyum gemas melihat wajah syok Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, dan, Melvin ketika mendengar permintaan dari Darren.
"Kakak Darren! Bagaimana bisa kakak meminta hal yang kejam seperti itu kepada Mama?!" teriak Adrian tak terima.
"Bagaimana pun kami juga anak-anaknya Mama!" teriak Mathew yang juga menatap kesal kearah Darren.
"Kakak Darren jangan egosi!" teriak Nathan.
Adrian, Mathew, Ivan dan Melvin seketika melihat kearah Nathan. Dan detik kemudian..
Tak!
Adrian, Mathew, Ivan, dan, Melvin memukul kepala Nathan secara bersamaan.
Nathan yang mendapatkan pukulan di kepalanya memberikan tatapan mautnya kepada keempat saudaranya itu.
"Dasar bodoh!"
"Sudah SMA, tapi otak masih seperti anak SD!"
"Otak karatan!"
"IQ rendah!"
Nathan membelalakkan kedua matanya ketika mendengar umpatan dari keempat saudaranya itu.
"Aku tidak pernah dengar orang bilang 'kamu jangan egosi dong', 'kakak Darren jangan egosi'. Dimana-mana itu kata yang tepat itu adalah egois."
Adrian berbicara dengan penuh penekanan disetiap kata. Bahkan tatapan matanya menatap horor adik laki-lakinya itu.
Sementara Nathan yang mendengar perkataan dari sang kakak laki-lakinya seketika langsung cengengesan. Dirinya kini baru tahu jika telah berucap kata yang salah.
"Hehehehe. Aku salah ya?"
"Iya," jawab Adrian, Mathew, Ivan, dan Melvin bersamaan.
Darren, Agneta dan yang lainnya tersenyum ketika melihat perdebatan antara Adrian, Mathew, Ivan, dan Melvin melawan Mathew. Apalagi melihat wajah kesal keempatnya akan sifat Mathew.
Adrian kembali menatap wajah sang kakak kesayangannya yaitu Darren. Dia masih belum terima akan permintaan kakaknya itu kepada ibunya.
"Kakak Darren! Kakak harus batalin permintaan kakak yang barusan. Ganti yang lain saja. Jika kakak Darren tetap meminta hal itu. Berarti kakak berniat sekali ingin menyingkirkan aku, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin dari sisi Mama."
Mendengar perkataan dari Adrian membuat Darren tersenyum. Sementara Agneta dan yang lainnya melihat senyuman Darren langsung paham bahwa Darren tengah menjahili kelima adik laki-lakinya itu.
"Memang itulah niat kakak. Kakak memang niat buat jauhin kalian dari Mama. Kalau masih ada kalian di samping Mama. Maka Mama akan melupakanku. Mama terlalu sibuk ngurusin kalian," ucap Darren dengan kejamnya.
"Jika kalian pergi, maka Mama akan selalu ada untuk kakak."
Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, dan, Melvin kembali membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari Darren.
Ketika Ivan ingin melayangkan protesnya kepada kakak kesayangannya itu, tiba-tiba ponsel milik Darren berbunyi sehingga membuat Ivan kembali mengatub bibirnya.
Darren langsung mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya.
Setelah ponsel itu ada digenggamnya, Darren melihat nama 'Kakak Devian' di layar ponselnya itu.
"Ada apa ya? Kenapa kakak Devian menghubungiku?" tanya Darren pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Mendengar ucapan dari Darren yang menyebut nama salah satu kakak mafianya membuat Agneta, Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan dan Davian serta kelima adik laki-lakinya menatap Darren khawatir. Mereka semua berharap tidak ada masalah baru yang menghampiri Darren.
"Hallo, kakak Devian!"
"Hallo, Darren. Bagaimana kabar kamu? Kamu baikkan?"
"Aku baik-baik saja, kakak Devian! Kenapa kak? Apa ada sesuatu yang ingin kakak Devian sampaikan padaku?"
"Iya. Ada hal penting yang ingin kakak sampai kepada kamu dan juga keluarga Smith."
"Apa itu kakak? Katakan sekarang!"
