
Darren sudah berada di markas The Crips. Ketika Darren tiba disana, baik ketujuh sahabat-sahabatnya maupun para kakak mafianya memberikan banyak pertanyaan padanya sehingga membuat Darren hanya bisa menghela nafas pasrahnya.
Di markas The Crips juga ada ketua-ketua mafia lainnya. Mereka juga ikut membantu Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya untuk membalas orang-orang yang telah menipu mereka.
"Kamu sudah siap, Ren?" tanya Ziggy.
"Sudah siap dari kemarin-kemarin," jawab Darren dengan ekspresi datar.
"Setiba disana. Apa yang akan kau lakukan?" tanya Noe menatap wajah Darren.
"Aku hanya bermain-main sedikit dengan mereka. Setelah merasa puas. Barulah aku akan menghancurkan mereka semua sampai keakar-akarnya agar mereka tidak bisa bangkit lagi," jawab Darren.
"Apa kau tidak ingin membunuh mereka? Jika kau membiarkan mereka hidup. Besar kemungkinan mereka akan membalasmu," ucap Chico.
"Justru itulah kenapa aku ingin menghancurkan mereka semua sehancur-hancurnya. Menghancurkan mereka dengan membuat mereka tidak memiliki pendukung lagi. Membuat mereka tidak bisa mencari bantuan atau sekutu. Membuat mereka tidak bisa lagi membangun perusahaan selain menjadi pedagang kecil kebawah. Membuat mereka tidak memiliki koneksi dimana-mana. Membuat mereka semua putus kontak dengan semua pengusaha-pengusaha bisnis yang ada di negara ini maupun di dunia."
Mendengar jawaban panjang dari Darren membuat mereka semua tersenyum. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Darren. Dengan membuat para musuh hancur sehancur-hancurnya. Bisa dipastikan para musuh tidak akan bisa bangkit lagi seperti sedia kala.
"Tapi, Ren! Sekali pun kita tidak membunuhnya. Kita hanya membuat mereka hancur dan tidak bisa bangkit lagi. Bisa sajakan mereka kembali menuntut balas kepada kita," ujar Rehan.
Darren melihat kearah Rehan, lalu tersenyum. "Caranya bagaimana? Dengan apa mereka akan membalas kita?" tanya Darren.
"Bisa saja mereka meminta bantuan kepada teman-teman dekat mereka. Salah satunya teman-teman yang biasa mereka bantu atau teman-teman yang sering bantu mereka," ucap Rehan.
"Yakin jika teman-temannya mau bantuin mereka. Secara mereka nggak punya apa-apa lagi. Mereka semua sudah miskin. Jadi mereka mau bayar pake apa jika mereka minta bantuan kepada teman-temannya? Jaman sekarang nggak ada yang gratisan, Han! Teman-temannya akan memberi bantuan jika dibayar. Begitu juga dengan orang-orang yang mereka pernah bantu." Darren berbicara sambil menatap wajah Rehan.
"Kamu yakin?" tanya Dylan.
"Seribu kali keyakinanku," jawab Darren.
"Palingan meleset lagi perkiraan kamu itu," ejek Dylan.
Mendengar ejekan dari Dylan membuat Darren menatap tajam kearah Dylan.
Bugh! Bugh!
Bagh! Bagh!
Jedak! Jeduk!
Sreekk! Sreekk!
__ADS_1
Darren tiba-tiba menyerang Dylan dan memberikan pukulan demi pukulan di tubuh Dylan. Bahkan Darren mencekik leher Dylan dengan cara memelintir leher Dylan menggunakan lengannya sehingga membuat Dylan terbatuk-batuk.
"Yak! Darren, lepaskan gue. Apa lo niat bunuh gue, hah?!" teriak Dylan.
"Iya. Gue emang ingin bunuh lo. Lo pergi jauh-jauh dari dunia ini," jawab Darren.
"Tega lo sama gue," melas Dylan.
"Emangnya kenapa? Lo takut, hah!" tanya Darren dengan mengerat lengannya di leher Dylan.
"Yak, Darren! Lepasin gue, setan!" teriak Dylan.
Mendengar teriakan demi teriakan dari Dylan akibat ulah dari Darren membuat lima kakak-kakak mafianya, keenam sahabat-sahabatnya dan para tangan kanan dari kelima kakak-kakak mafianya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Tidak ada diantara mereka yang ingin melerainya. Mereka lebih memilih untuk menjadi penonton.
"Yak, Darren! Lepasin gue!" teriak Dylan yang berusaha melepaskan tangan Darren dari lehernya.
"Ngomongnya harus baik-baik sama gue. Lo harus bilang gini 'Darren yang tampan, yang baik, pintar, jenius, sahabat gue yang paling baik diantara sahabat-sahabat gue yang lain. Lepasin, gue mohon!"
