
Darren saat ini dalam perjalanan menuju pulang ke rumah miliknya. Darren tidak sendirian, melainkan bersama Brenda.
"Kamu benaran udah sembuh Ren?" tanya Brenda menatap kearah Darren.
Darren melirik kearah Brenda, lalu tersenyum. Setelah itu, Darren kembali menatap ke depan.
"Aku sudah benar-benar sembuh. Kamu tidak perlu khawatir, oke!" ucap Darren sembari tangannya mengusap lembut kepala Brenda.
"Benar?" tanya Brenda.
"Iya, benar." Darren menjawab pertanyaan dari Brenda.
"Ach, iya! Aku hampir lupa. Mama titip salam buat kamu. Saat Mama tahu kamu udah keluar dari rumah sakit. Mama ngajak kamu makan malam di rumah."
"Kapan?"
"Besok malam."
"Baiklah. Aku akan datang."
Mendengar jawaban dari Darren membuat Brenda tersenyum.
Brenda melihat kearah Darren. Dan detik kemudian, Brenda memberikan ciuman di pipi Darren.
Darren yang mendapatkan ciuman di pipinya dari gadis yang dicintainya tersenyum bahagia.
Darren melihat ke samping dimana Brenda juga menatapnya.
"Kenapa ciumnya di pipi?" tanya Darren.
"Memangnya kamu mau dicium dimana?" tanya Brenda balik.
"Sini," jawab Darren sembari menunjuk bibirnya.
Sontak Brenda terkejut ketika Darren menunjuk bibirnya.
Melihat Brenda yang terkejut dan juga terdiam. Darren berakting pura-pura sedih.
"Jadi kamu tidak mau?" tanya Darren lalu membuang wajahnya melihat ke depan.
Mendengar ucapan dan melihat wajah sedih Darren membuat hati Brenda sakit dan merasa bersalah.
Brenda menyentuh pipi Darren lalu menariknya agar melihat wajahnya. Dan detik kemudian, Brenda mencium lembut bibir Darren.
Darren menghentikan mobilnya sejenak, lalu masuk dalam ciuman Brenda.
Darren menekan tekuk Brenda agar ciuman mereka semakin dalam dan panas. Darren bermain-main dengan bibir merah Brenda. Dirinya benar-benar candu yang satu itu.
Setelah ciuman cukup lama, Darren pun menyudahi kegiatannya. Darren menatap wajah cantik Brenda. Seketika Darren tersenyum ketika melihat Brenda yang tengah meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Apa kamu mau membunuhku?" tanya Brenda dengan mempoutkan bibirnya.
Darren tersenyum ketika mendengar pertanyaan dan wajah kesal Brenda. Kemudian tangannya mengusap lembut kepalanya.
"Mana mungkin aku mau membunuh perempuan yang begitu aku cintai. Kalau kamu mati, aku nikah sama siapa nanti? Bukankah kamu sudah janji akan menikah denganku," ucap Darren.
Brenda langsung membuang wajah kearah lain. Jantung berdebar kencang ketika mendengar ucapan tulus dari Darren.
Darren tersenyum melihat wajah malu Brenda. Setelah itu, Darren kembali menghidupkan mobil. Dan melanjutkan perjalanannya.
Baru beberapa menit Darren membawa mobilnya, tiba-tiba Darren menghentikan mobilnya sehingga membuat kepala Brenda terbentur.
"Aakhhh!"
Darren langsung melihat ke samping dan dia terkejut ketika melihat Brenda kesakitan sembari memegang kepalanya.
"Brenda, kamu tidak apa-apa? Maafkan aku ya karena menghentikan mobilnya tiba-tiba," ucap dan tanya Darren khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Ren! Memang kenapa? Ada apa?" tanya Brenda.
"Aku melihat Salsa tadi. Dan sepertinya Salsa dalam masalah," jawab Darren.
"Salsa adik perempuannya Axel?" tanya Brenda.
"Iya," jawab Darren. "Kamu benaran tidak apa-apa?" tanya Darren memastikan keadaan kekasihnya.
"Ya, Ren! Aku nggak apa-apa. Kamu nggak perlu khawatir ya!" Brenda menjawab pertanyaan dari Darren dengan tangannya mengusap lembut pipi Darren.
Darren mencium tepat di bekas memar di kening Brenda dengan sayang. "Ya, sudah! Kita turun sekarang. Kasihan Salsa."
Brenda mengangguk lalu tangannya langsung membuka pintu mobil.
^^^
Kini Darren dan Brenda sudah berada diluar. Ketika Darren dan Brenda berada diluar. Baik Darren maupun Brenda terkejut ketika melihat beberapa orang, terutama kaum perempuan yang memukul, memaki dan menghina Salsa.