"Tapi sebelum kakak menyampaikan hal itu kepada kamu. Kakak mau kamu berjanji terlebih dahulu."
"Apa maksud kakak Devian? Kenapa kakak memintaku untuk berjanji terlebih dahulu?"
"Ren, dengarkan kakak! Kakak melakukan ini hanya semata-mata untuk kamu. Tidak ada maksud lain. Kakak memikirkan kesehatan jantung kamu. Kakak tidak ingin kamu kembali kambuh ketika nanti kamu mendengar sesuatu yang akan membuat kamu terkejut dan juga syok. Kakak ingin kamu baik-baik saja, Ren!"
"Asal kamu tahu saja. Kakak benar-benar hancur setiap kali mendengar kabar dari tangan kanan kakak yang mengatakan bahwa kamu masuk rumah sakit akibat jantung kamu kembali kambuh. Jadi kakak mohon sama kamu, tolong berjanjilah kepada kakak kalau kamu akan kuat dengan apa yang akan kakak sampaikan kepada kamu. Jangan sampai kamu kembali jatuh sakit setelah mendengar perkataan kakak."
Darren terdiam ketika mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Devian. Dia tidak menyangka jika kakaknya itu akan meminta hal tersebut kepadanya.
"Darren, apa kau masih mendengarkan kakak?"
"Iya. Aku masih disini dan masih mendengarkan semua yang kakak Devian katakan."
"Bagaimana? Kamu mau berjanji sama kakak untuk kuat dan tidak akan syok saat kakak mengatakan sesuatu kepada kamu?"
"Baiklah. Aku berjanji kepada kakak Devian untuk kuat dan tidak akan syok ketika mendengar apa yang akan kakak sampaikan kepadaku."
Devian tersenyum bahagia karena Darren mau mengabulkan permohonannya itu. Devian melakukan hal itu semata-mata untuk menjaga jantung Darren. Darren baru beberapa hari keluar dari rumah sakit. Dan Devian tidak ingin Darren kembali masuk ke rumah sakit lagi.
"Sekarang katakan padaku apa yang ingin kakak Devian sampaikan kepadaku?"
"Ini mengenai Papa kamu."
Melihat Darren yang tiba-tiba berdiri, Davin dan yang lainnya juga ikut berdiri. Mereka semua tampak khawatir dan juga takut.
"Apa kakak Devian berhasil menemukan keberadaan Papa? Sekarang Papa dimana? Katakan padaku."
"Ren, tenang. Kamu sudah berjanji kepada kakak, bukan!"
"Maaf. Sekarang katakan kepadaku. Dimana Papa? Apa benar kakak Devian sudah berhasil menemukan Papa?"
"Bukan kakak, tapi tangan kanan dan beberapa anggota mafioso Chico yang berhasil menemukan keberadaan Papa kamu."
Terukir senyuman manis di bibir Darren ketika mendengar perkataan dari Devian.
Melihat senyuman Darren membuat Agneta, Davin dan anggota keluarga lainnya meyakini bahwa ada kabar baik yang disampaikan oleh salah satu kakak mafia Darren. Dan ini berhubungan dengan suami/ayah/Paman/kakak laki-lakinya.
"Lalu bagaimana keadaan Papa? Papa baik-baik saja, kan?"
"Kamu sudah berjanji kepada kakak. Dan kamu harus menepatinya."
"Iya. Aku akan menepati janjiku kepada kakak. Sekarang katakan padaku, dimana Papa? Bagaimana keadaan Papa sekarang?"
"Papa kamu sudah berada di rumah sakit milik ibunya Axel. Papa kamu dalam kondisi baik-baik saja. Hanya butuh perawatan medis untuk beberapa hari di rumah sakit. Satu hal yang membuatnya dalam keadaan tidak baik-baik saja dan itu semua akan menjadi hal yang menyedihkan untuk kamu, keenam kakak-kakak kamu, kelima adik kamu dan ibu kamu. Terutama untuk kamu pribadi."
Mendengar perkataan panjang dari Devian seketika membuat hati Darren harap-harap cemas.