Mendengar perkataan dan permintaan Darren membuat Ziggy, Noe, Enzo, Devian, Chico, Qenan, Willy, Rehan, Darel, Jerry dan Axel. Serta para tangan kanan dari Ziggy, Noe, Enzo, Devian dan Chico membelalakkan matanya. Begitu juga dengan Dylan. Mereka tak menyangka jika Darren akan mengatakan itu.
"Jangan harap gue bakal bilang gitu ke lo," tolak Dylan.
"Yak, sialan! Lepasin gue!"
"Bilang dulu seperti tadi."
"Nggak!"
"Oke!"
"Baiklah!" pada akhirnya, Dylan pun mau menuruti permintaan Darren.
"Darren yang tampan, yang baik, pintar, jenius, sahabat gue yang paling baik diantara sahabat-sahabat gue yang lain. Lepasin, gue mohon!"
Mendengar ucapan dan permintaan permohonan dari Dylan membuat Darren tersenyum kemenangan. Sementara yang lain langsung tertawa keras.
"Hahahahaha."
Setelah itu, Darren pun melepaskan Dylan. Dan kembali ke posisinya semula.
__ADS_1
"Dasar siluman kelinci, setan!"
Mendengar umpatan dari Dylan. Darren makin tersenyum lebar. Dirinya saat ini benar-benar bahagia membuat sahabatnya itu kesal padanya.
"Kamu punya dendam apa sih sama sikurus itu, Ren? Dari kemarin kamu nyari masalah mulu," ucap dan tanya Axel.
"Dendam gue banyak ama sikurus itu. Dan hari kesampaian untuk mengeluarkan semuanya," jawab Darren yang matanya masih menatap wajah kesal Dylan.
Mereka semua tersenyum mendengar perkataan Darren dan melihat wajah kusut, wajah sumpek dan wajah kesal Dylan akibat ulah Darren.
"Mau memberitahu sesuatu mengenai perkataan Darren yang mengatakan bahwa musuh-musuh kita akan meminta bantuan kepada teman-temannya. Apa yang dikatakan oleh Darren barusan adalah benar? Baik teman-temannya maupun orang-orang yang pernah mereka bantu tidak akan sudi untuk memberikan bantuan kepada mereka. Secara selama ini teman-temannya hanya memanfaatkan mereka saja. Lebih tepatnya teman-temannya itu tidak ada yang tulus. Semuanya demi uang!" seru Caleb.
Mendengar seruan dari Caleb membuat mereka semua menatap kearah Caleb. Mereka semua menatap Caleb penuh selidik.
"Benarkah begitu?" tanya Devian.
"Benar, King! Aku sudah menyelidiki semuanya," jawab Caleb.
Mereka semua tersenyum puas mendengar jawaban yang diberikan oleh Caleb.
"Ya, sudah. Kita selesai sampai disini rapatnya. Kita harus segera menyelesaikan pekerjaan malam ini!" seru Chico.
"Baiklah!" seru semuanya.
Setelah itu, mereka pun bersiap-siap. Seperti yang sudah direncanakan. Malam ini yang akan bergerak adalah Dua tangan kanannya Ziggy dan Chico yaitu Daksa dan Caleb bersama dengan Darren dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Plus beberapa anggota mafioso.
***
Di sebuah rumah terlihat sepi dikarenakan semua penghuninya sedang tertidur pulas. Hanya ada dua laki-laki yang tampak masih terjaga.
Kedua laki-laki itu kini berada di ruang tengah. Keduanya kini sedang membahas rencana selanjutnya untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan Accenture.
"Bagaimana? Apa kau sudah menyiapkan semua berkas untuk kita masukkan ke dalam perusahaan Accenture?"
"Sudah. Semuanya beres. Besok berkas-berkas itu akan berada di ruang kerjanya tuan Darren."
"Bagus. Aku sudah tidak sabar menunggu kabar besok dimana tiga perusahaan kita bekerja sama dengan perusahaan Accenture."
"Aku juga tidak sabaran menunggu besok. Semoga dua antek-anteknya itu tidak mengacau dan menggagalkan rencana kita."
"Iya, semoga!"
__ADS_1
Disaat mereka tengah berbahagia memikirkan rencana besok. Tanpa mereka sadari diluar rumah mereka, pemilik perusahaan yang mereka incar telah menyiapkan hadiah besar untuknya. Hadiah yang tidak akan mereka lupakan seumur hidupnya.
Malam ini adalah malam terakhir mereka dan juga keluarga mereka merasakan hidup mewah. Dan setelah ini, kehidupan mewah mereka dan juga keluarga besarnya akan berakhir.