Darren langsung berlari kearah orang-orang yang menyakiti adik perempuan dari salah satu sahabatnya.
__ADS_1
Plak..
Srek..
Bugh..
Dug..
Bruk..
Darren memberikan tamparan, tarikan di rambut perempuan yang menarik rambut Salsa, mendorong kasar tubuh perempuan yang memegang tangan Salsa sehingga orang-orang yang menyakiti Salsa tersungkur ke tanah.
"Salsa," panggil Darren.
Salsa yang mendengar panggilan seseorang yang dikenal langsung melihat kearah orang itu. Dan seketika air matanya jatuh membasahi wajahnya.
"Kakak Darren."
Darren langsung memeluk tubuh Salsa. Seketika tangis Salsa pecah di pelukan Darren.
"Apa yang terjadi? Kenapa para manusia-manusia menjijikkan itu menyakiti kamu?"
Mendengar ucapan kejam dari pemuda yang telah menolong gadis itu membuat orang-orang yang ada disana terkejut.
"Mereka menuduhku telah mencuri beberapa barang yang ada di dalam toko itu. Barang-barang itu ditemukan di dalam tasku. Padahal aku tidak mengambilnya. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba ada di dalam tasku."
"Apa saja barang-barang itu?" tanya Darren.
"Lipstik 6 dan parfum 4."
"Apa kamu sudah mengatakan kepada mereka bahwa kamu tidak mengambilnya?"
"Sudah kak Darren. Tapi mereka tidak percaya."
"Terus kenapa wanita-wanita menjijikkan itu memukulimu?" tanya Darren dengan menatap penuh amarah keempat wanita yang kini tengah kesakitan.
"Barang-barang itu milik mereka. Mereka kehilangan barang-barang itu. Dan ternyata ditemukan di dalam tasku," jawab Salsa.
"Baiklah. Biarkan kakak yang urus masalah ini. Sekarang kamu pergi sama kak Brenda ke mobil. Habis ini kita ke rumah sakit."
"Baik kak Darren."
"Brenda, aku titip Salsa padamu."
"Serahkan Salsa padaku. Dia akan aman selama bersamaku."
Setelah itu, Brenda membawa Salsa ke mobil dan meninggalkan Darren.
^^^
"Siapa yang bertanggung jawab disini?!" teriak Darren.
Tidak ada yang bersuara. Tidak ada yang berbicara. Semua diam membisu.
Melihat keterdiaman semua orang yang ada di sekitarnya membuat Darren semakin marah.
"Kalian dengar tidak, hah?! Mendadak tuli, mendadak buta dan mendadak bisu?! Padahal beberapa menit yang lalu kelakuan kalian seperti kaki empat memperlakukan adik perempuan saya!" teriak Darren dengan menatap penuh amarah ke semua orang termasuk keempat wanita itu.
Masih sama. Tidak ada yang bersuara. Semuanya masih diam dan membisu.
"Sekali lagi aku bertanya. Siapa yang bertanggung jawab disini?"
"Baiklah kalau itu mau kalian. Hanya ini satu-satunya cara buat kalian membuka mulut kalian."
Setelah mengatakan itu, Darren mengambil ponselnya. Setelah ponselnya ada di tangannya, Darren menekan nomor dua tangan kanan Enzo yaitu Justin dan Tommy.
Panggilan tersambung..
"Hallo, Ren! Ada apa?"
"Kakak Justin sibuk tidak?"
"Tidak terlalu. Apa ada sesuatu?"
"Iya. Aku butuh bantuan kakak Justin dan kakak Tommy."
"Katakan."
"Aku mau kakak Justin dan kakak Tommy datang ke mall Ochtum Park Outlen Center Jerman. Sekarang!"
"Baiklah. Kakak dan Tommy akan segera kesana."
Pip!
Darren langsung mematikan panggilannya.
"Bos," panggil seseorang.
__ADS_1
Darren melihat kedatangan satu tangan kanannya bersama beberapa anggotanya.
"Syukurlah kau datang Dito. Aku punya tugas untukmu."
"Siap Bos. Katakan."
"Kepung tempat ini. Periksa semua dan pastikan jangan ada yang pergi meninggalkan tempat ini."
"Baik, Bos."
"Jika ada yang pergi, tembak saja kakinya."
"Baik Bos."
"Oh iya. Kau awasi keempat wanita itu. Jangan sampai kabur."
"Baik, Bos."
Setelah itu, Dito pun langsung menjalankan tugasnya.