Melihat kecemasan dan ketakutan yang tercetak jelas di wajah dan di tatapan mata Darren membuat mereka juga ikut merasakan hal yang sama.
Davin mengusap lembut bahu adiknya untuk sekedar memberikan ketenangan kepadanya.
"Katakan kakak Devian. Apa yang terjadi kepada Papa. Seperti yang sudah aku katakan bahwa aku berjanji akan kuat mendengar apapun dari mulut kakak."
__ADS_1
"Baiklah. Akibat dari kecelakaan pesawat itu membuat Papa kamu mengalami Amnesia. Dengan kata lain, Papa kamu tidak ingat akan dirinya dan orang-orang disekitarnya."
Mendengar perkataan dari Devian yang mengatakan bahwa ayahnya tidak mengingat dirinya dan anggota keluarganya membuat air mata Darren jatuh membasahi wajahnya.
Melihat Darren yang menangis membuat Agneta, Davin dan anggota keluarganya makin ketakukan.
"Ren," panggil Devian.
Tidak ada jawaban apapun yang diberikan oleh Darren. Dan hal itu sukses membuat Devian ketakutan.
"Ren, kamu dengar kakak?"
"Maaf! Iy-iya, aku baik-baik saja dan aku masih mendengarkan kakak. Aku akan langsung ke rumah sakit bersama keluargaku."
"Baiklah. Papa kamu dirawat di ruang VVIP lantai dua."
Setelah mendengar perkataan dari Devian. Darren langsung mematikan panggilan tersebut.
Detik kemudian...
"Papa," ucap Darren terisak.
"Ren, bagaimana? Apa benar Papa sudah ditemukan?" tanya Darka.
"Ren, bagaimana keadaan Papa?" tanya Gilang.
"Gilang, Darka!" Andra menegur kedua adiknya itu.
"Maaf kakak Andra," ucap Gilang dan Darka bersamaan.
Davin seketika memeluk tubuh adik laki-lakinya itu. Dia tahu bahwa saat ini adik laki-lakinya begitu rapuh. Hanya pelukan yang dibutuhkan oleh adiknya itu.
"Papa."
"Kenapa dengan Papa?"
"Papa sudah berhasil ditemukan."
"Benarkah? Bagaimana keadaan Papa? Apa yang disampaikan sama kakak Devian kepada kamu?"
"Kakak Devian mengatakan kepadaku kondisi Papa baik-baik saja. Hanya butuh perawatan medis beberapa hari di rumah sakit. Tapi....."
"Tapi kenapa, hum?" tanya Davin yang masih memeluk tubuh adiknya itu.
"Papa... Papa." Darren terisak di pelukan Davin. "Papa tidak mengingat kita. Papa mengalami Amnesia akibat kecelakaan pesawat yang dialami Papa."
Tes!
Air mata Davin langsung mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar perkataan Darren yang mengatakan bahwa ayahnya mengalami Amnesia.
Bukan hanya Davin. Agneta, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Evan, Carissa, Daffa, Tristan, Davian, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan dan Melvin juga menangis ketika mendengar perkataan dari Darren.
"Papa!" teriak Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, dan Melvin bersamaan.
Carissa langsung memeluk kelima keponakannya itu sekaligus. Dan memberikan ketenangan kepada mereka.
Davin melepaskan pelukannya lalu menatap wajah basah adiknya itu.
"Apapun yang terjadi, kita semua harus kuat demi Papa. Papa sudah kembali kepada kita. Dan kita akan menjaga Papa bersama-sama," ucap Davin.
"Kakak Davin benar. Kita adalah putra-putranya Papa. Papa kita sudah kembali. Tugas kita adalah menjaga dan merawat Papa bersama-sama," ucap Darren.
"Hm." Davin, Andra, Dzaky, Adnan, Gilang, Darka, Adrian, Mathew, Nathan, Ivan, dan, Melvin menganggukkan kepalanya.
"Ya, sudah kalau begitu. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang!" seru Evan.
__ADS_1
Dan mereka semua pun bersiap-siap untuk ke rumah sakit