Orang-orang yang ada disana menatap bingung dan juga takut atas apa yang dilakukan oleh pemuda yang menolong seorang gadis.
Tak butuh waktu lama Justin dan Tommy datang ke lokasi yang diminta oleh Darren. Keduanya datang dengan membawa anggota sekitar 20 orang.
"Darren," panggil Justin dan Tommy.
"Kakak Justin, kakak Tommy."
"Ada apa?" tanya Justin.
"Kenapa kau menyuruh kami datang kemari?" tanya Tommy.
Sebelum menjawab pertanyaan dari dua kakak laki-lakinya, Darren menatap tajam kepada semua orang yang ada di sekitarnya.
"Kakak Justin dan kakak Tommy. Coba kalian lihat mereka semua!" seru Darren dengan menunjuk orang-orang yang ada di sekitarnya.
Justin dan Tommy pun langsung melihat yang dimaksud oleh Darren.
"Kenapa dengan mereka, Ren?" tanya Tommy.
"Mereka telah melakukan kesalahan besar karena telah menuduh Salsa mencuri di toko ini," jawab Darren.
"Salsa?" tanya Tommy dan Justin.
"Terus Salsa dimana?" tanya Justin.
"Salsa bersama Brenda di dalam mobil. Keadaannya tidak baik-baik saja saat ini."
"Kenapa? Apa mereka melakukan sesuatu hal yang buruk terhadap Salsa?" tanya Tommy.
"Iya. Keempat wanita itu," ucap Darren menunjuk kearah empat wanita yang kini menundukkan kepalanya.
"Mereka menampar, memukul, menghina, memaki dan bahkan ingin mempermalukan Salsa dengan memaksa membuka pakaian Salsa."
Justin dan Tommy terkejut ketika mendengar jawaban dari Darren. Yang membuat keduanya terkejut adalah perkataan terakhir Darren.
"Apa?!"
Justin dan Tommy menatap tajam keempat wanita itu. Sementara keempat wanita itu tidak berani menatap wajah Darren, Justin dan Tommy.
"Untuk mereka semua. Apa yang mereka lakukan ketika melihat keempat wanita itu menyakiti Salsa?" tanya Justin.
"Mereka hanya diam tanpa memberikan bantuan. Mereka semua tertawa, mengambil foto dan video ketika Salsa disakiti oleh keempat manusia rendah itu."
"Brengsek!" marah Justin dan Tommy.
"Kakak Justin, kakak Tommy. Sekarang tolong kalian masuk ke dalam toko itu. Periksa rekaman cctv," pinta Darren.
"Baiklah. Kami akan masuk. Dan kami akan segera mendapatkan rekaman itu," ucap Tommy.
"Apa yang akan kau lakukan untuk membalas mereka semua, terutama keempat wanita busuk itu?" tanya Justin.
"Untuk keempat wanita busuk itu sudah pasti aku akan buat mereka mendekam di dalam penjara seumur hidup tanpa ada jaminan dari siapa pun. Tidak akan ada kata perdamaian dan permintaan maaf dariku. Dan aku pastikan juga keluarga Immanuel juga akan memberikan hukuman tambahan berupa membuat keluarga dari keempat wanita menjijikkan itu kehilangan harta bendanya."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Darren seketika tubuh dari keempat wanita yang sudah menyakiti Salsa bergetar hebat. Mereka saat ini ketakutan.
"Lalu bagaimana untuk orang-orang yang hanya menonton, tertawa, mengambil foto dan merekam video ketika Salsa disakiti?" tanya Tommy.
"Aku akan menghancurkan perusahaan-perusahaan milik mereka semua sehancur-hancurnya. Dan aku pastikan perusahaan mereka tidak akan pernah bisa bangkit kembali."
"Hukuman yang sangat bijak. Kami setuju!" seru Justin dan Tommy bersamaan.
"Baiklah. Kita akan masuk ke dalam dan mengecek cctv," ucap Tommy.
Setelah itu, Justin dan Tommy melangkah memasuki toko dimana Salsa berbelanja.
Sementara Darren menatap dengan tersenyum menyeringai. "Persiapkan mental kalian!" teriak Darren.
__ADS_1
"Kalian bukan saja berurusan denganku. Kalian juga akan berurusan dengan keluarga Immanuel. Kalian tahu dengan keluarga itu bukan? Orang yang telah kalian bully itu adalah putri bungsu dari pasangan Dario Immanuel dan Celsea Immanuel!"
Lagi-lagi mereka semua terkejut mendengar ucapan dari Darren. Bahkan yang membuat mereka makin terkejut dan juga syok adalah ketika mendengar nama keluarga Immanuel.